Sudah merupakan sunnatullah (ketetapan Allah Ta’ala) bahwa manusia tidaklah luput dari yang namanya kesalahan. Dalam kehidupannya di dunia pastilah ia sering berbuat dosa. Namun Allah Ta’ala yang di antara namanya adalah ar-Rahman tidaklah meninggalkan manusia dalam keadaan demikian.
Bahkan dengan rahmat-Nya, Allah Ta’ala mensyariatkan berbagai amalan penghapus dosa yang bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Apa saja amalan tersebut, berikut ini rinciannya.
Taubat Nasuha, Salah Satu Amalan Penghapus Dosa
Dalam berbagai ayat, Allah Ta’ala telah memerintahkan para hamba-Nya untuk bertobat kepada-Nya. Maka seorang yang telah melakukan suatu dosa hendaknya ia bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha, karena taubat nasuha merupakan salah satu amalan penghapus dosa. Allah Ta’ala berkata,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah Ta’ala dengan tobat nasuha, mudah-mudahan Rabbmu menghapus dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam al-Jannah (Surga)” (at-Tahrim: 8).
Berkata para ulama ketika menjelaskan makna “taubat nasuha”,
التَّوْبَةُ النَّصُوحُ هُوَ أَنْ يُقلعَ عَنِ الذَّنْبِ فِي الْحَاضِرِ، ويندمَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْهُ فِي الْمَاضِي، ويعزِم عَلَى أَلَّا يَفْعَلَ فِي الْمُسْتَقْبَلِ.
“Taubat nasuha adalah melepaskan diri dari dosa yang sedang dikerjakan, menyesali dosa yang telah lalu, serta bertekad untuk tidak mengulanginya lagi pada waktu yang akan datang”1
Di Antara Amalan Penghapus Dosa Lainnya
Secara umum seluruh amalan kebaikan akan menghapuskan dosa-dosa yang telah dikerjakan. Hal ini sebagaimana perkataan Allah Ta’ala,
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan” (Hud: 114)
Berkata Imam Ibnu Katsir asy-Syafi’i rahimahullah tatkala menjelaskan ayat ini,
إِنَّ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ يُكَفِّرُ الذُّنُوبَ السَّالِفَةَ
“Sesungguhnya perbuatan baik itu akan menghapuskan dosa yang telah lalu”2
Namun di sana terdapat beberapa amalan yang disebutkan secara khusus merupakan amalan penghapus dosa. Di antaranya,
Shalat Lima Waktu
Shalat lima waktu merupakan salah satu amalan penghapus dosa. Banyak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan hal tersebut. Di antaranya sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata,
«أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟» قَالُوا: لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ، قَالَ: «فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا»
“Apa pandangan kalian jika terdapat sebuah sungai di depan pintu salah seorang dari kalian yang ia mandi darinya lima kali dalam sehari, apakah tersisa kotoran di tubuhnya?” Para sahabat menjawab “Tidak tersisa kotoran pada tubuhnya sama sekali” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “Itulah permisalan shalat lima waktu. Allah hapuskan dengannya berbagai dosa.”3
Berhaji ke Baitullah (Rumah Allah) Ka’bah
Ibadah haji merupakan suatu amalan yang mulia, bahkan haji merupakan rukun Islam yang kelima. Ibadah yang satu ini memiliki berbagai keutamaan. Di antara keutamaannya adalah ia merupakan salah satu amalan penghapus dosa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
«مَنْ حَجَّ هَذَا البَيْتَ، فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ»
“Barangsiapa yang berhaji menuju baitullah Ka’bah, kemudian ia tidak melakukan kekejian serta kefasikan. Maka ia kembali sebagaimana tatkala ia dilahirkan ibunya (yaitu, tanpa membawa dosa sedikit pun)”4
Berbakti kepada Kedua Orang Tua
Berbakti kepada kedua orang tua merupakan amalan yang amat sangat mulia. Seorang yang berbakti kepada orang tuanya ia akan memperoleh banyak keutamaan. Di antara keutamaan tersebut adalah akan terhapuskan dosa-dosa yang ia lakukan. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma,
أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي أَصَبْتُ ذَنْبًا عَظِيمًا فَهَلْ لِي تَوْبَةٌ؟ قَالَ: هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ؟ قَالَ: لاَ، قَالَ: هَلْ لَكَ مِنْ خَالَةٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَبِرَّهَا.
Suatu ketika ada seorang laki-laki yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia berkata,
“Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya aku tertimpa dosa yang sangat besar. Apakah ada taubat untukku?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya “Apakah engkau masih memiliki ibu?” Lelaki tersebut menjawab “Tidak”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya “Apakah engkau memiliki bibi dari jalur ibu?” Lelaki tersebut menjawab “Iya” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Berbaktilah engkau kepadanya”.5
Melakukan Hijrah
Salah satu hal yang bisa kita lakukan untuk menghapuskan dosa-dosa adalah melakukan hijrah. Hijrah yang maknanya berpindah dari negeri kekufuran menuju negeri Islam merupakan salah satu amalan yang disebutkan secara khusus bahwasanya ia termasuk amalan penghapus dosa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ, وَإِنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا, وَإِنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ
“Sesungguhnya keislaman menghancurkan dosa sebelumnya, hijroh menghancurkan dosa sebelumnya, begitu pula haji menghancurkan dosa sebelumnya”6
Menyempurnakan Wudhu, Melangkahkan Kaki Menuju Masjid, dan Menunggu Shalat Setelah Selesai Suatu Shalat
Di antara amalan yang disebutkan secara khusus merupakan amalan penghapus dosa adalah ketiga amalan ini. Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam sahihnya dari sahabat yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟» قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ»
“Maukah aku tunjukkan kepada kalian suatu amalan yang dengannya Allah Ta’ala hapuskan dosa-dosa dan Allah Ta’ala angkat dengannya derajat?” Para sahabat menjawab “Tentu wahai Rasulullah” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Menyempurnakan wudhu pada waktu yang tidak disukai, banyak melangkahkan kaki menuju masjid dan menunggu shalat setelah selesainya suatu shalat”7
Menangisi Perbuatan Dosa
Berkata Imam Malik bin Dinar rahimahullah,
الْبُكَاءُ عَلَى الْخَطِيئَةِ يَحُطُّ الْخَطَايَا كَمَا يَحُطُّ الرِّيحُ الْوَرَقَ الْيَابِسَ
”Menangisi dosa akan menggugurkan dosa sebagaimana angin menggugurkan dedaunan.”8
Perbedaan Para Ulama Terkait Amalan Penghapus Dosa
Para Ulama berbeda pendapat terkait amalan penghapus dosa di atas dan berbagai amalan shalih lainnya. Apakah amalan-amalan tersebut menghapuskan dosa besar dan kecil atau hanya menghapuskan dosa kecil saja.
Dalam permasalahan ini terdapat dua pendapat di kalangan ulama,
Pendapat Pertama
Amalan kebaikan tidaklah menghapuskan dosa kecuali dosa kecil saja. Adapun dosa besar hanyalah dihapuskan dengan taubat. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama.9
Di antara alasan pendapat ini ialah,
-
Allah Ta’ala telah memerintahkan para hamba-Nya untuk bertaubat dan menggolongkan orang yang tidak bertaubat termasuk orang zalim.10
Allah Ta’ala berkata,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kalian kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (at-Tahrim: 8)
وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al-Hujurat: 11)
-
Jika dosa besar terhapuskan hanya dengan mengerjakan amalan wajib, maka tidak akan tersisa dosa pada seseorang yang bisa menyebabkan ia masuk neraka jika ia melakukan berbagai amalan wajib. Ini menyerupai keyakinan kaum Murji’ah dan tentunya ini merupakan keyakinan yang salah.11
-
Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
«الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ»
“Shalat lima waktu, hari jum’at ke jum’at berikutnya dan bulan Ramadan ke Ramadan berikutnya merupakan penghapus dosa antara hal-hal tersebut selama dosa-dosa besar ditinggalkan.”12
Berkata Imam Ibnu Rajab rahimahullah,
وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْكَبَائِرَ لَا تُكَفِّرُهَا هَذِهِ الْفَرَائِضُ
“Dan ini menunjukkan bahwa dosa besar tidak dihapuskan dengan mengerjakan amalan-amalan wajib.”13
Pendapat Kedua
Perbuatan dosa, kecil maupun besar, bisa terhapuskan hanya dengan melakukan amalan shalih. Ini merupakan pendapat sekelompok ahli hadits. Di antaranya Ibnul Mundzir dan Ibnu Hazm adz-Dzahiri rahimahumallah.14
Para ulama yang berpendapat dengan pendapat ini berpegangan dengan makna yang tampak dari firman Allah Ta’ala,
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu.” (an-Nisa: 31)
Yang benar dalam permasalah ini adalah pendapat jumhur ulama, dengan dalil-dalil yang telah disebutkan di atas. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Imam Ibnu Rajab al Hanbali rahimahullah,
وَالصَّحِيحُ قَوْلُ الْجُمْهُورِ: أَنَّ الْكَبَائِرَ لَا تُكَفَّرُ بِدُونِ التَّوْبَةِ
“Pendapat yang benar adalah pendapat mayoritas para ulama, yaitu bahwasanya dosa besar tidak terhapuskan tanpa adanya taubat.”15
Kesimpulannya, amalan yang disebutkan secara khusus dan amalan salih lainnya merupakan amalan penghapus dosa kecil saja. Sedangkan dosa besar tidaklah terhapuskan kecuali dengan taubat sebagaimana telah dipaparkan di atas. Wallahu a’lam. ARM-MPS/AAK
Penulis: Ahmad Rifqi Musyaffa’
Referensi:
-
Tafsir al-Qur’an al-Adzim karya Imam Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi (W. 774 H) rahimahullah.
-
Jami’ul ‘Ulum wa al Hikam Karya Imam Zainudin Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab bin al Hasan al Hanbali (W. 795H) rahimahullah.
-
Sahih at-Targhib wa at-Tarhib karya Imam Muhammad Nashiruddin bin al-Haj Nuh (1332 – 1420 H / 1914 – 1999 M) rahimahullah.
1 Lihat Tafsir al Qur’an al Adzim (8/169).
2 Lihat Tafsir al Qur’an al Adzim (4/355).
3 HR. al Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667 di dalam shahih keduanya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.
4 HR. al-Bukhari no. 1819 dan Muslim no. 1350 di shahih keduanya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.
5 HR. at-Tirmidzi no.1904 dan dinyatakan sahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin di dalam Sahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 2504
6 HR. Muslim no.121 di dalam shahihnya.
7 HR. Muslim no.251 di dalam shahihnya.
8 Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam hlm.424.
9 Lihat Jami’ul ‘Ulum wa al Hikam hlm. 429.
الصَّحِيحُ قَوْلُ الْجُمْهُورِ: أَنَّ الْكَبَائِرَ لَا تُكَفَّرُ بِدُونِ التَّوْبَةِ
10 Lihat Jami’ul ‘Ulum wa al Hikam hlm. 425.
لِأَنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْعِبَادَ بِالتَّوْبَةِ، وَجَعَلَ مَنْ لَمْ يَتُبْ ظَالِمًا
11 Lihat Jami’ul ‘Ulum wa al Hikam hlm. 426
فَلَوْ كُفِّرَتِ الْكَبَائِرُ بِفِعْلِ الْفَرَائِضِ، لَمْ يَبْقَ لِأَحَدٍ ذَنْبٌ يَدْخُلُ بِهِ النَّارَ إِذَا أَتَى بِالْفَرَائِضِ، وَهَذَا يُشْبِهُ قَوْلَ الْمُرْجِئَةِ وَهُوَ بَاطِلٌ
12 HR. Muslim no.233 di dalam shahihnya.
13 Lihat Jami’ul ‘Ulum wa al Hikam hlm. 426
14 Lihat Jami’ul ‘Ulum wa al Hikam hlm. 428
15 Lihat Jami’ul ‘Ulum wa al Hikam hlm. 429.
