oleh

Mengenal Tradisi Masa Jahiliyah Bag. 2: Syirik Terhadap Allah

Syirik adalah masalah utama yang menodai kehidupan masa Jahiliyah. Sebab, syirik merupakan perbuatan yang paling dibenci oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Seorang yang berbuat syirik tidak akan diampuni dosanya hingga ia bertaubat, Allah Ta’ala telah menegaskan di dalam firman-Nya,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni perbuatan syirik dan mengampuni yang lebih ringan darinya bagi siapa saja yang Ia kehendaki. Barangsiapa berbuat syirik terhadap Allah, berarti ia telah memperbuat dosa yang sangat besar.” (an-Nisa’: 48)

Syirik adalah tradisi masa jahiliyah yang paling ditentang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaliknya, beliau datang membawa ajaran Tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam peribadahan kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Mereka tidak diperintah melainkan agar mereka beribadah dengan ikhlas untuk Allah.” (al-Bayyinah: 5)

Syirik, Tradisi Kuno yang Masih Dilestarikan

Sebenarnya syirik adalah budaya kuno yang ada sejak dahulu kala. Awal kali kesyirikan terjadi di masa Nabi Nuh ‘alaihis sallam. Oleh karena itu beliau adalah Rasul pertama yang diutus kepada kaumnya untuk memerangi perbuatan syirik tersebut. Allah berfirman,

{إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (1) قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ (2) أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ

“Sungguh kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Berilah peringatan kepada kaummu sebelum datang azab yang pedih kepada mereka. (Nuh) berkata, wahai kaumku, aku adalah pemberi peringatan bagi kalian. Maka sembahlah Allah semata, bertakwalah kepada-Nya dan taatilah aku.” (Nuh: 1-3)

Ketika itu kaum Nuh ‘alaihis salam menyekutukan Allah dengan beribadah kepada orang-orang shalih mereka. Para pembesar kaumnya yang menggiring umat untuk menjadikan patung-patung orang shalih yang bernama Wad, Suwa, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr, sebagai berhala yang disembah. Mereka menyanggah Nuh ‘alaihis sallam yang mengajak untuk meninggalkan perbuatan mereka,

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Mereka (para pembesar kaum Nuh) berkata, janganlah kalian meninggalkan Wad, Suwa, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.” (Nuh: 23)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan nama-nama yang tersebut di atas,

هذه أسماء رجال صالحين من قوم نوح، فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم: أن انصبوا إلى مجالسهم التي كانوا يجلسون فيها أنصابا وسموها بأسمائهم، ففعلوا ولم تعبد حتى إذا هلك أولئك ونسي العلم، عبدت

“Itu adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nuh. Tatkala mereka telah wafat, setan membisikkan kepada kaumnya: buatlah patung-patung mereka di tempat majelis yang biasa mereka duduk di sana, serta bubuhkanlah nama-nama mereka padanya. Maka mereka pun mengerjakannya dan ketika itu patung-patung tersebut belum disembah. Namun tatkala mereka (kaum yang membuat patung itu) telah berganti generasi dan ilmu yang mereka ajarkan telah dilupakan, akhirnya patung-patung itu disembah.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam kitab at-Tafsir no.4636, shahih)

Kemudian tradisi kesyirikan itu terus berlanjut dari zaman ke zaman sampai diutusnya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akan terus berlanjut hingga tiba hari kiamat nanti. Sehingga setiap Rasul yang diutus kepada kaumnya masing-masing membawa misi yang sama, yaitu mengajarkan tauhid dan memerangi kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh kami telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap umat, (untuk menyerukan) sembahlah Allah semata dan jauhilah thaghut (sesembahan selain Allah).” (an-Nahl: 36)

Awal Mula Kesyirikan di Tanah Suci

Dahulu orang-orang Arab berpegang dengan syariat Nabi Ibrahim ‘alaihis sallam, yaitu syariat yang mengajarkan tauhid dan berpaling dari kesyirikan. Terutama di kota Makkah, tanah suci yang menjadi simbol keagungan dan kesucian bangsa Arab. Namun syariat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mulai bergeser ketika dimasukkan patung-patung berhala di sekitar Ka’bah. Orang pertama yang mempelopori kegiatan ini adalah Amer bin Luhai al-Khuza’i.

Alkisah, Amer bin Luhai adalah seorang yang dikenal baik, banyak bersedekah dan semangat beragama. Orang-orang banyak mengaguminya dan amat senang kepadanya. Sampai-sampai mereka menjadikannya sebagai penguasa Makkah dan memegang kepengurusan Ka’bah. Mereka mempercayai Amer bin Luhai sebagai ulama dan pemuka umat.

Hingga suatu hari, dia berangkat safar ke negeri Syam. Di sana, ia mendapati penduduk Syam menyembah berhala-berhala. Ia berprasangka baik terhadap penduduk Syam, sebab Syam adalah tempat para Rasul diutus dan Kitab-kitab diturunkan. Sekembalinya ke Makkah, ia membawa oleh-oleh sebuah patung berhala yang diberi nama Hubal. Dia meletakkannya di tengah-tengah Ka’bah dan mengajak orang-orang untuk menyembahnya. Mereka segera menerima ajakan itu karena telah percaya kepadanya.1

Demikian ringkasnya awal mula kesyirikan terjadi di tanah suci akibat perbuatannya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah memberi kabar tentang Amer bin Luhai ini,

رأيت عمرو بن عامر الخزاعي يجرّ فصبه في النار، كان أول من سيب السائب

“Aku melihat Amer bin Amir al-Khuza’i sedang menyeret ususnya yang terburai di Neraka. Dia adalah orang pertama yang membuat-buat keyakinan unta sa’ibah.2” (HR. Bukhari no. 4623 dan Muslim no. 50, di dalam shahih keduanya)

Dari sinilah masa kelam Jahiliyah bermula di tanah suci. Berhala-berhala bertambah banyak dan mulai menjamur di sekitar Ka’bah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki area Ka’bah di masa penaklukan kota Makkah, mendapati 360 patung berhala. Beliau menghancurkannya satu per satu dengan tombaknya sembari membaca firman Allah Ta’ala,

{جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا}

“Telah datang kebenaran dan telah musnah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan pasti akan musnah.” (al-Isra’: 81)

Ragam Budaya Syirik Ala Jahiliyah

Kesyirikan yang terjadi di masa Jahiliyah bentuknya beraneka ragam. Kami sebutkan beberapa contoh berdasarkan objek kesyirikannya.

  1. Berbuat syirik dengan orang-orang shalih.

    Tradisi ini adalah warisan dari kaum Nuh ‘alaihis sallam sebagaimana kami jelaskan sebelumnya. Sebagai contoh, orang arab ketika itu menyembah berhala yang bernama Latt. Latt adalah nama orang shalih di waktu itu. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah mengisahkan, dahulu Latt biasa membeli tepung dan mentega untuk diadon menjadi roti, ia mencampur adonan itu pada sebuah batu. Ia selalu membagi-bagikan roti itu kepada jama’ah Haji yang datang ke Ka’bah. Ketika ia meninggal, kabilah Tsaqif menjadikan batu tempat ia mengadon sebagai berhala dalam rangka mengagungkan roh Latt.3 Allah Ta’ala berfirman tentangnya,

    {أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى (19) وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى (20)}

    “Kabarkanlah kepadaku tentang Latt, Uzza dan Manat yang ketiganya.” (an-Najm: 19-20)

  2. Berbuat syirik dengan para Nabi.

    Hal ini seperti yang dikerjakan umat Nasrani dan Yahudi. Mereka meyakini bahwa Allah memiliki putra. Mahasuci Allah dari keyakinan mereka. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

    وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

    “Orang-orang Yahudi berkata, Uzair putra Allah. Sedangkan orang-orang Nasrani berkata, al-Masih (Nabi Isa) putra Allah. Itulah ucapan dari mulut-mulut mereka, serupa dengan ucapan orang-orang kafir sebelumnya. Semoga Allah membunuh mereka, bagaimana bisa mereka terpedaya.” (at-Taubah: 30)

  3. Menyembah para malaikat dan meyakininya sebagai anak perempuan Allah.

    Berdasarkan firman Allah Ta’ala,

    وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ

    “Hari ketika (Allah) mengumpulkan mereka semua kemudian berkata kepada para Malaikat, apakah mereka ini yang dahulu menyembah kalian?” (Saba’: 40)

    Selain itu mereka juga meyakini bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

    وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثًا أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ

    “Mereka menjadikan para malaikat hamba-hamba ar-Rahman sebagai anak-anak perempuan. Apakah mereka menyaksikan ketika mereka diciptakan? Sehingga persaksian mereka ditulis dan mereka ditanya.” (az-Zukhruf: 19)

  4. Animisme dan dinamisme.

    Animisme adalah kepercayaan terhadap roh-roh yang mendiami suatu tempat atau benda4. Beranjak dari keyakinan itu, mereka mengeramatkan tempat dan benda tertentu. Sehingga mereka menyiapkan sesajen, sembelihan dan semacamnya untuk mengagunggkan para roh penunggu tersebut serta meminta perlindungan darinya. Hal ini seperti yang Allah Ta’ala gambarkan di dalam surat al-Jin,

    وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

    “Dahulu ada beberapa orang manusia yang meminta perlindungan kepada para jin sehingga bertambahlah dosa mereka.” (al-Jin: 6)

    Qatadah rahimahullah menjelaskan, dahulu orang-orang di masa Jahiliyah apabila singgah di sebuah lembah, mereka meminta perlindungan kepada roh (jin) penunggu tempat tersebut. Sebagaimana dilansir Imam ath-Thabari di dalam tafsirnya.5

Demikian beberapa contoh bentuk ragam kesyirikan di masa Jahiliyah. Masih banyak aneka ragam lainnya, semoga Allah memudahkan kami memaparkan berbagai contoh yang lainnya pada tulisan-tulisan berikutnya.

Sisa Peninggalan Masa Jahiliyah

Jika kita mengamati kondisi umat di masa ini, ternyata berbagai keyakinan dan tradisi syirik itu masih ada di sekitar kita. Meskipun tampil dalam wujud yang berbeda, namun hakikatnya tetap sama, yaitu menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Contohnya, masih meyakini adanya penunggu yang menguasai suatu daerah tertentu seperti, penunggu laut selatan, gunung berapi, goa, sungai dan lain sebagainya. Berbagai tradisi yang dianggap warisan nenek moyang terkait hal itu juga masih kerap dikerjakan. Padahal Allah telah menegaskan,

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطًا

“Hanya milik Allah segala yang di langit dan bumi. Allah menguasai segala sesuatu.” (an-Nisa’: 126)

Demikian pula masih dirayakan hari kelahiran Isa putera Maryam yang diyakini sebagian kaum Nasrani sebagai anak Tuhan. Juga sekian tradisi dan keyakinan yang serupa lainnya.

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita beserta keluarga dari berbagai tradisi kesyirikan tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan sebuah doa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

Allaahummaa innii ‘auudzu bika an usyrika bika wa ana a’lam. wa astaghfiruka lima laa a’lam.

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik terhadapmu dalam keadaan aku mengetahuinya, dan aku meminta ampunan-Mu terhadap kesyirikan yang tidak aku ketahui.” (HR. Bukhari di dalam al-Adabul Mufrad, shahih).

FAI

1 Disadur dari Mukhtashar Sirat ar-Rasul, tulisan Muhammad at-Tamimi an-Najdi (w. 1206 H)

2 Unta Sa’ibah adalah unta yang dibiarkan, tidak boleh ditunggangi, tidak boleh dimanfaatkan, dan dibiarkan makan rumput sesukanya karena suatu keyakinan tertentu. (Tafsir ath-Thabari [2/333])

3 Lihat Tafsir al-Baghawi (4/249), al-Qurthubi (17/100) dan ad-Dur al-Mantsur karya as-Suyuthi (7/653).

4 KBBI, Tim Pustaka Gama

5 Tafsir ath-Thabari (23/656)

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait