oleh

Ringkasan Kitab ‘Awaiq at-Thalab: 10 Faktor Penghambat Menuntut Ilmu Bag. 1

Dalam proses menuntut ilmu (thalabul ilmi), sering kali dijumpai fenomena kegagalan yang dialami oleh para penuntutnya. Tidak sedikit dari mereka yang menghentikan proses belajarnya secara tiba-tiba. Fenomena tersebut tentu didasari oleh berbagai faktor penyebab yang membuat seseorang pada akhirnya kehilangan motivasi untuk melanjutkan perjalanan menuntut ilmu.

Padahal, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Betapa tidak, ilmu adalah modal utama bagi seseorang untuk dapat beribadah dan menjalankan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla secara benar. Sedangkan ibadah merupakan tujuan hakiki dari diciptakannya manusia.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الجِنَّ وَالإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Artikel ini akan mengulas faktor-faktor yang dapat menghambat proses menuntut ilmu. Seluruh poin yang disampaikan merupakan intisari dari kitab ‘Awaiq at-Thalab karya Syaikh Abdus Salam bin Barjas rahimahullah.

1. Niat yang Kurang Ikhlas

Niat memiliki kedudukan yang penting di dalam setiap amalan. Karena seluruh amalan tergantung dengan niatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

‌إِنَّمَا ‌الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” HR. Al-Bukhari dan Muslim 1

Niat memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan proses menuntut ilmu. Oleh karena itu, perkara pertama yang wajib diperhatikan dan dipelihara adalah niat. Ilmu syar’i hanya akan memuliakan pemiliknya apabila diniatkan secara ikhlas guna mencari ridha Allah ‘Azza wa Jalla. 

Adapun jika niat menuntut ilmu diselewengkan untuk tujuan duniawi, maka keutamaannya akan hilang dan beresiko menjadi fitnah dan bumerang bagi pemiliknya. Hal ini karena diterimanya amal perbuatan sangat ditentukan oleh faktor keikhlasan. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,  

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (Al-Bayyinah: 5)

Bahkan, Nabi juga mengancam bagi siapa saja yang menuntut ilmu dengan tujuan memperoleh keuntungan duniawi. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‌مَنْ ‌تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ، لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا ‌لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya diniatkan untuk mencari wajah Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk memperoleh keuntungan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari Kiamat.” HR. Ahmad 2


Baca Juga: 5 Tips Meraih Ikhlas dalam Menuntut Ilmu 


2. Tidak Mengamalkan Ilmu

Tujuan utama dari menuntut ilmu adalah untuk diamalkan. Dalam hal ini, ilmu berkedudukan sebagai wasilah (perantara), sementara amal merupakan tujuan utamanya. Mengingat amal tidak akan sah tanpa ilmu, maka keduanya tidak dapat dipisahkan. Sebagaimana perkataan Imam Sufyan rahimahullah,

 ‌إِنَّمَا يُطْلَبُ الْعِلْمُ لِيُتَّقَى اللهُ بِهِ

“Sejatinya, tujuan dipelajarinya ilmu hanyalah agar dengannya seseorang menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah.” 3

Oleh sebab itu, seorang penuntut ilmu wajib berkomitmen untuk mengamalkan ilmu yang didapatnya. Terlebih, ilmu tersebut akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah pada hari Kiamat kelak. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 

‌لَا ‌تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعَ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمِا أَبْلَاهُ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَأَيْنَ وَضَعَهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَا عَمِلَ فِيْهِ

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya (tubuhnya) untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia infakkan, serta tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan darinya.” 4

Demikian pula, mengamalkan ilmu merupakan kebiasaan para salafus shalih. Itulah rahasia mengapa Allah Ta’ala memberkahi ilmu mereka sehingga manfaatnya tetap dapat kita rasakan hingga hari ini.

Terkait hal ini, Abu Abdirrahman As-Sulami rahimahullah menceritakan sebuah teladan berharga: ‘Para guru kami menceritakan kepada kami bahwa dahulu saat mereka belajar Al-Qur’an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka tidaklah melewati sepuluh ayat melainkan mereka telah mempelajari kandungan ilmu dan amal di dalamnya. Maka mereka pun mempelajari Al-Qur’an sekaligus dengan pengamalannya secara bersamaan. 

Bahkan, mengamalkan ilmu merupakan faktor utama terjaganya ilmu itu sendiri agar tetap melekat kuat dalam ingatan. Sebaliknya, saat seseorang enggan mengamalkan ilmunya, hal itu akan menjadi sebab perginya ilmu dan membuatnya terlupakan. Hal ini sebagaimana nasihat masyhur dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, 

‌كُنَّا ‌نَسْتَعِينُ عَلَى حِفْظِ الْحَدِيثِ ‌بِالْعَمَلِ بِهِ

“Dahulu kami mengamalkan sebuah hadits untuk membantu kami menghafalkan hadits tersebut.” 5

3. Hanya Bersandar dengan Kitab Tanpa Merujuk kepada Ulama

Rujuk kepada para ulama merupakan suatu kelaziman yang diperintahkan oleh syariat, terlebih dalam menghadapi persoalan-persoalan yang rancu (syubhat) dan tidak diketahui. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, 

فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.” [Al-Anbiya’: 7]

Sayangnya, tidak sedikit penuntut ilmu yang merasa mampu menyerap ilmu hanya dari buku atau kitab tanpa merujuk kepada ulama. Mereka mencoba mengartikan istilah-istilah sulit atau memecahkan kejanggalan isi kitab dengan logika mereka sendiri. Tentu saja, rasa percaya diri yang berlebihan seperti ini merupakan salah satu faktor penghambat utama dalam perjalanan menuntut ilmu. 

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah berkata,

مَنْ تَفَقَّهَ مِنْ بُطُوْنِ الكُتُبِ ضَيَّعَ الأَحْكَامَ

“Barang siapa yang mempelajari fikih hanya dari ‘perut-perut kitab’ (tanpa bimbingan ulama), niscaya ia akan terluput dari banyak hukum (agama).” [efn_note] Lihat kitab Tadzkiratus Sami’, hal. 87 [/efn_note]

Artinya, menuntut ilmu tidaklah cukup hanya dengan membaca lembaran kitab dan buku. Namun sangat menuntut adanya bimbingan langsung dari ulama agar pemahaman yang didapat tetap lurus dan tidak keliru.

​4. Mengambil Ilmu dari al-Ashaghir 

Poin selanjutnya yang menjadi penghambat dalam menuntut ilmu adalah mengambil ilmu dari al-ashaghir. Yang dimaksud dengan al-ashaghir di sini adalah orang-orang yang belum kokoh keilmuannya dan belum matang pengalamannya—istilahnya “belum putih janggutnya”—padahal di saat yang sama masih ada para ulama senior yang jauh lebih mumpuni, baik dari segi usia maupun kedalaman ilmu.

Mengapa hal ini dianggap sebagai penghambat? Karena belajar kepada orang yang belum matang ilmunya dapat melemahkan fondasi keilmuan para pemula. Selain itu, hal ini akan menghalangi penuntut ilmu untuk mengambil faedah langsung dari ulama senior, terutama dalam mempelajari akhlak dan kewibawaan mereka yang terbina di atas ilmu yang matang. Hal ini sebagaimana yang pernah dinyatakan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

‌لَا ‌يَزَالُ ‌النَّاسُ ‌بِخَيْرٍ ‌مَا ‌أَخَذُوا ‌الْعِلْمَ ‌عَنْ ‌أَكَابِرِهِمْ وَعَنْ أُمَنَائِهِمْ وَعُلَمَائِهِمْ ، فَإِذَا أَخَذُوهُ مِنْ أَصَاغِرِهِمْ وَشِرَارِهِمْ هَلَكُوا

“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengambil ilmu dari para senior, orang-orang yang amanah, dan para ulama mereka. Namun apabila mereka mengambil ilmu dari orang-orang kecil (al-ashaghir) serta dari orang-orang buruk di antara mereka, niscaya mereka akan binasa.” 6

Hal ini juga dipertegas dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Al-Jumahi radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‌إِنَّ ‌مِنْ ‌أَشْرَاطِ السَّاعَةِ ثَلَاثًا إِحْدَاهُنَّ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari Kiamat ada tiga perkara, salah satunya adalah ketika ilmu dicari dari orang-orang kecil (al-asaghir).” 7

Demikianlah empat faktor yang dapat menghambat perjalanan menuntut ilmu (thalabul ilmi). Adapun enam faktor lainnya akan kita bahas pada artikel bagian kedua, insya Allah. Semoga ulasan singkat ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin. (RGA/LTC/ATH)

Penulis: Rasyid Ghani

Referensi:

  1. Al-Qur’anul Karim
  2. Shahih Bukhari
  3. Shahih Muslim
  4. Sunan Abu Dawud
  5. Sunan Ibnu Majah
  6. Kitab ‘Awaiqut Thalab karya Syaikh Abdus Salam bin Barjas rahimahulllah
  7. Hilyatul Auliya’ karya Imam Abu Nu’aim Al-Ashbahani rahimahulllah
  8. Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhlihi karya Imam Ibnu Abdil Barr rahimahulllah
  9. Tadzkiratus  Sami’ karya Imam Ibnu Jama’ah rahimahulllah


              

Footnotes

  1. HR. Al-Bukhari No. 1 dan Muslim No. 1907, dari sahabat Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu
  2. HR. Ahmad di dalam Musnadnya (2/338), Abu Dawud di dalam Sunannya (4/71), Ibnu Majah di dalam Sunannya (1/92), dan dishahihkan oleh Al-Hakim (1/85) dan disetujui oleh imam Adz-Dzahabi, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
  3. HR. Abu Nu’aim Al-Ashbahani di dalam kitab Hilyatul Auliya’ (6/362)
  4. HR. Abu Nu’aim Al-Ashbahani rahimahullah di dalam kitab Hilyatul Auliya’ (10/232), dari sahabat Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu
  5. Diriwayatkan oleh imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah di dalam kitab Jami’u Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (1/708)
  6. Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah di dalam kitabnya Jami’u Bayanul Ilmi wa Fadhlihi 1/616
  7. Jami’ Bayanil Ilmi wa fadhlihi 1/612