oleh

Bolehkah Membangun dan Mengapuri Kuburan, Penjelasan Imam Syafi’i dan Dalil-dalilnya

Pembahasan tauhid dan syirik adalah pembahasan yang mendapat perhatian paling besar dan merupakan bagian terpenting dari syariat ini. Di antara pembahasan penting terkait tauhid dan syirik adalah pembahasan membangun dan mengapuri kuburan. Bagaimana para ulama menjelaskan permasalahan ini? Mari kita ikuti pemaparan berikut ini!

Imam asy-Syafi’i Tidak Suka Kuburan Dikapur atau Dibangun

Di dalam kitab al-Umm, Imam asy-Syafi’i rahimahullah menyatakan,

وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُبْنَى، وَلَا يُجَصَّصَ فَإِنَّ ذَلِكَ يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلَاءَ، وَلَيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، وَلَمْ أَرَ قُبُورَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ مُجَصَّصَةً

“Aku menyenangi agar kuburan tidak dibangun dan tidak dikapur/disemen. Sebab, hal itu menyerupai perbuatan berhias dan menyombongkan diri. Sedangkan kematian bukanlah tempat untuk berhias dan bersombong. Aku juga tidak melihat kuburan Sahabat Muhajirin dan Anshar dibangun.”1

Beliau juga mengatakan,

وَقَدْ رَأَيْت مِنْ الْوُلَاةِ مَنْ يَهْدِمَ بِمَكَّةَ مَا يُبْنَى فِيهَا فَلَمْ أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيبُونَ ذَلِكَ

“Aku melihat sebagian penguasa menghancurkan kuburan yang dibangun di Makkah, dan aku tidak mengetahui ada fuqaha (ulama) yang mencela perbuatan tersebut.”2

Dari pernyataan Imam asy-Syafi’i di atas menunjukkan bahwa:

1. Imam asy Syafi’i tidak senang / benci mengapuri kuburan dan membangun di atasnya.

2. Mengapuri dan membangun di atas kuburan termasuk perbuatan menghiasi kuburan yang terlarang dan bagian dari kesombongan.


Baca Juga: Menelisik Aqidah Imam Syafi’i (Bag. 1)


Dalil Sahih Larangan Mengapur dan Membangun Kuburan

Didalam Shahih Muslim (2/667) dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata,

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ، وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang mengapur kuburan, duduk diatasnya, atau dibangun bangunan diatasnya.” (HR. Muslim no. 970 di dalam Shahihnya)

Juga hadits dari Abu Said Al Khudri radhiallahu anhu beliau berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،نَهَى أَنْ يُبْنَى عَلَى الْقَبْرِ

“Bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang membangun bangunan di atas kuburan.” (HR. Ibnu Majah no. 1564, sahih)3


Baca Juga: Kebaikan Aqidah Sumber Kebaikan Akhlaq


Perintah Untuk Menghancurkan Kuburan yang Dibangun dan Dikapuri

Dari Abul Hayyaj al-Asadi radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan kepadaku:

أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ :أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ

“Maukah Aku mengutusmu untuk sebuah misi sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu mengutusku padanya? Jangan engkau biarkan sebuah gambar kecuali engkau hapus, dan (tidak pula) kuburan yang diagungkan kecuali engkau ratakan” (HR. Muslim 2/969 di dalam Shahihnya)

Sabda Rasul shallallahu alaihi wasallam “kecuali engkau ratakan”, bukan maknanya meratakan hingga seakan tidak ada kuburan. Tetapi meratakan secukupnya dan membiarkan tanah menonjol setinggi satu jengkal. Hal ini sebagaimana yang diterangkan dalam hadits sahih yang lain.


Baca Juga: Inilah Sebab Mengapa Aqidah itu Penting


Mengapa Kuburan Harus Diratakan?

  1. Mengikuti pendapat Imam asy-Syafi’i di atas. Dan beliau adalah seorang imam besar, panutan umat.
  2. Membangun dan mengapuri kuburan akan menyeret kepada sikap ekstrem (ghuluw) kepada penghuni kubur. Yaitu memuliakan mereka secara berlebihan hingga pada akhirnya beribadah kepada mereka; atau paling tidak beribadah kepada Allah di sisi kuburan, yang hal ini merupakan perbuatan yang diharamkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan perbuatan ekstrem semisal ini sebelum beliau wafat. Bahkan Beliau khawatir kalau nanti kuburan beliau disembah. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa :

اَللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِيْ وَثَناً يُعْبَدُ

“Ya Allah jangan Engkau menjadikan kuburanku sebagai berhala yang diibadahi.” (HR. Malik, dari sahabat Abu Hurairah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hasan).

Inilah di antara alasan mengapa kuburan yang dibangun dan dikapuri harus diratakan.

  1. Mengantarkan kepada kebodohan terkait hakikat tauhid yang merupakan dakwah setiap Rasul. Dan akan menggiring kepada syirik akbar.
  2. Memuliakan penghuni kubur secara berlebihan. Karena penghuni kubur senang jika didoakan dan dimintai ampunan. Sedangkan doa dan permintaan ampun tidaklah diterima kecuali jika ikhlas kepada Allah dan sesuai dengan tutunan Nabi. Membangun atau mengapuri kuburan merupakan amalan yang tidak ada tuntunannya dalam syariat Islam.

Alhamdulillah dengan penjabaran singkat di atas kita telah memahami bahwa membangun dan mengapuri kuburan termasuk perbuatan ekstrem (ghuluw) yang mengantarkan kepada kesyirikan. Maka sebagai insan muslim wajib mengikuti bimbingan syariat Islam yang itu semua akan membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Semoga Allah menjaukan kita dari segala amal keburukan. Amin.

Penulis: Abul Marstad Mujahid

Rujukan : Mukhtashar Ahkamul Janaiz, Ighatsatu al-lahfan. Biografi imam Asy Syafi’i dan Akidahnya.


1 Al-Umm (1/316)

2 Idem

3 Lihat Shaih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah (4/64)

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait