oleh

Sejarah Singkat Awal Mula Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk berdakwah kepada kaumnya beliau sudah dikenal dengan kakarakter dan kepribadiannya yang mulia dan agung.

Kehidupan yang amat kental dengan adat dan tradisi jahiliyyah yang penuh dengan kesyirikan tidaklah membuat kepribadian serta akhlak beliau terpengaruh, bahkan beliau membenci dan menjauhi akhlak dan tradisi jahiliyyah tersebut.

Allah Ta’la menjaga kesucian hati dan fitrah beliau sejak sebelum diutus menjadi nabi dan rasul, sejak kecilpun sudah terlihat tanda-tanda bahwa nantinya beliau akan menjadi orang yang besar dan mulia yang akan mengemban tanggung jawab yang besar, Allah Ta’ala memang telah mempersiapkan beliau sejak kecil hingga dewasa untuk mengemban amanah yang agung ini, yaitu berdakwah kepada tauhid.

Perintah Allah Untuk Berdakwah

Setelah munculnya tanda-tanda bahwa beliau nantinya akan menjadi nabi akhir zaman, tatkala beliau sudah menginjak usia 40 tahun semua itu terbukti. Kala itu beliau sedang berada di Gua Hira dalam rangka mengasingkan diri dari kaumnya agar lebih fokus untuk beribadah kepada Allah. Tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril dengan sosok yang misterius seraya mendekap beliau dengan kuat dan berkata, “bacalah!”

Maka beliau sangat ketakutan dan menjawab: “Saya tidak bisa membaca.” Kemudian malaikat jibril mengencangkan dekapannya dan kembali memerintahkan beliau, “bacalah!” Nabi pun dengan ketakutan menjawab, “Saya tidak bisa membaca”, ini terulang hingga ketiga kalinya beliau hanya menyatakan, “Saya tidak bisa membaca”, setelah itu turunlah wahyu surat al-Alaq ayat 1-5.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ(1) خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ(2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ(3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ(4)

عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5)

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘Alaq: 1-5)

Inilah wahyu yang pertama kali turun sekaligus pengangkatan beliau menjadi Nabi akhir zaman. Tak selang lama dari peristiwa ini turunlah wahyu berikutnya yang menegaskan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang Nabi sekaligus Rasul, beserta perintah untuk mendakwahi kaumnya. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ[1] قُمْ فَأَنْذِرْ[2] وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ[3] وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ[4] وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ[5]

“Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah.” (al-Muddatsir: 1-5)

Berdakwah Secara Sembunyi-sembunyi

Pada awal permulaan Islam, proses dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Hal ini kerena adanya permusuhan dan penyikapan keras dari orang-orang Kafir Quraisy. Mereka mengancam siapapun yang mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan siksaan dan penganiyayaan. Bahkan mereka tak tanggung-tanggung sampai membunuh.

Itulah tabiat kaum Kafir Quraisy, mereka adalah kaum yang amat fanatik kepada nenek moyang mereka yang menganut kesyirikan. Mereka juga memiliki watak yang kasar, kaku dan sombong. Mereka tidak memiliki solusi untuk memecahkan sebuah permasalahan kecuali dengan pedang.

Saat itu penganut Islam hanya segelintir orang dan belum memiliki kekuatan untuk melawan mereka. Faktor-faktor tersebutlah yang mendorong beliau untuk berdakwah dengan sembunyi-sembunyi.


Baca Juga: Aqidah Tauhid adalah Intisari Dakwah Seluruh Nabi


Misi Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Beliau diutus membawa misi para nabi dan rasul sebelumnya, yaitu mengajak untuk beribadah hanya kepada Allah ta’la semata dan meninggalkan peribadahan kepada sesembahan-sesembahan selain Allah; memberi kabar gembira bagi orang-orang yang menyambut ajakan beliau dengan baik berupa balasan Jannah (surga); memberi peringatan dengan siksaan Allah yang amat dahsyat bagi orang-orang yang menolak dan enggan mengikuti ajakan beliau. Mengajak manusia agar berakhlak luhur dan mulia, memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari perbuatan keji dan mungkar.

Beliau diutus membawa misi yang sama dengan para nabi terdahulu, akan tetapi dengan syariat yang berbeda. Syariat Islam yang beliau bawa menghapus syariat-syariat yang ada sebelumnya, sehingga tidak ada agama yang benar dan diterima di sisi Allah kecuali hanya Islam. Bahkan syariat nabi Musa dan Isa tidak lagi berlaku setelah diutusnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam penutup para nabi dan rasul.

Kegigihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah

Siang dan malam beliau disibukkan dangan dakwah, menyeru umat manusia kepada jalan yang lurus dan memperingati mereka dari jalan-jalan yang akan menjerumuskan mereka kedalam neraka; berusaha menyelamatkan mereka dari kegelapan jahiliyyah menuju cahaya islam. Risiko apapun siap beliau tanggung demi tersampaikannya dakwah yang indah dan penuh rahmat ini.


Baca Juga: Kewajiban Dakwah Kepada Jalan Agama Allah


Golongan yang pertama menerima dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ketika Nabi shallallahu `alaihi wa salam mulai menyampaikan dakwah, beberapa orang yang Allah tetapkan memiliki kecenderungan kepada kebaikan dan kebenaran, segera menerima dakwah beliau. Berikut ini beberapa orang Sahabat yang dengan segera menerima dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menentang dan tanpa pikir panjang:

  1. Khadijah radhiyallahu ‘anha. Secara umum orang yang pertama memeluk Islam sekaligus yang pertama dari kalangan wanita adalah Khadijah radhiyallahu ‘anha. Dialah yang pertama kali menyaksikan langsung cahaya kenabian dan kerasulan, dan langsung mendengar wahyu yang baru turun kepada beliau, maka secara naluri beliaulah orang yang pertama beriman.
  2. Abu Bakr radiyallahu’anhu. Nabi shallallahu `alaihi wa salam bergegas menuju sahabat karibnya yakni Abu Bakr radiyallahu’anhu untuk mengabarkan risalah yang mulia ini berupa kenabian dan kerasulan beliau shallallahu’alaihi wa sallam, dan mengajaknya untuk beriman, maka dengan segera dan langsung Abu Bakr radhiyallahu’anhu pun beriman, tanpa pikir panjang, oleh karenanya beliau dijuluki dengan as- Shiddik [yang jujur/membenarkan].
  3. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Termasuk golongan yang pertama beriman ialah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, ketika itu beliau berada dibawah asuhan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau benar –benar mengetahui perangai dan kepribadian Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan sangat mengenalnya, sehingga ia menjadi orang yang pertama beriman dari kalangan anak-anak karena pada waktu itu beliu belum menginjak usia baligh.
  4. Zaid bin Haritsah radhiyallahu’anhu. Termasuk orang yang bertama beriman kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dari kalangan bekas budak adalah Zaid bin Haritsah radhiyallahu’anhu, beliau sebelumnya adalah seorang budak milik Hakim bin Hizam kemudian dihadiahkan kepada bibi beliau Khadijah radhiyallahu’anha dan setelah itu dihadiahkan kepada nabi shallallahu’alaihi wa sallam kemudian beliau bebaskan dijadikan anak angkat beliau shallallahu’alaihi wa sallam, Zaid benar-benar mengenal Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan kepribadiannya sehingga ia sangat mencinti beliau melebihi cintanya kepada ayah dan ibunya sendiri.
  5. Setelah itu masuk islamlah orang orang yang terpandang di Quraisy dan orang-orang bijak mereka yang dikenal akan keluhuran dan kebaikan mereka ditengah kaumya melalui dakwah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan sahabat karibnya Abu Bakr radhiyallahu’anhu, antara lain mereka adalah: Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’d bin Abi Waqqos, Thalhah bin Ubaidillah dan yang lainnya radhiyallahu’anhum ajma’in. USM-JFR

Penulis: Usamah Najib

Refrensi: Sirah Nabawiyyah Karya Shofiyurrahman Al-Mubarokfury

 

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait