Sebagai hamba yang lemah, kita sangat membutuhkan pertolongan Rabb semesta alam. Seorang hamba tidak akan mampu melakukan apapun tanpa bantuan Allah Ta’ala semata.
Dalam artikel ringkas ini, insya Allah kami akan membahas sekaligus menjawab pertanyaan “Mengapa doaku belum terkabul?” Sebab, banyak orang merasa telah banyak dan sering berdoa, namun di saat yang sama merasa doanya tidak dikabulkan oleh Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala Memerintahkan Hamba-Nya untuk Berdoa
Di antara bentuk kasih sayang Allah Ta’ala terhadap para hamba-Nya, Dia tidak hanya memerintahkan mereka untuk berdoa dan meminta kepada-Nya, tetapi juga berjanji akan mengabulkan doa dan permintaan tersebut. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan Rabb kalian mengatakan, ‘Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan (doa tersebut) untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku mereka akan masuk ke dalam Jahannam dalam keadaan hina.’” (Ghafir: 60)
Pada ayat lain, Allah Ta’ala juga berfirman,
“Apabila hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku sangat dekat. Aku akan mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 186)
Namun, mengapa sebagian orang masih mengeluh dan merasa doanya belum terkabul? Ada tiga jawaban untuk pertanyaan tersebut. Simak penjelasan berikut!
Jawaban Pertama: Salah Satu dari Tiga Hal
Sebagai jawaban pertama yaitu sebagaimana di dalam sebuah hadits dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah Ta’ala dengan doa yang tidak mengandung dosa atau memutus hubungan silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal:
✅ Allah mempercepat terkabulnya doa tersebut;
✅ Allah menyimpannya untuknya di akhirat;
✅ Allah menolak keburukan yang setara dengan doanya.” 1
Jawaban Kedua: Ada Penghalang Terkabulnya Doa
Terkabulnya doa memiliki faktor pendukung sekaligus syarat-syarat tertentu. Imam Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah, ketika menafsirkan surah Al-Baqarah ayat 186 di atas, menjelaskan,
“Maka barangsiapa yang berdoa kepada Rabbnya dengan hati yang khusyu’ dan dengan doa yang disyariatkan, serta tidak ada satu penghalang pun yang menghalanginya dari dikabulkannya doa, seperti memakan sesuatu yang haram dsb, maka sesungguhnya Allah Ta’ala berjanji akan mengabulkannya. Terlebih lagi apabila ia berdoa disertai dengan sebab-sebab terkabulnya doa, yaitu: menyambut panggilan Allah Ta’ala dengan tunduk terhadap berbagai perintah-Nya dan menjauh dari berbagai larangan-Nya, baik yang sifatnya ucapan maupun perbuatan dan beriman kepada-Nya.” 2
Hal ini sejalan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang seorang musafir (orang yang bepergian jauh), berpakaian compang-camping lagi berdebu. Ia mencoba menengadahkan tangan ke langit seraya berdoa, ‘Ya Rabb… ya Rabb…’ Padahal makanan dan minumannya haram, pakaiannya haram, darah dagingnya tumbuh dari harta yang haram, lantas bagaimana bisa doanya akan dikabulkan?!” 3
Imam Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah melanjutkan penjelasannya,
“Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman, ‘Maka hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk,’ yakni mereka akan memperoleh hidayah untuk beriman kepada Allah Ta’ala dan mengerjakan amal saleh, serta terhindar dari penyimpangan yang bertentangan dengan keimanan dan amal saleh.” 4
Jawaban Ketiga: Allah Lebih Tahu Apa yang Terbaik bagi Kita
Terkadang, seorang yang berdoa mengira bahwa doanya adalah yang terbaik baginya, padahal bisa jadi hal itu justru tidak sesuai dengan kemaslahatan dirinya. Dalam kondisi seperti ini, berarti Allah Ta’ala telah mengabulkan doa tersebut dalam bentuk yang lebih baik, sesuai dengan hikmah dan kasih sayang-Nya. Sebuah kemaslahatan terkadang justru terletak pada tertundanya pengabulan doa, atau bahkan pada ditolaknya permintaan/doa itu. 5
Allah Ta’ala berfirman,
“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia lebih baik bagi kalian. Boleh jadi pula kalian mencintai sesuatu, padahal ia lebih buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Kesimpulan
Jangan pernah berputus asa ketika doa kita seakan belum terkabul! Do’a seorang mukmin tidaklah sia-sia. Boleh jadi Allah Ta’ala menyegerakan terkabulnya, menyimpannya untuk akhirat, atau menghindarkan keburukan dengannya. Maka teruslah berdo’a, perbaiki ketaatan, jauhi hal-hal yang menghalangi terkabulnya doa, dan yakinlah bahwa Allah Ta’ala lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Semoga bermanfaat. (RGA/ASP/ATH)
Penulis: Rasyid Ghani
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim
- Al-Adabul Mufrad
- Shahih Muslim
- Tafsir As-Sa’di
- Zadul-Masir
