oleh

Tafsir Surah Al-Kafirun dan Pesan Tauhid yang Terkandung di Dalamnya

Surah Al-Kafirun merupakan salah satu surah yang mengandung banyak pelajaran tauhid. Di antaranya adalah pelajaran tentang tauhid uluhiyyah dan larangan berbuat syirik. Dengan tauhid itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala diibadahi di muka bumi, dan dengannya pula para nabi ‘alaihimus salam diutus.

Surah Al-Kafirun menjelaskan sikap berlepas diri dari perbuatan syirik yang dilakukan oleh kaum musyrikin serta memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.1

Sebab Turunnya Surah Al-Kafirun

Surah Al-Kafirun diturunkan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berada di Makkah, pada masa dakwah beliau menghadapi permusuhan dari kaum musyrikin.

Beberapa tokoh kaum musyrikin mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata,

“Kemarilah, wahai Muhammad. Kami akan menyembah apa yang engkau sembah, dan engkau pun menyembah apa yang kami sembah. Dengan demikian, kita dapat bersatu dalam urusan kami dan urusanmu. Jika ternyata apa yang engkau bawa lebih baik daripada apa yang ada pada kami, niscaya kami akan mengikutimu dan mengambil bagian darinya.

Namun, jika apa yang ada pada kami lebih baik daripada apa yang engkau bawa, maka engkau berhak mengikuti kami dan mengambil bagian darinya.”

Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan surah ini, yaitu Surah Al-Kafirun.2

Tafsir Surah Al-Kafirun

Surah Al-Kafirun mengandung banyak pelajaran tauhid, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Hal ini dijelaskan oleh para ulama ahli tafsir, di antaranya Imam Ibnu Katsir rahimahullah dan salah seorang ulama tafsir kontemporer, Al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ

“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Wahai orang-orang kafir.'” (Al-Kafirun: 1)

Maksudnya, katakanlah kepada seluruh orang kafir. Meskipun sebab turunnya ayat ini berkaitan dengan kaum Quraisy, lafadz ayat tersebut mencakup seluruh orang kafir. Oleh karena itu, sampaikan dan serukanlah kepada mereka.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ

“Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah.” (Al-Kafirun: 2)

Yakni, engkau berlepas diri dari segala sesuatu yang mereka (orang-orang kafir) sembah selain Allah, baik secara amalan maupun dalam keyakinan.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

“Dan kalian bukanlah penyembah Tuhan yang aku sembah.” (Al-Kafirun: 3)

Hal itu karena mereka tidak memiliki keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Ibadah mereka bercampur dengan kesyirikan sehingga tidak dapat disebut sebagai ibadah yang benar.

وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

“Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian pun tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.” (Al-Kafirun: 4–5)

Aku tidak akan mengikuti maupun meneladani cara ibadah mereka. Sebaliknya, aku hanya akan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan syariat yang Dia ridhai.

Allah Ta’ala mengulang penyebutan makna ini karena pada penyebutan pertama menunjukkan tidak adanya perbuatan tersebut (ibadah kepada sesembahan masing-masing), sedangkan penyebutan kedua menunjukkan bahwa keadaan tersebut (ibadah) telah menjadi sifat yang melekat pada diri mereka.

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala membedakan secara tegas antara dua golongan tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Untukmu agamamu dan untukku agamaku.” (Al-Kafirun: 6)

Imam asy-Syafi’i rahimahullah dan ulama lainnya berdalil bahwa seluruh bentuk kekufuran berada di atas satu millah (ajaran). Kaum Yahudi mewarisinya dari kaum Nasrani dan demikian pula sebaliknya.3

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Surah ini mengandung banyak pelajaran yang berkaitan dengan tauhid uluhiyyah, di antaranya sebagai berikut.

Surah ini mengandung peniadaan terhadap segala bentuk kesyirikan. Tujuannya sangat jelas, yaitu merealisasikan sikap berlepas diri yang dituntut dari setiap bentuk kesyirikan. Meskipun demikian, surah ini juga mengandung penetapan (itsbāt) secara tegas.

Di antara metode Al-Qur’an dalam menjelaskan tauhid adalah menggandengkan antara peniadaan dan penetapan, yaitu meniadakan segala bentuk peribadahan kepada selain Allah Ta’ala serta menetapkan bahwa ibadah yang benar hanyalah ditujukan kepada-Nya. Inilah hakikat tauhid.4

Demikianlah tafsir singkat Surah Al-Kafirun. Semoga pembahasan ini dapat menambah keimanan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menjauhkan kita dari berbagai bentuk kesyirikan. Amin. (AAJ/AAA/AAK)

Penulis: Abdurrahman Aufi

Referensi:

  • Al-Qur’anul Karim.
  • Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, karya Al-Imam Abul Fida’ Isma’il bin Umar Ibnu Katsir (w. 774 H) rahimahullah.
  • Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, karya Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi (w. 671 H) rahimahullah.
  • Bada’iut Tafsir, karya Al-Imam Muhammad bin Abi Bakr Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (w. 751 H) rahimahullah.
  • Taisirul Karimir Rahman, karya Al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (w. 1376 H) rahimahullah.

Footnotes

  1. Lihat Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah, 8/507.
  2. Lihat Tafsir ath-Thabari, 20/225, tafsir Surah Al-Kafirun.
  3. Lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/507-508 dan Taisir al-Karimir Rahman hal. 936
  4. Lihat Bada’iul Fawaid, tafsir Surat Al-Kafirun, hlm. 587–589.
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *