Dalam proses menuntut ilmu (thalabul ilmi), sering kali dijumpai fenomena kegagalan yang dialami oleh para pelakunya. Tidak sedikit dari mereka yang menghentikan proses belajar secara tiba-tiba. Fenomena tersebut tentu didasari oleh berbagai faktor penghambat yang pada akhirnya membuat seseorang kehilangan motivasi untuk melanjutkan perjalanan menuntut ilmu.
Artikel ini merupakan lanjutan dari pembahasan sebelumnya yang mengulas berbagai faktor penghambat dalam menuntut ilmu. Seluruh poin yang disajikan merupakan intisari dari kitab ‘Awaiq ath-Thalab karya Syaikh Abdussalam bin Barjas rahimahullah, dengan disertai penjelasan tambahan guna memperdalam pemahaman pembaca.
5. Tidak Bertahap (Tadarruj) dalam Proses Menuntut Ilmu
Faktor kelima ini sangat sering ditemukan di kalangan para penuntut ilmu, di mana mereka tidak belajar secara bertahap dan terburu-buru untuk melangkah ke jenjang selanjutnya. Mereka sering berpindah dari satu bidang ilmu ke bidang lainnya sebelum benar-benar mengokohkan pemahaman pada ilmu sebelumnya.
Tentu ini adalah metode yang keliru. Kita tidak akan mendapati seorang pun ulama salaf yang melangkahi kaidah ini, karena tadarruj (belajar secara bertahap) merupakan pilar penting sekaligus metode utama mereka dalam menuntut ilmu.
Dalam berbagai ayat-Nya, Allah Ta’ala menjelaskan pentingnya metode bertahap dalam menuntut ilmu. Salah satunya, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Al-Qur’an tidaklah diturunkan melainkan secara berangsur-angsur.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَقُرۡءَاناً فَرَقۡنَٰهُ لِتَقۡرَأَهُۥ عَلَى ٱلنَّاسِ عَلَىٰ مُكۡثٍ وَنَزَّلۡنَٰهُ تَنزِيلاً
“Dan Al-Qur’an (kami turunkan) secara berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) dapat membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan kami turunkan (Al-Qur’an) secara bertahap.” [Al-Isra’: 106]
Dan firman-Nya,
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا
“Dan orang-orang kafir berkata: ‘Mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan kepadanya sekaligus?’ Demikianlah, agar Kami meneguhkan hatimu dengannya, dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur dengan teratur).” [Al-Furqān: 32]
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya bahwa Allah Ta‘ala menurunkan Al-Qur’an tidak sekaligus, melainkan bertahap selama kurang lebih 23 tahun. Hal ini disesuaikan dengan berbagai kondisi, peristiwa, dan kebutuhan yang terjadi pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Setiap ayat yang turun mengandung hukum, petunjuk, dan bimbingan yang relevan dengan peristiwa yang sedang terjadi. Metode penurunan secara bertahap ini memiliki hikmah yang agung, di antaranya agar hati kaum mukminin menjadi lebih kokoh, mantap, serta siap menerima dan mengamalkan ajaran-ajaran Allah Ta‘ala secara sempurna. 1
Dari tafsir di atas kita mendapatkan faedah bahwa metode bertahap dan tidak terburu-buru di dalam menuntut ilmu dapat mengokohkan ilmu yang kita dapatkan di dalam kalbu, sehingga ilmu tersebut tidak mudah pergi dan hilang.
Pada penggalan ayat,
لِتَقۡرَأَهُۥ عَلَى ٱلنَّاسِ عَلَىٰ مُكۡثٍ
“Agar engkau (Muhammad) dapat membacakannya kepada manusia perlahan-lahan.”
Syaikh As-Si’di rahimahullah mengatakan,
أَيْ: عَلَى مَهْلٍ، لِيَتَدَبَّرُوْهُ وَيَتَفَكَّرُواْ فِي مَعَانِيْهِ، وَيَسْتَخْرِجُواْ عُلُوْمَهُ
“Yaitu secara perlahan, agar mereka dapat mentadaburi dan memikirkan isi kandungan serta mendapatkan faedah berbagai ilmu yang terkandung padanya.” 2
6. Ujub (Bangga Diri) dan Sombong
Sebagaimana kita ketahui, bahwa kemaksiatan adalah salah satu faktor terbesar yang dapat menghambat proses menuntut ilmu. Karena, ilmu adalah cahaya dan maksiat itu kegelapan, sehingga cahaya tidak akan pernah menyatu di dalam hati seorang hamba layaknya air dan api.
Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,
إِنِّي لَأَحْسَبُ أَنَّ الرَّجُلَ يَنْسَى الْعِلْمَ قَدْ عَلِمَهُ بِالذَّنْبِ يَعْمَلَهُ
“Aku berprasangka kuat bahwa hilangnya ilmu yang telah dikuasai seseorang merupakan akibat dari kemaksiatan yang ia lakukan.” 3
Di antara maksiat yang paling buruk dan sering menjangkiti seorang penuntut ilmu adalah ujub (bangga diri) dan sombong. Sungguh Allah Ta’ala tidak mencintai orang yang ujub dan sombong, lantas bagaimana Allah Ta’ala akan memberikan ilmu kepada pelakunya? Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ فَخُورٍ
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [Luqman: 18]
Hal yang senada juga Allah Ta’ala katakan,
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [An-Nisā’: 36]
Begitu pula firman-Nya,
تِلۡكَ ٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ نَجۡعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوّاً فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فَسَاداًۚ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ
“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan di bumi dan tidak (pula) berbuat kerusakan. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” [Al-Qashash: 83]
7. Terburu-buru dan Tidak Sabar Melihat Hasil
Tidak sedikit penuntut ilmu yang beranggapan bahwa setelah belajar selama satu atau dua tahun, ia akan serta-merta menjadi seorang yang alim (berilmu). Ia mengira bahwa menuntut ilmu tidak memerlukan pengorbanan besar dan kesabaran yang tinggi.
Anggapan seperti ini tentu keliru dan sangat berbahaya. Hal tersebut dapat menjerumuskan seseorang pada kesudahan yang tercela, seperti berani berbicara tentang agama Allah tanpa dasar ilmu, terlalu percaya diri (overconfidence), hingga ambisi untuk selalu tampil di depan (ingin populer).
Apabila kita meneladani perjalanan ulama salaf dalam menuntut ilmu, niscaya kita akan tercengang melihat kesabaran dan pengorbanan yang mereka curahkan. Ilmu agama tidak dapat diraih secara instan; ia menuntut keteguhan hati dan perjuangan yang panjang.
Imam Yahya bin Abi Katsir rahimahullah pernah mengatakan,
لَا يُسْتَطَاعُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجَسَدِ
“Ilmu tidak akan bisa diraih dengan badan yang bersantai-santai.” 4
Demikian pula, Imam Asy-Sya’bi rahimahullah pernah ditanya, “Dari mana engkau mendapatkan semua ilmu ini?” Beliau menjawab,
بِنَفْيٍ الْاِعْتِمَادِ وَالسَّيْرُ فِي الْبِلَادِ وَصَبْرٍ كَصَبْرِ الْجَمَادِ وَبُكُوْرٍ كَبُكُوْرِ الْغُرَابِ
“Dengan tidak bergantung (kepada selain Allah), melakukan perjalanan (rihlah) ke berbagai negeri, memiliki kesabaran seperti sabarnya benda mati, dan berangkat di awal pagi seperti berangkatnya burung gagak.” 5
8. Lemahnya Cita-Cita dan Semangat Belajar
Kondisi ini sangat sering kita temukan di kalangan penuntut ilmu, yakni rendahnya cita-cita yang mereka miliki. Mereka cenderung merasa cukup hanya dengan sedikit informasi (maklumat) dan enggan memperluas wawasan ke bidang ilmu lainnya. Padahal, di saat yang sama mereka memiliki potensi dan kemampuan yang mumpuni, namun mereka enggan membaca serta menelaah kitab-kitab para ulama.
Tentu kondisi ini sangat memprihatinkan, terlebih jika terjadi di tengah-tengah para penuntut ilmu. Hal ini bukan disebabkan oleh ketidakmampuan fisik atau akal, melainkan murni karena lemahnya tekad dan semangat dalam diri mereka.
Imam Al-Farra’ rahimahullah pernah berkata,
لَا أَرْحَمُ أَحَدًا كَرَحْمَتِي لِرَجُلَيْنِ رَجُلٍ يَطْلُبُ الْعِلْمَ وَلَا فَهْمَ لَهُ وَرَجُلٍ يَفْهَمُ وَلَا يَطْلُبُهُ، وَإِنِّي لَأَعْجَبُ مِمَّنْ فِي وُسْعِهِ أَنْ يَطْلُبَ الْعِلْمَ وَلَا يَتَعَلَّمُ
“Aku tidak merasa iba kepada siapa pun sebagaimana ibaku kepada dua orang:
(1) seseorang yang menuntut ilmu tetapi tidak memiliki pemahaman,
dan (2) seseorang yang memiliki pemahaman tetapi tidak mau menuntut ilmu.
Dan sungguh aku merasa heran terhadap orang yang mampu menuntut ilmu namun dia enggan belajar.” 6
Al-Mutanabbi rahimahullah juga pernah mengatakan di dalam syairnya,
وَلَمْ أَرَ فِي عُيُوْبِ النَّاسِ عَيْبًا … كَنَقْصِ القَادِرِيْنَ عَلَى التَّمَامِ
“Aku tidak melihat suatu aib pada manusia yang lebih buruk… daripada kekurangan (kemalasan) orang-orang yang sebenarnya mampu untuk mencapai kesempurnaan.” 7
Baca Juga: 14 Keutamaan Menuntut Ilmu Agama (Thalabul Ilmi) Beserta Dalilnya
9 & 10. Suka Menunda-nunda dan Berandai-andai Tanpa Aksi Nyata
Dua hal ini merupakan penyakit kronis, yaitu gemar menunda-nunda (taswif) dan sering berkhayal tanpa aksi nyata. Penyakit ini sangat berbahaya jika menghinggapi seorang penuntut ilmu, sebab jika seseorang telah terjangkiti, akan sulit baginya untuk melepaskan diri.
Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu dituntut untuk bersegera dan tidak menunda-nunda. Sifat menunda-nunda adalah salah satu sifat yang tercela, sebagaimana peringatan Allah dalam ayat-Nya mengenai penyesalan orang-orang yang melalaikan perintah-Nya,
حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلۡمَوۡتُ قَالَ رَبِّ ٱرۡجِعُونِ، لَعَلِّيٓ أَعۡمَلُ صَٰلِحاً فِيمَا تَرَكۡتُۚ كَلَّآۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَاۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرۡزَخٌ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ
“Hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata: ‘Wahai Rabb-ku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat beramal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan’. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” [Al-Mu’minūn: 99–100]
Sementara, Allah Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk bersegera di dalam melakukan kebaikan, Allah Ta’ala berfirman,
وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Rabb kalian dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Āli ‘Imrān: 133)
Demikian pula, sahabat Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma pernah berkata,
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
“Apabila engkau berada di sore hari, janganlah menunggu datangnya pagi. Dan apabila engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu datangnya sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, dan manfaatkanlah masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” 8
Penutup
Poin-poin di atas merupakan bagian dari sekian banyak faktor yang dapat menghambat proses menuntut ilmu. Meskipun masih terdapat berbagai kendala lainnya, dalam artikel ini kita mencukupkan dengan apa yang telah diuraikan oleh Syaikh Abdussalam bin Barjas rahimahullah dalam kitab beliau ini, ‘Awaiq ath-Thalab.
Semoga poin-poin serta penjelasan singkat tersebut bermanfaat bagi kita semua. Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar senantiasa memberikan taufik dan kemudahan dalam menuntut ilmu, serta menjauhkan kita dari berbagai hambatan yang dapat merintangi perjalanan mulia ini. Aamiin Yaa Mujiibas Saailiin. (RGA/LTC/AAK)
Penulis: Rasyid Ghani
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim
- Shahih Al-Bukhari karya Imam Al-Bukhari rahimahullah (W: 256 H)
- Awaiq at-Thalab karya Syaikh Abdus Salam bin Barjas rahimahullah (W: 1425 H)
- Tadzkiratul Huffazh karya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (W: 748 H)
- Jami’u Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi karya Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah (W: 463 H)
- Shaydul Khathir karya Imam Ibnul Jauzi rahimahullah (W: 597 H)
- Tahdzibul Kamal karya Imam Al-Mizzi rahimahullah (W: 742 H)
- Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir rahimahullah (W: 774 H)
- Taisirul Karimir Rahman karya Imam Abdurrahman bin Nashir As-Si’di rahimahullah (W: 1376 H)
Footnotes
- Tafsir Ibnu Katsir 5/592
هَلَّا أُنْزِلَ عَلَيْهِ هَذَا الْكِتَابُ الَّذِيْ أُوْحِيَ إِلَيْهِ جُمْلَةً وَاحِدَةً، كَمَا نَزَلَتْ الْكُتُبُ قَبْلَهُ جُمْلَةً وَاحِدَةً، كَالتَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيْلِ وَالزَّبُوْرِ وَغَيْرِهَا مِنَ الْكُتُبِ الْإِلَهِيَّةِ، فَأَجَابَهُمُ اللهُ تَعَالَى عَنْ ذَلِكَ بِأَنَّهُ إِنَّمَا نُزِّلَ مُنَجَّمًا فِي ثَلَاثٍ وَعِشْرِيْنَ سَنَةً بِحَسَبِ الوَقَائِعِ وَالْحَوَادِثِ، وَمَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ مِنَ الْأَحْكَامِ لِيَثْبُتَ قُلُوْبُ الْمُؤْمِنِيْنَ بِهِ
- Taisirul Karimir Rahman 468
- Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhlih No. 1195
- Tahdzibul Kamal 16/296
- Tadzkiratul Huffazh 1/64
- Jami’u Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi 1/429
- Shaydul Khathir, hal. 28
- HR. Al-Bukhari, No. 6416
