Tidur merupakan salah satu nikmat agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada manusia. Dengannya, manusia dapat beristirahat dari berbagai aktivitas yang dijalaninya. Nikmat ini juga menunjukkan kebesaran Allah Ta’ala, yang sama sekali tidak membutuhkan istirahat. Allah Ta’ala berfirman,
لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوۡمٌ
“Dialah (Allah) yang tidak mengantuk dan tidak tidur.”(al-Baqarah:255)
Dengan adanya nikmat yang satu ini, sudah sepantasnya setiap mukmin mensyukurinya dengan cara memperhatikan adab-adab tidur, kemudian mengamalkannya. Di antara adab tersebut adalah adab sebelum beranjak ke tempat tidur. Kita menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan utama dalam permasalahan ini.
Adab-Adab Sebelum Tidur
- Berwudhu seperti saat hendak shalat
Hal ini berdasarkan beberapa riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya adalah hadits dari sahabat Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ، فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ
“Apabila engkau hendak menuju pembaringanmu, hendaknya kamu berwudhu sebagaimana wudhumu saat akan shalat dan berbaringlah pada sisi kanan tubuhmu.” 1
- Membersihkan tempat tidur
Amalan berikutnya adalah membersihkan tempat tidur, karena seseorang tidak mengetahui barangkali ada sesuatu yang membahayakan berada di tempat tidurnya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ، فَلْيَأْخُذْ دَاخِلَةَ إِزَارِهِ، فَلْيَنْفُضْ بِهَا فِرَاشَهُ، وَلْيُسَمِّ اللهَ، فَإِنَّهُ لَا يَعْلَمُ مَا خَلَفَهُ بَعْدَهُ عَلَى فِرَاشِهِ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَضْطَجِعَ، فَلْيَضْطَجِعْ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ
“Jika salah seorang dari kalian akan berbaring di tempat tidurnya hendaknya dia mengambil bagian dalam selendangnya dan membersihkan kasurnya dengan itu, kemudian membaca basmalah. Karena dia tidak tahu apa saja yang akan menempati tempatnya setelahnya dan apabila dia hendak berbaring maka hendaknya dia berbaring pada sisi tubuhnya bagian kanan.” 2
- Membaca beberapa dzikir sebelum tidur,
- Ayat kursi,
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَة وَلَا نَوۡم لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡء مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ
“Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Agung.” (Al-Baqarah: 255) 3
- Membaca 2 ayat terakhir surat al-Baqarah,
ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَد مِّن رُّسُلِهِۦۚ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ (٢٨٥) لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآۚ أَنتَ مَوۡلَىٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ (286)
“Rasul (Muhammad) beriman kepada apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), “Kami tidak membeda-bedakan seorangpun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, wahai Tuhan kami, dan kepada-Mulah tempat kembali.”(285) “Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Baginya pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan darinya siksaan dari kejahatan yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau pikulkan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (Al-Baqarah: 285-286) 4
- Membaca tasbih, tahmid, dan takbir dengan jumlah sebagai berikut:
| Dzikir | Jumlah |
| سبحان الله | 33× |
| الحمد لله | 33× |
| الله أكبر | 34× |
- Membaca doa,
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا
“Dengan nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.” 6
- Membaca doa,
اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ
“Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena berharap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tempat selamat dari (siksaan)-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus.” 7
- Mengumpulkan kedua telapak tangan, kemudian meniupnya setelah membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ (١) ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ (٢) لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ (٣) وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ (٤)
“1. Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. 2. Allah tempat meminta segala sesuatu. 3. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, 4. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (Al-Ikhlas: 1-4)
قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ (١) مِن شَرِّ مَا خَلَقَ (٢) وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (٣) وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِي ٱلۡعُقَدِ (٤) وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (٥)
“1. Katakanlah (Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar),2. dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan,3. dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,4. dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya),5. dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (Al-Falaq: 1-5)
قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ (١) مَلِكِ ٱلنَّاسِ (٢) إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ (٣) مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ (٤) ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ (٥) مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ (٦)
“1. Katakanlah (Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, 2. Raja manusia, 3. Sembahan manusia, 4. dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, 5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, 6. dari (golongan) jin dan manusia.” (An-Nas: 1-6)
Kemudian meniup kedua telapak tangannya dengan tiupan ringan, lalu mengusapkannya ke bagian tubuh yang dapat dijangkau.8
- Berbaring di atas sisi kanan tubuh,
Sebagaimana hal ini diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabatnya, Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda,
إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ، فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ
“Jika kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah seperti wudhumu saat hendak salat, kemudian berbaringlah di atas sisi kanan tubuhmu.” 9
Demikianlah beberapa adab tidur yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebaiknya diamalkan oleh setiap muslim, karena di antara sikap seorang muslim yang taat adalah mencontoh dan meneladani perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Termasuk perkara terpenting pula adalah bahwa seseorang tidak boleh luput dari membaca dzikir dan doa sebelum tidur.
Keutamaan Membaca Doa Sebelum Tidur
Barangsiapa yang menjaga dzikir-dzikir yang disebutkan tadi, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjaganya sepanjang malam itu dan barangsiapa yang tidak mengerjakannya maka dia akan dipengaruhi oleh syaitan yang akan mengganggunya. Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullahu Ta’ala berkata,
إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ نَامَ عَلَى غَيْرِ وِرْدٍ؛ لَمْ يَقْرَأْ بِآيَةِ الْكُرْسِيِّ عِنْدَ النَّوْمِ؛ وَلَمْ يَقْرَأْ سُورَةَ الْإِخْلَاصِ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ عِنْدَ النَّوْمِ فَإِنَّهُ يَتَسَلَّطُ عَلَيْهِ الشَّيْطَانُ مِنْ أَجْلِ أَنْ يُضِلَّهُ أَوْ مِنْ أَجْلِ أَنْ يُكَدِّرَ عَلَيْهِ نَوْمَهُ وَيُزْعِجَهُ لِأَنَّهُ يَأْتِيهِ بِمُزْعِجَاتٍ يَرَى أَشْيَاءَ يَكْرَهُهَا.
“Apabila seseorang tidur tanpa membaca dzikir, tidak membaca Ayat Kursi saat hendak tidur, tidak pula membaca Surat al-Ikhlas dan al-Mu‘awwidzatain (Surat al-Falaq dan an-Nas), maka setan akan menguasainya.
Setan menguasai dengan cara menyesatkan dia atau mengganggunya dan mengeruhkan tidurnya sehingga membuat dia gelisah. Karena setan akan mendatangkan berbagai gangguan, sehingga ia melihat hal-hal yang membuatnya benci (seperti mimpi buruk).” 10
Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing kita agar tetap istiqamah di atas sunnah Rasul-Nya hingga ajal menjemput. Aamiin, ya Rabbal ‘alamin. (AAJ/AAA/ATH)
Penulis: Abdurrahman Aufi
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim
- Shahih Bukhari, karya imam Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari (w. 256 H) rahimahullah.
- Shahih Muslim, karya imam Abul Hasan Muslim bin Hajjaj (w. 261 H) rahimahullah.
- Hishnul Muslim min Adzkaril Kitab wa Sunnah, karya Sa’id bin Wahf al-Qahthani (w. 1440 H) rahimahullah.
- Syarah Riyadhus Shalihin, karya syaikh Muhammad bin Shalih (w. 1421 H) rahimahullah.
Footnotes
- HR. Bukhari No. 247 dan Muslim No. 2710 rahimahumallah, keduanya dari sahabat Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu
- HR. Bukhari No. 6320 dan Muslim No. 2714 keduanya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
- Lihat shahih Bukhari No. 2311, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,
وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ، فَأَتَانِي آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ، وَقُلْتُ: وَاللَّهِ لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: إِنِّي مُحْتَاجٌ، وَعَلَيَّ عِيَالٌ وَلِي حَاجَةٌ شَدِيدَةٌ، قَالَ: فَخَلَّيْتُ عَنْهُ، فَأَصْبَحْتُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ البَارِحَةَ)، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً، وَعِيَالًا، فَرَحِمْتُهُ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ، قَالَ: (أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ، وَسَيَعُودُ)، فَعَرَفْتُ أَنَّهُ سَيَعُودُ، لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ سَيَعُودُ، فَرَصَدْتُهُ، فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ، فَأَخَذْتُهُ، فَقُلْتُ: لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: دَعْنِي فَإِنِّي مُحْتَاجٌ وَعَلَيَّ عِيَالٌ، لَا أَعُودُ، فَرَحِمْتُهُ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ، فَأَصْبَحْتُ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ)، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً، وَعِيَالًا، فَرَحِمْتُهُ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ، قَالَ: (أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ وَسَيَعُودُ)، فَرَصَدْتُهُ الثَّالِثَةَ، فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ، فَأَخَذْتُهُ، فَقُلْتُ: لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَهَذَا آخِرُ ثَلَاثِ مَرَّاتٍ، أَنَّكَ تَزْعُمُ لَا تَعُودُ، ثُمَّ تَعُودُ قَالَ: دَعْنِي أُعَلِّمْكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهَا، قُلْتُ: مَا هُوَ؟ قَالَ: إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ، فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ: {اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومُ} [البقرة: 255]، حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ، فَأَصْبَحْتُ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ البَارِحَةَ)، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِي كَلِمَاتٍ يَنْفَعُنِي اللَّهُ بِهَا، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ، قَالَ: (مَا هِيَ)، قُلْتُ: قَالَ لِي: إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ مِنْ أَوَّلِهَا حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ: {اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومُ} [البقرة: 255]، وَقَالَ لِي: لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ – وَكَانُوا أَحْرَصَ شَيْءٍ عَلَى الخَيْرِ – فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ، تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ)، قَالَ: لَا، قَالَ: (ذَاكَ شَيْطَانٌ)
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan aku untuk menjaga zakat Ramadan (zakat fitrah). Kemudian datanglah seseorang lalu mengambil dengan meraup makanan (kurma), maka aku segera menangkapnya dan berkata, ‘Demi Allah, aku benar-benar akan membawamu menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!’
Orang itu meratap, ‘Sesungguhnya aku ini orang yang sangat membutuhkan, aku memiliki tanggungan keluarga, dan aku sedang mengalami kefakiran yang sangat jepit.’ Akhirnya orang itu aku lepaskan.
Keesokan harinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, ‘Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, ia mengadukan kebutuhannya yang sangat mendesak dan tanggungan keluarganya, sehingga aku merasa iba kepadanya, lalu aku lepaskan jalannya.’ Beliau bersabda, ‘Ketahuilah, sesungguhnya ia telah berbohong kepadamu dan ia akan kembali lagi.’
Maka aku tahu bahwa ia akan kembali karena sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Lalu aku mengintainya. Benar saja, ia datang lagi dan meraup makanan. Aku menangkapnya kembali dan berkata, ‘Aku benar-benar akan membawamu menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!’ Ia memelas, ‘Lepaskan aku, sesungguhnya aku orang yang membutuhkan dan memiliki tanggungan keluarga. Aku berjanji tidak akan kembali lagi.’ Aku pun kasihan kepadanya, lalu aku lepaskan jalannya.
Keesokan harinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi kepadaku, ‘Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, ia mengadukan kebutuhannya yang sangat mendesak dan tanggungan keluarganya, sehingga aku merasa iba lalu aku lepaskan jalannya.’ Beliau bersabda, ‘Ketahuilah, sesungguhnya ia telah berbohong kepadamu dan ia akan kembali lagi.’
Maka aku mengintainya untuk ketiga kalinya. Ia datang lagi dan meraup makanan. Aku menangkapnya dan berkata, ‘Aku benar-benar akan membawamu menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Ini adalah kali ketiga dari tiga kali yang telah berlalu; kamu mengaku tidak akan kembali, namun kamu tetap kembali!’
Orang itu berkata, ‘Lepaskanlah aku, sebagai gantinya aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberikan manfaat kepadamu.’ Aku bertanya, ‘Kalimat apa itu?’ Ia menjawab, ‘Jika kamu hendak pergi ke tempat tidurmu, bacalah Ayat Kursi: {Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyuum} hingga kamu menyelesaikannya. Karena sesungguhnya (jika kamu membacanya), kamu akan selalu berada dalam penjagaan Allah, dan setan tidak akan bisa mendekatimu hingga waktu subuh.’ Maka aku pun melepaskan jalannya.
Keesokan harinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, ‘Apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, ia mengaku telah mengajarkanku beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberikan manfaat kepadaku, sehingga aku melepaskan jalannya.’ Beliau bertanya, ‘Apa kalimat itu?’ Aku menjawab, ‘Ia berkata kepadaku: Jika kamu hendak pergi ke tempat tidurmu, bacalah Ayat Kursi dari awal hingga kamu menyelesaikannya: {Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyuum}.’ Dan ia menambahkan, ‘Kamu akan selalu berada dalam penjagaan Allah, dan setan tidak akan mendekatimu hingga waktu subuh’ —dan para sahabat adalah orang-orang yang paling tamak (bersemangat) terhadap kebaikan—.
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ketahuilah, sesungguhnya kali ini ia telah berkata jujur kepadamu, padahal ia adalah seorang pendusta. Tahukah kamu siapa yang kamu ajak bicara selama tiga malam ini, wahai Abu Hurairah?’ Aku menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bersabda, ‘Itu adalah setan.”
- Lihat shahih Bukhari No. 5009 dan shahih Muslim No. 808, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ البَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
“Barang siapa yang membaca dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah pada malam hari, maka kedua ayat tersebut telah mencukupinya.”
- Lihat shahih Bukhari No. 3705 dan shahih Muslim No. 2727, dari sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu
أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَامُ، شَكَتْ مَا تَلْقَى مِنْ أَثَرِ الرَّحَا، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ، فَانْطَلَقَتْ فَلَمْ تَجِدْهُ، فَوَجَدَتْ عَائِشَةَ فَأَخْبَرَتْهَا، فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ بِمَجِيءِ فَاطِمَةَ، فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْنَا وَقَدْ أَخَذْنَا مَضَاجِعَنَا، فَذَهَبْتُ لِأَقُومَ، فَقَالَ: «عَلَى مَكَانِكُمَا». فَقَعَدَ بَيْنَنَا حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ قَدَمَيْهِ عَلَى صَدْرِي، وَقَالَ: «أَلَا أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَانِي، إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا تُكَبِّرَا أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ، وَتُسَبِّحَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتَحْمَدَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ
“Bahwa Fatimah ‘alaihas salam mengadukan mengeluhkan tangannya yang lecet akibat memutar batu penggilingan. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan beberapa orang tawanan perang (yang bisa dijadikan pembantu). Fatimah pun pergi menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam(untuk meminta seorang pembantu), namun ia tidak mendapati beliau. Ia hanya bertemu dengan Aisyah lalu menceritakan maksud kedatangannya kepada Aisyah.
Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang, Aisyah memberitahu beliau tentang kedatangan Fatimah. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami (Ali dan Fatimah) saat kami telah berbaring di tempat tidur. Aku (Ali) bersiap-siap untuk berdiri (menyambut beliau), namun beliau bersabda: ‘Tetaplah di tempat kalian berdua.’
Beliau lalu duduk di antara kami berdua hingga aku merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau bersabda: ‘Maukah aku ajarkan kepada kalian berdua sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian minta kepadaku? Jika kalian berdua hendak pergi ke tempat tidur, ucapkanlah takbir (Allahu Akbar) tiga puluh empat kali, tasbih (Subhanallah) tiga puluh tiga kali, dan tahmid (Alhamdulillah) tiga puluh tiga kali. Maka itu semua jauh lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pembantu’.”
- Lihat shahih Bukhari No. 6324, dari sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ: بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا
“Nabi ﷺ biasanya apabila hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Dengan nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup’.”
- Lihat shahih Bukhari No. 247 dan shahih Muslim No. 2710, dari Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ، فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ، ثُمَّ قُلْ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ، فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ، فَأَنْتَ عَلَى الفِطْرَةِ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ “. قَالَ: فَرَدَّدْتُهَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا بَلَغْتُ: اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، قُلْتُ: وَرَسُولِكَ، قَالَ: «لَا، وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ
“Jika kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah seperti wudhumu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi kanan tubuhmu, lalu ucapkanlah:’Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena berharap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tempat selamat dari (siksaan)-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus.’
Maka jika kamu meninggal pada malammu itu, kamu meninggal di atas fitrah (Islam). Dan jadikanlah doa-doa tersebut sebagai akhir dari apa yang kamu ucapkan.”
Perawi (Al-Barra’ bin ‘Azib) berkata: “Lalu aku mengulanginya di hadapan Nabi ﷺ. Ketika bacaanku sampai pada kalimat: ‘Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan’, aku mengucapkan: ‘dan kepada Rasul-Mu’. Beliau langsung menegur: ‘Tidak, tetapi (ucapkanlah): dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus’.”
- Lihat shahih Bukhari No. 5017 dan shahih Muslim No. 808, dari ummul mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,
كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ، ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الفَلَقِ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menuju tempat tidurnya setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya, lalu meniup pada keduanya dan membaca: ‘Qul huwallahu ahad’ (Surah Al-Ikhlas), ‘Qul a’udzu bi rabbil falaq’ (Surah Al-Falaq), dan ‘Qul a’udzu bi rabbin naas’ (Surah An-Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangannya tersebut ke bagian tubuh yang dapat dijangkau, dimulai dari kepala, wajah, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu sebanyak tiga kali.”
- Lihat footnote sebelumnya
- Lihat i’anatul mustafid hal. 238











Komentar