oleh

Penjelasan Hadits Thalabul Ilmi: Jalan Menuju Surga

Thalabul ilmi (menuntut ilmu agama) adalah amalan yang sangat mulia. Bahkan thalabul ilmi memiliki sekian keutamaan, di antaranya adalah thalabul ilmi merupakan jalan menuju surga.

Pada artikel ringkas ini, kami akan menyebutkan hadits yang menyebutkan tentang keutamaan tersebut beserta penjelasan para ulama tentang hadits tersebut, biidznillah.

Redaksi Hadits

Nash (dalil) yang menyebutkan bahwa thalabul ilmi adalah jalan menuju surga berasal dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya dengan ilmu tersebut jalan menuju surga.” 1

Penjelasan Hadits

Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa seseorang yang menempuh jalan untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat, dengan ikhlas karena Allah, kemudian mengambil manfaat dan mengamalkannya, Allah akan memudahkannya jalan menuju surga.

Namun demikian, hendaknya kita juga perlu untuk mengetahui bagaimana ulama hadits menjelaskan dan mengurai makna penggalan beberapa kalimat dari hadits di atas. Simak penjelasan berikut.

  • وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا

Pada penggalan hadits di atas, Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan,

مَنْ مَشَى إِلَى تَحْصِيلِ عِلْمٍ شَرْعِيٍّ، قَاصِدًا بِهِ وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى، جَازَاهُ اللَّهُ عَلَيْهِ بِأَنْ يُوصِلَهُ إِلَى الْجَنَّةِ مُسَلَّمًا مُكَرَّمًا

“Barang siapa berjalan untuk memperoleh ilmu syar’i, dengan mengharap wajah Allah Ta‘ala, Allah akan memberikan balasan kepadanya atas hal tersebut dengan mengantarkannya menuju surga dalam keadaan selamat dan dimuliakan.” 2

Imam al-Mubarakfuri rahimahullah juga mengatakan,

حَقِيقِيًّا حِسِّيًّا، وَهُوَ الْمَشْيُ بِالْأَقْدَامِ إِلَى مَجَالِسِ الْعُلَمَاءِ، أَوْ مَعْنَوِيًّا، مِثْلَ حِفْظِ الْعِلْمِ، وَمُدَارَسَتِهِ، وَمُذَاكَرَتِهِ، وَمُطَالَعَتِهِ، وَكِتَابَتِهِ، وَالتَّفَهُّمِ لَهُ، وَنَحْوِ ذَلِكَ مِنَ الطُّرُقِ الْمَعْنَوِيَّةِ الَّتِي يُتَوَصَّلُ بِهَا إِلَى الْعِلْمِ

“(Barang siapa menempuh suatu jalan) baik jalan yang hakiki dan bersifat fisik, yaitu berjalan dengan kaki menuju majelis-majelis para ulama, maupun jalan yang bersifat maknawi, seperti menghafal ilmu, mempelajarinya, mengulang dan mendiskusikannya, membaca serta menelaahnya, menulisnya, memahaminya, dan semisalnya dari berbagai usaha yang termasuk jalan-jalan maknawi yang dengannya seseorang dapat memperoleh ilmu.” 3

سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Imam Muhammad bin Ali bin Adam rahimahullah mengatakan,

يُسَهِّلُ اللَّهُ لَهُ الْعِلْمَ الَّذِي طَلَبَهُ، وَسَلَكَ طَرِيقَهُ، وَيُيَسِّرُهُ عَلَيْهِ؛ فَإِنَّ الْعِلْمَ طَرِيقٌ يُوصِلُ إِلَى الْجَنَّةِ، أَوْ يُيَسِّرُ اللَّهُ لَهُ إِذَا قَصَدَ بِطَلَبِهِ وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى الِانْتِفَاعَ بِهِ، وَالْعَمَلَ بِمُقْتَضَاهُ، فَيَكُونُ سَبَبًا لِهَدَايَتِهِ، وَلِدُخُولِ الْجَنَّةِ بِذَلِكَ

“Allah memudahkan baginya ilmu yang ia cari dan yang ia tempuh jalannya, serta memudahkan ilmu tersebut baginya. Sesungguhnya ilmu adalah jalan yang mengantarkan menuju surga.

Atau, Allah memudahkannya apabila dalam mencari ilmu ia mengharap wajah Allah Ta‘ala, untuk mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut dan mengamalkan konsekuensinya. Dengan demikian, ilmu itu menjadi sebab ia mendapatkan hidayah dan masuk ke dalam surga.” 4

Beliau rahimahullah juga mengatakan,

وَقَدْ يُيَسِّرُ اللَّهُ لِطَالِبِ الْعِلْمِ عُلُومًا أُخْرَى يَنْتَفِعُ بِهَا، وَتَكُونُ مُوصِلَةً إِلَى الْجَنَّةِ، أَوْ يُسَهِّلُ اللَّهُ لَهُ طَرِيقَ الْجَنَّةِ الْحِسِّيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَهُوَ الصِّرَاطُ، وَمَا قَبْلَهُ، وَمَا بَعْدَهُ مِنَ الْأَهْوَالِ، فَيُيَسِّرُ ذَلِكَ عَلَى طَالِبِ الْعِلْمِ لِلِانْتِفَاعِ بِهِ

“Boleh jadi Allah memudahkan bagi penuntut ilmu berbagai ilmu lainnya yang dapat ia manfaatkan dan menjadi sarana yang mengantarkannya menuju surga.

Atau, Allah memudahkan baginya jalan menuju surga yang bersifat indrawi pada hari Kiamat, yaitu shirath, serta berbagai kengerian yang terjadi sebelum dan sesudahnya. Dengan demikian, Allah memudahkan hal tersebut bagi penuntut ilmu sehingga ia dapat memperoleh manfaat darinya.” 5

Ilmu Apa yang Dimaksud?

Mengetahui agungnya keutamaan thalabul ilmi dari hadits di atas, muncullah sebuah pertanyaan; ilmu apa yang dimaksud pada hadits di atas sehingga mendapatkan keutamaan sebesar itu?

Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah pernah mengatakan,

وَالْمُرَادُ بِالْعِلْمِ هُنَا عِلْمُ الشَّرِيعَةِ وَمَا يُسَانِدُهُ مِنْ عُلُومِ الْعَرَبِيَّةِ وَالتَّارِيخِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ.
أَمَّا الْعُلُومُ الدُّنْيَوِيَّةُ الْمَحْضَةُ كَالْهَنْدَسَةِ وَشِبْهِهَا فَلَا تَدْخُلُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ

“Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syariat dan ilmu-ilmu yang mendukungnya, seperti ilmu bahasa Arab, sejarah, dan semisalnya.

Adapun ilmu-ilmu duniawi murni, seperti ilmu teknik dan semisalnya, maka tidak termasuk dalam hadits ini.” 6

Jalan Thalabul Ilmi: Fisik dan Maknawi

Para ulama menjelaskan bahwa lafazh الطَّرِيْقُ dalam hadis secara mutlak mencakup jalan yang bersifat fisik maupun maknawi. Jalan fisik adalah perjalanan yang ditempuh seseorang dengan kakinya untuk mendapatkan ilmu, sedangkan jalan maknawi adalah berbagai sarana yang dengannya seseorang memperoleh dan memahami ilmu.

Contoh jalan yang bersifat fisik yang ditempuh dengan kaki seperti seseorang pergi dari rumahnya menuju sekolahnya, atau dari rumahnya menuju masjid, atau dari rumahnya menuju majelis ilmu di mana pun berada.

Adapun contoh jalan maknawi seseorang menerima ilmu dari para ulama, membaca dan menelaah kitab-kitab, mendengarkan rekaman kajian, membaca artikel-artikel Islami dan semisalnya. 7

Kesimpulan

Hadits di atas menunjukkan besarnya keutamaan thalabul ilmi, bahwa thalabul ilmi merupakan jalan menuju surga. Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka thalabul ilmi dengan niat untuk mengharap wajah Allah Ta’ala, niscaya Allah akan memberikan balasan kepadanya atas hal tersebut dengan menjadikan jalan thalabul ilmi ini sebagai jalan menuju Jannah-Nya.

Semoga hadits di atas dapat memompa semangat kita untuk terus thalabul ilmi dan tidak terputus darinya. Semoga bermanfaat. (RGA/AAA/AAK)

Penulis: Rasyid Ghani

Referensi:

  • Al-Qur’anul Karim
  • Shahih Muslim
  • Al-Mufhim li-mā Asykala min Talkhīṣi Kitāb Muslim karya Imam al-Qurthubi rahimahullah
  • Mir‘ātul Mafātīḥ, Syarah Misykātul Mashābīḥ karya Imam al-Mubarakfuri rahimahullah
  • Al-Bahrul Muhith ats-Tsajjaj fi Syarhi Shahih al-Imam Muslim bin al-Hajjaj karya Imam Muhammad bin Ali bin Adam rahimahullah
  • Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah

Footnotes

  1. HR. Muslim no. 2699, di dalam sahihnya. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
  2. Lihat Al-Mufhim li-mā Asykala min Talkhīṣi Kitāb Muslim 6/684
  3. Lihat Mir‘ātul Mafātīḥ, Syarah Misykātul Mashābīḥ 1/308
  4. Lihat Al-Bahrul Muhith ats-Tsajjaj fi Syarhi Shahih al-Imam Muslim bin al-Hajjaj 42/174
  5. Lihat Al-Bahrul Muhith ats-Tsajjaj fi Syarhi Shahih al-Imam Muslim bin al-Hajjaj 42/174
  6. Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih hal. 357
  7. Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih hal. 363