oleh

Beragam Dalil Sahih Menunjukkan Allah di atas Langit

Keyakinan bahwa Allah di atas langit adalah aqidah yang mendasar bagi seorang mukmin. Keyakinan ini sebenarnya sudah tertanam di hati setiap insan yang masih bersih dan lurus fitrahnya. Namun, berbagai sebab yang ada membuat manusia lupa atau sengaja melupakannya.

Maka di kesempatan kali ini kami hendak memaparkan dalil-dalil sahih yang menunjukkan bahwa Allah di atas langit. Semoga pembaca tergolong orang yang diberi taufik untuk memahami dalil-dalil tersebut dan mengimaninya dengan sebenar-benar iman.

Dalil Ke-1: al-Quran Menyatakan Allah di atas langit

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ (16) أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

“Apakah kalian merasa aman dari Allah di atas langit agar tidak menenggelamkan kalian ke dalam perut bumi, lalu bumi itu pun berguncang? Ataukah kalian merasa aman dari Allah di atas langit agar tidak mengirimkan angin kencang kepada kalian? Nanti kalian akan tahu bagaimana peringatan itu datang.” (al-Mulk: 16-17)

Dalil Ke-2: Allah Beristiwa di atas ‘Arasy

Setidaknya ada tujuh ayat dengan lafal yang sama menerangkan bahwa Allah Ta’ala beristiwa’ di atas Arasy, berikut cuplikan salah satu ayatnya:

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Rabb kalian Allah yang mencipta langit-langit dan bumi dalam enam hari kemudian beristiwa’ di atas Arasy, mengganti malam dengan siang yang mengikutinya dengan cepat. Matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk terhadap perintah-Nya. Hanya milik-Nya seluruh ciptaan dan peraturan. Mahasuci Allah Rabb semesta alam.” (al-A’raf: 54)

Adapun ayat- ayat yang lain bisa dilihat di dalam surah-surah berikut: (Yunus: 3), (ar-Ra’du: 2), (Taha: 5), (al-Furqan: 59), (as-Sajdah: 4), (al-Hadid: 4).

Perlu diketahui, bahwa di dalam bahasa Arab, kata istiwa’ jika diiringi dengan kata ‘ala maka mengandung empat unsur makna, yaitu: di atas (عَلَى), tinggi (اِرْتَفَعَ), menetap (اِسْتَقَرَّ) dan naik (صَعَدَ).1

Adapun ‘Arsy secara bahasa artinya singgasana, yang dalam tinjauan syariat dimaknai sebagai makhluk Allah Ta’ala yang paling tinggi dan paling besar.


Baca Juga: Menelisik Aqidah Imam Syaf’i (Bag. 4): Hakikat Tauhid


Dalil Ke-3: Nabi Musa meyakini keberadaan Allah di atas langit

Allah l berfirman,

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَاهَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ (36) أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا

“Fir’aun berkata, wahai Haman dirikanlah untukku sebuah menara tinggi supaya aku bisa mencapai pintu. Yaitu, pintu langit, sehingga aku bisa melihat Ilah (sesembahan) Musa dan sungguh aku meyakini dia seorang pendusta.” (Ghafir: 36-37)

Terkait ayat tersebut Imam Abu Muhammad al-Juwaini (w. 438 H)2 rahimahullah menyatakan,

وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ مُوسَى أَخْبَرَهُ بِأَنَّ رَبَّهُ تَعَالَى فَوْقَ السَّمَاءِ، وَلِهَذَا قَالَ: وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا

“Ayat ini dijadikan dasar bahwa Musa memberitakan kepada Fir’aun bahwa Allah di atas langit. Oleh sebab itu Fir’aun menyangkalnya dengan ucapannya, sungguh aku meyakini dia seorang pendusta.”3

Dalil Ke-4: Kisah Hamba Sahaya Menjawab Bahwa Allah di atas Langit

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada seorang hamba sahaya,

أَيْنَ اللهُ؟

“Di mana Allah?”

Maka ia menjawab, Allah di atas langit.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada tuannya,

أَعْتِقْهَا، فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

“Bebaskanlah budak wanita ini karena ia seorang mukminah.” (HR. Muslim no. 537 di dalam sahihnya, dari Sahabat Muawiyah bin al-Hakam)


Baca Juga: 3 Jenis dan Cara Tawasul Sesuai Bimbingan Nabi


Dalil ke-5: Allah di atas Langit Mengasihi Hamba-hamba yang Pengasih

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ, ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Hamba-hamba yang pengasih akan dikasihi oleh Yang Maha Pengasih. Kasihilah orang-orang yang di bumi, niscaya (Allah) yang di atas langit akan mengasihi kalian.” (HR. Abu Dawud no. 4941, dari Sahabat Abdullah bin Amer bin al-‘Ash, sahih)4

Dalil ke-6: Allah Menikahkan Zainab dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dari atas Langit

Salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, Zainab bintu Jahsy, berkata kepada para istri Nabi yang lainnya:

زَوَّجَكُنَّ أَهَالِيكُنَّ، وَزَوَّجَنِي اللهُ مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ

“yang menikahkan kalian (dengan Rasul) adalah keluarga (wali nikah) kalian. Sedangkan yang menikahkan aku (dengan Rasul) adalah Allah dari atas langit yang ketujuh.” (HR. al-Bukhari no. 7420, 7421 di dalam shahihnya, dari Sahabat Anas bin Malik)

Dalil ke-7: Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam Orang Kepercayaan Allah di atas Langit

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ تَأْمَنُوْنِي وَأَنَا أَمِيْنُ مَنْ فِي السَّمَاءِ؟ يَأْتِينِي خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحاً وَمَسَاءً

“Tidakkah kalian mempercayai aku padahal aku adalah orang kepercayaan Allah di atas langit? Datang kepadaku kabar dari langit pagi dan petang.” (Muttafaq ‘alaih)


Baca Juga: Makna Allah Bersama Kita (Sifat Al-Ma’iyyah Allah)


Dalil ke-8: Allah di atas Langit Murka Kepada Istri yang Tidak Taat Suami

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَتَأْبَى عَلَيْهِ، إِلاَّ كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطاً عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا زَوْجُهَا

“Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tidaklah seorang suami mengajak istrinya naik ranjang kemudian ia menolaknya, kecuali Allah di atas langit murka kepadanya sampai suami tersebut ridha kepadanya.” (HR. Muslim no. 1732 di dalam shahihnya, dari Sahabat Abu Hurairah)

Dalil ke-9: Malaikat Membawa Ruh Orang Saleh kepada Allah di atas Langit

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ الصَّالِحُ قَالُوا: اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ, أَبْشِرِي بَرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ, وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ, فَلا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا ذَلِكَ حَتَّى تَخْرُجَ, ثُمَّ يُعْرَجُ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ, فَيُسْتَفْتَحُ لها, فيقال: من هذا؟ فَيُقَالُ: فُلانٌ, فَيُقَالُ: مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ الطَّيِّبَةِ, فَلا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا ذَلِكَ حَتَّى يُنْتَهَى بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي فِيهَا اللَّهُ تَعَالَى

“Jika jenazah itu seorang yang saleh, maka para malaikat berkata: keluarlah wahai jiwa yang baik dari jasad yang baik. Berbahagialah dengan ketentraman dan kebahagiaan, serta Rabb yang tidak akan marah. Hal ini senantiasa disebut-sebut untuknya sampai ia keluar. Kemudian ia dibawa naik ke langit, lalu diminta dibukakan pintu langit untuknya.

Ditanyakan kepadanya, siapa ini? Maka dijawab, Fulan (dengan nama terbaiknya –penj). Lalu ia disambut, Selamat datang jiwa yang baik. Ia senantiasa disambut sampai berhenti pada langit yang Allah Ta’ala berada di sana.” (HR. Ahmad no. 4262, dari Sahabat Abu Hurairah, sahih)5

Dalil ke-10: Hukum Allah dari Atas Langit Ketujuh

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Sa’ad bin Muadz,

لَقَدْ حَكَمْتَ فِيهِمْ بِحُكْمِ الْمَلِكِ من فوق سبع سموات

“Kamu telah menerapkan hukum kepada mereka sesuai dengan hukum al-Malik (Allah) dari atas langit yang ketujuh.” (HR. an-Nasai no. 8223, dari Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash, hasan)6

Dalil ke-11: Kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Naik ke Langit (Mi’raj)

Disebutkan di dalam sebuah hadits panjang yang mengisahkan kejadian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dibawa naik oleh malaikat Jibril dari satu tingkat langit hingga ke langit di atasnya hingga sampai ke sidratul muntaha.

Di sanalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan Allah Ta’ala dan menerima kewajiban shalat fardhu 5 waktu. Panjang sekali kisah pada hadits tersebut, bagi pembaca yang ingin menyimak lebih lanjut silakan lihat kelengkapan haditnya (HR. al-Bukhari no. 3887 dan Muslim no. 164, dari Sahabat Malik bin Sha’sha’ah)

Ringkasnya, hadits tersebut menunjukkan Allah di atas langit ketujuh. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam harus melalui tujuh tingkatan langit hingga berjumpa dengan Allah Ta’ala.


Baca Juga: Tauhid Harus Disertai Amalan


Dalil ke-12: Para Malaikat Naik untuk Berbicara Dengan Allah di atas Langit

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ للَّهِ مَلائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الأَرْضِ فُضُلا عَنْ كُتَّابِ النَّاسِ، فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تعالى تنادوا: تَعَالَوْا هَلُمُّوا إلِىَ بُغْيَتِكُمْ، فَيَحُفُّونَ بهم، فَإِذَا تَفَرَّقُوا، صَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ، فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَيَّ شَيْءٍ تَرَكْتُمْ عِبَادِي يَصْنَعُونَ؟ فَيَقُولُونَ: تَرَكْنَاهُمْ يحمدونك ويمجدونك ويذكرونك

“Sesungguhnya Allah mempunyai para malaikat yang senantiasa berkeliling di muka bumi selain para malaikat yang mencatat amalan manusia. Jika para malaikat tersebut menemukan sekumpulan orang yang sedang berzikir mengingat Allah Ta’ala maka mereka saling memanggil: Mari ke sini, ada yang kalian cari! Mereka pun mengerumuni sekumpulan orang itu.

Apabila orang-orang tersebut telah berpisah maka mereka naik ke langit (yaitu menuju Allah di atas langit, penj). Allah Ta’ala berkata, apa yang sedang diperbuat hamba-hamba-Ku ketika kalian meninggalkan mereka? Mereka menjawab, kami meninggalkan mereka dalam keadaan memuji, mengagungkan dan mengingat-Mu.” Alhadits. (Muttafaq ‘Alaih, dari Sahabat Abu Hurairah)

Dalil ke-13: Malaikat Penghuni Langit Bertasbih Ketika Allah Ta’ala Memutuskan Perkara

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang bintang jatuh,

فإنها لا يرمى بِهَا لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلا لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنْ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ إِذَا قضى أمرا سبح حَمَلَةُ الْعَرْشِ حَتَّى يُسَبِّحَ أَهْلُ السَّمَاءِ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ التَّسْبِيحُ أَهْلَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ الَّذِينَ يَلُونَ حَمَلَةَ الْعَرْشِ: مَاذَا قال ربكم؟ فيخبرونهم ماذا قال، فَيَسْتَخْبِرُ أَهْلُ السَّمَوَاتِ بَعْضُهُمْ بَعْضًا حتى يبلغ الأمر أَهْلَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَخْطَفُ الْجِنُّ السَّمْعَ فَيُلْقُونَهُ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ

“Bintang jatuh itu tidaklah dilepas dengan sebab kematian seseorang dan tidak pula karena lahirnya seseorang. Akan tetapi Rabb kita ‘Azza wa Jalla jika memutuskan suatu perkara maka para malaikat pemikul ‘Arasy bertasbih, sehingga malaikat penghuni langit yang di bawahnya juga bertasbih. Suara tasbih tersebut sampai menyentuh langit dunia.

Para malaikat yang berada di bawah ‘Arasy bertanya, Apa yang difirmankan oleh Rabb kalian? Mereka pun mengabarkan firman itu, lalu para malaikat penghuni langit saling mengabarkannya sampai kepada malaikat penghuni langit dunia. Maka para jin mencuri dengar firman tersebut dan menyampaikannya kepada para walinya (dukun dan semisalnya, penj).” Alhadits.

(HR. Muslim no. 2229 di dalam Shahihnya, dari Sahabat Ibnu Abbas)

Hadits di atas menunjukkan keberadaan Allah di atas langit. Hal tersebut bisa dicermati bahwa ketika Allah memutuskan perkara maka yang pertama kali mendengar adalah malaikat pemikul ‘Arasy. Dan telah kita bersama bahwa ‘Arsy adalah makhluk yang tertinggi di atas langit. Kemudian keputusan Allah tersebut bergulir dari langit tertinggi hingga langit dunia, sampai turun ke muka bumi.

Dalil ke-14: Allah Ta’ala Memanggil Para Malaikat Penghuni Langit Jika Mencintai Salah Seorang Hamba-Nya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَحَبَّ اللهُ عَبْداً نَادَى جِبْرَائِيلَ فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّ عَبْدِيْ فَأَحِبُّوهُ، فَيُنَوِّهُ بِهَا جِبْرَائِيْلُ فِي حَمَلَةِ العَرْشِ، فَتَسْمَعُ أَهْلُ السَمَاءِ لَغَطَ حَمَلَةِ العَرْشِ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَمَاءِ السَابِعَةِ، ثُمَّ سَمَاءً سَمَاءً حَتَّى يَنْزِلَ إِلَى السَمَاءِ الدُنْيَا، ثُمَّ يَهْبِطُ إِلَى الأَرْضِ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ الأَرْضِ

“Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil Jibril dan berkata, Aku mencintai hamba-Ku ini maka cintailah dia. Kemudian Jibril menyerukan hal itu kepada para malaikat pemikul ‘Arasy, sampai para malaikat penghuni langit mendengar suara riuh dari para pemikul ‘Arasy. Maka para malaikat penghuni langit ketujuh pun ikut mencintainya.

Demikian dari langit ke langit sampai turun ke langit dunia kemudian jatuh ke bumi. Maka para penduduk bumi pun mencintainya.” (Muttafaq ‘Alaih, dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Hadits ini mirip dengan hadits yang sebelumnya. Yaitu, menunjukkan keberadaan Allah di atas langit yang tertinggi. Silakan pembaca mencermatinya dengan seksama!


Baca Juga: Bolehkah Membangun dan Mengapuri Kuburan, Penjelasan Imam Syafi’i dan Dalil-dalilnya


Peringatan Penting

Sangat penting untuk diketahui oleh semua pihak, tatkala kita meyakini bahwa keberadaan Allah di atas langit, maka hal ini sama sekali tidak boleh dipahami bahwa langit atau ‘Arasy lebih besar atau melingkupi Allah Ta’ala! Sebab, Allah Ta’ala Maha Besar dan Maha Agung, tidak ada satu makhluk pun yang dapat menjangkau kebesaran dan keagungannya.

Sehingga yang wajib kita imani adalah meyakini bahwa Allah di atas langit, beristiwa’ di atas ‘Arasy, sebagaimana dalil-dalil yang telah dipaparkan. Kita wajib meyakini hal tersebut sesuai dengan keagungann, kemuliaan dan kesempurnaan-Nya. Tanpa harus ada unsur tasybih (penyerupaan), tahrif (penyelewengan makna) atau takyif (menggambarkan bentuk atau hakikat sifat tersebut).

Tidak boleh bagi kita memikirkan tentang bagaimana keadaan Allah di atas langit sementara Allah Ta’ala sendiri tidak menginformasikan kepada kita perihal tersebut!

Demikian berbagai dalil tentang Allah di atas langit yang dapat kami sampaikan sebatas kemampuan. Adapun selebihnya, maka dalil-dalil tersebut dapat pembaca temukan di dalam buku-buku karya tulis para ulama terkemuka. Antara lain adalah kitab al-‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghaffar karya Imam Syamsuddin adz-Dzahabi (673-748) rahimahullah, salah satu ulama besar mazhab Syafii.

Pada kitab tersebut pembaca akan mendapati ratusan dalil menunjukkan Allah di atas langit! Semoga pembaca termasuk salah satu yang diberi taufik oleh Allah agar dapat menelaah kitab tersebut. Amin ya Rabbal Karim. FAI-IWU

Penulis: Fahri Abu Ilyas


1 Lihat Syarah Aqidah al-Wasithiyah, hlm 214, karya Khalil al-Harras.

2 Beliau bernama Abdullah bin Yusuf bin Muhammad. Salah seorang Ulama bermazhab Syafi’iyyah, ahli tafsir dan fikih. Ayah dari Imam al-Haramain al-Juwaini. Beliau juga memiliki karya tulis berjudul al-Istiwa’. Di dalam karya tersebut beliau juga menyatakan bahwa Allah di atas langit.

3 Al-Istiwa’ (1/177)

4 Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (925).

5 Lihat Shahih at-Targhib wa at-Tarhib (4/188)

6 Lihat takhrij hadits pada Mukhtashar al-‘Uluw (hlm. 12)

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait