oleh

Cara Bersabar Paling Ampuh Dari Ucapan yang Menyakitkan

Cara Bersabar – Berikut ini adalah motivasi dan salah satu teladan dari para pendahulu kita yang shalih (salafush shalih) yang telah MENCONTOHKAN cara bersabar dari ucapan para pencela yang menyakiti mereka.

Cara Bersabar Paling Ampuh

  • Cara Bersabar dengan Beristighfar dan Mendo’akan si Pencela dengan Ampunan

Seorang yang terhormat di zamannya yang dikenal dengan Imam Asy-Sya’bi rahimahullahu. Nama beliau yang sebenarnya ialah Amir. Para pemerhati ilmu hadits sungguh tahu benar bagaimana tingginya kedudukan beliau. Sungguh beliau telah memberi contoh yang sangat baik tentang cara bersabar dalam menghadapi para pencela yang menyakiti beliau.

Pada satu kesempatan ada seseorang yang mencerca beliau. Imam Asy-Sya’bi lantas berkata :

إن كنت كاذبا يغفر الله لك، وإن كنت صادقا يغفر الله لي

“Bila ucapanmu itu tidak benar; semoga Allah mengampunimu. Sedang bila pernyataanmu benar; semoga Allah mengampuniku.” (‘Ainul Adab, hlm. 191)

Tidak lebih dari ucapan ini. Cara ini sangat menarik dan mengagumkan. Beliau tidak sombong dengan langsung menolak cercaan si-pencerca atau membalasnya. Bahkan beliau mendo’akannya dan berdo’a untuk diri beliau jika memang beliau yang salah. Inilah bentuk cara bersabar yang sangat baik dan gambaran ketawadhu’an dari para ulama terdahulu kita.

Sehingga pantaslah bagi kita untuk mencontoh cara bersabar seperti ini dalam menghadapi celaan para pencerca. Terutama ketika kita dicerca saat menyampaikan kebenaran.

Jadikanlah kesempatan ini untuk mememperbaiki diri dan beristighfar darinya, jika memang kesalahan tersebut berasal dari diri kita.

Sehingga kita mempunyai kesempatan untuk diampuni oleh Allah dan tidak dituntut di akhirat kelak. Sebab terkadang seseorang tidak mengetahui kesalahan dirinya sebelum dia mengetahuinya dari orang lain.

  • Mendahulukan Ridho Allah Dibandingkan Ridho Manusia

Cara bersabar dan cara membebaskan diri dari rasa sakit ketika dicela adalah dengan mendahulukan ridho Allah dibandingkan ridho manusia.

Janganlah takut celaan para pencela ketika berjalan di jalan Allah dalam memperjuangkan kebenaran. Karena keridhoan manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah bisa dicapai. Dengan ini rasa sakit tersebut berubah menjadi kebahagian di dunia dan di akhirat.

Seorang Muhaddits, Ibnu Hibban rahihamullahu meriwayatkan hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha yang di dalamnya juga berisi tentang cara bersabar dari cercaan manusia:

مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللهِ سَخِطَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاس

“Barangsiapa yang mencari keridhoan Allah dengan mendapatkan kemarahan manusia, maka Allah Ta’ala akan ridho kepadanya dan menjadikan manusia ridho kepadanya. Namun barangsiapa yang mencari keridhoan manusia dengan mendapat kemurkaan Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan akan menjadikan manusia murka kepadanya.” (HR Ibnu Hibban dalam shahihnya dari Aisyah radhiyallahu ‘anha)

Begitupun dengan sebuah kisah yang diceritakan oleh Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu tentang cara bersabar yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي الْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ وَأَنْ نَقُومَ أَوْ نَقُولَ بِالْحَقِّ حَيْثُمَا كُنَّا لَا نَخَافُ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ

“Dari Ubadah bin Ash Shamit radhiyallahu anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaiat kami untuk:

  • mendengar dan taat (kepada waliyyul amr) dalam keadaan lapang ataupun sempit.
  • Dan janganlah kami menentang kepemimpinan pada ahlinya
  • dan agar kami berbuat atau berkata al-haq (kebenaran) di manapun kami berada
  • tidak takut celaan siapapun yang mencela, ketika berjalan di jalan Allah.” (HR Al Bukhari)

Dari sahabat, Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ أَمَرَنِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ أَمَرَنِي بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ وَأَمَرَنِي أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِي وَلَا أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي وَأَمَرَنِي أَنْ أَصِلَ الرَّحِمَ وَإِنْ أَدْبَرَتْ وَأَمَرَنِي أَنْ لَا أَسْأَلَ أَحَدًا شَيْئًا وَأَمَرَنِي أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا وَأَمَرَنِي أَنْ لَا أَخَافَ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ وَأَمَرَنِي أَنْ أُكْثِرَ مِنْ قَوْلِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِنَّهُنَّ مِنْ كَنْزٍ تَحْتَ الْعَرْشِ

“Dari Abu Dzar radhiyallahu anhu beliau berkata: Kekasihku (Nabi) shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepadaku pada 7 hal, ia memerintahkan kepadaku untuk:

  1. mencintai orang-orang miskin, dan mendekat kepada mereka.
  2. melihat kepada orang yang di bawahku dan agar aku tidak melihat kepada orang yang di atasku.
  3. untuk menyambung silaturrahmi meski kerabat itu menjauh (dariku).
  4. agar aku tidak meminta apapun kepada siapapun.
  5. untuk mengucapkan kebenaran meski pahit.
  6. untuk tidak takut celaan para pencela di (jalan) Allah.
  7. untuk memperbanyak mengucapkan لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ (Laa hawla walaa quwwata illaa billaah) karena itu adalah perbendaharaan di bawah ‘Arsy.” (H.R Ahmad, atThobaroniy, dan lainnya, shahih)

Mari kita simak cara bersabar Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah yang beliau ajarkan kepada muridnya ar-Rabi’ bin Anas :

يَا رَبِيْع رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لَاتُدْرَك فَعَلَيْكَ بِمَا يُصْلِحُكَ فَالْزَمْهُ فَإِنَّهُ لَاسَبِيْلَ إِلَى رِضَاهُمْ

Wahai Rabi’, keridhoan manusia adalah tujuan yang tidak akan tercapai. Maka wajib bagimu mencari hal yang memperbaiki keadaanmu. Berpegangteguhlah dengannya. Karena tidak ada jalan untuk mencapai keridhoan mereka (manusia)(Shifatus Shofwah (2/254))

Begitulah diantara cara bersabar yang telah dicontohkan para pendahulu kita yang shalih. Sehingga mereka tetap merasakan kebahagiaan dalam hati dan tidak merasa sempit ketika dicela.

Begitu banyak kisah-kisah tentang cara bersabar yang telah dicontohkan para Nabi dan Rasul, para sahabat serta para ulama terdahulu kita. Semoga hal ini menjadi penyejuk hati orang-orang yang tersakiti.

Baca juga: Akibat dari Perbuatan Sombong
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait