oleh

Silsilah Pertanyaan Tentang Akidah (Bagian 5)

Silsilah Pertanyaan Tentang Akidah (Bagian 5) | Memiliki pemahaman tentang akidah yang benar merupakan suatu keharusan bagi setiap insan, karena akidah yang benar akan membuahkan petunjuk di dunia dan keamanan di akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يَلْبِسُوٓا۟ إِيمَـٰنَهُم بِظُلْمٍ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82)

Dalam rangkaian artikel Silsilah Pertanyaan Tentang Akidah (Bagian 5) ini, termaktub rangkaian tanya jawab tentang akidah yang benar, maka penting untuk dipahami dan dipelajari dengan seksama oleh setiap muslim.

Pada bagian kelima ini, kita akan mulai dengan beberapa pertanyaan dasar, terkait: macam-macam bentuk kesyirikan, dan beberapa pertanyaan lainnya yang terkait dengan tema kesyirikan, sebagai bentuk lanjutan dari bagian sebelumnya.

Setiap jawaban dilengkapi dengan dalil dari al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sehingga menjadi pondasi yang kokoh dalam berakidah berdasarkan tuntunan yang benar dan tak menyisakan ruang keraguan sedikit pun.

Apakah diperbolehkan menyembelih untuk selain Allah?

Jawaban: Tidak diperbolehkan. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ

“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu, dan sembelihlah kurban untuk-Nya.” (Al-Kautsar: 2)

Dan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

لَعَنَ اللهُ مَنۡ ذَبَحَ لِغَيۡرِ اللهِ

“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.”1

Apakah kita boleh berkeliling (tawaf) di sekitar kuburan untuk mendekatkan diri kepada Allah?

Jawaban: Tidak, kita hanya boleh berkeliling (tawaf) di sekitar Ka’bah. 

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَلۡيَطَّوَّفُوا۟ بِٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ

“Dan hendaklah mereka tawaf di sekitar rumah yang tua (Ka’bah).” (Al-Hajj: 29)

Dan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

مَنۡ طَافَ بِالۡبَيۡتِ سَبۡعًا وَصَلَّى رَكۡعَتَيۡنِ كَانَ كَعِتۡقِ رَقَبَةٍ

“Barangsiapa yang tawaf di sekitar rumah (Ka’bah) tujuh kali dan shalat dua rakaat, maka itu seperti membebaskan seorang budak.” 2

Apa hukum sihir?

Jawaban: Sihir termasuk perbuatan kufur.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَلَـٰكِنَّ ٱلشَّيَـٰطِينَ كَفَرُوا۟ يُعَلِّمُونَ ٱلنَّاسَ ٱلسِّحۡرَ

“Akan tetapi, setan-setan itu kufur, mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (Al-Baqarah: 102)

Dan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

اجۡتَنِبُوا السَّبۡعَ الۡمُوبِقَاتِ: … الشِّرۡكُ بِاللهِ، وَالسِّحۡرُ

“Hindarilah tujuh dosa yang membinasakan: (di antaranya adalah) syirik kepada Allah, sihir…”  3

Apakah kita boleh mempercayai peramal atau dukun dalam hal ilmu ghaib?

Jawaban: Tidak boleh, kita tidak boleh mempercayai mereka.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌تِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُ

“Katakanlah, ‘Tidak ada yang mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi mengenai ghaib, kecuali Allah.'” (An-Naml: 65):

Dan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

مَنۡ أَتَى عَرَّافًا أَوۡ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدۡ كَفَرَ بِمَا أُنۡزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi seorang peramal atau dukun dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka dia telah kafir terhadap kitab yang diturunkan kepada (nabi) Muhammad.” 4

Apakah ada yang mengetahui perkara gaib?

Jawaban: Tidak ada yang mengetahui hal gaib kecuali siapa saja yang diberitahu oleh Allah Ta’ala dari kalangan para rasul-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

عَـٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا، إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ

“(Dialah Allah) Yang Mengetahui perkara gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya” (Al-Jinn: 26-27).
Dan Rasulullah ﷺ bersabda,

لَا يَعۡلَمُ الۡغَيۡبَ إلَّا اللهُ

“Tidak ada yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.”5

Berikut ini adalah silsilah pertanyaan tentang akidah (bagian 5), yang mengulas landasan-landasan penting dalam memahami akidah yang benar. Semoga penjelasan ini dapat meneguhkan keimanan serta menambah kedalaman pemahaman kita terhadap akidah yang benar.
Nantikan lanjutan seri akidah ini pada artikel selanjutnya, insyaAllah akan mengupas pertanyaan-pertanyaan lain yang tak kalah penting terkait akidah yang benar. (ZDN/AAA/AAK)

Alih Bahasa: Muhammad Zidan

Teks Arab:

س١١ – : هَلۡ يَجُوزُ الذَّبۡحُ لِغَيۡرِ اللهِ؟

ج١١ – : لَا يَجُوزُ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ﴾ (سورة الكوثر) (انۡحَرۡ: اذۡبَحۡ لِلهِ).

وَقَالَ ﷺ: (لَعَنَ اللهُ مَنۡ ذَبَحَ لِغَيۡرِ اللهِ) (رَوَاهُ مُسۡلِمٌ).

س١٢ – : هَلۡ نَطُوفُ بِالۡقُبُورِ لِلتَّقَرُّبِ بِهَا؟

ج١٢ – : لَا نَطُوفُ إِلَّا بِالۡكَعۡبَةِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلۡيَطَّوَّفُوا۟ بِٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ﴾ (سورة الحج).

وَقَالَ ﷺ: (مَنۡ طَافَ بِالۡبَيۡتِ سَبۡعًا وَصَلَّى رَكۡعَتَيۡنِ كَانَ كَعِتۡقِ رَقَبَةٍ) (صَحِيحٌ رَوَاهُ ابۡنُ مَاجَهۡ).

س١٣ – : مَا حُكۡمُ السِّحۡرِ؟

ج١٣ – : السِّحۡرُ مِنَ الۡكُفۡرِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَـٰكِنَّ ٱلشَّيَـٰطِينَ كَفَرُوا۟ يُعَلِّمُونَ ٱلنَّاسَ ٱلسِّحۡرَ﴾ (سورة البقرة).

وَقَالَ ﷺ: (اجۡتَنِبُوا السَّبۡعَ الۡمُوبِقَاتِ: الشِّرۡكُ بِاللهِ، وَالسِّحۡرُ…) (رَوَاهُ مُسۡلِمٌ).

س١٤ – : هَلۡ نُصَدِّقُ الۡعَرَّافَ وَالۡكَاهِنَ فِي عِلۡمِ الۡغَيۡبِ؟

ج١٤ – : لَا نُصَدِّقُهُمَا، لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌تِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُ﴾ (سورة النمل).

وَقَالَ ﷺ: (مَنۡ أَتَى عَرَّافًا أَوۡ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدۡ كَفَرَ بِمَا أُنۡزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ) (صَحِيحٌ رَوَاهُ أَحۡمَدُ).

س١٥ – : هَلۡ يَعۡلَمُ الۡغَيۡبَ أَحَدٌ؟

ج١٥ – : لَا يَعۡلَمُ الۡغَيۡبَ أَحَدٌ إِلَّا مَنۡ أَطۡلَعَهُ اللهُ مِنَ الرُّسُلِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿عَـٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ۝٢٦ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ﴾ (سورة الجن).

وَقَالَ ﷺ: (لَا يَعۡلَمُ الۡغَيۡبَ إلَّا اللهُ).

Referensi:

Al-Qur’anul Karim

Khudz Aqidatak Minal Kitabi Was Sunnah Ash-Shahihah karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu (W. 1431 H) rahimahullah

Shahih Al-Bukhari karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (W. 256 H) rahimahullah

Shahih Muslim karya Imam Abul Hajjaj Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi (W. 261 H) rahimahullah

Al-Musnad karya Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal (W. 241 H) rahimahullah

Sunan Ibnu Majah karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Yazid al-Qazwini (W. 273 H) rahimahullah

Footnotes

  1. HR. Muslim no. 1978 dari khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu
  2. Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya no. 2956
  3. HR. Muslim no. 89 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu
  4. Hadis Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya no. 9536 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu
  5. HR. Al-Bukhari No. 7380 dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *