Pembaca yang semoga senantiasa dilindungi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala…
Berbicara tentang perbedaan antara tauhid dan akidah merupakan suatu permasalahan yang sejatinya tidak asing di telinga kita.
Akidah adalah sebuah pembahasan mencakup masalah Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah yang Maha Suci, Maha Indah lagi Maha Mulia. Sedangkan tauhid pembahasan tentang uluhiyyah, mengenai Keesaan Allah Ta’ala dan pemurnian ibadah hanya kepada-Nya.
Menilik dua defenisi di atas, tentu hal itu berpijak pada dalil-dalil dan hujjah yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah.
Sisi Perbedaan Akidah dan Tauhid
Bidang akidah lebih mendalam membahas seputar penanaman akidah dan bantahan kerancuan (syubhat) dengan metode diskusi dan penelitian terkait kelompok-kelompok sesat.
Demikian pula seputar iman kepada kitab-kitab, para rasul, malaikat, hari akhir, dan iman kepada takdir adalah ruang lingkup akidah. Baik secara global atau disebutkan secara rinci dan mendetail.
Adapun pembahasan tauhid lebih mengara secara implisit dan melalui keterkaitan makna (بالاستلزام), yakni: barangsiapa yang menjadikan Rabb-nya sebagai satu-satunya tuhan yang ia ibadahi, maka berkonsekuensi kewajiban mengimani seluruh apa yang diberitakan oleh-Nya. Di antara yang telah diberitakan oleh Allah adalah pokok-pokok iman ini (kepada kitab-kitab, para rasul, para malaikat, hari akhir, dan takdir).
Dari sisi tinjau ini pembahasan akidah lebih umum dari pembahasan tauhid. 1
Jawaban Ulama Tentang Perbedaan Akidah dan Tauhid Serta Iman
Pernah ditanyakan kepada Syaikh Ibnu Baz rahimahullah: “Iman, tauhid, dan akidah — apakah itu sekadar nama-nama yang berbeda untuk satu hal yang sama, ataukah memiliki perbedaan maknanya?”
Jawaban:
Ya, ketiganya memiliki perbedaan dalam sebagian maknanya, namun semuanya kembali kepada satu pokok yang sama.
Tauhid adalah mengesakan Allah Ta’ala semata dalam peribadatan. Sedangkan iman adalah keyakinan bahwa Allah Ta’ala adalah Zat Yang berhak untuk disembah dan kita imani semua yang diberitakan oleh-Nya. Maka, iman lebih luas dari kata tauhid, yang merupakan bentuk mashdar dari kata (وَحَّدَ – يُوَحِّدُ) yang berarti mengesakan Allah dalam ibadah dan mengkhususkan (menunggalkan) segala bentuk ibadah hanya kepada-Nya.
Hal itu karena keyakinan seseorang bahwa Allah Subhanahu wa Ta‘ala adalah Dzat Yang berhak disembah, sebab Dialah Sang Pencipta, Sang Pemberi rezeki, dan Dia-lah yang sempurna dalam nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya, serta Dia-lah yang mengatur segala urusan dan menguasainya. Maka Dialah satu-satunya yang berhak disembah.
Jadi, tauhid adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam peribadatan dan menafikan ibadah dari selain-Nya.
Sedangkan iman lebih luas dari itu; mencakup mentauhidkan Allah, memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, dan membenarkan semua perkara yang diberitakan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.
Adapun akidah mencakup kedua hal tersebut. Ia mencakup tauhid dan mencakup iman kepada Allah serta kepada apa yang diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala maupun yang diberitakan oleh Rasul-Nya, serta mencakup iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah.
Akidah juga merupakan suatu yang diyakini seseorang di dalam hatinya, yang ia yakini sebagai suatu keyakinan yang ia pegang sebagai agama dan dengannya ia beribadah kepada Allah. Maka, akidah mencakup semua hal yang diyakini, seperti:
Mentauhidkan Allah, meyakini bahwa Allah adalah Sang Pencipta dan Pemberi rezeki, bahwa Dia memiliki Nama-Nama yang Paling Indah dan Sifat-Sifat Yang Paling Tinggi, bahwa tidak ada yang pantas disembah selain Dia, serta meyakini bahwa hanya Allah Ta’ala yang mengharamkan sesuatu, mewajibkan sesuatu, mensyariatkan sesuatu, dan melarang sesuatu.
Maka akidah lebih luas (cakupannya). Selesai. 2
وقد سئل شيخ بن باز رحمه الله الايمان والتوحيد والعقيدة أسماء للمسميات هل تختلف في مدلولاتها؟
الجواب: نعم تختلف بعض الاختلاف ولكنها ترجع الى شيء واحد. التوحيد هو افراد الله بالعبادة والايمان هو الايمان بانه مستحق للعبادة والايمان بكل ما أخبر به سبحانه فهو ادأشمل من كلمة التوحيد التي هي مصدر (وحّد – يوحّد) يعني افراد الله بالعباده وخصه بها؛ لإيمانه بانه سبحانه المستحق لها؛ لانه الخلاق، لانه الرزاق، ولانه الكامل في اسمائه وصفاته وأفعاله، ولأنه مدبر الامور والمتصرف فيها، فهو المستحق للعبادة.
فالتوحيد: هو إفراده بالعبادة ونفيها عما سواه، والايمان أوسع من ذلك، يدخل فيه توحيده والاخلاص له، ويدخل فيه تصديقه في كل ما اخبر به رسوله عليه الصلاة والسلام.
والعقيدة تشمل الامرين فالعقيدة تشمل التوحيد وتشمل الايمان بالله وبما اخبر به سبحانه او اخبر به رسوله والايمان باسمائه وصفاته
والعقيدة هي ما يعتقده الانسان بقلبه ويراه عقيدةً يدين الله بها ويتعبّده بها، فيدخل فيها كل ما يعتقده من توحيد الله والايمان بانه الخلاق الرزاق، وبأنه له الاسماء الحسنى والصفات العلى، والايمان بانه لا يصلح للعباده سواه، والايمان بانه حرّم كذا واوجب كذا، وشرع كذا، ونهى عن كذا، فهي أشمل. اه
3Referensi:
- Al-akidah Al-Washitiyyah karya syaikh Amhad bin Abdul Halim (W.728 H) rahimahullah
- Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz karya Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz (W. 1420 H) rahimahullah
Penulis: U. Ishlah Lahamido
(UIL/AAA/IWU)
Footnotes
- Disadur dari kitab akidah wasashitiyyah dalam ta’liq as-Syaikh Yasin rahimahullah. Karya Imam Ibnu Taimiyyah dalam syarh as-Syaikh Muhammad khalil Harras, hal. 19. Cet . Maktabah Imam al-Wadi’I
- Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz 6/ 217-218
- Lihat Majmu’ Fatawa as-Syaikh bin Bazz (6/217-218). Lihat juga kitab akidah wasashitiyyah dalam ta’liq as-Syaikh Yasin rahimahullah. Karya Imam Ibnu Taimiyyah dalam syarh as-Syaikh Muhammad khalil Harras, hal. 19. Cet . Maktabah Imam al-Wadi’i.









Komentar