Dalam kehidupan, tidak sedikit orang yang memulai ibadah dengan semangat. Namun perlahan melemah di tengah jalan. Ibarat pelita yang menyala terang di awal, tapi meredup seiring berlalunya waktu. Di sinilah pentingnya istiqamah — keteguhan hati dalam kebaikan, konsistensi dalam ibadah, dan ketegaran dalam menghadapi ujian —.
Istiqamah Dalam Ketaatan Adalah Tujuan Utama Bagi Setiap Muslim
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya oleh sahabat yang mulia Sufyan bin Abdillah radhiyallahu anhu,
يَا رَسُول اللَّهِ قُلْ لِي في الإِسلامِ قَولاً لاَ أَسْأَلُ عنْه أَحداً غيْركَ
“Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku sesuatu tentang Islam yang aku tidak akan menanyakannya kepada seseorang pun selainmu.”
Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan,
قُلْ: آمَنْت باللَّهِ: ثُمَّ اسْتَقِمْ
“Katakanlah: Aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah dalam ketaatan dan keimanan tersebut!”
1
Hadits ini menunjukkan bahwa istiqamah dalam ketaatan merupakan perkara yang amat penting dan dijunjung tinggi dalam Islam.
Allah Azza wa Jalla juga berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Ali Imran: 102)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di -seorang ulama pakar tafsir masa ini- rahimahullah berkata menjelaskan ayat tersebut,
هَذَا أَمْرٌ مِنَ اللهِ لِعِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ أَنْ يَتَّقُوْهُ حَقَّ تَقْوَاهُ، وَأَنْ يَسْتَمِرُّوا عَلَى ذَلِكَ وَيَثْبُتُوا عَلَيْهِ وَيَسْتَقِيْمُوا إِلَى المَمَاتِ، فَإِنَّ مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِ، فَمَنْ كَانَ فِيْ حَالِ صِحَّتِهِ وَنَشَاطِهِ وَإِمْكَانِهِ مُدَاوَمًا لِتَقْوَى رَبِّهِ وَطَاعَتِهِ، مُنَيِّبًا إِلَيْهِ عَلَى الدَّوَامِ، ثَبَّتَهُ اللهُ عِنْدَ مَوْتِهِ وَرَزَقَهُ حُسْنَ الخَاتِمَةِ
“Ini adalah perintah dari Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa, serta agar mereka terus menerus berada dalam ketakwaan itu, teguh di atasnya, dan istiqamah dalam ketaatan hingga ajal menjemput. Sebab, siapa yang hidup dalam suatu keadaan, maka ia akan mati dalam keadaan tersebut. Maka barangsiapa di masa sehat, kuat, dan mampu, senantiasa menjaga ketakwaannya kepada Rabb-nya, selalu taat kepada-Nya, dan kembali kepada-Nya secara terus-menerus, niscaya Allah akan meneguhkannya saat kematiannya dan menganugerahinya husnul khatimah (akhir kehidupan yang baik).” 2
Dalam ayat lainnya Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,
فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ
“Maka istiqamahlah (tetaplah di atas agama Allah, di jalan yang benar), sebagaimana yang telah diperintahkan kepadamu (Nabi Muhammad).” (Hud: 112)
Istiqamah Terpenting Adalah Keistiqamahan Hati
Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,
أَصْلُ الاسْتِقَامَةِ اسْتِقَامَةُ القَلْبِ عَلَى التَّوْحِيْدِ. فَمَتَى اسْتَقَامَ القَلْبُ عَلَى مَعْرِفَةِ اللهِ…استَقَامَتْ الجَوَارِحُ كُلُّهَا عَلَى طَاعَتِهِ
“Pangkal istiqamah adalah istiqamahnya hati di atas tauhid. Ketika hati istiqamah di atas ma’rifatullah (mengenal Allah) maka anggota tubuh semuanya akan istiqamah di atas ketaatan kepada-Nya.” 3
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ أَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ
“Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, akan tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada.” (Al-Ḥajj: 46)
Hati amat besar perannya dalam kehidupan. Karena hati yang baik akan membawa kita kepada kebaikan, sedangkan hati yang buruk akan membawa kita kepada keburukan.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ وَإِنَّ فِيْ الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ
“Ketahuilah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Namun jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” 4
Hambatan Istiqamah Dalam Ketaatan
Di antara hambatan terbesar istiqamah dalam ketaatan adalah godaan setan dan hawa nafsu.
Terkait dengan godaan setan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam (agama) Islam secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan! Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagi kalian.” (Al-Baqarah: 208)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,
وَاِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطٰنِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
“Jika setan benar-benar menggodamu dengan halus, berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-A‘rāf: 200)
قَالَ رَبِّ بِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَلَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ
“Ia (Iblis) berkata, “Wahai Rabbku, karena Engkau telah menyesatkanku, sungguh aku akan menjadikan (kejahatan) tampak indah bagi mereka di bumi dan sungguh aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (karena keikhlasannya) di antara mereka.” (Al-Ḥijr: 39-40)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ
“(Iblis) berkata, “Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (karena keikhlasannya) di antara mereka.” (Ṣād: 82-83)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pula,
اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّاۗ اِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَهٗ لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِۗ
“Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian. Maka perlakukanlah ia sebagai musuh! Sesungguhnya setan itu hanyalah mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala).” (Fāṭir: 6)
Adapun terkait hawa nafsu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَضِلُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۢبِمَا نَسُوْا يَوْمَ الْحِسَابِ ࣖ
“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, disebabkan karena mereka melupakan hari perhitungan (amalan).” (Ṣād: 26)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَاِنْ لَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ اَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ اَهْوَاۤءَهُمْۗ وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوٰىهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ࣖ
“Jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (Al-Qaṣaṣ: 50)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةًۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ
“Tahukah kamu (Nabi Muhammad), orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya dan dibiarkan sesat oleh Allah dengan pengetahuan-Nya, Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup pada penglihatannya. Lantas siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Apakah kalian (wahai manusia) tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jāṡiyah: 23)
Istiqamah dalam ketaatan adalah bekal utama menuju ridha Allah dan husnul khatimah. Meski jalan ini penuh tantangan, rintangan, serta halangan, kita tidak boleh menyerah dalam memperjuangkannya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memantapkan hati kita di atas agama-Nya, menjaga kita dari godaan setan dan hawa nafsu, serta menutup hidup kita dengan akhir yang baik. “Ya Allah, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu”. Aamiin.
Penulis: Muhammad Zidan
(ZDN/AAA/ATH)
Referensi:
- Al Qur’anul Karim
- Sahih Al-Bukhari karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (W. 256 H) rahimahullah
- Sahih Muslim karya Abul Hajjaj Muslim bin Hajjaj al-Qusayairi (W. 261 H) rahimahullah
- Taisir Karimur Rahman karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di (W. 1376 H) rahimahullah
