oleh

Tafsir Surah al-Kautsar Ayat ke-2: Ibadah Shalat dan Kurban Sebagai Wujud Syukur Terhadap Nikmat-Nya

Surah al-Kautsar adalah surah paling pendek di dalam al-Qur’an. Walaupun pendek dan singkat, namun surah ini sarat dengan makna dan pelajaran yang banyak. Di antara pelajaran yang bisa dipetik adalah bahwa Allah Ta’ala menyebutkan bagaimana cara seorang hamba untuk mensyukuri nikmat-Nya, yaitu pada ayat ke-2.

Tafsir Surat al-Kautsar Ayat ke 2 dari Beberapa Ulama

Asy-Syaikh Muhammad Bin Shalih rahimahullah berkata,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ

“Maka tegakkanlah shalat untuk Rabbmu.” (al-Kautsar: 2)

Yang dimaksud dengan perintah shalat di sini adalah tegakkanlah seluruh shalat. Sedangkan shalat yang paling sesuai dalam ayat ini adalah shalat yang berdampingan dengan ibadah kurban, yaitu shalat Idul Adha. Tetapi ayat ini bersifat umum, mencakup seluruh shalat, baik wajib maupun sunnah.

 وَانْحَرْ

“Dan berkurbanlah.” (al-Kautsar: 02)

Mendekatkan diri dengan nahr (sembelihan/kurban). Nahr adalah penyembelihan khusus unta, sedangkan dzabhu merupakan penyembelihan sapi dan kambing. Dalam ayat ini disebutkan dengan lafazh nahr, karena unta lebih bermanfaat bagi orang-orang miskin dibandingkan hewan kurban lainnya. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih hadyu ketika haji wada’ dengan seratus ekor unta. Beliau menyembelih enam puluh tiga ekor unta kemudian menyerahkan sisanya kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Maka sahabat Ali pun menyembelihnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyedekahkan seluruh bagiannya kecuali satu bagian tubuh dari setiap ekor unta. Beliau mengambilnya dan memasaknya di atas kuali, kemudian beliau makan dagingnya dan meminum kuahnya. Beliau juga memerintahkan untuk menyedekahkan pelananya dan kulit-kulitnya.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan terkait lafazh  وَانْحَرْ 

Ibnu Abbas, ‘Atha’, Mujahid, Ikrimah, dan al-Hasan telah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “wanhar” adalah menyembelih unta dan hewan lain semacamnya. Penafsiran yang sama disampaikan pula oleh Qatadah, Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi, adh-Dhahhak, Ar-Rabi’, Atha’ al-Khurasani, al-Hakam, Sa’id bin Abu Khalid, dan selainnya. Hal ini berbeda keadaannya dengan orang-orang musyrik yang bersujud kepada selain Allah dan menyembelih dengan menyebut nama selain Allah. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu memakan hewan-hewan yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” (al-An’am: 121)
Pendapat yang benar adalah yang pertama yaitu bahwa makna “an-nahr” adalah menyembelih hewan kurban.

Abu Ja’far bin Jarir berkata bahwa pendapat yang benar adalah bahwa makna ayat ini ialah jadikanlah semua shalatmu ikhlas hanya untuk Rabbmu, bukan untuk berhala atau tandingan selain Dia. Demikian pula kurbanmu, jadikanlah hanya untuk Dia, bukan untuk berhala-berhala. Ini  sebagai bentuk syukurmu kepada Allah atas kemuliaan dan kebaikan yang Dia khususkan untukmu, yang tidak ada tandingannya dan khusus untukmu.

Kandungan Tafsir Ayat 

Disebutkan oleh asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy rahimahullah dalam tafsir ayat ini,

“Setelah Allah Ta’ala menyebutkan karunia yang diberikan padanya, Allah memerintahkan untuk bersyukur seraya berfirman, “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu, dan berkurbanlah.”

Allah menyebut dua ibadah ini secara khusus karena keduanya merupakan ibadah paling utama dan amalan yang paling mulia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Di samping itu, karena shalat mencakup ketundukan hati dan juga ketundukan anggota badan seseorang kepada Allah. Di dalam ibadah shalat juga terkumpul banyak unsur-unsur ubudiyah (peribadatan). Adapun ibadah kurban, padanya terdapat bentuk mendekatkan diri kepada Allah dengan sembelihan terbaik yang dimiliki seseorang dan rela mengeluarkan harta yang secara fitrah amat dicintai dan dijaga oleh jiwa.”

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan pada ayat yang pertama berupa kenikmatan dan karunia yang Allah berikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk mensyukuri nikmat tersebut,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka tegakkan shalat untuk Rabbmu dan lakukan sembelihan (berkurbanlah).” (al-Kautsar:02)

Allah menyebut secara khusus ibadah shalat dan ibadah menyembelih karena dua ibadah ini adalah ibadah yang paling utama dan bentuk mendekatkan diri yang paling utama di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bentuk mensyukuri nikmat Allah tidak hanya terbatas dalam bentuk shalat dan melakukan kurban. Namun hakikat mensyukuri nikmat Allah adalah dengan menjalankan semua bentuk ketaatan dengan penuh keikhlasan.

Shalat memiliki unsur ketundukan dalam hati dan juga ketundukan anggota badan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di dalam ibadah shalat terkumpul unsur-unsur ubudiyah seperti membaca al-Qur’an, zikir, dan berbagai doa.

Jika kita benar-benar khusyuk dan tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah shalat, maka akan timbul rasa takut (khauf) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengharap pahala (raja’) di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sementara dalam ibadah kurban, padanya terdapat bentuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan hewan sembelihan yang paling utama dan terbaik untuk dipersembahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada ibadah kurban, ada bentuk ibadah dengan mengeluarkan harta, padahal tabiat manusia suka dengan harta dan cenderung kikir untuk mengeluarkannya. Namun dia rela mengeluarkan hartanya karena mengutamakan cintanya kepada Allah Ta’ala daripada dirinya, hal inilah yang menjadikan ibadah kurban memiliki keistimewaan.

Kesimpulan

Di antara bentuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah Ta’ala adalah dengan melakukan ibadah shalat dan ibadah menyembelih hewan kurban. Di dalam ayat ke-2 surah al-Kautsar, Allah Ta’ala menyebutkan kedua ibadah (shalat dan kurban) ini karena keduanya merupakan ibadah yang paling utama dan paling mulia dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Pada ibadah shalat, terkandung unsur ketundukan hati dan anggota badan seseorang kepada Allah Ta’ala. Demikian juga pada ibadah kurban adalah bentuk mendekatkan diri kepada Allah dengan sembelihan paling baik yang dimiliki seseorang. Segala macam ibadah harus dipersembahkan hanya kepada Allah semata, shalatku hanya untuk Allah Ta’ala, sembelihanku hanya untuk Allah Ta’ala.

 

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *