Ikhtilat dalam bahasa Indonesia memliki arti campur baur. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, sehingga membutuhkan interaksi dengan sesama. Namun, Islam hadir sebagai agama yang sempurna dengan mengatur setiap bentuk interaksi tersebut melalui batasan-batasan yang jelas. Seorang hamba tidak diperkenankan melampaui batas yang telah Allah Ta‘ala tetapkan. Allah Ta‘ala berfirman,
أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّهُ مَنْ يُحَادِدِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَأَنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدًا فِيهَا ذَلِكَ الْخِزْيُ الْعَظِيمُ
“Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barang siapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahanamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar.” [At-Taubah: 63]
Salah satu batasan penting dalam Islam adalah larangan ikhtilat antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Larangan ini mengandung berbagai hikmah besar yang bertujuan menjaga kesucian diri dan masyarakat. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati agar tidak melampaui batas tersebut karena konsekuensi yang berat di sisi Allah Ta‘ala.
Definisi Ikhtilat
Adapun definisi istilah yang dipilih untuk ikhtilat yang diharamkan adalah berkumpul, berbaur, dan berinteraksinya laki-laki dengan perempuan yang bukan mahram dalam satu tempat, sehingga memungkinkan terjadinya hubungan di antara mereka, baik melalui pandangan, isyarat, ucapan, maupun fisik, tanpa adanya penghalang atau pembatas yang dapat menolak kecurigaan dan mencegah terjadinya kerusakan. 1
Dengan memahami hakikat ikhtilat secara benar, diharapkan pembahasan selanjutnya dapat dipahami dengan lebih baik. Semoga Allah Ta‘ala memberikan taufik dan kemudahan. Amin.
Macam-Macam Ikhtilat
Ikhtilat secara umum terbagi menjadi dua, yaitu ikhtilat yang diharamkan dan yang dibolehkan. Pada pembahasan ini, difokuskan pada bentuk-bentuk ikhtilat yang diharamkan, di antaranya:
- Bercampurnya anak laki-laki dan perempuan dalam satu tempat tidur setelah usia tamyiz (sekitar tujuh tahun), meskipun mereka bersaudara.
Telah datang dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka usia 7 tahun, dan pukullah mereka jika enggan shalat ketika usia 10 tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.” [HR.Abu Dawud:495] 2
- Mengambil pembantu laki-laki yang berbaur dengan para wanita hingga menimbulkan rasa nyaman dan membuka pintu khalwat.
Diriwayatkan dalam sebagian atsar bahwa Fathimah radhiyallahu ‘anha memberi salah satu pelayannya yaitu Bilal atau Anas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Aku lihat tangannya,” yakni ia tidak melihat wajahnya.
Sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu merupakan pelayan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia tinggal bersama beliau seakan-akan satu keluarga dengan beliau.
- Mengambil pembantu perempuan yang tinggal tanpa disertai mahram, sehingga memungkinkan terjadinya khalwat.
- Membolehkan pasangan yang belum menikah (khitbah) untuk saling menemani dan bergaul bebas, yang dapat menyeret kepada khalwat, lalu berujung pada perbuatan yang tidak terpuji. Akibatnya, kehormatan seseorang dipermainkan dengan alasan saling mengenal dan belajar satu sama lain.
- Seorang wanita menerima dan duduk bersama kerabat laki-laki suaminya yang bukan mahram atau teman-temannya ketika suaminya tidak berada di rumah.
- Ikhtilat di tempat pendidikan, seperti sekolah, universitas, lembaga pendidikan, dan pelajaran privat.
- Ikhtilat di lingkungan kerja dan aktivitas umum, seperti perkantoran, klub, sarana transportasi, pasar, rumah sakit, kunjungan antar tetangga, acara pernikahan, dan pesta-pesta.
- Terjadinya khalwat di tempat apa pun, meskipun bersifat sementara, seperti di lift, kantor, ruang praktik medis, dan tempat lainnya. 3
Hukum Ikhtilat dan Sebab yang Menghantarkan
Ikhtilat antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram hukumnya haram.
Dalil dari Al-Qur’an tentang keharamannya, Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ، وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya’.” [An-Nuur: 30-31]
Allah Ta‘ala memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menyampaikan kepada kaum mukminin dan mukminat kewajiban menundukkan pandangan serta menjaga kemaluan dari perbuatan zina. Telah diketahui bahwa menjaga kemaluan dari perbuatan keji hanya dapat terwujud dengan menjauhi sarana-sarana yang mengantarkannya. Dan bercampurnya perempuan dengan laki-laki di tempat kerja dan pendidikan termasuk di antara sarana terbesar terjadinya perbuatan keji tersebut. 4
Tatkala Allah Ta’ala mengharamkan zina, Ia mengharamkan sebab yang menghantarkan kepadanya, oleh karena ini berkata Al-’Allamah Bakr Abu Zaid rahimahullah: ”kaidah syar’i yang suci: Allah Subhanahu wa ta’ala jika mengharamkan sesuatu, maka Ia juga mengharamkan sebab, jalan, dan perantara yang akan mengantarkan kepada zina, merealisasikan keharamannya, menghalangi untuk sampai kepadanya, juga mendekat kepada orang mengobarkannya, dan seterusnya.
Kekejian zina merupakan kekejian terbesar, terjelek, juga lebih parah bahayanya, berdampak pada pokok Islam, oleh karenanya keharaman zina diketahui dalam Islam secara langsung. Allah Ta’ala berfirman:
وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”[Al-Isra’:32]
Oleh karena ini, sebab-sebab yang menghantarkan kepadanya diharamkan seperti safar- safar tanpa mahram beserta penghantarnya, ikhtilat serta penghantarnya, wanita menyerupai pria, dan orang-orang kafir. Ini semua diantara sebab-sebab kecurigaan, fitnah, kerusakan. 5
Hikmah Diharamkannya
Ikhtilat antara pria dan wanita yang bukan mahram adalah haram, dikarenakan ‘iffah (menjaga kehormatan) penghalang yang dapat dirusak oleh ikhtilat. Oleh karena itu, ajaran Islam memisahkan serta menjauhkan antara wanita dan pria yang bukan mahram, maka perkumpulan yang Islami adalah perkumpulan perkalangan tanpa berpasangan, sehingga bagi pria perkumpulan sendiri, dan wanita sendiri, dan perempuan tidak keluar menuju perkumpulan kecuali darurat atau kebutuhan yang sesuai koridor syariat Islam.
Semua ini dalam rangka menjaga kehormatan, keturunan, menjaga kemuliaan, menjauh dari kecurigaan dan kerendahan, tidak menyibukkan wanita dalam tugas-tugas yang primer di rumahnya; oleh karena inilah diharamkan ikhtilat, baik itu dalam belajar, bekerja, musyawarah-musyawarah, kunjungan-kunjungan, perkumpulan-perkumpulan umum maupun khusus, dan yang lainnya yang dapat menghantarkaan kepada pemerkosaan, penyakit hati, laki-laki yang bertingkahlaku wanita, wanita bertingkahlaku seperti laki-laki, hilangnya rasa malu, menyusutnya penjagaan terhadap harga diri dan kemaluan, serta tidak adanya kecemburuan. 6
Ini semua dikarenakan besarnya fitnah wanita, sampai-sampai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Setelah aku ada sebuah fitnah yang sangat berbahaya bagi laki-laki yaitu terhadap wanita.” [HR.Bukhari:5096] 7
Oleh karena itu, jagalah diri kalian dari terjerumus dalam kubangan ikhtilat antara laki-laki dan wanita. Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari Ikhtilat dan segala yang menghantarkan kepadanya, terlebih lagi zina. Aamiin. (MSH/ASP/AAK)
Penulis: Syarif Karawang
Referensi:
- Al-Qur’an Al-Karim
- Musnad Abu Dawud
- Shahih Bukhari
- Al-Ikhtilat bainar rijaal wan nisaa: karya Syaikh Shaleh bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullah
Footnotes
- Dipaparkan oleh Al-‘Allaamah Doktor Shaleh bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah di dalam risalah beliau (Al-Ikhtilat baynar Rijal wan Nisaa) hal. 8:
الاختلاط لغة: يقال: خَلَطَ الشيء بالشيء يَخْلِطُه خَلْطاً، وخَلَّطَه فاخْتَلَطَ: مَزَجَه، واخْتَلَطا وخالطَ الشيءَ مُخالَطة وخِلاطاً: مازَجَه
والتعريف الاصطلاحي المختار للاختلاط المحرم هو: انضمام واجتماع ومداخلة الرجال بالنساء غير المحارم في مكان واحد يمكنهم فيه الاتصال فيما بينهم: بالنظر، أو الإشارة، أو الكلام، أو البدن، من غير حائل أو مانع يدفع الريبة والفساد. واللَّه تعالى أعلم
- Musnad Abu Dawud jilid:1 hal:133 Imam Abu Dawud rahimahullah:
حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ هِشَامٍ يَعْنِي الْيَشْكُرِيَّ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ سَوَّارٍ أَبِي حَمْزَةَ – قَالَ أَبُو دَاوُدَ: وَهُوَ سَوَّارُ بْنُ دَاوُدَ أَبُو حَمْزَةَ الْمُزَنِيُّ الصَّيْرَفِيُّ – عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ. [حكم الألباني] : حسن صحيح
- berkata Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah di dalam kitabnya (Al-ikhtilat bainar rijaal wan nisaa):
أولاً: أنواع الاختلاط المحرم، وصوره على النحو الآتي:
اختلاط الأولاد: الذكور والإناث – ولو كانوا إخوة– في المضاجع بعد التمييز، فقد أمر النبي صلى الله عليه وسلم بالتفريق بينهم في المضاجع، فعن عبد اللَّه بن عمرو بن العاص رضي الله عنه، قال: قال رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم: مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ
اتخاذ الخدم الرجال، واختلاطهم بالنساء، وحصول الخلوة بهن، رُوِي في بعض الآثار أن فاطمة عليها السلام لما ناوَلَت أحَدَ ابنَيْها بلالًا أو أنسًا قال: رأيت كفًا يعني أنه لم يَرَ وجهًا ، وقد كان أنس رضي الله عنه خادمًا خاصّاً للنبي صلى الله عليه وسلم، وكان يعيش عنده كأحد أهله.
اتخاذ الخادمات اللائي يبقين بدون محارم، وقد تحصل بهن الخلوة
السماح للخطيبين بالمصاحبة والمخالطة التي تجر إلى الخلوة،
ثم إلى ما لا تحمد عقباه، فيقع العبث بأعراض الناس بحجة التعارف ومدارسة بعضهم بعضًا.
استقبال المرأة أقارب زوجها الأجانب، وأصدقاءه– في حال غيابه ومجالستهم.
الاختلاط في دور التعليم كالمدارس، والجامعات، والمعاهد، والدروس الخصوصية
الاختلاط في الوظائف، والأندية، والمواصلات، والأسواق، والمستشفيات، والزيارات بين الجيران، والأعراس، والحفلات.
الخلوة في أي مكان ولو بصفة مؤقتة كالمصاعد، والمكاتب، والعيادات، وغيرها
- Berkata Mufti Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz rahimahullah di dalam (Majmuu’ fataawaa) milik beliau:
يأمر اللَّه تعالى نبيه عليه الصلاة والسلام أن يبلغ المؤمنين والمؤمنات وجوب غض البصر، وحفظ الفرج عن الزنا، ومعلوم أن حفظ الفرج من الفاحشة إنما يكون باجتناب وسائلها، واختلاط النساء بالرجال في أماكن العمل والتعليم من أعظم وسائل وقوع الفاحشة
- Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah ‘Allamah bakr Abu Zaid rahimahullahdi dalam kitabnya (Al-ikhtilat bainar rijaal wan nisaa):
لما حرَّم الله الزنا حرَّم الأسباب الموصلة إليه؛ ولهذا قال العلامة بكر أبو زيد رحمه الله: «قاعدة الشرع المطهّر: أن اللَّه سبحانه إذا حرّم شيئاً حرّم الأسباب والطرق والوسائل المفضية إليه، تحقيقاً لتحريمه، ومنعاً من الوصول إليه، أو القرب من حماه … وفاحشة الزنا من أعظم الفواحش، وأقبحها وأشدها خطراً وضرراً، وعاقبةً على ضروريات الدين؛ ولهذا صار تحريم الزنا معلوماً من الدين بالضرورة.
قال اللَّه تعالى: {وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً}
ولهذا حرِّمت الأسباب الموصلة إليه من: السفور ووسائله، والتبرج ووسائله، والاختلاط ووسائله، وتشبه المرأة بالرجل، وتشبهها بالكافرات .. وهذا من أسباب الرِّيبة، والفتنة، والفساد
- berkata Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah di dalam kitabnya (Al-ikhtilat bainar rijaal wan nisaa):
أولاً: الاختلاط بين النساء والرجال الأجانب محرّم تحريماً مؤكداً؛ لأن العِفَّة حجاب يُمَزِّقه الاختلاط، ولهذا صار طريق الإسلام التفريق والمباعدة بين المرأة والرجل الأجنبي عنها، فالمجتمع الإسلامي مجتمع فردي لا زوجي، فللرجال مجتمعاتهم، وللنساء مجتمعاتهن، ولا تخرج المرأة إلى مجتمع الرجال إلا لضرورة أو حاجة بضوابط الخروج الشرعية.
كل هذا لحفظ الأعراض، والأنساب، وحراسة الفضائل، والبعد عن الرِّيب والرذائل، وعدم إشغال المرأة عن وظائفها الأساسية في بيتها؛ ولذا حُرِّم الاختلاط، سواء في التعليم، أم العمل، والمؤتمرات، والندوات، والاجتماعات العامة، والخاصة، وغيرها؛ لما يترتب عليه من هتك الأعراض ومرض القلوب، وخطرات النفس، وخنوثة الرجال، واسترجال النساء، وزوال الحياء، وتقلص العفة والحشمة، وانعدام الغيرة
- Diriwayatkan Imam Al-Bukhari rahimahullah di dalam shahihnya:
حَدَّثَنَا آدَمُ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عُثْمَانَ النَّهْدِيَّ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رضي الله عنهما، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ.
