oleh

Fikih Jual Beli: Apakah Keuntungan Harus Dibatasi?

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak dapat terlepas dari interaksi sosial dengan sesamanya. Salah satu bentuk interaksi yang paling sering dilakukan adalah jual beli. Melalui jual beli, seseorang dapat memenuhi berbagai kebutuhannya dengan cara yang dibenarkan oleh syariat Islam.Namun, ada beberapa pertanyaan yang sering muncul berkaitan dengan praktik jual beli. Apakah Islam memberikan batasan keuntungan dalam jual beli? Mengingat Islam merupakan agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, pertanyaan semacam ini tentu perlu mendapatkan penjelasan.Dalam masalah ini, Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah, salah seorang ulama fikih terkemuka pada masanya, memberikan penjelasan dalam salah satu fatwanya.

Apakah Ada Batas Keuntungan dalam Jual Beli?

Penanya: “Apakah ada batas tertentu dalam transaksi jual beli?”

Syaikh menjawab: “Tidak ada batas tertentu untuk keuntungan dalam jual beli, selama harga pasar secara umum memang mengalami kenaikan. Contohnya, seseorang membeli suatu barang seharga 100, kemudian harga barang tersebut tiba-tiba naik menjadi 200. Lalu ia menjualnya dengan harga 200, sehingga memperoleh keuntungan sebesar 100%.

Tidak ada batas tertentu untuk keuntungan dalam jual beli, selama harga pasar secara umum memang mengalami kenaikan.

Adapun jika seseorang menaikkan keuntungan untuk merugikan orang lain, atau karena melihat pembelinya adalah orang yang mudah dikelabuhi dan tidak mengetahui harga pasar, padahal kondisi harga di pasar sedang stabil, maka hal ini haram. Ia tidak boleh menjual barangnya dengan harga yang melebihi harga yang berlaku di pasaran saat itu.

Adapun jika seseorang menaikkan keuntungan untuk merugikan orang lain, atau karena melihat pembelinya adalah orang yang mudah dikelabuhi dan tidak mengetahui harga pasar, padahal kondisi harga di pasar sedang stabil, maka hal ini haram. Ia tidak boleh menjual barangnya dengan harga yang melebihi harga yang berlaku di pasaran saat itu.

Sebagian pedagang mungkin berkata, “Jika Aku menyebutkan harga yang sebenarnya sejak awal, pembeli akan menawar sehingga Aku harus menurunkan harga.”

Maka kami katakan, tidak mengapa Engkau menaikkan harga pada awalnya apabila Engkau memperkirakan bahwa pembeli akan menawar. Namun, apabila ternyata ia tidak menawar, maka Engkau wajib memberitahukan kepadanya harga yang sebenarnya berlaku di pasaran.

Maka kami katakan, tidak mengapa Engkau menaikkan harga pada awalnya apabila Engkau memperkirakan bahwa pembeli akan menawar. Namun, apabila ternyata ia tidak menawar, maka Engkau wajib memberitahukan kepadanya harga yang sebenarnya berlaku di pasaran.

Contohnya, apabila ada seseorang datang untuk membeli barang yang nilainya 100, lalu Engkau mengatakan bahwa harganya 120 karena mengira ia akan menawar hingga harga tersebut turun menjadi 100. Namun, ternyata ia langsung menyetujui harga 120.

Dalam kondisi seperti ini, Engkau harus berkata kepadanya, ‘Tunggu sebentar. Tadi Aku mengatakan bahwa harganya 120 karena Aku mengira Engkau seperti kebanyakan orang yang biasa menawar hingga mendapatkan harga yang lebih rendah. Karena Engkau tidak menawar, maka harga sebenarnya adalah 100.’

Jika demikian, maka hal tersebut tidak mengapa. Sikap seperti ini merupakan bentuk kejujuran dan amanah dalam bermuamalah serta menunjukkan keterbukaan terhadap pembeli.

Jika demikian, maka hal tersebut tidak mengapa. Sikap seperti ini merupakan bentuk kejujuran dan amanah dalam bermuamalah serta menunjukkan keterbukaan terhadap pembeli.

Sungguh telah datang riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

‘Dua orang yang sedang melakukan transaksi jual beli memiliki hak khiyar (memilih antara melanjutkan atau membatalkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya berlaku jujur dan menjelaskan (berterus terang), maka jual beli mereka akan diberkahi. Namun, jika keduanya berdusta dan menyembunyikan sesuatu, maka keberkahan jual beli mereka akan dicabut.’”1

2

Kesimpulan

Demikianlah penjelasan mengenai hukum jual beli dan batas keuntungan di dalamnya. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan beberapa faedah berikut:

Pada asalnya, syariat tidak menetapkan batas keuntungan tertentu dalam jual beli selama harga yang ditetapkan masih mengikuti harga pasar yang berlaku.

Mengambil keuntungan menjadi terlarang apabila dilakukan dengan cara yang merugikan orang lain, memanfaatkan ketidaktahuan pembeli, atau menetapkan harga yang tidak wajar dibandingkan harga pasar.

Mengambil keuntungan menjadi terlarang apabila dilakukan dengan cara yang merugikan orang lain, memanfaatkan ketidaktahuan pembeli, atau menetapkan harga yang tidak wajar dibandingkan harga pasar.

Seorang penjual diperbolehkan menawarkan harga yang lebih tinggi sebagai bagian dari proses tawar-menawar selama ia tetap bersikap jujur dan tidak menipu pembeli.

Seorang penjual diperbolehkan menawarkan harga yang lebih tinggi sebagai bagian dari proses tawar-menawar selama ia tetap bersikap jujur dan tidak menipu pembeli.

Demikian beberapa faedah yang dapat dipetik dari penjelasan di atas. Semoga Allah Ta‘ala senantiasa membimbing kita untuk mengamalkan ilmu yang telah kita ketahui. Amin.(AAJ/ASP/AAK)

Alih Bahasa: Abdurrahman Aufi

Referensi:

  • Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, karya Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah (w. 1421 H).

Footnotes

  1. HR. al-Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532, dari sahabat Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu dengan lafaz:

    البَيِّعانِ بالخيارِ ما لَم يَتَفَرَّقا، فإن صَدَقا وبَيَّنا بورِك لهما في بَيعِهما، وإن كَذَبا وكَتَما مُحِقَ بَرَكةُ بَيعِهما.

    “Dua orang yang melakukan jual beli mempunyai hak khiyar (memilih antara membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka dalam menjelaskan kondisi barang, maka keduanya akan diberkahi dalam jual beli mereka. Namun, jika keduanya berdusta dan menyembunyikan cacat barang, maka keberkahan jual beli mereka akan dimusnahkan.”

  2. فتاوى نور على الدرب للعثيمين» (16/2 بترقيم الشاملة آليا):

    هل للربح حد معين في البيع والشراء؟

    فأجاب رحمه الله تعالى: ليس للربح حد معين في البيع والشراء ما دام السوق كله قد ارتفع السعر فيه

    والإنسان قد يشتري السلعة بمائة مثلا ثم يرتفع السعر طفرة واحدة إلى مائتين فيبيع مائتين فهنا ربح مائة في المائة وأما إذا كان يزيد في الربح والسوق راكد لكنه هو أراد أن يُضر بالناس أو كان يزيد السعر لكون المشتري غريراً لا يعرف الأسعار فهذا حرام عليه ولا يحل له أن يبيع بأكثر مما يبيع به الناس

    قد يقول بعض الباعة أنا لو أذكر السعر المحدد لقام المشتري يماكسني لأنزل من السعر فنقول لا بأس حينئذٍ أن تزيد في السعر إذا كنت تظن إنه سيماكسك لكن إذا لم يماكسك فلا بد أن تقول له السعر الذي كان في السوق فمثلا إذا جاءك الرجل يشتري سلعة قيمتها مائة فقلت بمائة وعشرين ظنا منك أنه سوف يماكسك حتى تنزل إلى المائة لكن الرجل لم يماكسك وقبلها بمائة وعشرين ففي هذه الحال يجب عليك أن تقول له اصبر أنا قلت لك بمائة وعشرين لأنني ظننت أنك مثل كثير من الناس الذين يماكسون حتى ينزلوا السعر وما دمت لم تماكس فإن القيمة الحقيقية مائة فحينئذٍ لا بأس ويكون هذا دليل على صدق معاملته مع الناس وبيانه للواقع وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال (البيعان بالخيار فإن صدقا وبينا بورك لهما في بيعهما وإن كذبا وكتما محقت بركة بيعهما)