Home / Sejarah / Mengambil Pelajaran dari Sejarah Berdirinya ISIS

Mengambil Pelajaran dari Sejarah Berdirinya ISIS

Sejarah Berdirinya ISIS

ISIS adalah pecahan dari kelompok al-Qaeda, kelompok yang sebelumnya dipimpin Usamah bin Laden.

Setelah Usamah bin Laden meninggal, kepemimpinan al-Qaeda berpindah kepada Ayman adz-Dzhowaahiry. Al-Qaeda memiliki beberapa sayap pergerakan di banyak negara.

Salah satunya di Iraq yang dipimpin oleh Abu Mush’ab az-Zarqawy. Embrio sikap radikal dalam mengeksekusi hukum mati orang kafir yang menjadi ciri khas ISIS sudah mulai dicontohkan oleh Abu Mush’ab az-Zarqawiy ini, yaitu penyembelihan dengan pisau.

Sebagaimana tersebarnya video penyembelihan orang Amerika Serikat oleh Abu Mush’ab az-Zarqawiy yang nantinya akan menjadi ciri khas ISIS. Pergerakan pimpinan Abu Mush’ab az-Zarqawiy inilah yang akan menjadi perintis timbulnya Daulah Islamiyyah fil Iraq yang selanjutnya dipimpin Abu Umar al-Baghdadiy.

Mengapa bermula dari Iraq?

Hal itu tidak lepas dari semangat memperjuangkan diri rakyat Iraq dari belenggu imperialisme Amerika Serikat setelah jatuhnya kekuasaan Saddam Husein. Namun, semangat yang tinggi tersebut tidak diiringi dengan pemahaman ilmu Dien yang benar. Akibatnya, pemahaman Khawarij tumbuh dan dikedepankan serta dianggap sebagai alat mencapai tujuan perjuangan.

Sepeninggal Abu Mush’ab az-Zarqowiy, para pejuang yang berpemahaman Khawarij tersebut membentuk Dewan Syura versi mereka, dan menghasilkan kepemimpinan bagi Abu Umar al-Baghdadiy. Nantinya, saat Abu Umar al-Baghdadiy ini meninggal, penggantinya adalah Abu Bakr al-Baghdadiy.

Bisa dilihat bagaimana nama-nama pimpinan organisasi tersebut selalu tidak menunjukkan nama asli. Mereka berlindung di balik kunyah (julukan) dan nisbat ke suatu tempat. Seperti Abu Mush’ab az-Zarqaawiy: Abu Mush’ab adalah kunyahnya, sedangkan az-Zarqaawiy nisbat kepada suatu daerah yang bernama Zarqa di Yordania. Demikian juga Abu Umar dan Abu Bakr al-Baghdadiy, dengan kunyah masing-masing dan nisbat kepada daerah Baghdad.

Hal itu menunjukkan bahwa sebenarnya mereka asalnya tidak dikenal. Bukan dikenal sebagai orang-orang yang kokoh dalam keilmuan, membela kaum muslimin, namun muncul tiba-tiba ke khalayak dengan latar belakang yang berbeda-beda, tetapi dengan pemikiran yang sama, yaitu Khawarij.

Pada tahun 2010 saat terjadi demo besar-besaran menuntut penggulingan kekuasaan di beberapa negara Arab yang disebut Arab Spring, Suriah juga mengalami pergolakan. Bashar Assad sebagai penguasa Suriah pada waktu itu bersikap represif membunuh para demonstran, dan berkobarlah pertempuran antara pihak yang ingin menggulingkannya dengan barisan pendukung Bashar Assad.

Pada saat itu, karena lokasinya bertetangga, Daulah Islamiyyah fil Iraq ini mengirimkan pasukan pejuang yang mendukung penggulingan Bashar Assad. Pasukan yang dikirim itu dipimpin oleh Abu Muhammad al-Jaulaaniy.

Awalnya pasukan dari Iraq ini masih dalam satu kesatuan dalam Jabhatun Nushroh di Syria yang merupakan sayap al-Qaeda. Namun, seiring perjalanan waktu, terjadi perpecahan internal, sehingga kemudian Daulah Islamiyyah fil Iraq memproklamirkan pemisahan diri dari al-Qaeda dan jaringannya.

Mulai Membentuk ISIS

Daulah Islamiyyah fil Iraq ini membentuk faksi baru di Suriah, sehingga diumumkanlah terbentuknya Daulah Islamiyyah fil Iraq wasy Syaam (disingkat ISIS dalam bahasa Inggris) oleh Abu Bakr al-Baghdadiy (pengganti Abu Umar al-Baghdadiy).

Pengumuman berdirinya ISIS ini dipublikasikan dalam bentuk rekaman suara pidato Abu Bakr al-Baghdadiy yang disebarluaskan melalui channel televisi berita al-Jazeera pada April 2013. Di sisi lain, Jabhatun Nushroh tetap menyatakan baiat kepada pimpinan al-Qaeda yaitu Ayman adz-Dzhowaahiry.

Dalam perkembangannya Daulah Islamiyyah fil Iraq wasy Syam diubah menjadi Daulah Islamiyyah – IS (Islamic State/ Negara Islam), untuk mengesankan bahwa kewajiban bagi seluruh penduduk di negara lain untuk berhijrah dan berbaiat kepada pemimpin mereka.

Satu sisi pelajaran penting yang terlihat adalah: ISIS terlahir dari kelompok lain yang menyimpang dengan pemahaman Khawarijnya. Baik berupa al-Qaeda maupun Jabhatun Nushra.

Kelompok Khawarij akan selalu terpecah, sekaligus menghasilkan kelompok baru dengan nama yang berbeda. Dulunya mereka berada dalam satu barisan dengan satu tujuan. Namun, di akhir perjalanan berubah haluan bermusuhan bahkan saling bunuh-bunuhan. Masing-masing kelompok mengklaim kelompoknyalah yang paling benar, sedangkan kelompok lain sebagai pengkhianat atau kafir yang layak dibunuh.

Kelompok-kelompok baru tersebut muncul bukan sebagai solusi bagi masalah kaum muslimin.

Justru mereka tumbuh di medan-medan konflik dengan memanfaatkan keruhnya situasi. Mereka terlihat seakan-akan sebagai pahlawan bagi kaum muslimin. Namun, pada hakikatnya mereka mengorbankan nyawa kaum muslimin untuk kepentingannya.

Saat al-Qaeda terlihat menyuarakan perlawanan bagi Amerika Serikat dan Sekutunya, apakah mereka dengan gagah berani menghadapi serangan Amerika itu secara terang-terangan? Tidak. Justru mereka bersembunyi ke sana ke mari. Akibatnya, Amerika Serikat akan menghancurkan kawasan-kawasan muslim seperti Afghanistan dan lainnya, dengan dalih mencari para tokoh al-Qaeda.

Sekian juta nyawa muslim termasuk perempuan dan anak-anak – yang tak tahu apa-apa- melayang dan sekian banyak harta benda rusak. Tidakkah mereka bersikap kasih sayang kepada kaum muslimin?

Semoga Allah Ta’ala melindungi kaum muslimin dari berbagai tipu daya kelompok Khawarij yang menyimpang dari Islam, baik al-Qaeda, ISIS, dan semisalnya.

Oleh: Al Ustadz Kharisman

Baca Juga

Mencela Diri di Depan Orang Lain

Mencela Diri di Depan Orang Lain Termasuk Riya’

BUKAN HAL TERPUJI MENCELA DIRI DI DEPAN ORANG LAIN 🗒 Al Hafizh Ibnu Rajab Al …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *