oleh

Tiga Perkara yang Harus Diketahui, Diyakini dan Diamalkan Seorang Muslim

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah, kita sebagai muslim yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya wajib mengetahui tiga perkara yang merupakan intisari dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Selain mengetahui 3 hal tersebut, kita juga harus meyakini dan mengamalkannya. Tiga perkara tersebut adalah :

  1. Beriman bahwasanya Allah adalah Dzat yang telah menciptakan manusia.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala al-Khaliq (Sang Pencipta) tidaklah menciptakan mereka hanya sekedar untuk hidup, makan dan tidur tanpa tujuan. Akan tetapi, Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia untuk tujuan yang agung dan mulia, yaitu beribadah kepada-Nya dan mengesakan seluruh bentuk peribadatan hanya kepada-Nya. Allah berfirman,

    وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ۝٥٦

    مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍۢ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ ۝٥٧

    إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ ۝٥٨

    Artinya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku (56). Tidaklah Aku meminta rezeki dari mereka dan tidaklah Aku meminta dari mereka untuk memberi makanan pada-Ku (57). Sungguh Allah Dzat yang memberi rezeki dan mempunyai kekuatan (58).” (adz Dzariyat: 56-58).

    Dan karena tujuan inilah, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para rasul di setiap umat untuk menjelaskan tata cara beribadah kepada Allah. Hal itu karena ibadah itu sifatnya tauqifiyah yang berarti kita tidak boleh beribadah kecuali dengan apa yang disyari’atkan di dalam al-Qur’an dan melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi sallam. Siapa saja yang mentaati para rasul tersebut pasti akan masuk surga. Begitu pula siapa saja yang bermaksiat kepada mereka atau menentang mereka pasti dia akan masuk neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    كلكم يدخل الجنة إلا من أبى قالوا: يا رسول الله, من يأبى؟ قال: من أطاعني دخل الجنة و من عصاني فقد أبى

    “ Masing-masing kalian pasti masuk surga kecuali orang yang enggan. Para sahabat bertanya,“Wahai Rasulullah, siapa orang yang enggan?” Beliau menjawab: “Siapa saja yang taat padaku pasti masuk surga dan siapa saja yang bermaksiat padaku dialah orang yang enggan.”” (HR. Bukhari no. 7280, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

  2. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ridha terhadap kesyirikan.

    Para pembaca yang semoga dirahmati Allah, permasalahan ini mempunyai kaitan dengan permasalahan sebelumnya. Karena permasalahan yang pertama membahas tentang kewajiban beribadah kepada Allah dan kewajiban mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Sementara permasalahan yang kedua ini membahas tentang ibadah yang tidak akan diterima oleh Allah jika dinodai kesyirikan. Hal ini disebabkan ibadah itu harus dipersembahkan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka jika ada seseorang yang beribadah kepada Allah dan beribadah kepada selain-Nya maka ibadahnya tidak sah. Allah berfirman,

    وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

    “Dan beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (an-Nisa’: 36)

  3. Sikap loyal dan berlepas diri.

    Para pembaca yang kami hormati, permasalahan sikap loyal dan berlepas diri merupakan bagian dari tauhid. Sikap loyal yang dimaksud adalah loyal terhadap orang-orang shalih, yakni memposisikan rasa cinta kepada mereka dan menolong mereka. Sedangkan sikap berlepas diri adalah berlepas diri dari musuh-musuh Allah. Maka tidak pantas bagi seorang muslim yang bertakwa untuk bersikap loyal kepada orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman,

    لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

    Artinya: “ Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan terhadap akhirat mencintai orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya walaupun mereka itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara atau kerabat mereka sendiri” (al-Mujadalah: 22)

Semoga tuisan ini bermanfaat bagi kami pribadi dan para pembaca serta menjadi sebab bertambahnya keimanan kita. Amin. KL

Referensi : Silsilah Rasail lisy Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait