oleh

Syair Indah Ibnul Jauzi tentang Shalat Malam

Shalat malam adalah ibadah yang sangat mulia. Tak mampu setiap hamba bangkit melaksanakannya. Hanya mereka yang terpilih di sisi Allah, rela meninggalkan lelapnya tidur demi meraih rida dan mahabah-Nya. Allah pun takjub kepadanya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

“Allah, Rabb kita Azza wa Jalla, merasa takjub kepada dua golongan hamba-Nya:

  1. Seorang hamba yang bangkit dari tempat tidurnya (ia meninggalkan kasur) dan selimutnya, di tengah keluarga dan kaumnya, hanya untuk melaksanakan shalat. Maka Allah berfirman, “Wahai para malaikat-Ku, lihatlah hamba-Ku ini! Ia meninggalkan tempat tidurnya, selimutnya, dan kebersamaan dengan keluarga dan kaumnya demi shalat untuk-Ku, dengan penuh harap akan apa yang ada di sisi-Ku dan rindu terhadap apa yang ada di sisi-Ku.” 
  2. Seorang pejuang yang berjihad di jalan Allah. Ketika pasukannya mundur dari medan perang, ia menyadari kewajiban yang harus ia tunaikan dan pahala yang menantinya jika kembali. Maka ia kembali ke medan perang, meskipun menyadari risiko besar, hingga akhirnya darahnya tertumpah di jalan Allah. Allah pun berfirman kepada para malaikat-Nya, “Lihatlah hamba-Ku ini! Ia kembali ke medan perang dengan penuh harap akan apa yang ada di sisi-Ku dan rindu terhadap apa yang ada di sisi-Ku hingga ia mengorbankan darahnya.” 1

Di sini kami ingin bawakan untaian nasehat Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, tatkala beliau berdiksi dengan indahnya mengambarkan tentang nikmatnya shalat malam. Sungguh nasehat yang begitu indah nan berharga dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua.

Syair Indah Ibnul Jauzi tentang Shalat Malam

Pembaca Islam Hari Ini rahimakumullah, sebuah gubahan syair membalut nas syar’i Imam Ibnul Jauzi rahimahullah,

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ … عَنْ لَذِيدِ الْمَضَاجِعِ

Mereka menjauhkan tubuh mereka,
Dari kenyamanan tidur yang menyenangkan.

كُلُّهُمْ بَيْنَ خَائِفٍ … مُسْتَجِيرٍ وَطَامِعِ

Keadaan mereka semua, antara rasa takut,
Memohon perlindungan, dan  berharap.

تَرَكُوا لَذَّةَ الْكَرَى … لِلْعُيُونِ الْهَوَاجِعِ

Mereka tinggalkan kelezatan tidur,
Demi mata yang terjaga, penuh gelisah.

وَرَعَوْا أَنْجُمَ الدُّجَى … طَالِعًا بَعْدَ طَالِعِ

Mereka menjaga bintang-bintang malam,
Terbit satu demi satu.

وَاسْتَهَلَّتْ دُمُوعُهُمْ … بِانْصِبَابِ الْمَدَامِعِ

Air mata mereka mengalir,
Seperti hujan yang tak berhenti.

فَأُجِيبُوا إِجَابَةً … لَمْ تَقَعْ فِي المسامع

Mereka dijawab dengan jawaban,
Yang tak terdengar oleh telinga.

ليس ما تصنعونه … أو ليأتي بضائع

Bukan apa yang kalian lakukan,
Atau barang yang akan datang.

تَاجِرُونِي بِطَاعَتِي … تَرْبَحُوا فِي الْبَضَائِعِ

Berniagalah dengan kepatuhan kepada-Ku,
Kalian akan meraih keuntungan dalam barang perniagaan itu

وَابْذُلُوا لِي نُفُوسَكُمْ … إِنَّهَا فِي وَدَائِعِي

Curahkan jiwa kalian pada-Ku,
Sungguh jiwa-jiwa itu berada dalam simpananku.

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,

“Seandainya engkau melihat angin sahur berhembus menggerakkan pohon hati, sehingga jatuhlah buah mahabah. Duhai betapa lezatnya kesendirian mereka dengan Sang Kekasih, Duhai betapa banyaknya pahala mereka dapat dari bagian itu.”  2

Nasehat Indah Shalat Malam

Ibnul Jauzi rahimahullah menasihati kita melalui diksi indahnya. Semoga kita tersentuh dan kembali ke jalan-Nya. Beranjak menegakkan shalat di tengah keheningan malam setelah kelalaian di siang hari yang panjang.

“Jika engkau melihat mereka termasuk dari kalangan orang yang sujud dan ruku’ hina tak berdaya penuh kerendahan hati. Pandangan mereka tertunduk, dibalut rasa takut yang mendalam, penuh kekhusyukan. Saat malam datang menyelimuti, terdengar rintihan dari hati yang gundah, sebagaimana firman-Nya, ‘Lambung mereka jauh dari tempat tidur.’

Jiwa mereka terpaut oleh cinta kepada Allah. Hati mereka terbentuk dari kerinduan yang mendalam. Tubuh mereka diciptakan demi pengabdian. Ketika orang-orang terlelap tidur, mereka bangkit berdiri , sebagaimana firman-Nya, ‘Lambung mereka jauh dari tempat tidur.’

Mereka berlomba-lomba melakukan amal mulia, bersungguh-sungguh menutup kekurangan, dan memohon ampunan atas kesalahan masa lalu. Air mata mereka menjadi saksi dan perantara, sebagaimana firman-Nya, ‘Lambung mereka jauh dari tempat tidur.’

Demi Allah, mereka telah mendahului dengan banyaknya shalat dan puasa. Ketika malam tiba, mereka memerangi kantuk dengan semangat dan keteguhan hati, sebagaimana firman-Nya, ‘Lambung mereka jauh dari tempat tidur.’

Seorang penyesal di antara mereka berseru, “Aku tidak akan kembali pada dosa,” dan Sang Pemberi nikmat menyambut mereka dengan penerimaan dan kemurahan. Mereka adalah golongan terpilih di alam ini. Lalu, apa daya mereka yang terhalang, sedangkan Yang Maha Pemberi menahan? Sebagaimana firman-Nya, ‘Lambung mereka jauh dari tempat tidur.’

Wahai jiwa, jadilah sahabat mereka! Masuklah ke jalan mereka, meskipun terasa sempit. Ikutilah jalan mereka walau hanya sehari, niscaya jalan itu akan terasa lapang, sebagaimana firman-Nya, ‘Lambung mereka jauh dari tempat tidur.’

Di siang hari, jauhilah kenikmatan makanan,dan di malam hari, tinggalkanlah nikmatnya tidur. Katakan kepada hawa nafsu, “Selamat tinggal!” Sesungguhnya Allah menyeru kepada negeri penuh keselamatan. Lalu, mengapa pendengar ajakan ini masih diam? Sebagaimana firman-Nya, ‘Lambung mereka jauh dari tempat tidur.’

Wahai engkau yang berharap derajat para shalih, tetapi tetap tinggal bersama orang-orang lalai, dan mendambakan kedekatan dengan Allah, namun tetap berada di antara para pendosa, tinggalkanlah kenyataan ini! Kejujuran adalah keselamatanmu, kesungguhan adalah keuntunganmu, dan segeralah sebelum penyesalan tiba. Inilah obat yang mujarab, sebagaimana firman-Nya, ‘Lambung mereka jauh dari tempat tidur’. Dan Allah Maha Mengetahui.”

Sebelum kami tutup, kami akan membawakan satu kata motivasi dari salaf, untuk bangkit menegakkan shalat malam. Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah berkata,

“Sungguh orang-orang yang melakukan ketaatan di malam hari mereka lebih merasakan kenikmatan dibandingkan orang-orang bersenda gurau dengan gurauan mereka. Seandainya bukan karena adanya malam (sehingga dapat shalat malam) niscaya aku tidaklah suka tinggal di dunia ini.” 3 Shifatush Shofwah (2/383)

Teks arab,

لأهل الطاعة في ليلهم ألذ من أهل اللهو بلهوهم، ولولا الليل ما أحببت البقاء في الدنيا

 [efn/_note] (ASS/   /   )

Penulis: Saad Pangkep

Referensi:
at-Tabshirah 2/299-301, karya Ibnul Jauzi rahimahullah w. 597.


 

Footnotes

  1. HR. Ahmad no. 3949, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, sanad hadits dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah dalam takhrij beliau terhadap Kitab Musnad Imam Ahmad.
    teks Arab:
    عَجب ربّنا عز وجل من رجلين، رجل ثار عن وِطائه ولحِافه من بين أهله وَحَيّه إلى صلاته، فيقول ربُّنا: أيا ملائكتي، انظروا إلى عبدي، ثار من فراشه ووطائه ومن بين حيّه وأهله إلى صلاته، رغبةً فيما عندي، وشفقةً مما عندي، ورجل غزا في سبيلِ الله عزوجل، فانهزموا، فعَلم ما عليه من الفِرَار، وما له في الرجوع، فرجع حتى أُهَرِيق دمُه، رغبةً فيما عنديِ، وشفقةً مما عندي، فيقول الله عز وجل لملائكته: انظروا إلى عبدي، رجع رغبةً فيما عندي، ورهبةً مما عندي، حتى أهَريق دمه
  2. Teks arab,

    لَوْ رَأَيْتَ رِيَاحَ الأَسْحَارِ تُحَرِّكُ أَشْجَارَ الْقُلُوبِ فَتَقَعُ ثِمَارُ الْمَحَبَّةِ! يَا لَذَّةَ خَلَوْتِهِمْ بِالْحَبِيبِ، يَا وُفُورَ نَصِيبِهِمْ مِنْ ذَلِكَ النَّصِيبِ