oleh

Inilah Beberapa Keutamaan Menjamu Tamu yang Patut Diketahui

 

Dalam agama Islam terdapat banyak keutamaan menjamu tamu. hal ini menjadikannya sebagai suatu amalan yang amat mulia. Bahkan amalan ini merupakan tanda sempurnanya keimanan seseorang. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.”1

Beberapa Keutamaan Menjamu Tamu

Agar kita termotivasi untuk melakukan amalan yang mulia ini, alangkah baiknya kita mengetahui berbagai keutamaannya. Apa saja keutamaan menjamu tamu? Mari kita simak ulasan berikut ini.

Meniti Tradisi Mulia Para Nabi Terdahulu

Ketahuilah, menjamu tamu merupakan tradisi para nabi terdahulu. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Abul Anbiya (ayah dari para nabi), Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang disebutkan kisahnya di dalam al-Qur’an.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ (24) إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ (25) فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ (26) فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ (27)

 “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan.” (24) (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun.” Ibrahim menjawab: Salaamun (kalian) adalah orang-orang yang tidak dikenal.”  (25) Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. (26) Kemudian dihidangkan kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “Silahkan anda makan.” (27) (Adz-Dzariyat: 24 – 27)

Di samping itu, tengoklah apa yang digambarkan oleh para salaf tentang kesungguhan beliau alaihissalam dalam menjamu tamu. Hal ini sebagaimana yang dikatakan seorang tabi’in mulia, Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah,

“Nabi Ibrahim alaihissalam adalah penggagas pertama amalan menjamu tamu.” 2

Sebab Turunnya Rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, 

مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ لَا يَرْحَمُهُ اللَّهُ

“Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan merahmatinya.” 3

Kita bisa memetik  faedah dari hadits di atas bahwasannya barangsiapa yang ingin dirahmati Allah, hendaknya dia berusaha menyayangi orang lain. Di antara bentuk kasih sayang tersebut adalah dengan memuliakan dan menjamu tamu dengan sebaik mungkin.   

Meneladani Sifat Mulia Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan Bukti Kesempurnaan Iman

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah dia mengganggu tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka muliakanlah tamunya.” 4

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan manusia yang paling baik akhlaknya. Beliau memerintahkan umatnya untuk menjamu tamu dan mengaitkannya dengan kesempurnaan iman seseorang. Tentu ini menunjukkan besar dan agungnya amalan tersebut di dalam Islam. 


Baca juga: Kewajiban Mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam


Pembuka Pintu Rezeki

Menjamu tamu secara tidak langsung melahirkan amalan lain yaitu sedekah. Dengan bersedekah, Allah akan melipat gandakan segala usaha yang telah kita berikan untuk mereka. Dan ini janji yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ عَبْدٌ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidaklah seseorang memaafkan orang lain kecuali Allah akan menambah kemuliaan baginya. Dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ (rendah hati) kecuali Allah akan tinggikan derajatnya.” 5

Imam Fudhail bin Iyadh rahimahullah, seorang tabi’in mulia, menjelaskan maksud hadist tersebut,

“Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menambah hartanya dari sedekah yang telah ia keluarkan. Kemungkinan lain kalau tidak bertambah hartanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalas di akhirat kelak berupa ganjaran yang sesuai dengan sedekah yang dia berikan.  Kemungkinan berikutnya adalah Allah akan mengumpulkan dua kebaikan di atas (dunia & akhirat) bagi orang yang bersedekah.” 6

Demikian beberapa keutamaan menjamu tamu. Harapannya yang sedikit ini bisa bermanfaat dan memotivasi kita untuk bersemangat dalam menjamu tamu.

Sebenarnya, di sana masih banyak lagi keutamaan menjamu tamu yang bisa kita raih. Insyaallah akan kami sampaikan pada artikel berikutnya. Wallahul muwafiq. (IQS/LTC/THR)

Penulis : Muhammad Iqbal

Referensi:

  1. Al-Muwattha’ Imam Malik karya Imam Malik bin Anas bin Malik bin Amir al-Ashbahani al-Madani rahimahullah (93-179 H).
  2. Syarah az-Zarqani ala Muwattha’ Imam Malik karya Imam Muhammad bin Abdul Baqi bin Yusuf az-Zarqani rahimahullah (1055-1122 H).

 


Footnotes

  1. HR. Bukhari no.6018 dalam shahihnya, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
  2. Muwattha’  Imam Malik no.3408.

    كَانَ إِبْرَاهِيمُ أَوَّلَ النَّاسِ ضَيَّفَ الضَّيْفَ.

  3. HR. Muslim no.2319 dalam shahihnya, dari sahabat Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu.
  4. HR. Bukhari no.6018 dalam shahihnya, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
  5. HR. Muslim no.2588 dalam shahihnya, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
  6. Syarah Zarqaani alal Muwattha’ (4/678).

    بَلْ يَزِيدُ اللَّهُ فِيهِ مَا نَقَصَ مِنْهُ، وَيُحْتَمَلُ أَنَّهُ وَإِنْ نَقَصَ فَلَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْأَجْرِ مَا يَجْبُرُ ذَلِكَ النَّقْصَ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُجْمَعَ لَهُ الْأَمْرَانِ، قَالَهُ عِيَاضٌ.