oleh

Kenapa Doaku Tidak Dikabulkan

Fatwa no. 19219: Kenapa Doaku Tidak Dikabulkan?

Pertanyaan:

Mengapa seseorang berdoa namun tidak kunjung dikabulkan ?

Jawaban:

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya, menghasungnya dan berjanji untuk mengabulkanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ}

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan (mengabulkan) bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”(Ghafir: 60)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

{ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً}

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut.”(al-A’raf: 55)
dan firman-Nya yang lain

{قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلا دُعَاؤُكُمْ}

“Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadahmu.”(al-Furqan: 77)

Akan tetapi, terkadang Allah menunda pengabulan doa seorang hamba karena sebuah hikmah yang Allah kehendaki, dan sebuah kemaslahatan untuk hamba-Nya. Terkadang pula, Allah memberinya suatu hal yang lebih baik dari yang ia minta. Hal ini berdasarkan sebuah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

ما من عبد يدعو الله بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعة رحم إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث: إما أن تعجل له دعوته في الدنيا، وإما أن تؤجل له في الآخرة، وإما أن يصرف عنه من الشر مثل ذلك قالوا: يا رسول الله: إذا نكثر، قال: “الله أكثر 

“Tidaklah salah seorang hamba berdoa kepada Allah dengan doa yang tidak mengandung sebuah dosa, atau pemutusan hubungan silaturrahim melainkan Allah akan memberikan kepadanya satu dari tiga hal: Allah menyegerakan pengabulan doanya di dunia (doanya segera dikabulkan oleh Allah untuknya di dunia), atau Allah tunda pengabulannya (menyimpannya) untuk di akhirat kelak, atau Allah akan menghilangkan darinya sebuah kejelekan yang semisal dengan doanya.” Para shahabat berkata,”Kalau begitu kita memperbanyak (dalam berdoa) wahai Rasulullah!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah lebih banyak lagi (kemurahannya-penj)”.(HR. Ahmad no. 11133, dan selainnya, hasan shahih)

Akan tetapi, mungkin saja penghalang dari pengabulan doanya berasal dari orang berdoa itu sendiri (faktor internal). Misalnya, doa tersebut mengandung sebuah dosa atau pemutusan hubungan silaturahmi, atau dia melampaui batas dalam meminta, atau dia (terbiasa) makan makanan haram, dan sebagainya.

Maka sepantasnya bagi seorang hamba, dia berdoa dengan penuh keikhlasan kepada Allah dalam doanya, menjauhi sebab-sebab yang dapat menghalanginya dari terkabulnya doa dan memilih waktu-waktu mustajab dalam berdoa, seperti pada sepertiga malam yang terakhir, antara adzan dan iqamah, dan pada hari Jum’at, karena terdapat sebuah hadits bahwa di dalamnya ada satu waktu yang tidaklah seseorang hamba meminta kepada Allah sesuatu (pada waktu tersebut), melainkan Allah akan mengabulkan permintaannya.1

Demikian pula ketika sujud saat shalat, berdasarkan sebuah hadits,

أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد فأكثروا الدعاء

“Posisi hamba yang paling dekat dengan Rabb-Nya adalah ketika bersujud, maka perbanyaklah doa padanya.”(HR. Muslim no. 215, dan selainnya)

Kemudian (diantara waktu mustajab adalah) doa seseorang untuk kebaikan saudaranya dengan tersembunyi (tanpa sepengetahuannya), doanya seorang yang sedang berpuasa atau dalam perjalanan, doa orang tua untuk kebaikan anaknya, atau yang semisalnya.

Dan sepantasnya bagi seorang hamba mengulang-ulang permintaannya kepada Rabb-Nya, dan memperbanyak doa kepada-Nya. Mudah-mudahan Allah mengabulkan doanya.

Doa memiliki keutamaan yang besar. Sekiranya tidak ada pada doa tersebut melainkan sebagai bentuk tunduk dan merendahkan diri kepada Allah, menampakkan rasa butuh kepada-Nya, melepaskan diri dari segala daya dan kekuatan, memberikan sanjungan dan pujian kepada Allah serta menyandarkan segala kemurahan dan kemuliaan hanya kepada-Nya saja, niscaya itu semua lebih baik dari apa yang dia minta. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«الدعاء هو العبادة»

“Doa adalah ibadah”.

[HR. At Tirmidzi no. 2969, 3247, 3372 dan berkata: “Hasan shahih’, juga diriwayatkan oleh Abu Dawud no.1479, an-Nasa’i dan Ibnu Majah no. 3828 dalam kitab ‘Sunan’ mereka, shahih]

Hanya kepada Alloh kita memohon taufik. Dan semoga salawat serta salam tertuang kepada Nabi kita, keluarga dan para sahabat beliau.

[Fatawa Lajnah Daimah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta’ no. 19219]

~HN~

السؤال الأول من الفتوى رقم (19219)

س 1: ما السر في أن الإنسان يدعو فلا يستجاب له؟

ج 1: الله سبحانه أمر بالدعاء وحض عليه، ووعد بالإجابة، فقال: {وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ} وقال تعالى: {ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً} وقال تعالى: {قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلا دُعَاؤُكُمْ} ولكن قد يؤخر الله الإجابة لحكمة يريدها الله، ومصلحة لعبده، وقد يعطيه الله خيرا مما طلب لما ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: «ما من عبد يدعو الله بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعة رحم إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث: إما أن تعجل له دعوته في الدنيا، وإما أن تؤجل له في الآخرة، وإما أن يصرف عنه من الشر مثل ذلك قالوا: يا رسول الله: إذا نكثر، قال: “الله أكثر »

وقد يكون المانع من الإجابة من ذات الداعي نفسه من كونه أتى في دعائه بإثم أو قطيعة رحم أو اعتداء في السؤال أو أكل حرام ونحو ذلك، فينبغي للداعي أن يخلص لله في دعائه ويبتعد عن الأسباب التي تحول بينه وبين الإجابة، وأن يتحرى أوقات الإجابة، كثلث الليل الأخير، وبين الأذان والإقامة، ويوم الجمعة، فقد ورد أن فيها ساعة لا يوافقها عبد يسأل الله شيئا إلا أعطاه الله إياه، وفي حالة السجود في الصلاةلحديث: “أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد فأكثروا الدعاءودعوة الأخ لأخيه بظهر الغيب، ودعوة الصائم والمسافر والوالد على ولده ونحو ذلك، وينبغي أن يلح العبد على ربه في مسألته، ويكثر الدعاء لعل الله أن يستجيب لدعائه، فالدعاء له فضل كبير، ، ولو لم يكن فيه إلا الخضوع والذل لله تعالى، وإظهار الافتقار إليه، والتبرؤ من الحول والقوة، والثناء على الله، وإضافة الجود والكرم إليه، لكان في ذلك خير مما طلب، ولذلك قال الرسول صلى الله عليه وسلم -: «الدعاء هو العبادة » أخرجه الإمام الترمذي، وقال: حسن صحيح، وأخرجه أبو داود والنسائي وابن ماجه في (سننهم) .

وبالله التوفيق

وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.


1 Lafadz haditsnya

إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِم يُصَلِّي يسْأَل اللهَ خَيْرًا إِلَّا أعطَاهُ إِيَّاه

Sesungguhnya di hari Jum’at itu ada suatu waktu yang tidaklah waktu tersebut bertepatan dengan seorang muslim yang sedang melaksanakan shalat, lalu meminta kepada Allah suatu kebaikan, kecuali pasti Allah akan mengabulkannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Hadits yang menunjukkan bahwa itu di sore hari sebelum matahari tenggelam adalah,

إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيهَا خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَهِيَ بَعْدَ الْعَصْرِ

“Sesungguhnya di hari Jum’at itu ada suatu waktu yang tidaklah waktu tersebut bertepatan dengan seorang muslim yang meminta kepada Allah suatu kebaikan pada waktu tersebut, kecuali pasti Allah akan mengabulkannya, dan waktunya adalah setelah shalat Ashar.” (HR. Ahmad no. 7688, shahih)

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait