oleh

Hukum Membatasi Keturunan dengan Program KB dan Sejenisnya

­­

Fatwa no. 2221

Pertanyaan:

Bolehkah seorang muslim melakukan program KB dengan berbagai sarana yang ada untuk membatasi keturunan1?

Jawaban:

Perkara ini sebelumnya telah dibahas oleh Dewan Ulama Kibar yang kesimpulannya adalah sebagai berikut:

Meninjau bahwa:

  • Syariat Islam sangat menganjurkan untuk memperbanyak keturunan,
  • demikian pula keturunan juga merupakan nikmat Allah yang besar dan anugerah berharga yang Allah berikan kepada para hamba-Nya. Sungguh dalil dari al-Quran dan as-Sunnah tentang hal ini sangatlah banyak. Perkara ini telah disampaikan oleh Komite Tetap untuk Fatwa dan Riset Ilmiah dalam pembahasan yang disodorkan kepada Dewan Ulama Kibar.
  • Bahwa pendapat yang membolehkan membatasi keturunan dan mencegah kehamilan bertentangan dengan fitrah kemanusiaan yang Allah menciptakan manusia di atasnya dan bertentangan dengan syariat Islam yang Allah ridhai untuk hamba-Nya.
  • Bahwa orang-orang yang mengajak untuk memperbolehkan membatasi keturunan itu adalah kelompok-kelompok yang ingin membuat makar (tipu daya) terhadap kaum muslimin secara umum dan bangsa Arab yang muslim secara khusus, sehingga mereka bisa menjajah negeri kaum muslimin dan penduduknya.
  • Sesungguhnya perbuatan tersebut merupakan perilaku jahilyyah, dan termasuk sikap berburuk sangka kepada Allah, serta melemahkan kekuatan Islam yang tersusun dari banyaknya jumlah dan persatuan.

Berdasarkan tinjauan di atas, maka Dewan Majelis menetapkan bahwa tidak diperbolehkan membatasi keturunan secara mutlak. Tidak boleh pula mencegah kehamilan karena faktor takut miskin. Sebab, Allah-lah Dzat yang Maha Pemberi Rizki, Yang mempunyai Kekuatan yang Maha Kokoh. Tidak ada satupun hewan melata di muka bumi melainkan Allah-lah yang menanggung rizkinya.

Adapun jika mencegah kehamilan dengan faktor kebutuhan yang sangat darurat dan nyata (bukan spekulasi, red), seperti; seorang wanita yang tidak bisa melahirkan dengan kelahiran yang normal, sehingga harus dilakukan operasi bedah (caesar, red), atau menunda kehamilan beberapa waktu demi sebuah kemaslahatan yang dipandang oleh suami istri, maka tidak mengapa untuk mencegah dan menunda kehamilan.

Hal ini berdasarkan hadits shahih dan riwayat dari sejumlah para shahabat yang menyebutkan bolehnya melakukan ‘azl (mengeluarkan air mani suami di luar kemaluan istri)2, serta penjelasan sebagian ahli fikih tentang bolehnya mengkonsumsi obat untuk menggugurkan janin sebelum memasuki umur 40 hari. Bahkan, terkadang mencegah kehamilan merupakan keharusan jika keadaannya sangat darurat.

Hanya kepada Allah kita memohon taufik. Dan semoga shalawat serta salam tertuang kepada Nabi kita, keluarga dan para sahabat Beliau.

[dialih bahasakan dari Fatawa Lajnah Daimah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta’ no. 2221]

~HN~

السؤال الأول من الفتوى رقم (2221)

س1: هل يجوز للمسلم تنظيم أسرته باتباع الوسائل المختلفة لتحديد النسل؟

ج1: لقد سبق أن بحث مجلس هيئة كبار العلماء هذه المسألة فأصدر قرارا مضمونه ما يأتي:

نظرا إلى أن الشريعة الإسلامية ترغب في انتشار النسل وتكثيره، وتعتبر النسل نعمة كبرى ومنة عظيمة من الله بها على عباده، فقد تضافرت بذلك النصوص الشرعية من كتاب الله وسنة رسوله، مما أوردته اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء في بحثها المعد للهيئة والمقدم لها، ونظرا إلى أن القول بتحديد النسل أو منع الحمل مصادم للفطرة الإنسانية التي فطر الله الخلق عليها، وللشريعة الإسلامية التي ارتضاها الرب تعالى لعباده، ونظرا إلى أن دعاة القول بتحديد النسل أو منع الحمل فئة تهدف بدعوتها إلى الكيد للمسلمين بصفة عامة، وللأمة العربية المسلمة بصفة خاصة، حتى تكون لهم القدرة على استعمار البلاد واستعمار أهلها، وحيث إن في الأخذ بذلك ضربا من أعمال الجاهلية وسوء ظن بالله تعالى، وإضعافا للكيان الإسلامي المتكون من كثرة اللبنات البشرية وترابطهالذلك كله فإن المجلس يقرر بأنه لا يجوز تحديد النسل مطلقا، ولا يجوز منع الحمل إذا كان القصد من ذلك خشية الإملاق؛ لأن الله تعالىهو الرزاق ذو القوة المتين، وما من دابة في الأرض إلا على الله رزقها، أما إذا كان منع الحمل لضرورة محققة، ككون المرأة لا تلد ولادة عادية، وتضطر معها إلى إجراء عملية جراحية لإخراج الولد، أو كان تأخيره لفترة ما لمصلحة يراها الزوجانفإنه لا مانع حينئذ من منع الحمل أو تأخيره عملا بما جاء في الأحاديث الصحيحة، وما روي عن جمع من الصحابة رضوان الله عليهممن جواز العزل، وتمشيا مع ما صرح به بعض الفقهاء من جواز شرب الدواء لإلقاء النطفة قبل الأربعين، بل قد يتعين منع الحمل في حالة ثبوت الضرورة المحققة.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء


1 Terdapat perbedaan antara membatasi keturunan dan mengatur kelahiran:

Membatasi keturunan adalah menargetkan batas tertentu pada jumlah keturunan untuk berhenti setelah mencapai batas tersebut, seperti: dua anak, atau tiga anak saja, kemudian berhenti, dengan tujuan menjaga stabilitas keuangan keluarga, dsb. 

Adapun mengatur keturunan adalah menunda kehamilan pada jangka waktu tertentu agar si istri beristirahat, dan memperoleh semangatnya kembali, kemudian meninggalkan obat-obat pencegah kehamilan karena mengharapkan keturunan berikutnya, meskipun banyak jumlahnya.

2 Lafadz haditsnya,

كُنَّا نَعْزِلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَلَغَ ذَلِكَ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمْ يَنْهَنَا

Dahulu kami melakukan ‘azl pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup maka berita tersebut sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun beliau tidak mengingkarinya.”(HR. Muslim no. 138)

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait