oleh

Beda Qodariyah, Jabriyah, dan Sunni Tentang Takdir

Beda Qodariyah, Jabriyah, dan Sunni Tentang Takdir – Beriman kepada takdir adalah sebuah prinsip yang wajib diyakini oleh setiap muslim, karena beriman kepadanya merupakan salah satu di antara enam rukun iman. Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam pernah ditanya apa itu iman? Maka beliaupun menjawab,

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, serta beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim dalam shahihnya no. 8 dari sahabat Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu)

Namun telah terjadi berbagai penyimpangan setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak dari kaum muslimin yang mulai mengedepankan akalnya dibandingkan wahyu dan tidak merujuk kepada pemahaman para sahabat di dalam memahami agama ini. Sehingga muncullah paham-paham baru, yang berbeda dengan yang dipahami oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tak luput pula dalam perkara beriman kepada takdir, terdapat beberapa pemahaman baru pada perkara ini. Sehingga Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah membaginya menjadi tiga kelompok:

  1. Jabriyah.

    Jabriyah adalah sebuah paham atau kelompok yang mengingkari adanya kehendak (iradah) dan kemampuan (qudrah) makhluk dalam beramal. Mereka meyakini bahwa makhluk dipaksa dengan takdir Allah. Menurut keyakinan mereka semua yang dilakukan oleh para hamba hakikatnya hanyalah perbuatan Allah Ta’ala semata. Mereka mengibaratkan kehendak hamba itu bagai bulu yang ditiup angin, tak punya kemampuan sama sekali dan hanya dipaksa oleh kehendak Allah Ta’ala.

  2. Qodariyah.

    Qodariyah adalah sebuah paham atau kelompok yang mengingkari takdir, mereka meyakini manusia berdiri sendiri dalam perbuatannya, tidak ada kaitannya antara perbuatannya dengan masyi’ah (kehendak Allah). Dalam keyakinan mereka, kehendak serta amalan itu diciptakan oleh hamba dengan sendirinya. Mereka juga meyakini bahwa Allah tidak mengetahui suatu perkara kecuali setelah terjadinya perkara tersebut.

  3. Ahlus Sunnah wal Jamaah.

    Berbeda dengan keyakinan Jabriyah dan Qodariyah, Ahlus sunnah wal Jama’ah mengembalikan semua perkara agama kepada wahyu yang diturunkan oleh Allah Ta’ala. Mereka memahami Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para pendahulu yang shalih yaitu generasi para sahabat yang merupakan hasil dididikan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani adanya takdir dan meyakini bahwa hamba punya kehendak dan kemampuan untuk beramal, akan tetapi kehendak hamba itu dikaitkan dengan kehendak Allah Ta’ala. Sehingga mereka adalah kelompok pertengahan di antara dua kelompok yang ekstrim di atas.

    Hal ini berdasarkan dengan firman Allah Ta’ala:

    إِنَّا كُلَّ شَىْءٍ خَلَقْنَٰهُ بِقَدَرٍۢ ۝٤٩

    Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadar.” (al-Qamar: 49)

    Begitu juga firman Allah Ta’ala

    لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ ۝٢٨

    وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ ۝٢٩

    “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.”(At Takwir: 28-29)

    Adapun dari hadits, diantaranya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

    Allah mencatat takdir-takdir makhluk-makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum Dia ciptakan langit-langit dan bumi.” (HR. Muslim dalam shahihnya, no. 2653 dari sahabat Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma)

    Munculnya semangat atau perasaan malas pun juga telah ditakdirkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى الْعَجْزِ وَالْكَيْسِ

    Segala sesuatu telah ditakdirkan, sampai-sampai kelemahan/ perasaan malas dan perasaan semangat (H.R Muslim dalam shahihnya no 2655 dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma)

    Terkait dengan hal di atas, di dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam memberikan isyarat tentang adanya kehendak (iradah) dan kemampuan hamba untuk beramal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

    “Bersemangatlah (untuk melakukan) hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah serta jangan lemah. Jika engkau ditimpa sesuatu, janganlah engkau berkata: Kalau seandainya aku (sebelumnya) berbuat demikian dan demikian pasti akan terjadi demikian dan demikian. Jangan begitu. Akan tetapi ucapkanlah: Allah telah mentakdirkan dan Dia berbuat sesuai dengan yang dikehendakinya (HR. Muslim dalam shahihnya no 2664 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

    Begitu juga dengan firman Allah Ta’ala yang menjelaskan bahwa hamba mempunyai kehendak:

    وَقُلِ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَآءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَآءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّآ أَعْتَدْنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِن يَسْتَغِيثُوا۟ يُغَاثُوا۟ بِمَآءٍۢ كَٱلْمُهْلِ يَشْوِى ٱلْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتْ مُرْتَفَقًا ۝٢٩

    “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Barangsiapa yang mau silahkan dia beriman, siapa yang mau silahkan dia kafir. Sesungguhnya Kami sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (al-Kahfi: 29)

    Manusia punya pilihan untuk beriman atau kafir. Barangsiapa yang memilih kafir, Allah menyediakan adzab yang pedih untuknya. Allah Ta’ala juga berfirman:

    مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ

    “Di antara mereka ada yang menginginkan dunia dan di antara mereka ada yang menginginkan akhirat.” (Ali Imran: 152 )

    Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menunjukkan bahwa seorang itu memiliki kehendak untuk bisa memilih antara amalan baik dan buruk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

    “Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niatnya. Dan setiap orang akan dibalas sesuai yang ia niatkan” (HR. Muslim dalam shahihnya, no. 1907 dari sahabat Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu)

    Hadits ini juga merupakan dalil bahwa makhluk telah diberi kehendak oleh Allah Ta’ala. Begitu juga degan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا، فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ

    “Jika engkau mendengar wabah tha’un di sebuah negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Dan seandainya wabah tha’un terjadi di negeri yang engkau tinggali, janganlah engkau meninggalkan negerimu karena lari dari tha’un.” (HR. Imam Bukhari dalam shahihnya no. 5730 dari sahabat Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu)

    Ahlus Sunnah al Jama’ah juga meyakini bahwa segala sesuatu telah diketahui oleh Allah Ta’ala dan sesuai dengan kehendak serta Takdir-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu baik yang sudah terjadi, sedang terjadi dan yang akan terjadi serta yang tidak terjadi bagaimana jika terjadi. Allah Ta’ala berfirman:

    إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۭ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًۭا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍۢ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ ۝٣٤

    “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat, dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)

    Dengan ini kita mengetahui bahwa Jabriyah dan Qodariyah adalah dua kelompok yang menyimpang terutama dalam perkara takdir. Mereka memandang dalil yang ada di dalam Al Qur’an dengan sebelah mata. Mereka tidak melihat kecuali pada satu sisi saja, tidak pada sisi yang lainnya. Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang diberi hidayah dan ilmu, yang dengannya kita bisa mengetahui antara yang benar dan yang batil. Allahu a’lam. AYF

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait