oleh

Jawaban Ulama atas Beberapa Pertanyaan tentang Niat Shalat

-Fikih-6,436 views

Niat merupakan salah satu perkara yang paling penting dan agung dalam ibadah shalat. Bahkan niat yang benar menjadi salah satu sebab diterimanya shalat tersebut. Dengan niat ini pula, tegaklah keikhlasan dalam beribadah dan tujuan dari ibadah yang akan dikerjakan oleh seorang muslim.

Adapun definisi niat secara etimologi bahasa adalah “al-qashdu“, yaitu maksud atau tujuan melakukan sesuatu. Sedangkan makna niat secara terminologi syariat adalah:

العَزْمُ عَلَى فِعْلِ العِبَادَةِ تَقَرُّبًا إِلَى اللهِ تَعَالَى

“Sebuah tekad untuk melakukan suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.” 

Untuk melengkapi pemahaman terkait niat ini, berikut kami sajikan beberapa fatwa penting terkait praktik niat dalam shalat. Fatwa-fatwa ini mencakup hukum melafalkan niat, mengubah niat di tengah shalat, serta situasi-situasi khusus yang berkaitan dengan niat, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah rahimahullah.

Hukum Melafalkan Niat Shalat dan Wudhu

Pertanyaan:

Seorang warga Sudan berinisial A.B yang tinggal di Jeddah bertanya: Apa hukum melafalkan niat dalam shalat dan wudhu?

Jawaban:

Hukum perbuatan (melafalkan niat shalat dan wudhu) tersebut adalah bid’ah, sebab hal tersebut tidak pernah dinukilkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Maka wajib untuk meninggalkannya. Tidak ada hajat (kebutuhan) secara mutlak untuk melafalkan niat. Hanya Allah-lah yang dapat memberi taufik. 1 

Hukum Orang yang Shalat dengan Niat Shalat Sunnah lalu Mengganti Niatnya Tersebut dengan Niat Shalat Wajib

Pertanyaan:

Seorang bernama Jamil Abdul Wahab dari Yaman – Taiz – Hawd al-Ashraf bertanya, “Saya ingin melaksanakan shalat zhuhur, tetapi saat bertakbir saya meniatkannya sebagai shalat sunnah. Ketika tasyahud, saya lupa mengucapkan salam. Lalu saya berdiri untuk melanjutkan shalat dan tidak menyadari bahwa saya telah berniat shalat sunnah kecuali setelah menyelesaikannya. Apakah shalat saya sah atau tidak?”

Jawaban:

Shalatnya tidak sah sebagai shalat fardhu. Namun sah sebagai shalat sunnah yakni seluruhnya adalah shalat sunnah (dari awal hingga akhir shalat) sesuai dengan niat yang pertama. Barulah setelah itu engkau harus mengerjakan shalat fardhu (dengan niat tersendiri). Karena amalan-amalan itu tergantung dengan niatnya.

Engkau telah meniatkannya sebagai shalat sunnah. Maka jangan engkau ubah niat tersebut menjadi niat shalat fardhu. Karena shalat tersebut akan tetap dalam kondisinya (sebagaimana niatmu di awal) sebagai shalat sunnah. Dan engkau wajib mengerjakan shalat wajib (dengan niat baru). 2

Bolehkah Mengubah Niat di Tengah-tengah Shalat?

Pertanyaan:

Apakah diperbolehkan bagi seseorang yang sedang shalat untuk mengubah niatnya menjadi shalat lain. Baik dalam shalat fardhu atau sunnah?

Jawaban:

Dalam hal ini terdapat rincian. Jika seseorang telah memulai shalat fardhu, maka ia tidak diperbolehkan untuk mengubah niatnya menjadi shalat fardhu yang lain. Demikian pula, jika ia telah memulai shalat sunnah rawatib zhuhur, ia tidak boleh mengubah niatnya menjadi shalat lain, baik menjadi shalat fardhu maupun shalat rawatib shubuh atau semisalnya. 

Sebab, ketika seseorang telah memulai suatu shalat dengan niat tertentu, maka ia harus menyelesaikannya sesuai niat tersebut. Namun, jika ada kemaslahatan tertentu, misalnya ia memulai shalat fardhu sendirian, lalu datanglah sekelompok orang yang belum melaksanakan shalat fardhu, maka ia boleh mengubah niatnya menjadi shalat sunnah lalu melakukan salam (menyelesaikan shaatnya). Kemudian ia bergabung bersama jamaah tersebut untuk melaksanakan shalat fardhu agar mendapatkan keutamaan shalat berjamaah. Maka ini adalah contoh mengubah niat demi mendapatkan suatu kemaslahatan syar’i.

Atau, ia memulai shalat fardhu (setelah mengetahui keberadaan sekelompok orang tersebut) dengan dugaan bahwa mereka telah melaksanakan shalat. Tetapi kemudian diketahui bahwa ternyata mereka belum shalat (fardhu). Maka ia mengubah niatnya menjadi salat sunah, lalu melaksanakan shalat fardhu bersama mereka. Sehingga dengan adanya kemaslahatan dalam kondisi ini, maka mengubah niat justru diharapkan demi mendapatkan keutamaan shalat berjamaah. 3

Memutuskan Shalat Karena Lupa Berniat

Pertanyaan:

Saya memulai shalat, lalu teringat bahwa saya belum berniat. Maka saya memutus shalat, kemudian berniat, lalu memulai shalat lagi. Apakah yang saya lakukan itu benar?

Jawaban:

Ini adalah gangguan dari setan. Ketika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka sungguh engkau sudah berniat untuk shalat. Berdirimu untuk melaksanakan shalat, itulah niat shalatmu. Maka memutus shalat adalah disebabkan oleh gangguan dan tipu daya setan. Jika kamu sudah berdiri untuk shalat, berarti kamu sudah berniat. Dan kamu tidak perlu mengucapkan, “Aku berniat untuk shalat ini dan itu.” Cukup dengan niat dalam hati.

Barangsiapa yang datang ke masjid dan berdiri bersama imam ketika iqamah dikumandangkan, maka ia telah berniat untuk shalat. Demikian juga seorang wanita, jika ia berdiri di tempat shalatnya, maka ia telah berniat untuk shalat. Dan itu sudah cukup. 4


Baca Juga: Penjelasan Hadits Niat


Satu Jamaah Shalat, namun Berbeda Niat. Sahkah?

Pertanyaan pertama:

Seorang penanya berkata, “Wahai Syaikh, ada sekelompok jamaah yang sedang bepergian masuk ke masjid dan mendapati jamaah lain sedang shalat maghrib dan isya’ secara jamak dan qashar. Mereka tidak sempat mendapati shalat maghrib bersama jamaah tersebut, tetapi hanya mendapati shalat isya’. Pertanyaannya, apakah diperbolehkan bagi jamaah yang datang belakangan untuk shalat dua rakaat bersama mereka (yang niatnya shalat isya’) tetapi mereka (jamaah yang datang terakhir) meniatkannya untuk shalat maghrib, lalu menyempurnakan satu rakaat lagi untuk Maghrib? Setelah itu mereka melaksanakan shalat isya’ secara berjamaah dengan rombongannya?”

Jawaban:

Pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah mereka bergabung dengan jamaah shalat isya’ tersebut dengan niat shalat maghrib. Jika jamaah tersebut salam, mereka berdiri dan shalat satu rakaat lagi untuk menyempurnakan shalat maghrib. Baru kemudian mereka mengerjakan shalat isya’. Kalaupun mereka mengadakan shalat berjamaah maghrib dan isya’ sendiri, itu telah cukup. Namun yang lebih utama adalah terwujudnya (satu) jamaah.

Penanya berkata, “Apakah perbedaan niat (antara imam dan makmum) tidak memengaruhi sahnya shalat?”

Syaikh: “Tidak, tidak memengaruhi. Pendapat yang benar adalah tidak memengaruhi.” 5

Penutup

Demikian beberapa fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah rahimahullah. Harapannya ini dapat menjadi pencerah dan hidayah atas berbagai kekeliruan kita dalam memahami perihal niat. Semoga Allah Ta’ala menjadikan seluruh amalan kita sebagai amalan saleh yang murni hanya untuk-Nya. Aamiin.

(ASS/AAA/IWU)

Penulis: Sa’ad Pangkep.

Referensi:
Situs resmi Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah rahimahullah.

Footnotes

  1. Teks arab: 

    حكم ذلك أنه بدعة؛ لأنه لم ينقل عن النبي ﷺ ولا عن أصحابه، فوجب تركه، والنية محلها القلب، فلا حاجة مطلقا إلى التلفظ بالنية

    Sumber: Majmu’ Fatawa wa Maqalat Syaikh Bin Bazz (10/424)

  2. Teks arab: 

    ليست بصحيحة من جهة الفرض، ولكنها نافلة، تكون كلها نافلة عملاً بالنية الأولى، وعليك أن تأتي بالفريضة بعد ذلك، لأن الأعمال بالنيات وقد نويتها نافلة، فلا تنقلب فريضة، بل هي باقية على حالها نافلة، وعليك أن تأتي بالفريضة

    Sumber: Situs resmi beliau https://binbaz.org.sa/fatwas/6663/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D9%85%D9%86-%D8%AF%D8%AE%D9%84-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%84%D8%A7%D8%A9-%D8%A8%D9%86%D9%8A%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%86%D8%A9-%D8%AB%D9%85-%D8%A7%D9%83%D9%85%D9%84%D9%87%D8%A7-%D9%81%D8%B1%D9%8A%D8%B6%D8%A9

     

  3. Teks arab: 

    هذا فيه تفصيل: إذا دخل الفريضة ليس له أن يحول إلى فريضة أخرى، وليس له أن يحول إذا دخل في راتبة الظهر إلى شيء آخر إلى فريضة أو راتبة الفجر أو نحو ذلك، لأنه متى دخل في صلاة بنية؛ يكمّلها، إلا إذا كان هناك مصلحة كأن يدخل في الفريضة وحده ثم يأتي جماعة قد فاتتهم الفريضة؛ فيقلبها نافلة ويسلم، ويصلي معهم الفرض ليدرك فضل الجماعة؛ فهذا تغيير للمصلحة الشرعية

    أو يدخل في الفريضة يحسب أنهم قد صلوا، ثم يبين أنهم لم يصلوا؛ فيقلبها نافلة ويصلي معهم الفريضة، فإذا كان لهذه المصلحة فإن قَلْبَها مطلوب؛ حتى يدرك الجماعة. نعم

    Sumber: Situs resmi beliau https://binbaz.org.sa/fatwas/8209/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%AA%D8%BA%D9%8A%D9%8A%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%8A%D8%A9-%D8%AF%D8%A7%D8%AE%D9%84-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%84%D8%A7%D8%A9-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D9%81%D8%B1%D9%8A%D8%B6%D8%A9-%D8%A7%D9%88-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A7%D9%81%D9%84%D8%A9

  4. Teks arab: 

    هذا من الشيطان من حين قمت للصلاة قد نويت الصلاة، حين قمت للصلاة هذه نية الصلاة، فقطعها من تسويل الشيطان وتزيينه، إذا قمت إلى الصلاة فقد نويت الصلاة، ولا حاجة أن تقولي: نويت كذا وكذا، القلب يكفي، فمن أتى المسجد، وقام مع الإمام إذا أقيمت الصلاة؛ فقد نوى الصلاة، والمرأة إذا قامت في مصلاها؛ فقد نوت الصلاة، نعم

    Sumber: Situs resmi beliau https://binbaz.org.sa/fatwas/10299/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D9%85%D9%86-%D9%8A%D9%82%D8%B7%D8%B9-%D8%B5%D9%84%D8%A7%D8%AA%D9%87-%D8%A8%D8%AD%D8%AC%D8%A9-%D8%A7%D9%86%D9%87-%D9%84%D9%85-%D9%8A%D9%86%D9%88-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%84%D8%A7%D8%A9

  5. Teks arab: 

    الأقرب أن يُصلي معهم العشاء بنية المغرب، وإذا سلموا قاموا وأتوا بواحدةٍ كمال المغرب، ثم صلوا العشاء، وإن صلوا وحدهم كفى، لكن الأفضل حصول الجماعة ….. يُصلي معهم الجماعة، وإذا سلموا –سلَّم الأولون العشاء المقصورة– قام الآخرون وأتوا بركعةٍ؛ لأنهم دخلوا معهم بنية المغرب، ثم يُصلون العشاء بعد ذلك.

    س: يعني: اختلاف النية ما يضرّ؟

    ج: ما يضرّ، لا، ما يضرّ، الصحيح ما يضرّ

    Sumber: Situs resmi beliau https://binbaz.org.sa/fatwas/31389/%D9%85%D8%A7-%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%A7%D8%AE%D8%AA%D9%84%D8%A7%D9%81-%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%8A%D8%A9-%D9%81%D9%8A-%D8%B5%D9%84%D8%A7%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%85%D8%A7%D8%B9%D8%A9

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *