oleh

Kumpulan Doa-doa Istiftah (Iftitah) Lengkap

Doa istiftah (atau iftitah) adalah doa yang dipanjatkan ketika hendak memulai bacaan shalat (sebelum al-Fatihah). Istiftah artinya pembuka, doa ini dipanjatkan sebagai pembuka bacaan shalat.

Ada berbagai macam doa istiftah yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Doa-doa tersebut beliau baca secara bergantian dalam berbagai kesempatan shalat. Sebagiannya beliau baca di saat shalat malam atau shalat fardhu.

Berikut ini kami sebutkan beberapa macam bacaan doa istiftah beserta artinya dan riwayat hadits masing-masing.

Doa Istiftah Pertama (1)

Dengarkan Audio Doa Istiftah Pertama

اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ، كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ.

Allahumma ba’id baini wa baina khathayaya kama ba’adta bainal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqini min khathayaya kama yunaqqats tsaubul abyadhu minad danas. Allahummaghsilni min khathayaya bil ma’i wats tsalji wal barad.

Artinya: “Ya Allah, jauhkan antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dan kesalahan- kesalahanku, sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, sucikanlah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan butiran es.”

(HR. Al-Bukhari no. 744 dan Muslim no. 598 di dalam Shahih keduanya, dari sahabat Abu Hurairah)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa ini pada shalat fardhu. Ini adalah doa istiftah yang paling sahih dari sisi riwayat.[1]

Doa Istiftah Kedua (2)

Dengarkan Audio Doa Istiftah Kedua

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيْفاً [مُسْلِماً]، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلاَتِيْ، وَنُسُكِيْ، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِيْ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ؛ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ، وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، [سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ]، أَنْتَ رَبِّيْ، وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِيْ، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ؛ فَاغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ جَمِيْعاً؛ إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْب إِلاَّ أَنْتَ. وَاهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الْأَخْلاَقِ؛ لاَ يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ. وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا؛ لاَ يَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ. لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِيْ يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، [وَالْمَهْدِيْ مَنْ هَدَيْتَ]، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، [لاَ مَنْجَا وَلاَ مَلْجَأَ مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ]، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ “.

Wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardha hanifan musliman wa ma ana minal musyrikin. Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamina la syarika lahu, wa bidzalika umirtu wa ana awwalul muslimin. Allahumma anta al-Maliku la ilaha illa anta subhanaka wa bihamdika, anta Rabbi wa ana ‘abduka, zhalamtu nafsi wa’taraftu bidzanbi, faghfirli dzanbi jami’an, innahu la yaghfirudz dzunuba illa anta. Wahdini li ahsanil akhlaqi, la yahdi liahsaniha illa anta. Washrif ‘anni sayyiaha, la yashrifu ‘anni sayyiaha illa anta. Labbaika wa sa’daika, wal khairu kulluhu fi yadaika, wasy syarru laisa ilaika, wal mahdi man hadaita. ana bika wa ilaika, la manja wa la malja’a minka illa ilaika, tabarakta wa ta’alaita, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Artinya: “Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dalam keadaan hanif (menghindar dari kesyirikan), muslim (tunduk dengan perintah Allah) dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dengan inilah aku diperintah dan aku orang pertama yang berserah diri. Ya Allah, Engkaulah al-Malik (Sang Raja); tidak ada ilah (sembahan) yang hak kecuali Engkau, Maha Suci Engkau dan segala puji bagi-Mu; Engkau adalah Rabbku dan aku adalah hamba-Mu, aku menzhalimi diriku sendiri dan aku mengakui segala dosaku, maka ampunilah aku atas segala dosa-dosaku. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosaku kecuali Engkau. Berilah aku petunjuk kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat memberiku petunjuk kepadanya melainkan Engkau. Jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, tidak ada yang mampu menjauhkannya kecuali Engkau. Aku siap tunduk dan taat. Segala kebaikan ada di tangan-Mu, segala keburukan itu bukan darimu, orang yang mendapat petunjuk hanyalah yang telah Engkau beri petunjuk. Aku untuk-Mu dan kepada-Mu, tidak ada jalan keluar dan tempat berlindung melainkan kepada-Mu. Mahasuci dan Mahatinggi Diri-Mu. Aku memohon ampunan dan bertobat kepada-Mu.”

(HR. Muslim no. 771 di dalam Shahihnya; Abu Dawud no. 760; At-Tirmidzi no. 3421; Ahmad no. 729, dari sahabat Ali bin Abi Thalib)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa ini pada shalat fardhu dan nafilah (sunnah). [2]


Lihat juga: Video: Doa Setelah Mendengar Adzan


Doa Istiftah Ketiga (3)

Dengarkan Audio Istiftah Ketiga :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

Subhanakallahumma wa bihamdika, wa tabarakasmuka, wa ta’ala jadduka, wa la ilaha ghairuka

Artinya, “Mahasuci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu; Maha Berkah nama-Mu; Maha Tinggi kemuliaan dan kebesaran-Mu; tidak ada ilah (sembahan) yang berhak diibadahi kecuali Engkau.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan tentang doa ini, “Sesungguhnya kalam yang paling dicintai Allah adalah seorang hamba mengucapkan …,” lalu menyebutkan doa di atas.

(HR. Muslim di dalam Shahihnya no. 399; Al-Baihaqi no. 2350; Ad-Daruquthni no. 1142, dari sahabat Umar bin al-Khattab)

Boleh ditambah lafal:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

La ilaha illallah (3 kali). Artinya, “Tidak ada ilah (sembahan) yang berhak diibadahi kecuali Allah.” Kemudian mengucapkan lagi,

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا

Allahu Akbar kabiran (3 kali). Artinya, “Allah Mahabesar.”

Ketika shalat malam (HR. Abu Dawud [1/124]; An-Nasa’i [1/143] dan selainnya, dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri)


Baca Juga: Bolehkah Berdoa dengan Selain Bahasa Arab Ketika Shalat?


Doa Istiftah Keempat (4)

Dengarkan Audio Doa Istiftah Keempat:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا

Allahu Akbar kabiran, walhamdu lillahi katsiran, wa subhanallahi bukratan wa ashilan.

Artinya, “Allah Mahabesar, segala pujian hanya bagi Allah, Mahasuci Allah pagi dan petang hari.”

Suatu ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang mengucapkan doa di atas ketika shalat. Lantas beliau berkata, “Aku terkagum dengan doa tersebut. Pintu langit dibukakan untuknya.”

(HR. Muslim no. 661 di dalam Shahihnya; At-Tirmidzi no. 3592; An-Nasa’i no. 885 dan selainnya, dari sahabat Ibnu Umar)

 Doa Istiftah Kelima (5)

Dengarkan Audio Doa Istiftah Kelima:

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

Alhamdu lillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih

Artinya, “Segala pujian yang banyak, baik dan penuh berkah hanyalah untuk Allah.”

Tentang doa ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku melihat dua belas malaikat berebut mengangkat doa ini.”

(HR. Muslim no. 600 di dalam Shahihnya; Abu Dawud no. 763, dari sahabat Anas bin Malik)

Doa Istiftah Keenam (6)

Dengarkan Audio Doa Istiftah Keenam:

اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ الحَقُّ وَوَعْدُكَ الحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، [أَنْتَ رَبُّنَا، وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُفَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، [وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ] أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَلَا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ.

Allahumma lakal hamdu anta qayyimus samawati wal ardhi wa man fihinna, wa lakal hamdu laka mulkus samawati wal ardhi wa man fihinna, wa lakal hamdu anta nurus samawati wal ardhi wa man fihinna, wa lakal hamdu anta malikus samawati wal ardhi, wa lakal hamdu antal haqqu wa wa’dukal haqqu, wa liqa’uka haqqun, wa qauluka haqqun, wal jannatu haqqun, wan naru haqqun, wan nabiyyuna haqqun, wa Muhammadun shallallahu ‘alaihi wa sallam haqqun, was sa’atu haqqun. Allahumma laka aslamtu, wa bika amantu, wa ‘alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khashamtu, wa ilaika hakamtu, anta Rabbuna wa ilaikal mashir, faghfirli ma qaddamtu wa ma akhkhartu, wa ma asrartu wa ma a’lantu, wa ma anta a’lamu bihi minni. Antal Muqaddimu wa antal Muakhkhiru, la ilaha illa anta wa la haula wa la quwwata illa billah

“Ya Allah, segala pujian hanya untuk-Mu, Engkau adalah penjaga langit dan bumi beserta isinya; hanya bagi-Mu segala pujian, milik-Mu kekuasaan langit dan bumi beserta isinya; hanya bagi-Mu segala pujian, Engkau adalah pelita langit dan bumi beserta isinya; hanya bagi-Mu segala pujian, Engkau penguasa langit dan bumi; hanya bagi-Mu segala pujian, Engkau adalah al-Haqq (Mahabenar) dan janji-Mu adalah benar, perjumpaan dengan-Mu itu benar, perkataan-Mu benar, Surga itu benar adanya, Neraka itu benar adanya, para nabi itu benar, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah benar, hari Kiamat juga benar adanya. Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, dengan-Mu aku berargumen, kepada-Mu aku berhukum. Engkau lah Rabb kami, hanya kepada-Mu tempat kembali. Ampunilah aku dari segala yang telah lalu dan akan datang, segala yang aku rahasiakan dan aku tampakkan, serta segala hal yang Engkau jauh lebih mengetahuinya dariku. Engkau adalah yang pertama dan terakhir. Engkau adalah ilah (sembahan)ku, tidak ada ilah (sembahan) yang hak kecuali Engkau. Tidak ada daya dan upaya melainkan karena Allah.

(HR. Al-Bukhari no. 1120 di dalam Shahihnya; Muslim no. 769; dan selainnya, dari sahabat Ibnu Abbas)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan doa ini ketika shalat malam.


Baca juga: Sebab Terkabulnya Doa


Doa Istiftah Ketujuh (7)

Dengarkan Audi Doa Istiftah Ketujuh:

اللهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Allahumma Rabba Jibrail wa Mikail wa Israfil, Fathiras samawati wal ardhi, ‘Alimal ghaibi wasy syahadah, Anta tahkumu baina ‘ibadika fi ma kanu fihi yakhtalifun, ihdini limakhtulifa fihi minal haqqi bidznika, innaka tahdi man tasya’u ila shirathin mustaqim.

Artinya, “Ya Allah, Rabb malaikat Jibril, Mikail dan Israfil; Pencipta langit dan bumi; Maha Mengetahui yang gaib dan yang nampak; Engkau yang akan menghakimi hamba-hamba-Mu terhadap perkara yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah kebenaran kepadaku tentang perkara yang diperselisihkan tersebut dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca doa ini ketika shalat malam.

(HR. Muslim no. 770 di dalam Shahihnya; An-Nasa’i no. 5519; dari sahabat Aisyah radhiyallahu ‘anha)


Baca juga: Waktu-Waktu Terlarang Mengerjakan Shalat


Doa Istiftah Kedelapan (8)

Dengarkan Audio Doa Istiftah Kedelapan:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، ذُو الْمَلَكُوتِ وَالْجَبَرُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Dzul malakuti wal jabaruti wal kibriya’i wal ‘azhamah.

Artinya, “Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Dzat Yang memiliki segala kekuasaan, otoritas, keangkuhan, dan keagungan.”

(HR. Abu Dawud no. 874; An-Nasa’i no. 1145; Ahmad no. 23375, dari sahabat Hudzaifah). Hadits ini sahih, para perawinya adalah para perawi Shahih Al-Bukhari dan Muslim.[3]

Doa Istiftah Kesembilan (9)

Dengarkan AudioDoa Istiftah Kesembilan:

Takbir (اللهُ أَكْبَرُ) 10 kali; tahmid (اَلْحَمْدُ لِلَّهِ) 10 kali; tasbih (سُبْحَانَ اللهِ) 10 kali; tahlil (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) 10 kali; istighfar (أَسْتَغْفِرُ اللهَ) 10 kali, kemudian membaca:

اللهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي

Allahummaghfirli, wahdini, warzuqni;

Artinya, “Ya Allah ampunilah aku, berilah petunjuk kepadaku, dan karuniakanlah rezeki kepadaku.” 10 kali.

Kemudian membaca lagi:

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الضِّيقِ يَوْمَ الْحِسَابِ

Allahumma inni a’udzubika minadh dhiqi yaumal hisab.

Artinya, “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan di hari Perhitungan.” 10 kali.

(HR. an-Nasa’i no. 1064 dengan sanad hasan dan Ahmad no. 25102 dengan sanad sahih; dari sahabat Aisyah radhiyallahu ‘anha)[4]


Baca juga : Tata Cara Shalat Orang yang Sakit Sesuai Sunnah


Penutup

Demikian penyebutan doa-doa istiftah yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Silakan pembaca sekalian memilih doa mana pun yang diinginkan. Masing-masing doa di atas memiliki keutamaan tersendiri. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan,

فَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ الْوَارِدَةُ فِي الِاسْتِفْتَاحِ بِأَيَّتِهَا اسْتَفْتَحَ حَصَّلَ سُنَّةَ الِاسْتِفْتَاحِ لَكِنَّ أَفْضَلَهَا عِنْدَ الشَّافِعِيِّ وَالْأَصْحَابِ حَدِيثُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَيَلِيهِ حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

“Hadits-hadits tentang doa istiftah ini, doa mana pun yang dibaca oleh seseorang dalam shalatnya, maka ia telah menunaikan sunnah istiftah. Namun, yang paling afdhal menurut al-Imam asy-Syafi’i dan pengikut mazhab beliau adalah hadits Ali radhiyallahu ‘anhu (doa kedua), lalu berikutnya hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (doa pertama).”[5]

Akan tetapi jika hendak mengamalkan keseluruhannya secara bergantian di berbagai kesempatan shalat, maka lebih bagus. Karena selain memperoleh keutamaan seluruh doa di atas, ia juga mendapat ganjaran menjaga sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, insya Allah. FAI-THR


[1] Lihat Ashlu Sifah Shalat an-Nabi (1/240), karya Muhammad Nashirudin (w. 1420)

[2] Lihat Ashlu Sifah Shalat an-Nabi (1/244)

[3] Lihat Ashlu Sifah Shalat an-Nabi (1/269)

[4] Ashlu Sifah Shalat an-Nabi (1/267)

[5] Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab (3/321)

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait