oleh

Pembagian Jenis Nifaq, Rincian, dan Perbedaannya

Telah kami jelaskan pada artikel sebelumnya tentang bagaimana bahaya dari sifat nifaq dan kengeriannya yang membuat para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa takut dan khawatir sifat tersebut ada pada mereka. 

InsyaAllah pada artikel kali ini kami akan menjelaskan terkait pembagian jenis nifaq beserta rinciannya.

Pembagian Jenis Nifaq

Secara garis besar nifaq terbagi menjadi 2 jenis, yaitu:

  1. Nifaq Akbar (i’tiqadi)
  2. Nifaq Ashghar (‘amali)

Tentunya pembagian ini berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah (hadits nabawi) yang kemudian dijelaskan oleh para ulama.

Nifaq Akbar (Besar)

Yang pertama dari jenis nifaq adalah nifaq akbar atau juga disebut dengan nifaq i’tiqadi. Jenis ini merupakan jenis yang lebih besar bahayanya. Nifaq akbar ini dapat mengeluarkan seseorang dari lingkaran Islam dan terancam dengan ancaman neraka yang paling dasar. Allah Ta’ala berfirman,

 إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu berada di tempat paling dasar dari neraka, dan engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong pun untuk mereka.” (An-Nisa’: 145)

Gambaran nifaq akbar -yang disebut juga nifaq i’tiqadi- adalah seseorang menampakkan diri sebagai orang yang beriman, namun hakikatnya ia menyembunyikan kekufuran pada dirinya. Maka sungguh jenis ini dapat mengeluarkan orang tersebut dari Islam -walaupun secara tampak dia seorang yang beragama Islam- dan terancam dengan azab neraka, wal’iyadzubillah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ

“Dan di antara manusia ada yang mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan hari Akhir, namun sejatinya mereka tidaklah beriman.” (Al-Baqarah: 8)

Seorang ulama pakar ilmu tafsir dari negeri Iran Imam ath-Thabari rahimahullah di dalam tafsirnya menukil bahwa manusia yang dimaksud pada ayat tersebut adalah kaum munafik dari suku Aus dan Khazraj serta orang-orang yang semisal mereka. 1

Nifaq Ashghar (Kecil)

Yang kedua dari jenis nifaq adalah nifaq ashghar atau juga disebut dengan nifaq ‘amali. Jenis ini juga harus diwaspadai dan dijauhi, walaupun jenis ini tidak membuat seseorang keluar dari Islam secara keseluruhan.

Nifaq ashghar adalah suatu amalan yang jelek dan termasuk dari perilaku kaum munafik namun di dalam hatinya masih terdapat keimanan. jenis ini tidak mengeluarkan seseorang dari Islam secara keseluruhan, namun dapat mengantarkannya kepada nifaq akbar yang dapat mencampakkan dirinya dari bingkai Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، أَوْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ أَرْبَعَةٍ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Empat sifat yang barangsiapa semuanya terkumpul pada diri seseorang maka ia adalah seorang munafik tulen. Atau jika pada dirinya terdapat salah satu dari 4 sifat tersebut maka dirinya telah terjangkiti sifat nifaq sampai ia menghilangkan sifat tersebut. (Empat sifat itu adalah): apabila diberi amanah ia berkhianat, apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkarinya, dan apabila berselisih ia berbuat curang.” 2

Mengenai hadits di atas, Imam Ibnu Hajar (salah satu Imam besar dari madzhab Syafi’i) rahimahullah mengatakan,

وَالَّذِي قَالَهُ الْمُحَقِّقُونَ: إِنَّ مَعْنَاهُ أَنَّ هَذِهِ خِصَالُ نِفَاقٍ، وَصَاحِبُهَا شَبِيهٌ بِالْمُنَافِقِينَ فِي هَذِهِ الْخِصَالِ، وَمُتَخَلِّقٌ بِأَخْلَاقِهِمْ

“Pendapat yang dikemukakan oleh para ulama peneliti hadits (al-muhaqqiqūn): Makna hadits ini adalah bahwa sifat-sifat tersebut merupakan tanda-tanda nifaq. Orang yang memiliki sifat-sifat itu berarti ia telah menyerupai orang-orang munafik yang mereka bersifat dengan sifat-sifat tersebut dan telah meniru akhlak mereka.” 3


BACA JUGA: Mengenal Nifaq dalam Islam: Pengertian, Bahaya, dan Urgensi Mewaspadainya


Perbedaan Antara Nifaq Akbar dan Ashghar

Tentu antara nifaq akbar dan ashghar memiliki sekian perbedaan. Di antara perbedaannya adalah:

  1. Bahwasanya nifaq akbar mengeluarkan seseorang dari bingkai keislaman, sedangkan nifaq ashghar tidak mengeluarkannya dari bingkai keislaman.
  2. Nifaq akbar berkaitan dalam permasalahan keyakinan, sedangkan nifaq ashghar dalam permasalahan amalan bukan pada permasalahan keyakinan.
  3. Nifaq akbar tidak mungkin didapati pada orang yang benar-benar beriman. Berbeda dengan nifaq asghar, bisa saja terjadi pada orang yang beriman karena faktor lemahnya iman dan kemaksiatan yang ia kerjakan selama tidak ada keyakinan kufur yang melekat pada hatinya.

Akan lebih mudah diingat jika dilihat melalui tabel berikut:

No. Nifaq Akbar Nifaq Ashghar
1 Mengeluarkan seseorang dari agama Islam Tidak mengeluarkan seseorang dari agama Islam
2 Berkaitan dengan keyakinan Berkaitan dengan amalan yang terlihat
3 Tidak didapati pada diri seseorang yang benar-benar beriman Bisa saja terjadi pada seorang mukmin

Penutup

Demikianlah pembagian nifaq beserta perbedaannya. Memahami perbedaan keduanya merupakan perkara penting agar seorang muslim tidak salah dalam menghukumi, sekaligus agar semakin waspada terhadap seluruh bentuk kemunafikan.

Begitu pula memahami pembagian nifaq ini bukan sekadar untuk menambah ilmu, tetapi juga menjadi media untuk mengoreksi diri. Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari seluruh bentuk kemunafikan dan mengokohkan kita di atas keimanan hingga akhir hayat. Aamiin. (RGA/AAA/ATH)

Penulis: Rasyid Ghani

Referensi:

  • Al-Qur’anul Karim
  • Shahih al-Bukhari
  • Shahih Muslim
  • Fathul Bari
  • Tafsir Ibnu Katsir
  • Tafsir ath-Thabari
  • Tafsir Ibnu Abi Hatim
  • Sirah Ibnu Hisyam
  • Kitab Sifatul Munafiqin
  • Kitabul Iman
  • Majmu’ Fatawa
  • ‘Aqidatut Tauhid

Footnotes

  1. Lihat Tafsir ath-Thabari 1/275, 

    حدَّثنا محمدُ بنُ حُميدٍ، قال: حدَّثنا سَلَمةُ، عن محمدِ بنِ إسحاقَ، عن محمدِ بنِ أبي محمدٍ مولى زيدِ بنِ ثابتٍ، عن عكرمةَ، أو عن سعيدِ بنِ جُبيرٍ، عن ابنِ عباسٍ: {وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ}: يعني المنافقين مِن الأوْسِ والخَزْرَجِ ومَن كان على أمرِهم

    Lihat juga Sirah Ibnu Hisyam 1/531 dan Tafsir Ibnu Abi Hatim 1/42 (104) (beliau riwayatkan dari jalur Salamah)

  2. HR. Al-Bukhari 34 dan Muslim 58, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma
  3. Lihat Fathul Bari 1/90
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *