Jatuh ke dalam perbuatan dosa adalah sebuah kemestian bagi setiap insan. Tidak ada satu insan pun yang selamat dari dosa dan kekeliruan. Di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ
“Setiap anak Adam pasti selalu berbuat salah.” 1
Namun, akankah kita berhenti di titik ini, bergelimang dengan dosa dan tenggelam di lautan maksiat? Tentu tidak! Kita tidak boleh berhenti dan pasrah dengan keadaan ini. Karena, pada lanjutan hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah mereka yang bertobat.” 2
Dalam artikel ringkas ini, insyaAllah kami akan menyajikan 5 kiat menjaga diri dari dosa dan langkah preventif agar tidak terjatuh di lubang maksiat.
Mengapa Kita Harus Menjaga Diri dari Dosa?
Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menjaga diri mereka dari dosa dan meninggalkannya, baik yang dilakukan secara terang-terangan maupun tersembunyi. Allah Ta’ala berfirman,
وَذَرُوا ظَاهِرَ الْإِثْمِ وَبَاطِنَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَكْسِبُونَ الْإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوا يَقْتَرِفُونَ
“Dan tinggalkanlah dosa yang tampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa kelak akan diberi balasan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-An‘am: 120)
Di sisi lain, dosa bukanlah perkara yang ringan. Selain mendapatkan ancaman dari Allah Ta’ala, dosa juga memberikan efek negatif bagi hati seorang hamba. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾ [الْمُطَفِّفِينَ: ١٤]
“Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, akan ditorehkan pada hatinya satu titik hitam. Apabila dia meninggalkan dosa tersebut, memohon ampun, dan bertobat, maka hatinya akan dibersihkan. Namun, apabila dia kembali melakukan dosa, titik hitam itu akan ditambahkan hingga menutupi hatinya. Itulah rān yang Allah sebutkan: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’ (Al-Muthaffifin: 14).” 3
Sedangkan, di sana terdapat sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan bahwa amalan yang tampak itu sangat tergantung dengan kondisi hati seseorang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh jasad akan menjadi baik. Jika ia rusak, seluruh jasad akan menjadi rusak. Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati.” 4
Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan mengenai hadits di atas,
فَبَيَّنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ بِصَلَاحِ الْقَلْبِ يَصْلُحُ بَاقِي الْجَسَدِ، وَبِفَسَادِهِ يَفْسُدُ بَاقِي الْجَسَدِ
“Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa dengan baiknya hati, maka baik pula seluruh anggota tubuh. Sebaliknya, dengan rusaknya hati, maka rusak pula seluruh anggota tubuh.” 5
5 Kiat Menjaga Diri dari Dosa
Mengingat besarnya pengaruh dosa pada diri seseorang, lantas apa saja langkah-langkah dan kiat-kiat yang dapat membantu kita menjaga diri dari dosa? Di antaranya sebagai berikut:
Kiat Pertama: Ikhlas
Langkah pertama yang harus kita tempuh untuk menjaga diri dari dosa adalah ikhlas kepada Allah Ta’ala. Di sekian ayat-Nya, Allah Ta’ala menjadikan ikhlas sebagai perisai terkuat untuk menjaga diri dari dosa.
Keikhlasan Nabi Yusuf ‘alaihis salam
Sebagaimana di dalam kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam ketika beliau menghadapi godaan yang kuat untuk melakukan perbuatan yang keji. Namun, di tengah arus godaan yang kuat tersebut, Allah Ta’ala selamatkan Nabi Yusuf ‘alaihis salam berkat keikhlasan yang ada pada diri beliau. Allah Ta’ala gambarkan melalui firman-Nya,
وَرَٰوَدَتۡهُ ٱلَّتِي هُوَ فِي بَيۡتِهَا عَن نَّفۡسِهِۦ وَغَلَّقَتِ ٱلۡأَبۡوَٰبَ وَقَالَتۡ هَيۡتَ لَكَۚ قَالَ مَعَاذَ ٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ رَبِّيٓ أَحۡسَنَ مَثۡوَايَۖ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ (٢٣) وَلَقَدۡ هَمَّتۡ بِهِۦۖ وَهَمَّ بِهَا لَوۡلَآ أَن رَّءَا بُرۡهَٰنَ رَبِّهِۦۚ كَذَٰلِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلۡفَحۡشَآءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِينَ
“Perempuan, yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya, menggodanya. Dia menutup rapat semua pintu, lalu berkata, ‘Marilah mendekat kepadaku.’ Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku. Dia telah memperlakukanku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung.’
(23) Sungguh, perempuan itu benar-benar telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Yusuf pun berkehendak kepadanya sekiranya dia tidak melihat tanda kebesaran (dari) Rabbnya. Demikianlah, Kami memalingkan darinya (Yusuf) keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia (Yusuf) termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (karena keikhlasannya).” (Yusuf: 23-24)
Pengakuan Iblis
Begitu pula, Iblis -musuh bebuyutan bani Adam- yang berjanji untuk menyesatkan anak Adam pun mengakui ketidakmampuannya untuk mengganggu orang-orang yang ikhlas. Sebagaimana yang Allah Ta’ala hikayatkan di dalam Al-Qur’an,
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ، إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ
“(Iblis) berkata, demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (Sad: 82-83)
Dan juga firman-Nya,
قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ، إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ
“Ia (Iblis) berkata, ‘Wahai Rabbku, karena Engkau telah menyesatkanku, sungguh aku akan menjadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi dan sungguh aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (karena keikhlasannya) di antara mereka.’” (Al-Hijr: 39-40)
Baca Juga: Peran Besar Keikhlasan di Dalam Kehidupan
Kiat Kedua: Muraqabah
Muraqabah (merasa diawasi oleh Allah Ta’ala) termasuk di antara langkah paling efektif untuk menjaga diri dari dosa. Karena, ia meyakini bahwa apa yang ia perbuat -baik ketika bersendirian ataupun di hadapan khalayak- tidak akan luput dari pengetahuan dan penglihatan Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala mengatakan di dalam firman-Nya,
إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا
“Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (An-Nisa’: 1)
Demikian pula firman-Nya,
وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ رَّقِيبٗا
“Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 52)
Perasaan bahwa Allah Ta’ala senantiasa mengawasi akan menjadi benteng yang kuat bagi seseorang dari berbagai kemaksiatan. Ketika tidak ada seorang pun yang melihat, ia tetap menahan dirinya dari dosa karena mengetahui bahwa Allah Ta’ala melihatnya.
Hal ini sangat penting untuk diperhatikan. Sebab, sebagian perbuatan dosa dilakukan ketika seseorang berada dalam kesendirian dan merasa aman dari pengawasan manusia. Maka, hendaknya seorang muslim senantiasa mengingat bahwa meskipun manusia tidak melihatnya, Allah Ta’ala tidak pernah luput dari melihat dan mengetahui segala sesuatu.
Kiat Ketiga: Menjaga Shalat
Shalat bukan sekadar ibadah yang harus ditunaikan, namun ternyata ia juga memiliki pengaruh besar dalam memperbaiki dan menjaga seorang hamba dari berbagai dosa & kemaksiatan.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Al-‘Ankabut: 45)
Salah seorang imam pakar ilmu tafsir, Imam Ibnu Katsir rahimahullah, mengatakan di dalam tafsirnya berkaitan dengan ayat di atas,
يَعْنِي: أَنَّ الصَّلَاةَ تَشْتَمِلُ عَلَى شَيْئَيْنِ، عَلَى تَرْكِ الْفَوَاحِشِ وَالْمُنْكَرَاتِ؛ أَيْ: مُوَاظَبَتُهَا تَحْمِلُ عَلَى تَرْكِ ذَلِكَ
“Maksudnya adalah bahwa shalat mencakup dua hal, di antaranya meninggalkan perbuatan-perbuatan keji dan kemungkaran, yaitu upaya seseorang untuk menjaga dan rutin melaksanakan shalat akan mendorongnya untuk meninggalkan hal tersebut.” 6
Karena itu, hendaknya seorang muslim tidak meremehkan shalat. Ia harus berusaha menjaga shalat lima waktu, memperhatikan kesempurnaannya, serta berusaha menghadirkan kekhusyukan di dalamnya.
Semakin baik hubungan seseorang dengan Allah Ta’ala melalui shalat, maka akan semakin besar pula pengaruh positif shalat tersebut dalam kehidupannya. Ia akan lebih mudah meninggalkan perkara yang Allah Ta’ala benci dan lebih terdorong untuk melakukan perkara yang Allah Ta’ala cintai.
Kiat Keempat: Menjaga Pertemanan
Lingkungan pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap seseorang. Teman yang baik dapat mengajak seseorang dalam ketaatan, sedangkan teman yang buruk dapat menyeretnya kepada dosa dan kemaksiatan.
Banyak dalil yang menjelaskan pengaruh seorang teman. Antara lain adalah firman Allah Ta’ala,
وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيۡهِ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا (27) يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلٗا(28) لَّقَدۡ أَضَلَّنِي عَنِ ٱلذِّكۡرِ بَعۡدَ إِذۡ جَآءَنِيۗ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِلۡإِنسَٰنِ خَذُولٗا
“Dan (ingatlah) pada hari ketika orang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata, ‘Oh, kiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai, celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman dekat. Sungguh, dia telah menyesatkanku dari peringatan setelah peringatan itu datang kepadaku.’ Dan setan memang selalu mengecewakan manusia.” (Al-Furqan: 27–29)
Begitu pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang berada di atas agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman dekat.” 7
Hadits ini menunjukkan pentingnya memperhatikan siapa yang dijadikan teman dekat. Sebab, kedekatan dengan seseorang dapat memberikan pengaruh terhadap agama, akhlak, dan kebiasaan seseorang.
Oleh sebab itu, hendaknya seorang muslim memilih teman yang dapat membantunya dalam kebaikan. Teman yang ketika bersamanya ia teringat kepada Allah, terdorong untuk melakukan ketaatan, dan diingatkan ketika lalai.
Sebaliknya, hendaknya ia berhati-hati dari pergaulan atau pertemanan yang dapat menyeretnya kepada kemaksiatan. Jangan sampai seseorang meremehkan pengaruh teman hingga akhirnya dosa yang sebelumnya ia benci justru menjadi kebiasaan karena terlalu sering bergaul dengan pelakunya.
Kiat Kelima: Menuntut Ilmu Agama
Ilmu agama termasuk di antara salah satu sebab terbesar yang membantu seseorang menjaga dirinya dari dosa. Karena dengan ilmu tersebut, seseorang dapat mengetahui perkara yang Allah Ta’ala perintahkan dan perkara yang Dia larang.
Di samping itu, Allah Ta’ala membedakan antara kondisi orang yang berilmu dan yang tidak berilmu. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’” (Az-Zumar: 9)
Seseorang tidak akan mampu menjauhi dosa apabila ia tidak mengetahui apa saja yang termasuk dosa. Bagaimana mungkin seseorang dapat menjaga lisannya dari ghibah jika ia tidak mengetahui hakikat ghibah? Dan seterusnya yang menunjukkan pentingnya ilmu agama.
Dengan ilmu pula seseorang dapat mengenal lebih dekat siapa Rabbnya. Semakin dalam pengetahuannya tentang kebesaran Rabbnya, tentu akan semakin kuat rasa takut ia kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (Fāṭir: 28)
Semakin takut seseorang kepada Allah, maka semakin kecil potensi untuk ia melakukan dosa dan kemaksiatan.
Kesimpulan
Pembaca –rahimakumullah– menjaga diri dari dosa bukanlah hal yang kecil dan mudah. Namun sebaliknya, itu semua membutuhkan kesungguhan dari kita dan pertolongan dari Allah Ta’ala. Seseorang tidak cukup hanya mengandalkan keinginan untuk berubah menjadi baik, akan tetapi juga memerlukan usaha yang keras dan menempuh sebab-sebab yang membantunya agar selalu istiqamah dan terjaga dari dosa.
Di antara sebab dan kiat yang paling ampuh untuk menjaga diri dari dosa ialah sebagaimana yang telah kita jelaskan di atas, yaitu dengan memperbaiki keikhlasan, menghadirkan sikap muraqabah, menjaga shalat, memilih teman yang baik, dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama.
Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari berbagai dosa, mengampuni kesalahan-kesalahan kita, dan memberikan taufik kepada kita untuk senantiasa menaati-Nya. Aamiin. (RGA/AAA/ATH)
Penulis: Rasyid Ghani
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim
- Shahih al-Bukhari
- Shahih Muslim
- Sunan at-Tirmidzi
- Sunan Ahmad
- Sunan Abu Dawud
- Syar an-Nawawi ‘ala Muslim
- Tafsir Ibnu Katsir
Footnotes
- HR. At-Tirmidzi No. 2499, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu
- Lihat footnote 1
- HR. At-Tirmidzi No. 3334, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
- HR. Al-Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599
- Syarhun Nawawi ‘ala Muslim 11/27
- Tafsir Ibnu Katsir 6/63
- HR. Ahmad No. 8417 dan Abu Dawud No. 8696, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
