oleh

Raihlah Keimanan yang Sempurna

Raihlah Keimanan yang Sempurna

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»

Terjemah Hadits

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

”Tidak beriman salah seorang di antara kalian, sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Derajat Hadits

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh:

1- Al-Imam Bukhari dalam shahihnya, dalam kitab Al-Iman, bab Minal iman ayuhibba liakhi hi ma yuhibbu linafsihi, no. 13.

2- Al-Imam Muslim dalam shahihnya, dalam kitab Al-Iman, bab ad-daliil alaa anna min khishaalil iiman ayuhibba liakhi hil muslim ma yuhibbu linafsihi minal khair, no. 45.

Shahabat Perawi Hadits

Beliau adalah Anas bin Malik bin An-Nadhr ِAbu Hamzah Al-Anshary Al-Khazrajy, seorang shahabat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkhidmat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan beliau dengan doa:

«اللَّهمّ أكثر ماله وولده وأدخله الجنّة»

Artinya: “ya Allah perbanyaklah hartanya, anak-anaknya dan masukkanlah dia ke dalam surga”.

(HR. Muslim di dalam kitab Keutamaan Shahabat pada bab Keutamaan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu no. 2480)

Beliau wafat pada tahun 92 hijriyyah dan dalam riwayat lain pada tahun 93 hijriyyah. Umur beliau mencapai 100 lebih.1

Makna Hadits secara Global

Di dalam hadist ini rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada kita langkah untuk menggapai keimanan yang sempurna. Salah satu caranya adalah menyukai untuk saudara kita apa yang dia cintai untuk dirinya dari berbagai macam kebaikan, demikian pula membenci untuk saudara kita apa yang dia benci untuk dirinya dari berbagai macam kejelekan seperti terjatuh pada kesyirikan, inilah kondisi seorang yang beriman dengan keimanan yang benar.

Jika seorang insan berinteraksi dengan saudaranya dengan mu’amalah ini, maka dia tidak mungkin berbuat kejelekan kepada saudaranya, sebagaimana dia tidak menyukai hal yang serupa dilakukan pada dirinya.

Hadits ini menunjukkan bahwa barang siapa yang membenci sesuatu untuk saudaranya apa yang dia sukai untuk dirinya atau sebaliknya maka hal ini menggambarkan keimanan yang ada padanya belumlah sempurna.

Oleh karena itu, maka wajib atas engkau wahai saudaraku seiman untuk mendidik diri anda di atas hal ini. Engkau menyukai sesuatu untuk saudaramu apa yang engkau sukai untuk dirimu sampai engkau terwujudlah pada diri kita keimanan yang sempurna.

Faedah dan Kesimpulan Hadits

  1. Hadits ini menunjukkan bahwa tidak sempurna keimanan seseorang sampai dia mencintai saudaranya karena Allah ta’ala.
  2. Peringatan dari sifat hasad, karena hasad tidak mencintai apa yang dicintai untuk saudaranya, bahkan berharap hilangnya nikmat dari saudaranya (muslim).
  3. Bermu’amalah dengan mu’amalah ini akan menjauhkan kita untuk berbuat kejelekan kepada saudara kita.

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala taufiq untuk bisa mengamalkan apa yang telah kita ketahui dari ilmu agama, dan semoga kita dimudahkan untuk mencapai keimanan yang sempurna. Semoga apa yang sedikit ini bermanfa’at bagi kita semua. Amiin. HRS.


1 Al Ishaabah fi Tamyiiz ash Shahabat karya al Hafidz Ibnu Hajar al-atsqalaaniy rahimahullah jilid 1 hal. 277

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait