Penciptaan manusia merupakan salah satu tanda kebesaran Allah Ta’ala yang paling agung. Karena akan menyadarkan kita bahwa apabila Allah Ta’ala satu-satunya yang menciptakan kita, maka hanya Dialah yang berhak kita sembah. Ini sebagai bentuk syukur atas nikmat penciptaan tersebut serta atas segala karunia yang Dia curahkan kepada kita.
Berikut bagian kedua dari artikel ini.
Manusia Berasal dari Air Mani
Allah Ta’ala berfirman,
أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى. أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى. ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّى. فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggung jawaban? Bukankah dia dahulu hanyalah setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu merubah menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, setelah itu Allah menjadikan darinya sepasang, laki laki dan perempuan?” (Al-Qiyamah: 36-39)
Setelah air mani itu tumpah di dalam rahim wanita dan berlalu 120 hari, maka di saat itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan nasib sang janin tersebut sesuai dengan takdir-Nya yang penuh dengan hikmah.
Di antara takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dia menetapkan manusia berada di dalam tiga macam kegelapan saat masih berada di dalam kandungan ibunya. Allah Ta’ala berkata,
خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ
“Dia menciptakan kalian dari seorang diri, kemudian Dia jadikan darinya seorang istri dan Dia menurunkan untuk kalian delapan ekor binatang ternak yang berpasangan. Dia menciptakan kalian di perut ibu kalian setahap demi setahap dalam tiga macam kegelapan. Yang (melakukan) demikian itu adalah Allah, Rabb kalian, Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada sesembahan (yang berhak diibadahi) selain Dia. Maka bagaimana kalian dapat dipalingkan?” (Az Zumar: 6)
Tiga kegelapan itu sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama ahli tafsir, yaitu kegelapan di dalam perut, kegelapan di dalam rahim, dan kegelapan di dalam selaput yang menutup anak dalam rahim ibunya. (Tafsir as-Sa’di, Az-Zumar: 6)
Begitulah kondisi keberadaan janin di dalam perut ibunya. Yang dengan kasih sayang dan rahmat-Nya, Allah Ta’ala melindungi janin dengan selaput penjaga sehingga menjadi tempat yang kokoh. Maha Suci Allah Ta’ala, sebaik-baik Penjaga dan Pencipta Yang Sempurna.
Sebagaimana yang telah diketahui pula, bahwa manusia diciptakan dan berasal dari tanah. Allah Ta’ala berkata,
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَى أَجَلًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ
“Dialah Yang menciptakan kalian dari tanah, kemudian menetapkan ajal (kematian kalian) dan ajal (berikutnya) yang telah ditentukan (kebangkitan setelah kematian) di sisi-Nya (hanya Dia yang mengetahuinya). Kemudian kalian masih ragu-ragu (tentang hari berbangkit itu).” (Al-An’am: 2)
Apakah Manusia Diciptakan dari Tanah Ataukah dari Air Mani?
Bagaimana dengan dalil yang menyatakan bahwa manusia berasal dari air mani? Padahal ada juga dalil yang menerangkan bahwa manusia berasal dari tanah. Bagaimana mengkompromikannya?
Sebelum kita membahas jalan tengahnya, perhatikan dalil-dalil yang menerangkan asal muasal manusia, dari tanah dan dari air. Firman Allah Ta’ala tentang kisah Iblis yang tidak mau sujud kepada Adam alaihis salam karena ia tercipta dari tanah. Allah Ta’ala berfirman,
قَالَ يَاإِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
“Allah berfirman, ‘Wahai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada manusia yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku?’2
Tanpa diragukan lagi, agama Islam adalah agama yang sempurna. Sesuatu yang telah sempurna tidak perlu adanya penambahan atau pengurangan. Karena bila butuh adanya tambahan pada agama ini atau sebaliknya (ada yang perlu dikurangi), maka agama ini tidak bisa dikatakan sebagai suatu yang telah sempurna.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia tentang kitab yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka berpikir.” (An-Nahl: 44)
Baca Juga: Tujuan Hidup Manusia dan Jin Ternyata Sama
Penggabungan Makna antara Penciptaan Manusia dari Tanah dan dari Air Mani
Sejatinya tidak ada kontradiksi bagi orang yang memahami al-Qur’an. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala beritakan di dalam al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).” (Al-Mukminun: 12-13)
Dijelaskan oleh salah seorang ulama ahli tafsir terkemuka Imam as-Sa’di rahimahullah bahwa makna dari ayat di atas adalah:
“Allah menyebutkan awal penciptaan nenek moyang manusia, yakni Adam, bahwa beliau berasal ‘dari suatu saripati dari tanah’. Maksudnya adalah dihasilkan dan diambil dari seluruh jenis tanah. Oleh karena itu, keturunannya lahir dengan warna seperti warna tanah. Ada yang baik, ada yang buruk, dan ada yang sedang-sedang saja. Ada yang mudah, ada yang sulit, dan ada yang pertengahan antara keduanya.” 3
Oleh karena itu Anda dapat menyaksikan anak Adam warna kulitnya ada yang putih, coklat, merah, hitam. 4
Ada yang baik dan ada pula yang buruk serta di antara keduanya.
Setelah Allah Azza wa Jalla mengambil tanah sebagai awal mulanya. Dia jadikan dari tanah tersebut manusia yang sempurna. Kemudian darinya terdapat saripati (mani) yang keluar dari tulang sulbi anak Adam. Lalu melalui perkawinan tersimpanlah saripati tersebut di dalam rahim. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Menilik berbagai ulasan di atas, jelaslah bagi kita bahwa proses penciptaan manusia pertama (Nabi Adam) adalah memang berasal dari tanah. Kemudian anak keturunannya berasal dari air mani yang ditumpahkan ke dalam rahim. Kemudian Allah lanjutkan dengan ketetapan alur penciptaan makhluk-Nya sesuai takdir dan kekuasaan-Nya. Maha Suci Allah, Sang Pencipta lagi Maha Sempurna.
Semoga ilmu yang baru saja kita pelajari ini, mengenai proses penciptaan manusia, menjadi sebab bertambah kuatnya keimanan dan tauhid kita kepada Allah Ta’ala. Karena kita semakin memahami betapa Allah Ta’ala Maha Kuasa dan Maha Mampu atas segala sesuatu. Wallahu a’lam. (ILM/AAA/ATH)
Penulis: Ustadz Islah Lahamido
Referensi:
Al-Qur’anul Karim
Taisir Karimur Rahman karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di (W. 1376 H) rahimahullah
Mukhtashar Shawaaiq Mursala karya Syaikh Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub (W. 751 H) rahimahullah
Syarah Lum’atul I’tiqad karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (W. 1421 H) rahimahullah
Footnotes
- Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” Iblis berkata, “Aku lebih baik darinya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Shad: 75-76)
Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala memberitakan bahwa manusia diciptakan dari air mani. Allah Ta’ala berfirman,
أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى. أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى. ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّى. فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggung jawaban? Bukankah dia dahulu hanyalah setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu merubah menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, setelah itu Allah menjadikan darinya sepasang, laki laki dan perempuan?” (Al-Qiyamah: 36-39)
Sungguh al-Qur’an telah menjelaskan setiap perkara yang terjadi di muka bumi ini dengan panjang lebar dan jelas. Mulai dari perkara yang terkecil hingga yang terbesar. Begitu pula dalam hal yang tampak dan yang tidak terlihat dengan kasat mata. Sehingga agama Islam menjadi agama yang paling sempurna. Hal ini selaras dengan perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berkata,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku untuk kalian, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agama bagi kalian.” (Al-Maidah: 3)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan di dalam tafsirnya mengenai ayat di atas. Beliau menuturkan,
“Allah ‘Azza wa Jalla telah menyempurnakan agama ini dengan sempurnanya pertolongan-Nya dan sempurnanya syariat secara lahir maupun batin. Begitu pula terkait hal-hal yang sifatnya pokok ataupun cabangnya. Oleh karena itu, al-Qur’an dan sunnah benar-benar telah sempurna dan mencakup berbagai hukum syari’at, baik pokok maupun cabangnya.” 1
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ ْ} بتمام النصر، وتكميل الشرائع الظاهرة والباطنة، الأصول والفروع، ولهذا كان الكتاب والسنة كافيين كل الكفاية، في أحكام الدين أصوله وفروعه.
-
فذكر ابتداء خلق أبي النوع البشري آدم عليه السلام، وأنه { مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ } أي: قد سلت، وأخذت من جميع الأرض، ولذلك جاء بنوه على قدر الأرض، منهم الطيب والخبيث، وبين ذلك، والسهل والحزن، وبين ذلك.
-
وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَوْف، حَدَّثَنَا قَسَامة بْنُ زُهَيْر، عَنْ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيعِ الْأَرْضِ، فَجَاءَ بَنُو آدَمَ عَلَى قَدْر الْأَرْضِ، جَاءَ مِنْهُمُ الْأَحْمَرُ وَالْأَسْوَدُ وَالْأَبْيَضُ، وَبَيْنَ ذَلِكَ، وَالْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ، وَبَيْنَ ذَلِكَ“.
Imam Ahmad mengatakan, telah memberitakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, telah memberitakan kepada kami Auf, telah memberitakan kepada kami Usamah ibnu Zuhair, dari Abu Musa, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan Adam dari segenggam tanah yang diambil dari seluruh bumi. Maka bani Adam muncul sesuai dengan tabiat tanah. Di antara mereka ada yang berkulit merah, ada yang berkulit putih, ada yang berkulit hitam, serta ada yang campuran di antara warna-warna tersebut. Ada yang buruk, ada yang baik, ada pula yang campuran di antara baik dan buruk.”
Abu Daud dan at-Tirmidzi telah meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Auf al-A’rabi dengan lafazh yang semisal dan sanad yang sama. Imam at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. (Tafsir Ibnu Katsir, Al-Mu’minun: 12)








Komentar