Penciptaan manusia merupakan salah satu tanda kebesaran Allah Ta’ala yang paling agung. Karena akan menyadarkan kita bahwa apabila Allah Ta’ala satu-satunya yang menciptakan kita, maka hanya Dialah yang berhak kita sembah. Ini sebagai bentuk syukur atas nikmat penciptaan tersebut serta atas segala karunia yang Dia curahkan.
Penjelasan Tentang Penciptaan Manusia
Dari sahabat yang mulia Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada kami (dalam kondisi beliau adalah orang yang selalu jujur dan dipercaya),
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَوَالَّذِى لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُها
“Sesungguhnya penciptaan setiap orang terkumpul di dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah (air mani). Kemudian berubah menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama waktu itu juga (empat puluh hari). Kemudian berlanjut menjadi mudhghah (segumpal daging) selama waktu itu pula. Lalu diutuslah seorang malaikat, kemudian malaikat itu meniupkan ruh padanya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan akan celaka atau bahagia. Maka demi Allah yang tiada Rabb selain-Nya, sesungguhnya ada di antara kalian yang melakukan amalan penduduk surga, hingga jarak antara dia dengan surga kurang sehasta (sudah dekat). Namun takdir atas dirinya telah ditetapkan lebih dulu, maka dia melakukan amalan penduduk neraka sehingga dia pun masuk ke dalamnya. Dan sungguh ada pula seseorang di antara kalian yang melakukan amalan penduduk neraka, hingga jarak antara dia dengan neraka kurang sehasta. Namun takdir atas dirinya telah ditetapkan lebih dulu,, maka dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia pun masuk ke dalamnya.” 1
Poin penting dari hadits yang mulia ini adalah bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kemahakuasaan-Nya memberitakan melalui lisan nabi-Nya terkait alur penciptaan manusia yang diawali dengan wujud sperma, kemudian menjadi gumpalan darah, kemudian menjadi gumpalan daging. Hingga datanglah seorang malaikat yang Allah utus untuk meniupkan ruh serta menuliskan takdir untuknya.
Menilik hadits di atas, terdapat faedah tentang kemahakuasaan Allah dan kesempurnaan penciptaan-Nya. Bagaimana Allah mampu mengubah air yang tak berdaya menjadi wujud manusia yang sempurna.
Allah Ta’ala berkata,
هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الأرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dialah yang membentuk kalian dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran: 6)
Oleh karena itu, Allah adalah Dzat yang berhak untuk diibadahi. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia. Bahkan sungguh seorang manusia saat terlahir dari perut ibunya telah dimintai kesaksian oleh Allah Ta’ala tentang rububiyyah (keesaan)-Nya.
Allah Ta’ala berkata,
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
“Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari tulang sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berkata), “Bukankah Aku ini Rabbmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.” (Kami -Allah- lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap hal ini (keesaan Rabb).” (Al-A’raf: 172)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir bin Abdillah as-Sa’di rahimahullah menjelaskan di dalam tafsirnya berkenaan dengan ayat ini. Beliau menuturkan,
“Allah Ta’ala berfirman, ‘Dan (ingatlah) ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari tulang sulbi mereka.’ Yakni Dia mengeluarkan keturunan mereka dari tulang sulbi mereka dan menjadikan mereka beranak pinak dari satu generasi ke generasi yang lain. Dan ketika Dia mengeluarkan mereka dari perut ibu mereka serta dari tulang sulbi bapak mereka, Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini adalah Rabbmu?’ Yakni Allah memastikan pengakuan hamba tentang keesaan-Nya dalam rububiyyah, dengan fitrah mereka yang mengakui bahwa Dialah adalah Rabb, Pencipta, dan Pemilik mereka.
Mereka pun menjawab, ‘Ya, kami mengakui itu.’ Karena sesungguhnya Allah telah menetapkan fitrah manusia di atas agama yang lurus dan benar. Sehingga setiap manusia terlahir di atas fitrah (yang suci) ini. Akan tetapi fitrah ini terkadang bisa berubah disebabkan perkara-perkara yang mengotorinya semisal akidah dan keyakinan yang rusak.
Oleh karena itu, mereka menjawab, ‘Betul (Engkau adalah Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb).’ Yakni Kami menguji kalian supaya kalian mengakui keyakinan yang terpatri di dalam jiwa kalian bahwa Allah adalah Rabb kalian. Karena bisa saja pada hari kiamat kelak kalian mengklaim bahwa hujjah Allah belum tegak atas kalian dan bahwa kalian tidak mempunyai ilmu tentangnya. Justru kalianlah yang lalai dan teledor darinya. Pada hari tersebut alasan kalian telah terputus dan yang tegak hanyalah hujjah Allah yang kuat atas kalian.” 2
Setiap Manusia yang Lahir Berada di Atas Fitrah
Setiap manusia dilahirkan di atas fitrah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلَّا يُوْلَدُ عَلَى الفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه
“Tidaklah seorang manusia lahir di dunia ini kecuali pasti ia dilahirkan di atas fitrah. Namun kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR. Muslim no.4805)
Semoga ilmu yang baru saja kita pelajari ini, yakni mengenai proses penciptaan manusia, menjadi sebab bertambah kuatnya keimanan dan tauhid kita kepada Allah Ta’ala karena semakin memahami betapa besar kekuasaan dan kemampuan Allah Ta’ala atas segala sesuatu. Wallahu a’lam.
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim
- Taisir Karimur Rahman karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di (W. 1376 H) rahimahullah
- Shahih Al-Bukhari karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (W. 256 H) rahimahullah
- Shahih Muslim karya Imam Abul Hajjaj Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi (W. 261 H) rahimahullah
Penulis: Islah Lahamido
ILM/AAA/ATH
Footnotes
- HR. Al-Bukhari No.3036 dan Muslim no.2643.
-
يقول تعالى: وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ أي: أخرج من أصلابهم ذريتهم، وجعلهم يتناسلون ويتوالدون قرنا بعد قرن. و حين أخرجهم من بطون أمهاتهم وأصلاب آبائهم أَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ أي: قررهم بإثبات ربوبيته، بما أودعه في فطرهم من الإقرار، بأنه ربهم وخالقهم ومليكهم. قالوا: بلى قد أقررنا بذلك، فإن اللّه تعالى فطر عباده على الدين الحنيف القيم. فكل أحد فهو مفطور على ذلك، ولكن الفطرة قد تغير وتبدل بما يطرأ عليها من العقائد الفاسدة، ولهذا قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ أي: إنما امتحناكم حتى أقررتم بما تقرر عندكم، من أن اللّه تعالى ربكم، خشية أن تنكروا يوم القيامة، فلا تقروا بشيء من ذلك، وتزعمون أن حجة اللّه ما قامت عليكم، ولا عندكم بها علم، بل أنتم غافلون عنها لاهون. فاليوم قد انقطعت حجتكم، وثبتت الحجة البالغة للّه عليكم









Komentar