Penciptaan manusia merupakan salah satu tanda kebesaran Allah yang paling agung. Kita menyadari bahwa jika Allah Ta’ala satu-satunya yang menciptakan kita, konsekwensinya hanya Allah semata yang berhak kita sembah.
Berikut bagian ketiga dari artikel ini.
Penciptaan Manusia Bukti Tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah
Di antara bentuk takdir dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dia menciptakan janin yang berada di dalam rahim ibunya. Baik berjenis kelamin laki-laki laki-laki atau perempuan. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَدْخُلُ الْمَلَكُ عَلَى النُّطْفَةِ بَعْدَ مَا تَسْتَقِرُّ فِي الرَّحِمِ بِأَرْبَعِينَ، أَوْ خَمْسَةٍ وَأَرْبَعِينَ لَيْلَةً، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ أَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ؟ فَيُكْتَبَانِ، فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ أَذَكَرٌ أَوْ أُنْثَى؟ فَيُكْتَبَانِ، وَيُكْتَبُ عَمَلُهُ وَأَثَرُهُ وَأَجَلُهُ وَرِزْقُهُ، ثُمَّ تُطْوَى الصُّحُفُ، فَلَا يُزَادُ فِيهَا وَلَا يُنْقَصُ
“Seorang Malaikat masuk kepada (nuthfah) air mani setelah tinggal air tersebut di dalam rahim wanita selama 40 atau 45 hari. Kemudian Malaikat itu berkata, “Ya Rabbi apakah janin ini akan bernasib sengsara ataukah bahagia?” kemudian dituliskan.Malaikat itu kembali bertanya, “Ya Rabbi janin ini berbentuk laki-laki ataukah perempuan?” kemudian dituliskan.Selanjutnya Malaikat tersebut menulikan nasib janin tersebut, kemudian ketetapan amalnya, akibat dari amal perbuatannya, ajalnya, dan rezekinya. Lalu lembaran catatan itu dilipat dan tidak akan dikurangi ataupun ditambah.” 1
Berpijak pada penjelasan bab sebelumnya, bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin adalah beribadah hanya kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana firman-Nya,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz Dzariat: 56)
Maka dengan ini kita mengetahui bahwa Manusia dan Jin memiliki hikmah dan tujuan yang sama dalam penciptaan. Mereka tidak dibiarkan setelah diciptakan begitu saja tanpa ada perintah dan larangan. Melainkan diperintahkan untuk beribadah kepada Allah satu-satunya dan tidak menyekutukan-Nya.
Allah Ta’ala berkata,
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al Bayyinah: 5)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab bin Sulaiman rahimahullah mengatakan, “Sang pencipta segala sesuatu Dialah yang paling berhak diibadahi semata (yakni Allah Ta’ala).”
Lihatlah! Berbagai dalil ini jelas menjadi bukti bagi kita bahwa manusia tidaklah diciptakan melainkan untuk sebuah tujuan mulia yaitu beribadah hanya kepada Allah semata tidak ada Rabb selain Dia. Sungguh balasan dan ganjaran teramat besar bagi siapa saja yang menaati perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata,
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“ barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al Ahzab: 71)
Allah Ta’ala juga berkata,
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ .
“(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, apakah sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (Muhammad: 15)
Berdasarkan ayat ini maka termasuk bagian makna takwa adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sungguh tidak ada kemenangan yang besar dan paling agung kecuali meraih surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh Karena Itu, Sembahlah Allah Dzat Pencipta Langit dan Bumi!
Allah Ta’ala berkata,
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah Aku”. (Al-Anbiya: 25)
Di atas pondasi inilah kehidupan yang selamat dapat diraih. Sebab pondas tauhid mengharuskan pelakunya mengenali dan memahami Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah yang Husna.
Jikalau seorang insan telah memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah yang Husna, mengenali segala perbuatan-perbuatan Allah Yang Maha Bijaksana, serta mengenali Kekuasaan-nya, keesaan-Nya, dan Maha kebesaran-Nya. Pastilah ia yakin akan ketuhanan Allah Rabb semesta alam. Kita beriman bahwa Allah lah Rabb satu-satunya tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Dia.
Demikian pemaparan singkat terkait tujuan penciptaan manusia. Semoga ilmu yang baru saja kita raih menjadi sebab bertambah kuatnya iman dan tauhid kita kepada Allah Ta’ala. Wallahu a’lam. ILM/AAA/ATH
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim
- Shahih Muslim karya Imam Abul Hajjaj Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi (W. 261 H) rahimahullah
Penulis: U. Islah Lahamido











Komentar