Adab bertetangga merupakan perkara yang penting untuk kita ketahui bersama. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
“Malaikat Jibril senantiasa berpesan kepadaku (untuk berbuat baik) kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira bahwasanya dia akan memberikan hak waris kepada tetangga.”1
Para Pembaca rahimakumullah, kiranya hadits di atas sudah cukup menunjukkan betapa besarnya hak tetangga. Sehingga seyogyanya seorang muslim untuk serius dalam memenuhi hak-hak tetangganya. Insyaallah kali ini kita akan mengulas beberapa adab bertetangga yang harus diketahui dan diamalkan oleh setiap muslim.
1. Berperilaku Baik
Perilaku yang baik menjadi poros utama dalam adab bertetangga. Perilaku yang baik -dengan izin Allah Ta’ala- dapat menghasilkan hubungan persaudaraan yang baik pula. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat baik kepada tetangga. Allah Ta’ala berkata,
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ
“Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua kalian, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (An Nisa’: 36)
2. Utamakan Tetangga yang Terdekat
Dalam adab bertetangga kita dituntunkan untuk lebih memperhatikan tetangga yang terdekat dengan kita. Ummul mukminin Aisyah radhiyallaahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam,
يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لِي جَارَيْنِ، فَإِلَى أَيِّهِمَا أُهْدِي؟
“Wahai Rasulullah, aku memiliki dua tetangga. Kepada siapakah aku memberi hadiah?”
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam menjawab,
إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا
“Kepada yang pintunya paling dekat denganmu.”2
3. Tidak Mengganggu Tetangga
Adab bertetangga berikutnya adalah tidak mengganggu tetangga, apapun bentuknya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia mengganggu tetangganya.”3
Sehingga tidak mengganggu tetangga merupakan salah satu konsekuensi keimanan seorang hamba. Dalam hadits lain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَاللَّه لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ
“Demi Allah, tidak beriman. (Beliau ulang tiga kali)” Para sahabat pun bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.”4 [4]
4. Berbagi Makanan kepada Tetangga
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam pernah berpesan kepada sahabat Abu Dzar radhiyallaahu ‘anhu,
يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا، وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ
“Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan bagikanlah kepada tetanggamu.”5
Ini di antara adab bertetangga yang dapat melekatkan hubungan antara kita dengan tetangga.
5. Memberikan Nasihat dan Saran kepada Tetangga
Termasuk ciri khas seorang muslim adalah saling memberikan nasehat dan saling mengingatkan jika terjadi kesalahan dari saudaranya, terlebih tetangganya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam pernah menjelaskan betapa pentingnya nasehat. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda,
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
“Agama adalah nasehat.”
Para sahabat pun bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?”.
Beliau menjawab,
لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
“Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin dan seluruh kaum Muslimin.”6
6. Turut Senang ketika Melihat Tetangganya Senang
Adab bertetangga ini dijelaskan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam pada sabda beliau,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ، أَوْ قَالَ لِأَخِيهِ، مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah sempurna keimanan seseorang sampai ia merasa senang ketika tetangganya -atau saudaranya- mendapatkan sesuatu yang ia pun senang jika mendapatkan sesuatu tersebut.”7
Baca juga : Keutamaan Menyambung Tali Silaturahmi dan Ancaman Bagi yang Memutusnya
7. Bersabar atas Gangguan Tetangga
Tentu tetangga kita juga manusia biasa, sehingga tidak lepas dari kesalahan. Kita harus menyikapi kesalahan yang terjadi dengan bijak supaya tetap tercipta hubungan yang baik. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda,
ثَلَاثَةٌ يُحِبُّهُمُ اللهُ وَالرَّجُلُ يَكُونُ لَهُ الْجَارُ يُؤْذِيهِ جِوَارُهُ، فَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُ حَتَّى يُفَرِّقَ بَيْنَهُمَا مَوْتٌ أَوْ ظَعْنٌ
“Tiga golongan manusia yang Allah Ta’ala cintai -di antara mereka-, seseorang memiliki tetangga yang mengganggunya, kemudian ia sabar atas gangguan tersebut sampai mereka berdua dipisahkan oleh kematian atau perjalanan safar.”8
Tak hanya bersabar, namun ajaran islam yang mulia ini mengajarkan untuk saling memaafkan kesalahan orang lain. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda,
وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا
“Tidaklah seseorang yang memberi maaf kepada orang lain melainkan Allah akan menambah kemuliaan baginya.”9
8. Tidak Menghalangi Tetangga yang Ingin Membangun Bangunan
Di antara adab bertetangga adalah tidak menghalangi tetangganya ketika ia ingin membangun suatu bangunan dan butuh tiang penyangga atau penopang. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَمْنَعْ أَحَدُكُمْ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَةً فِى جِدَارِهِ
“Janganlah salah seorang di antara kalian melarang tetangganya menancapkan kayu di dinding (tembok)nya.”10
Ini semua menunjukkan betapa besarnya hak tetangga yang harus kita tunaikan. Semoga Allah memberikan kepada kita taufik-Nya untuk mengamalkan ilmu yang telah kita ketahui dan memudahkan langkah kita menapaki jalan kebaikan. Aamiin.
Sekian pembahasan kami tentang adab bertetangga yang harus diamalkan oleh setiap muslim. Semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca sekalian. Wabillaahit taufiq. (AAA-LTC/THR)
Penulis: Abdullah al-Atsari
Referensi:
- Misykatu al-Mashabih karya Imam Muhammad bin Abdillah al-Khatib at-Tibrizi rahimahulah (741 H / 1340 M).
Footnotes
- HR. al-Bukhari no. 5669 dan Muslim no. 2625 di dalam shahih keduanya. Dari sahabat Abdullah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma.
- HR. al-Bukhari no. 2140 di dalam shahihnya. Dari sahabiyah ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha.
- HR. al-Bukhari no. 5672 dan Muslim no. 47 di dalam shahih keduanya. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.
- HR. al-Bukhari no. 5670 di dalam shahihnya. Dari sahabat Abu Syuraih radhiyallaahu ‘anhu.
- HR. Muslim no. 142 – (2625) di dalam shahihnya. Dari sahabat Abu Dzar radhiyallaahu ‘anhu.
- HR. Muslim no. 95 – (55) di dalam shahihnya. Dari sahabat Tamim ad-Daariy radhiyallaahu ‘anhu.
- HR. Muslim no. 72 – (45) di dalam shahihnya. Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu.
- HR. Ahmad no. 21340 di dalam musnadnya. Dari sahabat Abu Dzar radhiyallaahu ‘anhu. Hadits Shahih (lihat al-Misykah no. 1922).
- HR. Muslim no. 2588 di dalam shahihnya. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.
- HR. al-Bukhari no. 2331 dan Muslim no. 136 – (1609) di dalam shahih keduanya. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.
