oleh

Ringan Diperbuat, Azab Didapat

Menjaga diri dari segala perbuatan dosa tanpa pandang bulu adalah perbuatan yang terpuji. Bahkan itu merupakan wujud takwa yang hakiki. Terlebih lagi ada perbuatan-perbuatan dosa yang ringan dipandang, mudah dikerjakan, namun ternyata akibatnya jauh dari yang dibayangkan. Apakah perbuatan dosa itu?

Sebagai insan yang beriman tentu sangat antusias untuk mengetahuinya, dengan penuh harap agar tidak terjatuh padanya –wal ‘iyadzu billah. Berikut di antara perbuatan “ringan” yang disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun besar akibatnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lafadz hadits

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذَّبَانِ، فَقَالَ: «إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِ، وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ»، ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً، فَشَقَّهَا بِنِصْفَيْنِ، ثُمَّ غَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ صَنَعْتَ هَذَا؟ فَقَالَ: «لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَس

Terjemah hadits

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu beliau menceritakan bahwa tatkala Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kubur yang sedang diazab penghuninya, maka beliau bersabda, “Sesungguhnya kedua penghuni kubur tersebut sedang diazab dan tidaklah mereka berdua diazab disebabkan perkara yang besar. Orang yang pertama diazab karena tidak membersihkan diri setelah buang air kecil. Adapun orang yang kedua diazab karena ia dahulu sering melakukan namimah.” Kemudian beliau mengambil satu batang pohon yang masih basah dan membelahnya menjadi dua, setelah itu beliau menancapkannya pada kedua kubur tersebut. Para sahabat bertanya, “ Mengapa anda melakukan hal ini wahai Rasul?” Beliau bersabda, “Semoga dengan ini bisa meringankan azab dari keduanya selama batang pohon tersebut masih basah, belum mengering.”

Takhrij hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya no. 1361, Imam Muslim dalam shahihnya no. 292, Ibnu Majah dalam sunannya no. 347, Abu Dawud dalam sunannya no. 20, at-Tirmidzi dalam sunannya no. 70, an- Nasai dalam sunannya no. 27, Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya no. 55, Ibnu Hibban dalaam shahihnya no. 3128, ad-Darimi dalam sunannya no. 766, Imam Ahmad dalam Musnadnya no. 1980, dan beberapa ulama hadits yang lainnya.

Perawi hadits

Beliau adalah sahabat yang mulia Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib al-Hasyimi radhiyallahu ‘anhu, keponakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau dijuluki dengan al-Habru (Pena) dan al-Bahru (Lautan) disebabkan luasnya ilmu beliau. Beliau termasuk dalam deretan para shahabat yang banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah dan termasuk ahli fikihnya para shahabat. Beliau wafat pada tahun 68 H. Semoga Allah meridhoinya.

Pengertian namimah

Namimah adalah: Menyerbarkan pembicaraan atau perkataan kepada manusia dengan tujuan merusak dan menebar kebencian diantara mereka. Di dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan adu domba.

Makna hadits secara global

Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sedang berjalan melewati dua kuburan yang berada di dekatnya. Sejenak beliau pun memperhatikan kedua kuburan tersebut yang ternyata kedua penghuninya sedang diazab oleh para malaikat. Lantas beliau kepada memberitahukan para sahabatnya perihal keduanya serta sebab keduanya diazab.

Sebab pertama adalah ia tidak bersuci setelah buang air kecil dan tidak memperhatikan percikan air seni yang mengenai dirinya. Ia membiarkannya begitu saja tanpa berusaha menghilangkan najis yang menempel pada tubuh atau pada pakaiannya. Padahal perbuatan ini tidaklah berat untuk dilakukan oleh seorang yang sedang buang hajat. Bahkan itu merupakan hal yang lumrah dilakukan dan etika yang baik ketika buang hajat. Oleh karenanya Nabi mengatakan dalam sabdanya tersebut “Dan tidaklah mereka berdua diazab karena sesuatu yang besar.”

Adapun sebab kedua, karena ia selalu mengadu domba di antara manusia, mengumbar aib serta kejelekan yang ada pada mereka, menyulutkan api permusuhan di tengah masyarakat. Tentu hal ini akan menimbulkan kerusakan yang besar di tengah-tengah mereka. Padahal tidak sulit baginya untuk menahan lisan agar tidak membicarakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Terlebih jika itu mengandung hal yang merugikan orang lain. Jikalau saja ia mau memanfaatkan nikmat Allah berupa lisan tersebut dengan berdzikir dan membaca al-Quran tentu ia akan mendapat pahala serta ridho dari-Nya, bukan sebaliknya.

Setelah itu beliau menancapkan batang pohon pada kedua kuburan tersebut seraya berharap kepada Allah agar Dia meringankan azab-Nya selama batang pohon tersebut masih dalam keadaan basah. Hal ini merupakan kekhususan beliau sebagai Nabi dan bukan sebagai bentuk materialisasi doa. Baca: Hukum Menanam Bunga di Atas Kuburan

Faidah hadits

  • Dalam hadits ini terdapat penetapan akan adanya azab kubur.
  • Bahwasanya namimah (adu domba) dan tidak membersikan diri setelah buang air kecil termasuk sebab mendapatkan azab kubur, sekaligus merupakan dosa besar.
  • Bersuci menghilangkan najis adalah salah satu adab dalam buang hajat.
  • Kekhususan Nabi dalam hal menancapkan batang pohon yang masih basah dengan harapan dapat meringankan azab bagi keduanya. Oleh karenanya hal ini tidak boleh dilakukan oleh selain beliau.
  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui perkara yang gaib, namun beliau mengetahui hal yang demikian itu karena wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala .
  • Anjuran untuk berucap dengan ucapan yang baik.
  • Setiap amal perbutan yang dilakukan oleh manusia akan mendapat balasannya masing-masing, jika amalan tersebut baik maka balasannya pun baik. Namun sebaliknya jika amal perbuatannya jelek maka balasannya pun jelek. Hal ini sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ( ) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“ Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji sawi, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar biji sawi, niscaya dia akan melihat balasannya.” (az-Zalzalah: 7-8)

Sebagai penutup, mari kita berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar dijauhkan dari berbagai perbuatan yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan agar Allah selalu memudahkan kita semua dalam melakukan berbagai amal kebajikan yang dapat mendekatkan diri kita kepada-Nya. Amin.

SFW

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait