oleh

Mengenal Allah Tuhan Semesta Alam

Tidak sedikit dari umat manusia yang masih terbesit di benak mereka pertanyaan,

Siapakah Tuhan kita?

Siapa sesembahan kita?

Dan selainnya dari berbagai pertanyaan yang mungkin terbesit di hati atau bahkan terlontar dari lisan mereka.

Maka melalui tulisan ringkas ini, kami hendak menerangkan sedikit pembahasan mengenai, “apa makna Tuhan?”, “Siapakah yang pantas dituhankan?” dan beberapa pertanyaan yang semisal dengan itu.

Makna Tuhan

Apa Makna Tuhan?

Menurut KBBI, Tuhan adalah sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dan sebagainya.

Dari definisi di atas dapat kita simpulkan bahwa dalam kata Tuhan atau Ilah, setidaknya ada dua makna yang dominan, pertama: Tuhan adalah yang berkuasa dan memiliki sifat-sifat kesempurnaan; kedua: Tuhan adalah yang pantas untuk disembah dan diibadahi. Makna pertama sering dikenal dengan rububiyah, sedangakan makna yang kedua sering dikenal dengan uluhiyah.

Adapun menurut istilah syariat, kata yang tepat untuk menggambarkan makna Tuhan di atas adalah “ilah” yang bermakna sesembahan. Menurut pakar bahasa arab, asma “Allah” berasal dari kata al-Ilah. Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Dialah dzat yang diibadahi oleh segala sesuatu dan disembah oleh seluruh makhluk.”1

Bagaimana Kita Mengenal Allah Sebagai Tuhan Kita?

Sebenarnya setiap insan telah tertanam di dalam sanubari mereka pengetahuan tentang Sang Pencipta. Sebab seluruh manusia yang terlahir di muka bumi masih berada di atas fitrah yang suci. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan hal ini, beliau bersabda,

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ البَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ

“Tidak ada satu bayi pun yang terlahir melainkan di atas fitrah. Namun kedua orangtuanya yang menjadikannya beragama Yahudi, Nasrani dan Majusi. Seperti hewan ternak yang melahirkan anaknya, apakah kalian dapati ada yang telinganya terpotong?” (HR. Bukhari no. 1358 di dalam shahihnya, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Makna fitrah pada hadits tersebut adalah kondisi hati yang bersih dan siap menerima kebenaran. Seandainya tidak ada kotoran yang masuk tentu hati itu tetap pada kondisi semula.2

Tak hanya itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah menyediakan berbagai ayat-Nya (baca: tanda kebesaran-Nya) agar manusia dapat merenunginya. Dengan perenungan itulah manusia akan mengenal dan menyadari keberadaan Allah,Tuhan semesta alam.

Di antara tanda kebesaran-Nya seperti malam dan siang yang silih berganti, serta matahari dan bulan beredar pada orbitnya masing –masing tanpa adanya benturan dan tabrakan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di dalam al-Quran,

وَمِنْ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيْلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا۟ لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَٱسْجُدُوا۟ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ ۝٣٧

“Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya adalah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kalian bersujud (menyembah) kepada matahari atau bulan, (akan tetapi) sujudlah (sembahlah) kepada Allah yang menciptakan itu semua, jika kalian benar-benar beribadah (menghamba) kepada-Nya.” (Fushilat: 37)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَٱلشَّمْسُ تَجْرِى لِمُسْتَقَرٍّۢ لَّهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْعَلِيمِ ۝٣٨

‘’dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Allah yang Maha Perkasa, Maha mengetahui’’ (Yasin: 38)

Termasuk tanda kebesaran-Nya adanya langit yang menjadi atap bagi makhluk di bumi. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَجَعَلْنَا السَّمَاءَ سَقْفًا مَحْفُوظًا وَهُمْ عَنْ آيَاتِهَا مُعْرِضُونَ

‘’dan kami jadikan langit sebagai atap yang terpelihara. Namun mereka tetap berpaling dari tanda-tanda kebesaran-Nya.’’ (al- Anbiya’: 32)

Juga keberadaan bumi beserta isinya dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya. Firman-Nya ‘Azza wa Jalla,

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍۢ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُۥ حَثِيثًۭا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ ۝٥٤

‘’Sungguh Tuhan kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. Dia menciptakan matahari, bulan dan bintang-bintang yang tunduk dengan perintah-Nya. Segala ciptaan dan perintah hanyalah milik-Nya. Maha suci Allah, Tuhan seluruh alam.‘’ (al-A’raf: 54)

Siapa yang Kita Sembah?

Telah kita bahas sebelumnya bahwa pada kata Tuhan atau ilah, terkandung padanya makna keberhakan untuk disembah. Sebab tidaklah mungkin kita memberikan penghambaan dan pengagungan yang tertinggi melainkan kepada Dzat yang memiliki kesempurnaan dari segala sisi. Hal ini sebagaimana yang tertera di dalam al-Quran, Allah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ۝٢١

ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ فِرَٰشًۭا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءًۭ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۭ فَأَخْرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزْقًۭا لَّكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا۟ لِلَّهِ أَندَادًۭا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ ۝٢٢

‘’Wahai sekalian manusia beribadahlah untuk Tuhan yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. Dialah (Allah) yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan, langit sebagai atap, dan menurunkan air hujan dari langit. Dengan hujan itu, Allah ciptakan buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui.’’ (al-Baqarah: 21-22)

Al-Imam Ibnu Kastir rahimahullah berkata di dalam tafsirnya,

الخالق لهذه الأشياء هو المستحق للعبادة

‘’Pencipta alam ini Dialah dzat yang berhak diibadahi.’’

Tidak ada yang mampu mencipta, menumbuhkan, menghidupkan dan mematikan kecuali Allah ‘Azza wa Jalla semata. Maka tidak ada yang berhak untuk disembah dan diibadahi melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. AHS


1 Lihat Fathul Majid, karya Abdurrahman bin Hasan (hlm. 20), cet. Dar al-Hadits

2 Lihat adz-Dzari’ah (2/257) karya Dr. Rabi’ bin Hadi.

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait