oleh

Kisah Nabi Ayyub: Bagaimana Kesabaran Berbuah Pertolongan

Nabi Ayyub ‘alaihissalam adalah seorang nabi yang tinggi kesabarannya. Sampai-sampai Allah Ta’ala mensifati beliau di dalam Al-Qur’an dengan sifat sabar. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا  

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) adalah seorang yang sabar.” [Shad: 44]

Kesabaran merupakan salah satu anugerah terbesar yang Allah Ta’ala limpahkan kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam haditsnya,

‌وَمَا ‌أُعْطِيَ ‌أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” 1

Pada kesempatan ini, marilah kita simak kisah kesabaran Nabi Ayyub! Semoga kita dapat memetik pelajaran darinya.

Kondisi Nabi Ayyub ‘Alaihissalam

Dahulu Nabi Ayyub ‘alaihissalam adalah seorang yang banyak hartanya dengan berbagai jenis harta, seperti binatang ternak, hamba sahaya, dan tanah yang luas. Beliau juga memiliki anak dan keluarga yang banyak. 2.

Lebih dari itu, Allah Ta’ala memilih beliau sebagai nabi bagi kaumnya. Demikianlah kehendak Allah  Ta’ala yang mutlak. Dia menciptakan apa saja yang dikehendaki-Nya, kemudian memilih dan mengistimewakan siapa saja yang telah Ia ciptakan tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ

“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” [Al-Qashash: 68]

Allah Ta’ala Menguji Nabi Ayyub ‘Alaihissalam

Ujian pun menimpa beliau berupa dirampasnya seluruh harta beliau. Tak luput pula tubuh beliau yang ditimpa berbagai penyakit yang merata, hingga tidak ada anggota tubuh yang selamat kecuali hati dan lisan beliau yang senantiasa digunakan untuk mengingat Allah Ta’ala. 3.

Penyakit yang beliau alami ini panjang masanya. Sampai-sampai teman beliau muak dan orang-orang meninggalkan beliau. Beliau pun diusir dari negeri beliau, bahkan dibuang di tempat sampah. Orang-orang pun memutus interaksi dengan beliau, hingga tidak tersisa kecuali istri beliau yang mengurusi hak beliau, karena sang istri mengetahui kebaikan serta kasih sayang beliau dahulu kepadanya.

Istri beliau berulang kali datang kepada beliau untuk merawat beliau, membantu kebutuhan beliau, mengerjakan apa saja yang bermanfaat bagi beliau. Lalu melemahlah kondisi sang istri dan menipis pula hartanya. Sampai ia harus menjadi pekerja demi mendapatkan upah yang digunakan untuk memberi makan serta memenuhi kebutuhan suaminya. Semoga Allah Ta’ala meridhainya. 4

Masa-masa Penderitaan Nabi Ayyub ‘Alaihissalam

Dahulu istri Nabi Ayyub ‘alaihissalam datang dengan membawa abu yang diletakkan di bawah beliau. Tatkala ujian tersebut terasa lama baginya, ia pun berkata, “Wahai Ayyub!, jikalau engkau berdoa kepada Rabbmu niscaya akan Ia angkat ujian ini darimu.”

Beliau pun menimpali, “Aku telah hidup tujuh puluh tahun dalam kondisi sehat. Lantas apakah sedikit bagi Allah dengan aku bersabar karena-Nya selama tujuh puluh tahun?” Sontak ia terkejut terhadap ucapan beliau.

Ia pun terus melayani dan memberi makan beliau. Sampai pada suatu ketika orang-orang tidak mau lagi mempekerjakannya, setelah mereka tahu bahwa ia adalah istri Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Mereka khawatir terkena penyakit seperti beliau atau sang istri dapat menularkan penyakit tersebut kepada mereka disebabkan ia berinteraksi dengan suaminya.

Tatkala sudah tidak ada seorang pun yang mau mempekerjakannya, maka sang istri pun menopang kebutuhan dengan menjual/menukar salah satu dari dua kepangan rambutnya kepada sebagian anak bangsawan dengan makanan yang layak lagi banyak.

Ia pun membawa makanan tersebut kepada beliau. Sontak Nabi Ayyub bertanya, “Dari mana engkau mendapatkan makanan ini?” Ia pun merahasiakannya lalu menjawab: “Aku bekerja sebagai pembantu.”

Di keesokan harinya, ia tidak menemukan seorang pun yang mau mempekerjakannya. Maka ia pun kembali menjual/menukar kepangan rambutnya yang kedua dengan makanan, kemudian membawa makanan tersebut kepada sang suami. Ia tetap merahasiakan apa yang telah ia lakukan untuk mendapatkan makanan tersebut.

Nabi Ayyub pun bersumpah tidak makan sampai ia memberi tahu dari mana ia memperoleh makanan ini. Maka ia pun membuka penutup kepalanya. Ketika beliau melihat rambut istri beliau telah tercukur, beliau pun mengucapkan doa sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهُ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْن 

“(Ingatlah) ketika Ayyub berdoa kepada Rabbnya, “(Wahai Rabbku,) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, sedangkan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” [Al-Anbiya:83] 5

Dua Kawan Nabi Ayyub ‘Alaihissalam

Nabi Ayyub menjalani musibah ini selama delapan belas tahun. Beliau telah ditinggalkan oleh orang-orang dekat maupun jauh, kecuali dua orang laki-laki yang merupakan kawan dekat beliau.

Mereka berdua biasa mendatangi beliau pada pagi dan sore hari. Maka salah seorang dari mereka mengatakan kepada kawannya, “Engkau tahu, demi Allah, sungguh Ayyub telah berbuat dosa yang belum pernah dilakukan oleh orang lain di muka bumi.” Kawannya pun bertanya, “Apakah dosa tersebut?” Ia menjawab, “Sejak delapan belas tahun lalu Rabbnya tidak merahmatinya, oleh sebab itulah Allah tidak memberikan kesembuhan dari penyakitnya.”

Suatu ketika mereka berdua mendatangi beliau pada sore hari. Seorang dari mereka tidak sabar, sampai akhirnya menyampaikan apa yang pernah mereka perbincangkan kala itu kepada Nabi Ayyub.

Beliau pun merespon, “Aku tidak tahu apa yang engkau katakan. Melainkan hanya Allah ‘Azza wa Jalla yang mengetahui bahwa aku dulu melewati dua orang yang sedang bertikai, lalu keduanya menyebut-nyebut nama Allah dalam pertengkaran tersebut. Maka aku pun pulang ke rumahku kemudian aku ingin menjadi penebus kesalahan mereka, karena aku tidak suka nama Allah disebut-sebut kecuali pada kebenaran.” 6


Baca Juga: Doa Memohon Kesabaran


Detik-detik Kesembuhan Nabi Ayyub ‘Alaihissalam

Dahulu Nabi Ayyub ‘alaihissalam biasa keluar untuk memenuhi kebutuhannya. Apabila selesai dari kebutuhannya, maka sang istri menggandeng tangan beliau sampai kembali. Namun pada suatu hari sang istri terlambat datang untuk menjemput beliau (padahal Nabi Ayyub sedang membutuhkan bantuannya). Maka Allah Ta’ala pun memberi wahyu kepada beliau di posisi beliau berada,

اُرْكُضْ بِرِجْلِكَۚ هٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَّشَرَابٌ

“Hentakkanlah kakimu (ke bumi)! Inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.” [Shad: 42] 7.

Allah Ta’ala mengenakan kepada beliau perhiasan dari surga.8.

Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abu Hatim rahimahullah: Allah Ta’ala mewahyukan kepada beliau, ”Telah aku kembalikan keluargamu dan hartamu, serta aku lipat gandakan jumlah mereka. Maka mandilah dengan air ini karena di dalamnya terkandung obat penyembuh untukmu. Kemudian persembahkanlah kurban untuk para sahabatmu dan mintakanlah ampunan untuk mereka, karena mereka telah bermaksiat kepadaku karena dirimu.”9

Beliau pun menyendiri dan duduk di suatu tempat. Maka istri beliau pun datang dan merasa sudah terlambat. Ia mendapati beliau namun tidak mengenali beliau.

Ia pun menunggu lalu menjumpai beliau sambil melihat. Beliau pun menghampiri sang istri dalam kondisi Allah telah menghilangkan penyakit yang ada pada beliau. Sehingga beliau dalam keadaan yang paling baik.

Ketika sang istri melihat beliau, ia pun bertanya (ia tidak tahu bahwa yang di hadapannya adalah suaminya), “Wahai semoga Allah memberkahi engkau! Apakah engkau melihat Nabi Allah yang sedang diuji? Demi Allah Yang Maha Mampu, aku tidak melihat orang yang sangat mirip dengannya di kala sehatnya kecuali engkau.”

Beliau pun membuatnya terkejut, ”Sungguh akulah orang yang kau maksud.” Ia pun bertanya memastikan, “Apakah engkau mempermainkanku, wahai hamba Allah?” Beliau meyakinkannya, “Celaka engkau, aku adalah Ayyub. Allah telah mengembalikan tubuhku yang sehat.”10.

Pelajaran yang Bisa Diambil

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini antara lain:

  1.     Bahwa semakin tinggi kesabaran seseorang maka akan semakin besar pula ujiannya, bukan sebaliknya. Dan yang paling tinggi kesabarannya adalah para nabi ‘alaihimussalam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ ‌أَشَدَّ ‌النَّاسِ ‌بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُونَ وَإِنْ كَانَ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ لَمَنْ يُبْتَلَى بِالْفَقْرِ حَتَّى يَتَدَرَّعَ بِالْعَبَاءَةِ مِنَ الْفَقْرِ، وَإِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ يُسَلَّطُ عَلَيْهِ الْقَمْلُ حَتَّى يَقْتُلَهُ

“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih. Ada di antara nabi yang ditimpa kefakiran hingga menyelimutinya. Ada juga yang dipenuhi oleh kutu sampai membunuhnya.” [HR. Ahmad: 2348]11

Karena terkadang ada yang meyakini bahwa seseorang dianggap sebagai wali Allah bila Allah Ta’ala tidak menimpakan ujian kepadanya. Allahul Musta’an.

  1.     Terdapat satu di antara tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala, ketika Ia berfirman,

ارْكُضْ بِرِجْلِكَ هَذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ

“Hentakkanlah kakimu! Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” [Shad: 42]

Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah menafsirkan, “Keluar darinya air -dengan izin Allah Ta’ala– dengan satu kali hentakan. Allah Mahamampu atas segala sesuatu.” 12.

Semoga Allah memberikan pertolongan kepada kita semua agar termasuk golongan orang-orang yang sabar serta lulus dari berbagai ujian yang Ia berikan, karena kita tidak akan mampu menghadapi ujian tanpa pertolongan Allah Ta’ala. (MSH/AAA/ATH)

Penulis: Syarif Karawang

Referensi:

  1. Al-Qur’an al Karim.
  2. Al-Mukhtashar fi akhbaril basyar: Karya Abul Fida.
  3. Qashashul Anbiya’: Karya Imam Ibnu Kastir rahimahullah.
  4. Tafsir Al-Qur’an karya Syaikh Muhammad bin Shaleh rahimahullah
  5. Az-Zuhd karya Imam Ahmad rahimahullah

Footnotes

  1. HR. Bukhari no. 1400 dan Muslim no. 1053, dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu
  2. Al-Mukhtashar fi akhbaril basyar. Karya Abul Fida:  

    عُلَمَاءُ التَّفْسِيرِ وَالتَّارِيخِ وَغَيْرُهُمْ: كَانَ أَيُّوبُ رَجُلًا كَثِيرَ الْمَالِ مِنْ سَائِرِ صُنُوفِهِ وَأَنْوَاعِهِ ; مِنَ الْأَنْعَامِ وَالْعَبِيدِ وَالْمَوَاشِي، والاراضي المتسعة بِأَرْض الثَّنية مِنْ أَرْضِ حُورَانَ. وَحَكَى ابْنُ عَسَاكِرَ: أَنَّهَا كُلَّهَا كَانَتْ لَهُ وَكَانَ لَهُ أَوْلَادٌ وَأَهْلُونَ كثير

  3. Al-Mukhtashar fi akhbaril basyar. Karya Abul Fida.  Dihikayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir:

    فسلب مِنْهُ ذَلِك جَمِيعه، وابتلى فِي جسده بأنواع [من] الْبَلَاءِ وَلَمْ يَبْقَ مِنْهُ عُضْوٌ سَلِيمٌ سِوَى قَلْبِهِ وَلِسَانِهِ، يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِهِمَا

  4. Qasasul Anbiyaa, karya Imam Ibnu Katsir rahimahullah .  Dihikayatkan oleh Ibnu ‘Asakir:

    وَطَالَ مَرَضُهُ حَتَّى عَافَهُ الْجَلِيسُ، وَأَوْحَشَ مِنْهُ الْأَنِيسُ، وَأُخْرِجَ مِنْ بَلَدِهِ وَأُلْقِيَ عَلَى مَزْبَلَةٍ خَارِجَهَا، وَانْقَطَعَ عَنْهُ النَّاسُ، وَلَمْ يَبْقَ أَحَدٌ يَحْنُو عَلَيْهِ سِوَى زَوْجَتِهِ، كَانَتْ تَرْعَى لَهُ حَقَّهُ، وَتَعْرِفُ قَدِيمَ إِحْسَانِهِ إِلَيْهَا وَشَفَقَتِهِ عَلَيْهَا فَكَانَتْ تَتَرَدَّدُ إِلَيْهِ فَتُصْلِحُ مِنْ شَأْنِهِ، وَتُعِينُهُ عَلَى قَضَاءِ حَاجَتِهِ وَتَقُومُ بِمَصْلَحَتِهِ .وَضَعُفَ

    حَالُهَا وَقَلَّ مَالُهَا حَتَّى كَانَتْ تَخْدِمُ النَّاسَ بِالْأَجْرِ ; لِتُطْعِمَهُ وَتَقُومَ بأوده، رضى الله عمنها وأرضاها

  5. Qashashul Anbiyaa, karya Imam Ibnu Kastir rahimahullah. Berkata Imam As-suddi:

    وَقَالَ حُمَيْدٌ: مكث فِي بلواه ثَمَانِيَة عَشْرَةَ سَنَةً، وَقَالَ السُّدِّيُّ: تَسَاقَطَ لَحْمُهُ حَتَّى لَمْ يَبْقَ إِلَّا الْعَظْمُ وَالْعَصَبُ، فَكَانَتِ امْرَأَتُهُ تَأْتِيهِ بِالرَّمَادِ تَفْرُشُهُ تَحْتَهُ، فَلَمَّا طَالَ عَلَيْهَا قَالَتْ: يَا أَيُّوبُ ; لَوْ دَعَوْتَ رَبَّكَ لَفَرَّجَ عَنْكَ، فَقَالَ: قَدْ عِشْتُ سَبْعِينَ سَنَةً صَحِيحًا، فَهَل (1) قَلِيلٌ لِلَّهِ أَنْ أَصْبِرَ لَهُ سَبْعِينَ سَنَةً؟ فَجَزِعَتْ مِنْ هَذَا الْكَلَامِ، وَكَانَتْ تَخْدُمُ النَّاسَ بِالْأَجْرِ وَتُطْعِمُ أَيُّوبَ عَلَيْهِ السَّلَامُ.

    ثُمَّ إِنَّ النَّاسَ لَمْ يَكُونُوا يَسْتَخْدِمُونَهَا، لِعِلْمِهِمْ أَنَّهَا امْرَأَةُ أَيُّوبَ، خَوْفًا أَنْ يَنَالَهُمْ مِنْ بَلَائِهِ أَوْ تُعْدِيَهُمْ بِمُخَالَطَتِهِ، فَلَمَّا لَمْ تَجِدْ أَحَدًا يَسْتَخْدِمُهَا، عَمَدَتْ فَبَاعَتْ لِبَعْضِ بَنَاتِ الْأَشْرَافِ إِحْدَى ضَفِيرَتَيْهَا بِطَعَامٍ طَيِّبٍ كَثِيرٍ، فَأَتَتْ بِهِ أَيُّوبَ، فَقَالَ مِنْ أَيْنَ لَكِ هَذَا؟ وَأَنْكَرَهُ، فَقَالَتْ: خَدَمْتُ بِهِ أُنَاسًا.

    فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ لَمْ تَجِدْ أَحَدًا فَبَاعَتِ الضَّفِيرَةَ الْأُخْرَى بِطَعَامٍ فَأَتَتْهُ بِهِ، فَأَنْكَرَهُ أَيْضًا، وَحَلَفَ لَا يَأْكُلُهُ حَتَّى تُخْبِرَهُ مِنْ أَيْنَ لَهَا هَذَا الطَّعَامُ؟ فَكَشَفَتْ عَنْ رَأْسِهَا خِمَارَهَا، فَلَمَّا رَأَى رَأْسَهَا مَحْلُوقًا قَالَ فِي دُعَائِهِ: [رب] إنى مسنى الضّر وَأَنت أرْحم الرَّاحِمِينَ

  6. Qashashul Anbiyaa, karya Imam Ibnu Kastir rahimahullah.

    وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ وَابْنُ جَرِيرٍ جَمِيعًا: حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى أَنْبَأَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي نَافِعُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ عقيل، عَن الزُّهْرِيّ، عَن أنس ابْن مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ أَيُّوبَ لَبِثَ بِهِ بَلَاؤُهُ ثَمَانِيَ عَشْرَةَ سَنَةً، فَرَفَضَهُ الْقَرِيبُ وَالْبَعِيدُ، إِلَّا رَجُلَيْنِ مِنْ إِخْوَانِهِ كَانَا مِنْ أَخَصِّ إِخْوَانِهِ لَهُ ; كَانَا يَغْدُوَانِ إِلَيْهِ وَيَرُوحَانِ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ:

    تَعْلَمُ وَاللَّهِ لَقَدْ أَذْنَبَ أَيُّوبُ ذَنْبًا مَا أَذْنَبَهُ أَحَدٌ مِنَ الْعَالَمِينَ.

    وماذاك؟ قَالَ: مُنْذُ ثَمَانِيَ عَشْرَةَ سَنَةً لَمْ يَرْحَمْهُ رَبُّهُ فَيَكْشِفَ مَا بِهِ:قَالَ لَهُ صَاحبه

    فَلَمَّا رَاحَا إِلَيْهِ لَمْ يَصْبِرِ الرَّجُلُ حَتَّى ذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ أَيُّوبُ: لَا أَدْرِي مَا تَقُولُ؟ غَيْرَ أَن الله عزوجل يَعْلَمُ أَنِّي كُنْتُ أَمُرُّ عَلَى الرَّجُلَيْنِ يَتَنَازَعَانِ، فَيَذْكُرَانِ اللَّهَ فَأَرْجِعُ إِلَى بَيْتِي فَأُكَفِّرُ عَنْهُمَا، كَرَاهِيَة أَن يذكر اللَّهَ إِلَّا فِي حَقٍّ.

  7. Qashashul Anbiyaa, karya Imam Ibnu Kastir rahimahullah.

    قَالَ: وَكَانَ يَخْرُجُ فِي حَاجَتِهِ، فَإِذَا قَضَاهَا أَمْسَكَتِ امْرَأَتُهُ بِيَدِهِ حَتَّى يَرْجِعَ، فَلَمَّا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ أَبْطَأَتْ عَلَيْهِ، فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَى أَيُّوبَ فِي مَكَانِهِ: أَنِ ” ارْكُضْ بِرِجْلِكَ هَذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ “

  8. Qashashul Anbiyaa, karya Imam Ibnu Kastir rahimahullah. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim: وَأَلْبَسُهُ اللَّهُ حُلَّةً مِنَ الْجَنَّةِ

  9. Qashashul Anbiyaa, karya Imam Ibnu Kastir rahimahullah.

    وَقَالَ وَهْبُ بْنُ مُنَبِّهٍ: أَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ: ” قَدْ رَدَدْتُ عَلَيْكَ أَهْلَكَ وَمَالَكَ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ، فَاغْتَسِلْ بِهَذَا الْمَاءِ فَإِنَّ فِيهِ شِفَاءَكَ، وَقَرِّبْ عَنْ صَحَابَتِكَ قُرْبَانًا، وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّهُمْ قَدْ عَصَوْنِي فِيكَ “.رَوَاهُ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ

  10. Qashashul Anbiyaa, karya Imam Ibnu Kastir rahimahullah.

    قَالَ: فَاسْتَبْطَأَتْهُ فَتَلَقَّتْهُ تَنْظُرُ، وَأَقْبَلَ عَلَيْهَا قَدْ أَذْهَبُ اللَّهُ مَا بِهِ مِنَ الْبَلَاءِ، وَهُوَ عَلَى أحسن ماكان، فَلَمَّا رَأَتْهُ قَالَتْ: أَيْ بَارَكَ اللَّهُ فِيكَ! هَلْ رَأَيْتَ نَبِيَّ اللَّهِ هَذَا الْمُبْتَلَى؟ فَوَاللَّهِ القدبر عَلَى ذَلِكَ مَا رَأَيْتُ رَجُلًا أَشْبَهَ بِهِ مِنْكَ إِذْ كَانَ صَحِيحًا.

    قَالَ: فَإِنِّي أَنَا هُوَ

    وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: قَالَتْ: أَتَسْخَرُ مِنِّي يَا عبد الله؟ فَقَالَ: وَيحك أَنا أَيُّوب قدرد اللَّهُ عَلَيَّ جَسَدِي

  11. Imam Ahmad meriwayatkannya di dalam kitabnya Az-zuhd hal:321

    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنِي أَبِي، حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنِ الْفُضَيْلِ بْنِ سُلَيْمَانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُطَرِّفٍ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، أَنَّهُ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى نَبِيِّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ مَوْعُوكٌ فَوَضَعْتُ يَدِي فَوْقَ ثَوْبِهِ فَوَجَدْتُ حَرَّهَا مِنْ فَوْقِ الثَّوْبِ وَقُلْتُ يَا نَبِيَ اللَّهِ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا تَأْخُذْهُ الْحُمَّى أَشَدَّ مِنْ أَخْذِهَا إِيَّاكَ؟ قَالَ: ((كَذَلِكَ يُضَاعَفُ لَنَا الْأَجْرُ، إِنَّ ‌أَشَدَّ ‌النَّاسِ ‌بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُونَ وَإِنْ كَانَ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ لَمَنْ يُبْتَلَى بِالْفَقْرِ حَتَّى يَتَدَرَّعَ بِالْعَبَاءَةِ مِنَ الْفَقْرِ، وَإِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ يُسَلَّطُ عَلَيْهِ الْقَمْلُ حَتَّى يَقْتُلَهُ)) قال الإمام الألباني :وإسناد أحمد حسن “

  12. tafsir Al-Qur’an milik Syaikh Muhammad bin shaleh rahimahullah beliau berkata pada hal:158

    أي: اضرب برجلك الأرض، فضرب الأرض بها فنبع منها الماء بإذن الله، ولم يحتج إلى حفار ولا إلى أحد يساعده. بل ضرب الأرض برجله ضربة واحدة فنبع الماء، والله على كل شيء قدير، وهذه إحدى الضربات التي نبع بها الماء على أنَّه آية من آيات الله.

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *