Syariat Islam adalah syariat yang agung, mulia, dan penuh dengan kebaikan, kemudahan, serta keindahan. Salah satu yang menunjukkan keindahan Islam adalah ketika syariat berupa perintah dan larangan diterapkan secara bertahap. Hikmahnya adalah agar para pemeluk agama Islam lebih mudah menerima dan melaksanakan syariat tersebut. Di antara contohnya adalah proses pengharaman khamar (minuman keras). Larangan ini dilakukan secara bertahap.
Pengharaman Khamar Secara Bertahap
Allah Ta’ala mengharamkan umat Islam minum khamr (minuman keras) tidak secara langsung namun bertahap, seperti yang tertulis dalam judul artikel ini.
-
Tahap Pertama
Tahap pertama Allah membiarkan dan tidak melarang para sahabat meminum khamar di Makkah begitu juga ketika di Madinah. Pada awalnya mereka tetap diperbolehkan untuk meminum khamar. Khamar pada waktu itu memiliki posisi yang sangat penting bagi orang Arab. Mereka melantunkan syair-syair sambil meminum khamar. Bahkan mereka meminum khamar saat sedang mendapati hal yang menakjubkan, mengalami peristiwa aneh, dan ketika musibah melanda.
Di antara kebijaksanaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia menunda pengharaman khamar. Karena apabila larangan ini diterapkan di awal munculnya Islam, maka mungkin akan banyak orang enggan masuk Islam. Maka di antara kasih sayang Allah, Dia menunda pelarangan khamar. Sehingga manusia masuk Islam, kaum muslimin pun menjadi banyak, mereka lebih mengenal Islam, dan merasa tenang dengan keislamannya.
-
Tahap Kedua: Mudharat Khamar Lebih Besar daripada Manfaatnya
Setelah itu barulah datang larangan meminum khamar. Para sahabat pun akhirnya meninggalkannya dengan lapang dada dan penuh kesadaran. Awalnya, Allah menjelaskan dengan firman-Nya,
يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡخَمۡرِ وَٱلۡمَيۡسِرِۖ قُلۡ فِيهِمَآ إِثۡمٌ كَبِيرٌ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَإِثۡمُهُمَآ أَكۡبَرُ مِن نَّفۡعِهِمَاۗ
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan perjudian. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Akan tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.'” [Al-Baqarah: 219]
Dengan ayat ini, mulai tertanam dalam hati mereka bahwa khamar itu haram, dosanya jauh lebih besar daripada manfaatnya, dan perbuatan tersebut semestinya untuk ditinggalkan.
Kendati demikian, para sahabat belum mau meninggalkannya begitu saja. Mereka menginginkan ayat (dalil) yang lebih jelas dan gamblang. Ini disebabkan karena kuatnya kecintaan dan ketergantungan mereka pada khamar. Bahkan Umar bin khattab radhiyallahu anhu berkata: “Ya Allah, jelaskanlah kepada kami hukum khamar dengan penjelasan yang gamblang.”
Namun setidaknya ayat ini telah membuat hati mereka siap untuk menerima larangan yang lebih tegas. Karena mereka sudah memahami bahwa dosa minum khamar lebih besar dari manfaatnya.
Sekelompok para ulama menyebutkan bahwa di antara manfaat khamar adalah keuntungan yang didapat dari jual beli khamar. Demikian pula harta yang didapat oleh sebagian manusia dari perjudian, padahal padanya terkandung kejelekan yang besar. Kadang seseorang menjadi kaya dari judi tersebut, namun kadang pula justru jatuh miskin. Kadang dia menang, kadang pula kalah. Demikian pula para peminum khamar, mereka telah menyaksikan sendiri akibatnya berupa seringnya terjadi pertengkaran dan perkelahian, bahkan saling menuduh dan membunuh di antara mereka karena hilangnya kesadaran mereka (mabuk) akibat meminum khamar. Hal ini membuat jiwa mereka semakin siap untuk menerima larangan minum khamar.
-
Tahapan Ketiga: Diharamkan Ketika Salat
Berikutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan mereka minum khamr saat hendak salat. Allah berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَقۡرَبُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمۡ سُكَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعۡلَمُواْ مَا تَقُولُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendekati salat sementara kalian dalam keadaan mabuk, hingga kalian mengetahui apa yang kalian ucapkan.” [An-Nisa’: 43]
Telah kita ketahui dampak buruk minum khamar, hingga Allah pun menurunkan ayat ini. Sebagian para sahabat ada yang salah membaca ayat dalam surat al-Kafirun disebabkan mabuk. Tidak bisa mengucapkan ayat لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ “Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah.” Tetapi membaca أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ “Aku menyembah apa yang kalian sembah.” Padahal ia akan kafir jika membacanya dengan sengaja, karena mereka (musyrikin) menyembah berhala, pepohonan, dan bebatuan. Namun ia mengucapkannya dalam kondisi tidak sadar (mabuk).
Maka di antara bentuk kasih sayang Allah, Dia melarang para sahabat minum khamar ketika hendak salat agar salat mereka tidak terdampak dengan efek minum khamar. Dan ini juga sebagai tahapan berikutnya yang semakin memantapkan kalbu mereka untuk menerima larangan yang lebih tegas.
-
Tahap Keempat: Pengharaman Secara Mutlak
Setelah akal dan hati mereka siap untuk menerima hukum Allah, setelah mereka telah mengenal agama Allah dan memahami hakikat iman serta merasakan manisnya iman, maka Allah Ta’ala menurunkan ayat yang mengharamkan khamar dengan tegas. Mereka pun bersegera meninggalkan dan menjauhi khamar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡخَمۡرُ وَٱلۡمَيۡسِرُ وَٱلۡأَنصَابُ وَٱلۡأَزۡلَٰمُ رِجۡس ٌمِّنۡ عَمَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَٱجۡتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, perjudian, berhala-berhala, dan azlam (panah undian) adalah kotoran dari perbuatan setan. Maka jauhilah semuanya, agar kalian beruntung.” [Al-Ma’idah: 90]
Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengaitkan keberuntungan dengan menjauhi khamar, perjudian, berhala, dan azlam (panah undian). Allah juga menegaskan bahwa semua itu adalah kotoran (rijs) yang berasal dari perbuatan setan, dan bahwa semua itu adalah kemungkaran, kebatilan, dan kesyirikan. Allah Ta’ala memerintahkan untuk menjauhinya agar mereka memperoleh kebahagiaan.
Berbagai Efek Negatif dari Khamar
Kemudian, Allah Azza wa Jalla menjelaskan kerusakan dan bahaya yang ditimbulkan oleh khamar dan perjudian, serta hikmah-hikmah di balik larangannya. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَن يُوقِعَ بَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةَ وَٱلۡبَغۡضَآءَ فِي ٱلۡخَمۡرِ وَٱلۡمَيۡسِرِ وَيَصُدَّكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَعَنِ ٱلصَّلَوٰةِۖ فَهَلۡ أَنتُم مُّنتَهُونَ
“Sesungguhnya setan bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian melalui khamr dan perjudian, serta menghalangi kalian dari mengingat Allah dan dari salat. Maka, apakah kalian akan berhenti?” [Al-Ma’idah: 91]
Setelah ayat ini turun, umat Islam pun berhenti dari minum khamar. Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu anhu mengatakan, “Kami telah berhenti, kami telah berhenti.” Kaum muslimin dan para sahabat pun mengikuti beliau. Mereka meninggalkan khamar, tidak meminumnya lagi, dan membuang persediaan khamar yang masih mereka miliki. Sebagian besar mereka memiliki khamar yang terbuat dari kurma, anggur, dan selainnya. Mereka menyelamatkan diri dari bahaya khamar dan berperang melawan kebiasaan tersebut.
Ijma (konsensus) atas Pengharaman Khamar
Seluruh umat Islam sepakat bahwa khamar itu haram, baik para sahabat maupun generasi setelahnya. Dan itu termasuk perbuatan keji dan dosa besar. Para ulama sepakat bahwa khamar adalah haram dan termasuk dalam kategori dosa besar. Barangsiapa yang menganggapnya halal, maka ia telah kafir dan halal darah serta hartanya untuk kaum muslimin.
Ciri-ciri Khamar
Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya dari khamar. Apabila beliau ditanya tentangnya maka beliau bersabda,
كُلُّ شَرَابٍ أَسْكَرَ فَهُوَ حَرَامٌ
“Setiap minuman yang memabukkan maka hukumnya haram.” 1
كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ
“Setiap yang memabukkan adalah khamar, dan setiap yang memabukkan hukumnya haram.” 2
مَا أَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ
“Setiap yang memabukkan dengan takaran yang banyak, maka walaupun dengan takaran sedikit pun tetap haram (dikonsumsi).” 3
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan kepada mereka tentang definisi dan cirinya. Yaitu bahwa semua yang memabukkan, yakni yang mengubah akal (menghilangkan kesadaran), hukumnya adalah haram. Karena orang yang mabuk itu tidak tahu apa yang ia katakan.
Kalian telah mendengar apa yang telah para ulama sampaikan saat seminar, bahwa orang yang mabuk dianggap seperti orang gila. Sebagian orang bijak dari kalangan jahiliah enggan minum khamar karena bisa membuat gila. Sehingga mereka meninggalkannya karena mereka menyadari bahwa khamar akan mengakibatkan mereka gila dan hilang akal.
Kesimpulan
Intinya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan khamar bagi hamba-Nya karena adanya kejelekan, kerusakan besar, dan dampak buruk yang timbul darinya. Namun kebanyakan orang tidak memahami hal ini. Mereka justru memilih sesuatu yang merugikan mereka dan meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Seperti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan,
أَمۡ تَحۡسَبُ أَنَّ أَكۡثَرَهُمۡ يَسۡمَعُونَ أَوۡ يَعۡقِلُونَۚ إِنۡ هُمۡ إِلَّا كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّ سَبِيلًا
“Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka mendengarkan atau memahami? Mereka tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.” [Al-Furqan: 44]
Mereka lebih sesat daripada binatang ternak (unta, sapi, dan domba). Binatang-binatang ini kadang mengetahui arah menuju tempat gembalaannya dan bisa memberikan respon kepada pemiliknya. Adapun orang yang hilang akalnya karena khamr, lebih buruk kondisinya. Ia hanya merugikan dan tidak dapat memberi manfaat. Semoga Allah melindungi kita dari hal ini.
Bahayanya Orang yang Mabuk karena Khamar
Orang yang mabuk perlu diwaspadai tatkala berada di rumah, dan harus diberikan perhatian khusus. Mereka mungkin perlu dijaga dan diawasi agar tidak membahayakan orang lain. Sedangkan hewan seperti sapi, domba, atau unta yang ada di rumah tidak membahayakan apapun. Kau letakkan di pekarangan justru akan memberi manfaat. Namun orang gila pasti berbahaya dan mendatangkan petaka. Adapun orang mabuk sama seperti orang gila dan lebih buruk. Inilah salah satu alasan mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan khamar.
Khamar yang terbuat dari bahan apapun, baik dari gandum, kurma, anggur, madu, jagung, atau apa saja apabila bersifat memabukkan, maka hukumnya haram. Karena akan menimbulkan kerusakan dan keburukan.
Demikianlah keindahan Islam. Bertahap dalam memberikan perintah dan larangan agar para pemeluknya lebih mudah dalam menerima syariat-syariat Islam dengan lapang dada. Semoga ilmu yang kita dapatkan ini menjadi ilmu yang bermanfaat dan menumbuhkan kecintaan kepada agama Islam dengan sebab keindahan-keindahan yang terkandung di dalamnya. Aamiin. (ZDN/MPS/AAT)4
Dialih bahasakan dari transkrip audio Syaikh Bin Baz rahimahullah dengan penambahan subjudul.
Referensi:
- Al-Qur’anul karim
- Website binbaz.org.sa
- Shahih Bukhari karya Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhari rahimahullah (W. 256 H)
- Shahih Muslim karya Abul Hajjaj Muslim bin Hajjaj al-Qusayairi rahimahullah (W. 261 H)
- Sunan At-Tirmidzi karya Abu Isa Muhammad bin Isa at-Tirmidzi rahimahullah (W. 279 H)
- Sunan Abi Dawud karya Abu Dawud Sulaiman bin Asy’ats al-Azdi rahimahullah (W. 275 H)
Alih Bahasa: Muhammad Zidan Hibatillah
Footnotes
- HR. Al-Bukhari no.242 dan Muslim no. 2001
- HR. Muslim no. 2003 dan At-Tirmidzi no. 1861
- HR. At-Tirmidzi no. 1865 dan Abu Dawud no. 3681
-
Teks Arab
:الله جعل تحريم الخمر على أطوار كما سمعتم
الطور الأول
أقرهم عليها ولم يمنعهم منها في مكة المكرمة، وهكذا في المدينة في أول الأمر أقرهم على شرب الخمر، وكانت الخمر عند العرب لها شأن كبير، وكانوا ينشدون فيها الأشعار، وتقع لهم فيها العجائب والغرائب والبلايا، ومن حكمة الله أنه أخر تحريمها لأن كثيرًا من الناس لو حرمت في أول الأمر فربما امتنع من دخوله الإسلام من أجلها، فمن رحمة الله أن أخر تحريمها حتى دخل الناس في دين الله، وحتى كثر المسلمون، وحتى عرفوا الإسلام واطمأنوا إليه
الطور الثاني
ثم تطور تحريمها بعد ذلك حتى يدعها الناس عن قناعة وعن بصيرة. بين لهم أولا في قوله جل وعلا: يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا [البقرة:219]. فوقع في القلوب شيء من تحريمها، وأن إثمها أكبر، وأن ما كان بهذه المثابة فينبغي تركه. ثم إن الناس لم يتركوها لهذا وأرادوا أن ينزل فيها ما هو أوضح وأبين، وما ذاك إلا لشدة تعلقهم بها وابتلائهم بها، حتى كان عمر يقول: “اللهم بين لنا في الخمر بيانًا شافيًا“ ولكن هذه الآية مهدت للتحريم وأوجدت في القلوب …… التحريم القاطع؛ لأنهم علموا أن إثمها أكبر. وقد ذكر جمع من أهل العلم أن من منافعها ما يحصلون من التجارة فيها والأموال في بيعها، وما يحصل في القمار من الأموال الذي يحصل عليه بعض الناس مع ما فيه من الشر العظيم، فقد يصبح هذا تاجرًا غنيًا، وفي مرة أخرى يصبح فقيرًا معدمًا، تارة يغلب، وتارة يغلب، تارة غني، وتارة فقير، وهكذا أهل الخمر قد شاهدوا منها ما شاهدوا من النزاع الكثير والمخاصمات الكثيرة بينهم ورمي بعضهم بعضًا وقتل بعضهم بعضًا وسحل بعضهم بعضًا عند زوال العقول، فتهيأت النفوس لشيء من ذلك.
الطور الثالث
ثم حرم عليهم تناولها عند الصلاة فقال جل وعلا: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ [النساء:43] وعلمتم بعض ما ورد في ذلك، وما حصل بسبب الخمر، حتى أنزل الله هذه الآية، وأنه قرأ بعض الصحابة قوله جل وعلا: قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ [الكافرون:1]، فلم يستطع أن يقول: لا أعبد ما تعبدون، بل قال: أعبد ما تعبدون، لعدم حضور العقل، ومعلوم أن الإنسان لو قال: أعبد ما تعبدون عامدًا قاصدًا كفر بذلك؛ لأنهم يعبدون الأصنام والأشجار والأحجار، لكنه لعدم حضور عقله قال: أعبد ما تعبدون، فمن رحمة الله حرمها عليهم عند قرب الصلاة حتى يأتوها وهم سالمون منها، فكان هذا أيضًا تمهيدا لتحريمها التحريم البات، حتى تطمئن القلوب إلى تركها بالكلية، وبيان شرها وفسادها.
الطور الرابع
ثم أنزل الله فيه التحريم البات القاطع بعدما تهيأت العقول والقلوب لقبول حكم الله جل وعلا، وبعدما عرف الناس دين الله، وبعدما باشرت قلوبهم حقيقة الإيمان وذاقوا طعمه، فعند ذلك بادروا بتركها والإعراض عنها، وإتلاف ما عندهم منها لما أنزل الله قوله سبحانه: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [المائدة:90]، فعلق الفلاح باجتناب هذا الشيء الذي هو الخمر والميسر والأنصاب الأزلام، قرنها مع الأنصاب التي بها يشركون والأزلام التي بها يقسمون، وأخبر أنها جميعًا رجس، الخمر والميسر والأنصاب والأزلام كلها رجس، كلها خبيث، كله منكر، كله باطل، ومن عمل الشيطان، ثم قال: فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [المائدة:90]، فعلق الفلاح باجتناب هذه الأمور، ثم بين شيئًا من فسادها وشرها ومن الحكم في تحريمها فقال سبحانه: إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ [المائدة:91]، فانتهى المسلمون من ذلك، كان عمر يقول: انتهينا انتهينا، وتابعه المسلمون، وتابعه الصحابة، وتركوها، وانتهوا منها، وأمروا بإراقة ما عندهم من ذلك، وكان الغالب أن عندهم الخمر من التمر والبسر، وكانت العنب قليلة، وهكذا الأنواع الأخرى، فأسالوها كلها وسلموا من شرها، وعادوها وحاربوها.
إجماع العلماء على تحريم الخمر
وأجمع المسلمون على تحريمها، أجمع الصحابة ومن بعدهم على تحريمها، وأنها من المنكرات والكبائر، انعقد إجماع أهل العلم قاطبة من الصحابة ومن بعدهم على تحريمها، وأنها من المحرمات الخبيثة، ومن الكبائر المنكرة، وأن من استحلها صار كافرًا، من استحلها وزعم أنها حلال فهو كافر بالله حلال الدم والمال عند أهل الإسلام، وقال فيها النبي ما قال عليه الصلاة والسلام وهو يحذر منها بعد ذلك عليه الصلاة والسلام، وإذا سئل عن شيء من ذلك قال: كل شراب أسكر فهو حرام كل مسكر خمر وكل مسكر حرام ما أسكر كثيره فقليله حرام بين لهم ﷺ حدها وضابطها، وأن كل ما أسكر يعني ما غير العقل فهو حرام؛ لأن السكران لا يعلم ما يقول.
وقد سمعتم ما سمعتم في ندوة المشايخ السكران مجنون، وبعض العقلاء من الجاهلية أبوها لأنها جنون، ولهذا أبوا أن يشربوها؛ لأنها تجعلهم مجانين، فلهذا تركوها من أجل ما عرفوا بعقولهم أنها تجلب لهم الجنون وذهاب العقول.
الخلاصة
فالمقصود أن الله جل وعلا حرمها على عباده لما فيها من الشر عليهم، والفساد الكبير، والعواقب الوخيمة، ولكن أكثر الخلق لا يعقل يتعاطى ما يضره ويترك ما ينفعه كما قال الله : أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا [الفرقان: 44]…… بل أضل من الأنعام، والأنعام تعرفونها هي الإبل والبقر والغنم، بعض الناس أضل منها، هي قد تهتدي إلى مراعيها وإلى مصالحها وتجيب صاحبها، وأما من ذهب عقله فهو أشر منها يضر ولا ينفع، نسأل الله العافية ……، السكران لا يؤمن في البيت، بل يحتاط منه، وقد يربط ويضبط حتى لا يضر الناس، والبهيمة في بيتك بقرة أو غنم أو إبل لا تضر شيئا، تجعل في حوش لها وتنفع ولا تضر، أما المجانين فكلهم ضرر –نعوذ بالله–، كلهم بلاء، وصاحب الخمر السكران مثلهم وأشر –نعوذ بالله–، فلهذا حرم الله هذا الشراب، وهذه الخمرة من أي جنس كانت من شعير من تمر من عنب من عسل من ذرة من أي شيء كانت كل ما حصل فيه هذا الوصف وأنه خمر فهو حرام من أي جنس كان، ومن أي طعام كان، ومن أي مادة كان؛ لأن الفساد حاصل بذلك، والشر حاصل بذلك.
