oleh

Pegang Teguh Prinsip Islam di Masa Penuh Ujian

Pada setiap zaman, Allah Ta’ala selalu menguji para hamba-Nya. Hal ini sebagaimana yang tertuang dalam al-Quran,

الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِين

“Alif laam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (begitu saja) untuk mengatakan, “Kami telah beriman.” Sedangkan mereka tidak diuji? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang jujur dan orang-orang yang berdusta.” (al-Ankabut: 1-3)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah Ta’ala pasti akan menguji para hamba-Nya sesuai kadar keimanan mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Pembaca yang semoga dirahmati Allah…

Hikmah di setiap ujian adalah kita bisa mengetahui siapa yang berpaling dari kebenaran dan siapa yang masih berada di atas kebenaran.

Oleh karena itu barangsiapa yang telah mengaku beriman hendaknya berusaha untuk tetap teguh di atas keimananya dengan memegang teguh perkara penting berikut:

Berpegang teguh dengan al-Quran dan as-Sunnah

Allah Ta’ala berkata,

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa: 59)

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Demi Rabbmu, mereka benar-benar tidak beriman hingga menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang diperselisihkan. Kemudian mereka tidak mendapati keberatan pada jiwa mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan menerima dengan sepenuhnya. (an-Nisa’: 56)

Ayat di atas menunjukkan tidak ada tempat kembali dalam semua perkara melainkan kepada al-Quran dan as-Sunnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا, كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي

“Sungguh aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya, yaitu al-Quran dan sunnahku.” (HR. Al-Hakim 1/93, dishahihkan oleh Imam Albani rahimahullah)

Pembaca yang semoga dirahmati Allah…

Al-Qu’an dan as-Sunnah adalah pondasi agama Islam. Tidaklah berpegang dengan keduanya, kecuali dia akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat.

Mengikuti Pemahaman Para Sahabat radhiyallahu ‘anhum

Dalil-dalil al-Quran dan as-Sunnah hendaknya dipahami berdasarkan pemahaman para sahabat, karena merekalah yang belajar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya. Para sahabat telah mendapatkan pujian bukan hanya dari manusia, bahkan dari Rabb semesta alam.

Allah Ta’ala berkata,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, memerintahkan kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110)

Para sahabat adalah manusia yang paling bersih hatinya dari berbagai penyakit. Sebagaimana atsar sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

إِنَّ اللهَ نَظَرَ إِلَى قُلُوبِ اْلعِبَادِ، فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوْبِ اْلعِبَادِ، فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ، فَابْعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِيْ قُلُوْبِ اْلعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوْبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوْبِ اْلعِبَادِ، فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى دِيْنِهِ

“Sesungguhnya Allah melihat kepada hati para hamba-Nya, lantas Allah mendapati hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hati yang paling baik di antara para hamba-Nya, maka Allah memilih untuk diri-Nya serta mengutusnya dengan risalah (kenabian). Kemudian Allah melihat kepada hati para hamba-Nya setelah melihat hati Muhammad, lantas Allah dapati hati para sahabatnya adalah hati yang paling baik di antara para hamba-Nya, maka Allah pilih mereka sebagai sahabat Nabi-Nya yang berjihad di atas agamanya.” (HR. Ahmad 1/379)

Merekalah orang-orang yang menyaksikan langsung turunnya wahyu, serta menimba ilmu dari sumbernya. Mereka adalah pewaris para Nabi yang telah banyak menggoreskan tinta emas pada lembaran-lembaran sejarah Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memuji para sahabatnya,

خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik genarasi adalah generasi yang aku berada padanya, kemudian setelahnya, dan setelahnya.” (Mutafaqun ‘alaih)

Pembaca yang semoga dirahmati Allah…

Janganlah bermudah-mudahan dalam memahami dalil al-Quran dan as-Sunnah kecuali dengan pemahan para sahabat, karena sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka hendaklah kalian melihat kepada siapa kalian mengambil ilmu agama tersebut.

Mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk mengikuti kebenaran dan menyelamatkan kita dari berbagai macam ujian dan cobaan yang mengancam iman kita. Amin. AF-BIAK

Penulis: Afif

 

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait