oleh

Pandangan Islam Terhadap Keyakinan Pluralisme (Bag. 2)

Pluralisme adalah paham sesat yang terus bergulir di masyarakat kita. Menipu sebagian muslimin dengan berbagai slogan batil yang selalu didengungkan oleh musuh-musuh Islam yang menginginkan agama ini hancur.

Fatwa MUI Tentang Pluralisme

Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menerbitkan fatwa yang melarang paham pluralisme dalam agama Islam.

Dalam fatwa tersebut, pluralisme didefinisikan sebagai, “Suatu paham bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama relatif. Setiap pemeluk agama mengklaim hanya agamanya saja yang benar.” (Keputusan Fatwa MUI no. 7/munas VII / MUI / II 2005 Tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme.)

Agama Yahudi dan Nasrani Telah Diubah, Bagaimana Dinyatakan Benar?

Pembaca yang semoga dirahmati Allah…

Orang-orang Yahudi adalah pengikut Nabi Musa ‘alaihis salam. Begitu pula orang-orang Nasrani adalah pengikut Nabi Isa ‘alaihis salam.

Namun, orang-orang Yahudi dan Nasrani telah menyelewengkan kitab yang diturunkan, yaitu dengan menambahnya dan mengurangi isi kitab tersebut. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan ayat berikut,

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya di antara mereka ada orang-orang yang memutar-mutar lidahnya ketika membaca kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari kitab. Padahal itu bukan dari kitab dan mereka mengatakan, itu (yang dibaca) datang dari sisi Allah, padahal itu bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (Ali Imran: 78)

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala  mengancam dengan kebinasaan kepada mereka, sebagaimana perkataan-Nya,

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

“Kebinasaan bagi orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu mereka mengatakan, ini dari Allah (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit. Kebinasaan bagi mereka dengan sebab yang mereka tulis dan kebinasaan akibat apa yang mereka kerjakan.”(al-Baqarah: 79)

Persatuan Agama Bentuk Pluralisme

Pembaca yang semoga dirahmati Allah…

Dengan ayat di atas kita mengetahui bahwa agama Yahudi dan Nasrani telah diubah oleh mereka sendiri, bahkan Allah mengecam mereka serta menimpakan kebinasaan kepada mereka.

Oleh karena itu, seruan yang mengajak persatuan agama merupakan seruan sesat. Di antara bukti yang menunjukkan kesesatan seruan persatuan agama adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya, dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu.

 

    أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه أتى النبي صلى الله عليه وسلم بكتاب أصابه من بعض أهل الكتاب فقرأه على النبيّ صلى الله عليه وسلم فغضب فقال: “أمتهوكون فيها يا ابن الخطاب! والذي نفسي بيده لقد جئتكم بها بيضاء نقية، لا تسألوهم عن شيء فيخبرونكم بحقّ فتكذبوا به أو بباطل فتصدقوا به، والذي نفسي بيده لو أن موسى صلى الله عليه وسلم كان حيا ما وسعه إلاّ أن يتبعني“.

 

Umar bin al-Khathab radhiyallahu ‘anhu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan  membawa kitab yang beliau dapat dari ahlul kitab. Umar membacakannya kepada Nabi, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  pun marah dan berkata,

”Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khathab? Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku telah membawa syariat ini untuk kalian dalam keadaan putih bersih. Jangan kalian bertanya tentang sesuatu kepada ahlul kitab, sehingga mereka mengabarkan yang benar lantas kalian (bisa jadi) mendustakannya, atau mengabarkan yang dusta lantas kalian membenarkannya. Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa masih hidup, tidak ada kelapangan baginya selain mengikutiku.” (HR. Ahmad no. 15156, dari Sahabat Jabir, Hasan)[1]

Imam asy-Syafi`i berkata, ”Allah Subhanahu wa Ta’ala  telah mengabarkan kepada kita bahwa mereka telah mengganti kitab Allah dan menulis kitab dengan tangan mereka. Kemudian berkata, ”Ini dari Allah (dengan tujuan) mendapat sesuatu dengan harga yang murah.”[2]

Dalil-dalil al-Quran, as-Sunnah dan para ulama menyatakan secara tegas bahwa agama selain Islam adalah agama yang telah rusak. Bahkan hal ini telah dinyatakan sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Agama Yahudi dan Nasrani telah berubah dari aslinya, di dalamnya terdapat berbagai ajaran yang sesat lagi kufur. Inilah kelancangan dan pembangkangan mereka terhadap kitab suci yang Allah turunkan.

Lantas apakah kita akan merangkul mereka, bahu-membahu dalam acara ibadah yang mereka selenggarakan?

Sungguh ini tidak pantas bagi kaum muslimin, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata,

 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai penolong, sebagian mereka adalah penolong bagi yang lainnya. Barang siapa di antara kalian menjadikan mereka sebagai penolong, maka ketahuilah bahwa dia bagian dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak akan memberi hidayah kepada orang yang dzalim.” (al-Maidah: 51)

Inilah akibat dari pemahaman pluralisme, agama yang akan berujung kepada kekafiran. Mengantarkan pelakunya kepada adzab yang pedih.

Sikap Muslim yang Benar Terhadap Keyakinan Lain

Pembaca yang semoga dirahmati Allah…

Adapun sifat seorang muslim sebagaimana ucapan Allah Subhanahu wa Ta’ala,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Tidak akan engkau dapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir berloyalitas kepada orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, walaupun mereka adalah bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka atau kerabat-kerabat mereka. Mereka itulah yang Allah tetapkan pada hati-hati mereka iman dan Allah kuatkan mereka dengan ruh dari-Nya, kemudian Allah masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan merekapaun ridha kepada Allah, merekalah tentara Allah. Ketahuilah, sesungguhnya tentara Allah,merekalah orang-orng yang beruntung.”(al-Mujadalah: 22)

Surga adalah balasan yang sempurna bagi kaum muslimin yang tidak menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai penolong dan teman yang dia condong kepadanya. Ketahuilah, bahwasanya dibalik keramahan yang mereka tampakkan kepada kita, padanya terdapat makar jahat yang tersembunyi, sebagaimana Allah berkata,

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ

“Kebanyakan ahlul kitab, mereka menginginkan kalian keluar dari agama setelah keimanan kalian, karena iri dan dengki pada diri-diri mereka.”(al-Baqarah: 109)

Inilah pandangan Islam terhadap pemahaman pluralisme agama, yang akan mengakibatkan seorang keluar dari agama yang lurus ini. Semoga Allah melindungi kita semua dari pemahaman yang sesat ini. Amin

AFF/AA-ALF


[1] Lihat Ta`liq Kitab as-Sunnah Ibnu Abi Ashim [50] dan Ta`liq Misykah no. 177 oleh Muhammad Nashirudin (w.1420)

[2] Lihat as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi rahimahullah

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait