oleh

Hukum, Doa dan Tata Cara Istikharah

Dahulu di masa jahiliyyah apabila kaum musyrikin jika hendak mengerjakan suatu perkara, dalam rangka untuk memantapkan hati, mereka mengundi di hadapan berhala. Namun tatkala agama Islam datang menyinari kegelapan dan kubang kesesatan umat manusia, sistem pengundian tersebut diganti dengan yang jauh lebih baik, yaitu syariat istikharah.

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas secara ringkas seputar hukum istikharah. Simak pembahasan berikut ini.

Pengertian istikharah

Istikharah adalah mencari pilihan kepada Allah Ta’ala untuk menentukan suatu perkara yang disyariatkan (baik yang wajib maupun sunnah) jika terjadi kontradiksi di antara perkara tersebut, atau  perkara yang mubah, jika belum nampak kemaslahatannya.

Istikharah itu dapat dilakukan di dalam shalat atau di luar shalat.[1]

Contohnya: Seorang bertekad hendak safar ke daerah A, bersamaan dengan itu dia juga bertekad untuk safar ke daerah B. Kemudian ia menjadi bimbang dalam menuntukan manakah yang terdapat kemaslahatan (kebaikan) di antara keduanya. Ketika demikian, maka dianjurkan untuk beristikharah (mencari pilihan) kepada Allah Ta’ala. Begitu pula perkara-perkara lainnya seperti menikah, kerja dan yang lainnya.

Hukum Istikharah

Istikharah hukumnya adalah sunnah, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Asy syaukani dalam kitabnya Nailul Authar.

Hal ini berdasarkan hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami istikharah pada setiap urusan, sebagaimana beliau mengajari kami suatu surat Al Qur’an”. (HR. Al Bukhari no. 6382).


Baca Juga: Hukum Shalat di Masjid Ketika Terjadi Bahaya


Tata Cara Shalat Istikharah

Shalat istikharah terdiri dari dua rakaat, tata caranya sebagaimana shalat biasanya.

Hal ini berdasarkan kelanjutan dari hadits di atas,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ القُرْآنِ، يَقُولُ: إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الفَرِيضَةِ

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami istikharah pada setiap urusan, sebagaimana beliau mengajari kami suatu surat al qur’an, belia bersabda: Jika kalian bertekad melakukan suatu perkara, maka lakukanlah shalat dua rakaat yang bukan shalat wajib .” (HR. Al Bukhari no. 6382).

Adapun doa istikharah dapat dipanjatkan sebelum salam ataupun sesudahnya, namun jika dilakukan sebelum salam maka hal itu lebih utama.[2]


Baca Juga: 2 Cara Mandi Junub Rasulullah


Doa istikharah

Doa istikharah sebagaimana pada hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu di atas,

ثُمَّ لِيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ العَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوبِ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي – أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ – فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي، ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي – أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِي الخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ أَرْضِنِي ” قَالَ: وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ

“Kemudian hendaknya (seorang yang beristikharah) untuk berdoa: “Ya Allah aku beristikharah (mencari pilihan) kepada-Mu dengan ilmu-Mu, memohon kekuatan kepada-Mu dengan kekusaan-Mu, aku memohon karunia-Mu yang besar, karena sungguh Engkau maha mampu sedangkan aku tidak mampu, Engkau  maha mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui, dan sungguh Engkau adalah Dzat yang mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Ya Allah jika Engkau mengetahui perkara ini  baik untukku dalam urusan agamaku, kehidupanku, dan kesudahan segala urusanku, atau Beliau mengucapkan: ” Segala urusan dunia maupun akhiratku”, maka takdirkanlah hal itu untukku, dan mudahkanlah bagiku, kemudian berkahilah aku padanya, dan jika engkau berkehendak  perkara ini buruk untukku dalam urusan agamaku, kehidupanku, dan kesudahan segala urusanku, atau Beliau mengucapkan: ” Segala urusan dunia maupun akhiratku”, maka jauhkanlah hal itu dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah bagiku kebaikan di manapun kebaikan itu berada, kemudian jadikanlah aku ridha dengan itu semua. Lalu ia menyebutkan urusan yang ia sedang istikharahkan.” (HR. Al Bukhari no. 6382).


Baca Juga: Kumpulan Doa-doa Istiftah (Iftitah) Lengkap


Perkara yang Dianjurkan Bagi Orang yang Beristikharah

Dianjurkan bagi orang yang telah beristikharah untuk melakukan perkara yang jiwanya merasa tentram dengannya.

An-Nawawi rahimahullahu mengatakan: “Sudah semestinya untuk melakukan sesuatu yang hatinya condong padanya setelah melakukan istikharah. Demikian pula tidak sepantasnya untuk mengerjakan perkara yang jiwanya condong kepadanya sebelum ia beristikharah. Hendaknya ia meninggalkan pilihan dirinya yang sesuai dengan keinginannya dalam keadaan jiwanya tidak lapang dengan hal tersebut. Jika tidak demikian maka ia tidak jujur dalam istikharahnya kepada Allah Ta’ala”.[3]

Demikian sekilas yang dapat kami jelaskan tentang istikharah. Bagi orang yang berakal, istikharah merupakan hal yang sangat penting baginya. Semoga bermanfaat. MSM – AAK

Penulis: Muhammad As Sijnul Mubarak


[1] Mukhtashar Al fikih Al islami fi dhaui Alqur’an wa As sunnah, hal 555.

[2] Mukhtashar Al fikih Al islami fi dhaui Alqur’an wa As sunnah, hal 555.

[3] Fiqhussunnah hal.211/1, dari ucapan imam An nawawi.

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait