Bulan Ramadhan adalah kesempatan emas bagi seorang hamba untuk memperbanyak ibadah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyiapkan sejumlah keutamaan besar di dalamnya, diperuntukkan khusus bagi hamba-hamba-Nya yang mencari kebaikan.
Di bulan yang mulia ini Al-Qur’an kitab suci umat Islam diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam, sehingga bulan Ramadhan juga disebut Syahrul Qur’an (bulan Al Qur’an).
Keistimewaan lain dari bulan Ramadhan adalah Allah mensyaratkan di dalamnya puasa sebagai salah satu rukun Islam. Tak hanya itu, bahkan Allah berjanji akan memberikan pahala puasa secara langsung tanpa perhitungan. Hal ini jelas menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia dan istimewa. Sehingga sudah selayaknya bagi kaum muslimin hamba Allah untuk mengistimewakan bulan Ramadhan dengan berbagai amalan dan ibadah yang disyariatkan.
Tak lupa pula dengan meneladani jejak generasi salaf (pendahulu) yang soleh, bagaimana mereka menyambut Ramadhan dan mengisinya dengan amal saleh. Karena, dahulu Para ulama salaf (pendahulu) kita telah meninggalkan banyak teladan kebaikan selama bulan Ramadhan, agar generasi setelahnya dapat mencontoh dan meniru jejak mereka.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
وَكَانَ مِنْ هَدْيِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ الْإِكْثَارُ مِنْ أَنْوَاعِ الْعِبَادَاتِ، فَكَانَ جِبْرِيلُ يُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ، وَكَانَ إِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ «وَكَانَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَأَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ» يُكْثِرُ فِيهِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَالْإِحْسَانِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَالصَّلَاةِ وَالذِّكْرِ وَالِاعْتِكَافِ
“Termasuk di antara bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam bulan Ramadhan adalah memperbanyak berbagai ibadah. Dahulu Jibril ‘alaihis salam mengajarkan Al-Qur’an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan. Beliau adalah sosok yang sangat pemurah, bahkan lebih pemurah daripada angin yang bertiup ketika Jibril menemuinya (Dahulu beliau adalah orang yang paling pemurah, dan lebih pemurah lagi tatkala berada pada bulan Ramadhan). Pada bulan tersebut, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak sedekah, berbuat baik, membaca Al-Qur’an, shalat, zikir, serta iktikaf.”1
Salaf dan Al-Qur’an pada Bulan Ramadhan
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,
شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ
“Bulan Ramadhan yang padanya diturunkan Al-Qur’an.” (Al-Baqarah: 185)
Atas dasar ini, para ulama salaf sangat antusias terhadap Al-Qur’an. Mereka memperbanyak membaca Al-Qur’an dan mengkhatamkannya. Diriwayatkan bahwa sahabat Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu hari. Imam Musabbah bin Sa’id rahimahullah menceritakan bahwa Muhammad bin Isma’il al-Bukhari rahimahullah mengkhatamkan Al-Qur’an setiap siang hari pada bulan Ramadhan. Demikian pula Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mampu mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali selama Ramadhan, dan itu beliau baca di luar waktu shalat. Ini sebagai bukti betapa mereka para ulama panutan kita sangat bersungguh-sungguh terhadap Al Qur’an di bulan suci Ramadhan. Tentu perbuatan mereka tidak bertentangan dengan hadits yang padanya terdapat larangan mengkhatamkan Al-Quran kurang dari 3 hari.
Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa meskipun terdapat larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari secara terus-menerus, hal ini dikecualikan pada waktu dan tempat yang mulia. Di waktu istimewa seperti Ramadhan atau di tempat mulia seperti kota Makkah, disunnahkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an demi memanfaatkan keutamaan waktu dan tempat tersebut.2
Salaf dan Qiyamul Lail di Bulan Ramadhan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memotivasi umatnya untuk bersungguh-sungguh di dalam menghidupkan hari-hari dan malam-malam mereka di bulan Ramadhan dengan ibadah. Dalam sebuah hadits, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang menegakkan qiyamul lail di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”3
Di antara kebiasaan salaf adalah menghidupkan malam Ramadhan dengan mengerjakan shalat dan ibadah lainnya. Banyak kisah menakjubkan yang merekam kesungguhan ibadah mereka saat menghidupkan malam Ramadhan. Berikut sebagian kisah mereka;
Imam Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah berkata, “Aku tidaklah mendapatkan kelezatan ibadah yang lebih baik daripada shalat di pertengahan malam.” Juga imam al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah juga menasihatkan, “Jika kamu tidak sanggup berpuasa di siang hari dan mendirikan shalat di malam harinya, ketahuilah bahwa kamu telah terhalang dari kebaikan dan terbelenggu oleh dosa-dosamu.”
As-Saib bin Yazid rahimahullah menceritakan bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Dari radhiyallahu ‘anhuma untuk menjadi imam shalat di malam bulan Ramadhan sebanyak 11 rakaat. Mereka membaca ratusan ayat hingga para makmum harus bersandar pada tongkat karena lamanya berdiri, dan baru selesai menjelang waktu fajar. Demikian sekilas gambaran kesungguhan salaf di bulan Ramadhan.
Baca Juga: Waspada! Inilah Beberapa Kesalahan dalam Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan
Salaf dan Sedekah di Bulan Ramadhan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau semakin bertambah di bulan Ramadhan. Hal ini dinyatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam hadits berikut,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالخَيْرِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ، حَتَّى يَنْسَلِخَ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ القُرْآنَ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، كَانَ أَجْوَدَ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ
“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau akan lebih dermawan ketika berada di bulan Ramadhan tatkala Jibril ‘alaihis salam menemuinya. Jibril menemuinya di setiap malam pada bulan Ramadhan hingga beliau wafat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an kepadanya, dan ketika Jibril menemuinya, beliau adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, lebih cepat daripada angin yang bertiup.”4
Salah satu sosok teladan dalam kedermawanan adalah sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. Beliau terbiasa berbuka puasa bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya menghalangi, beliau memilih untuk tidak makan di malam itu. Apabila ada yang datang meminta makanan saat beliau sedang makan, beliau rela mengambil jatahnya untuk diberikan kepada fakir tersebut. Subhanallah!
Demikian halnya imam Hammad bin Abi Sulaiman rahimahullah yang setiap malam menyediakan makanan berbuka puasa bagi 50 orang. Menjelang malam Idul Fitri, beliau bahkan memberikan mereka pakaian dan uang masing-masing 100 dirham.
Penutup
Itulah potret para ulama salaf pendahulu yang soleh. Mereka wariskan kepada kita banyak teladan kebaikan. Sungguh, mereka adalah generasi yang benar-benar memahami kedudukan bulan Ramadhan dan bagaimana seharusnya mengisinya. Sehingga Ramadhan menjadi momen terindah bagi mereka untuk meraih beragam keutamaan. Tidak ada figur teladan yang lebih baik untuk ditiru selain mereka. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita mencontoh jejak mereka, terutama di momen istimewa ini.
Semoga sepenggal kisah keteladanan salaf yang disajikan dalam tulisan ringkas ini menjadi pemacu semangat kita dalam upaya meraih derajat tertinggi disisi Allah yaitu derajat ketakwaan di bulan yang penuh kemuliaan, Aamiin. (AAJ/ASP/IWU)
Penulis: Abdurrahman Aufi
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim
- Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, karya Muhammad bin Abi Bakr Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (W. 751 H) rahimahullah.
- Shahih Bukhari, karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari (W. 256 H) rahimahullah.
- Shahih Muslim, karya Imam Muslim bin al-Hajjaj Abul Hasan al-Qusyairi (W. 261 H) rahimahullah.
- Latha’iful Ma’arif, karya Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad Ibnu Rajab al-Hanbali (W. 795 H) rahimahullah.
