Bencana-bencana yang terjadi belakangan ini sungguh benar-benar mengiris hati kita semua terlebih bagi para korban. Sejak itu, berbagai opini pun bermunculan. Ada yang mengatakan “Itu hanyalah reaksi alam semata.” Ada pula yang berasumsi “Itu akibat oknum-oknum tertentu.” Namun Islam pun memiliki perspektif sendiri tentang hal itu. Apakah itu…?
Sebab Terjadinya Bencana dalam Perspektif Islam
Ajaran Islam yang mulia ini benar-benar menyentuh setiap lini kehidupan. Ia mengatur segala hal yang berkaitan dengan seorang hamba dengan penjelasannya yang menenangkan hati dan jiwa. Sampai hal tersulit dan terpahit pun ia ada untuk memberikan solusi dan jalan keluar. Di antaranya ia mengajarkan apa yang harus kita lakukan sebagai seorang hamba ketika sedang tertimpa oleh sebuah bencana dan musibah.
Ya, ajaran Islam mengajarkannya, bahkan tidak hanya itu, ia juga menjelaskan sebab kenapa bencana-bencana ini bisa terjadi. Di dalam kitabnya yang mulia Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan mengapa musibah serta bencana-bencana ini bisa terjadi. Ia Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Ruum: 41)
Kita sebagai seorang yang mengaku muslim tentu harus mengetahui makna ayat tersebut dan apa yang diinginkan Allah Ta’ala dengan penjelasan ayat tersebut. Oleh karena itu kita perlu merujuk kepada para ulama untuk mengetahui tafsirnya. Berikut penjelasan sebagian para ulama berkaitan dengan ayat ini:
Penjelasan Para Ulama Terkait Tafsir Ayat
Para ulama, mereka telah menjelaskan makna dari ayat tersebut dengan penjelasan yang sangat mencukupi lagi menenangkan hati. Terlebih para ulama yang terkenal dengan ilmu tafsinya. Mereka membawakan sebagian ucapan ulama salaf (pendahulu) termasuk para shahabat.
Kata: البَرُّ وَالبَحْرُ
(البَرُّ) Ibnu ‘Abbas, adh-Dahhak dan Ikrimah rahimahumullahu mereka mengatakan bahwa maknanya adalah padang pasir, dan ada yang pula yang mengatakan maknanya adalah daratan sebagaimana lazimnya apa itu daratan.
(البَحْرُ) Ibnu ‘Abbas, adh-Dahhak, dan Ikrimah rahimahumullahu mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata tersebut adalah kota-kota dan desa-desa. Adapun sebagian ulama mengatakan yang dimaksud adalah lautan (sebagaimana yang kita ketahui apa itu lautan).
Itu sekelumit tafsir dari dua kata tersebut.
Imam Abul Fida Ibnu Katsir as-Syafi’i menafsirkan ayat tersebut sebagaimana tertuang dalam kitabnya yang berjudul Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim di mana beliau menjelaskan penggalan demi penggalan kalimat dari ayat tersebut.
Kalimat pertama
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia.”
أَيْ: بَانَ النَّقْصُ فِي الثِّمَارِ وَالزُّرُوْعِ بِسَبَبِ المَعَاصِي
“Maksudnya: Terjadi kekurangan pada buah-buahan dan pertanian mereka disebabkan karena kemaksiatan yang mereka lakukan.”
Kalimat kedua
لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ
“Supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka.”
أَيْ: يَبْتَلِيْهِمْ بِنَقْصِ الأَمْوَالِ والأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ, اِخْتِياَراً مِنْهُ, مُجَازَةً عَلَى صَنِيْعِهِمْ
“Maksudnya: Allah uji mereka dengan kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan itu merupakan kehendaknya, juga sebagai akibat atas perbuatan mereka.”
Kalimat ketiga
لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ
“Agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
أَيْ: عَنِ المَعَاصِي, كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَبَلَوۡنَٰهُم بِٱلۡحَسَنَٰتِ وَٱلسَّيِّـَٔاتِ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ
“Maksudnya: Kembali (tobat) dari kemaksiatan sebagaimana firman Allah Ta’ala ‘Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)’.” ( Al-A’raf: 168)
Semua ini sebelum Allah Ta’ala mengutus Nabi kita Muhammad shallahu ‘alaihi wa salam, yaitu ketika bumi ini penuh dengan kegelapan dan kezaliman. Maka ketika Allah Ta’ala mengutus Nabi-Nya, sebagian dari manusia kembali (ke jalan yang lurus). Demikian tafsir menurut imam Qatadah rahimahullahu sebagaimana tertuang dalam tafsir ath-Thabari.
Imam Abu Najih dan Imam Mujahid rahimahumallah mengatakan tentang penggalan ayat ini,
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut.”
قَتْلُ اِبْنِ آدَمَ أَخَاهُ وَأَخْذُ المَلِكِ السُفُنَ غَصْباً
“Kerusakan di darat yang dimaksud adalah: Pembunuhan salah seorang putra Adam terhadap saudaranya. Adapun kerusakan yang di lautan adalah raja zalim yang merampok kapal-kapal (sebagaimana dikisahkan dalam surat al Kahfi).”
Imam ath-Thabari rahimahullah mengatakan tentang ayat tersebut: “Telah nampak maksiat-maksiat, dosa, perbuatan jelek dan kezaliman di permukaan bumi dan di lautan karena perbuatan manusia dengan melanggar apa yang Allah larang bagi mereka. Sehingga Allah munculkan bencana demi bencana untuk menghukum mereka, agar mereka bertobat dan kembali ke jalan yang benar serta meninggalkan kemaksiatan yang mereka lakukan.”
Itulah penjelasan tentang tafsir ayat tersebut. Dan setelah kita mengetahui tafsir tentang ayat tersebut, alangkah baiknya kita juga mengetahui apa yang dinasihatkan oleh para ulama kita terkait dengan musibah dan bagaimana agar kita bisa mengantisipasi bencana-bencana yang mungkin bisa saja melanda dan menimpa kita.
Baca Juga: 6 Solusi Menghadapi Musibah di Dalam Islam
Wejangan Terkait dengan Bencana
Salah seorang ulama ahlus sunnah yang dikenal dengan Abul ‘aliyah rahimahullah pernah menyampaikan wejangan terkait dengan hal ini, di mana beliau mengatakan,
مَنْ عَصَى اللَّهَ فِي الْأَرْضِ فَقَدْ أَفْسَدَ فِي الْأَرْضِ؛ لِأَنَّ صَلَاحَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ بِالطَّاعَةِ
“Barang siapa yang bermaksiat kepada Allah Ta’ala di muka bumi, maka sungguh ia telah membuat kerusakan di muka bumi, karena baiknya bumi dan langit hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala.”
Begitu juga dengan para ulama lainya, mereka memberi nasihat yang sama dengan apa yang dinasihatkan oleh imam Abul ‘Aliyah rahimahullah sebagaimana yang telah disebutkan. Ya, hanya dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala sajalah bumi ini, tanah ini, laut ini, dan gunung-gunung ini bisa menjadi baik, bahkan mengeluarkan berkahnya dengan izin Allah. Sehingga umat manusia hidup dalam naungan-Nya, berkah-Nya, dan rida-Nya.
Semoga apa yang telah dipaparkan di atas bermanfaat bagi kita semua dan semoga Allah Ta’ala selalu membingbing kita untuk senantiasa istiqamah (konsisten) dalam ketaatan kepadanya, karena hanya Allah sajalah yang mampu atas itu semua dan hanya Dia sajalah yang mampu menolong kita untuk senantiasa istiqomah dalam ketaatan kepadanya. Wa billahi at-taufiq. (LBK/LTC/IWU)
Penulis: Lukman Bilal
Referensi:
- Al-Qur’an Al-Karim
- Tafsir Ibnu Katsir Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azim karya Imam Ibnu Katsir rahimahullah (wafat 774 H)
- Tafsir at Thabari Jami’ Al bayan fi Ta’wil aayil Qur’an karya Imam Ath-Thabari rahimahullah (wafat 310 H)








Komentar