oleh

Dua Jenis Hamba Saat Kematian Menghampirinya

Allah Ta’ala telah mensifati sekelompok dari manusia bahwa mereka adalah orang-orang yang paling semangat dalam meniti kehidupan dunia ini. Mereka mengaku sebagai wali-wali Allah Ta’ala. Maka Allah Ta’ala memerintahkan mereka agar mengharapkan kematian, namun mereka enggan untuk itu. Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa yang demikian ini karena sebab-sebab tertentu.

Siapakah mereka? Mengapa mereka tidak mengharapkan kematian, dalam keadaan mereka mengaku sebagai wali Allah? Gabungkanlah antara jawabanmu dengan hadits berikut.

Lafadz dan Terjemahan Hadits

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَه

Dari sahabat Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang cinta untuk berjumpa dengan Allah Ta’ala maka Allah akan cinta untuk berjumpa dengannya, namun barangsiapa yang benci untuk berjumpa dengan Allah, maka Allah Ta’ala akan benci untuk berjumpa dengannya.”

Takhrij Hadits

Hadits ini disebutkan dalam shahih Bukhari no. 6507, shahih Muslim no. 2683, sunan ad-Darimy no. 2798, sunan at-Tirmidzi no. 1066, sunan An-Nasai no. 1836, musnad Abu Dawud At-Thayaalisi no. 575.

Perawi Hadits

Sahabat asal anshar ini bernama Ubadah bin Shamit bin Qais bin Ashram bin Ghanm bin Auf. Beliau ikut serta dalam banyak pertempuran bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau termasuk salah seorang pimpinan dalam bai’at Aqabah. Beliaulah hakim Islam pertama di daerah Palestina. Beliau adalah sahabat terkemuka, wafat pada tahun 34 Hijriyah, di kota Ramlah, ketika beliau berumur 72 tahun. Semoga Allah Ta’ala meridhainya. Aamiin

Makna Global

Berkaitan hadits di atas, Ibunda kaum mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkomentar,

إِنَّا لَنَكْرَهُ المَوْتَ، قَالَ : لَيْسَ ذَاكِ، وَلَكِنَّ المُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ المَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الكَافِرَ إِذَا حُضِرَ  بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

 

“Sungguh kami sangat membenci kematian. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda; “Bukan itu yang dimaksud wahai Aisyah. Akan tetapi seorang mukmin jika kematian menghampirinya maka dikabarkan kepadanya dengan keridhaan serta pemuliaan Allah Ta’ala terhadapnya, sehingga tidak ada yang lebih ia cintai daripada apa yang dihadapannya, maka dia pun senang berjumpa dengan Allah Ta’ala, maka Allah pun senang berjumpa dengannya..

Adapun orang kafir ketika kematian hendak menghampirinya disampaikan kepadanya adzab dan hukuman yang akan ia hadapi, sehingga tidak ada yang lebih ia benci daripada apa yang dihadapannya, maka diapun benci untuk berjumpa dengan Allah Ta’ala dan Allah pun benci berjumpa dengan nya.”

Kaum mukminin rindu kepada Allah Ta’ala agar mereka mendapatkan apa yang telah Allah janjikan untuk mereka dari kemuliaan dan pemberian. Adapun orang-orang yang sengsara mereka benci karena pengetahuan mereka akan jeleknya tempat kembali mereka serta akan dijauhkan dari kasih sayang-Nya dan Allah Ta’ala tidak ingin kebaikan bagi mereka.

Ingin bertemu dengan Allah Ta’ala bukanlah bagian dari berangan-angan untuk mati, karena hal tersebut sangat memungkinkan tanpa mengharapkan kematian. Hal tersebut dibolehkan karena seorang hamba ingin mendapatkan pahala yang ada di sisi Allah Ta’ala.

Faidah Hadits

  1. Bahwa di antara yang membantu seseorang untuk cinta berjumpa dengan Allah Ta’ala adalah mengerjakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
  2. Seorang mukmin yang hendak meninggal dunia, malaikat akan memberikan kabar gembira dengan kedudukannya di surga sehingga ia cinta untuk jumpa dengan Allah Ta’ala dan Allah pun cinta untuk bertemu dengannnya.
  3. Allah Ta’ala membenci orang kafir karena kekufurannya, oleh karena itu hamba tersebut benci untuk bertemu dengan Allah Ta’ala, karena ia tahu bahwa tempat kembalinya adalah neraka.
  4. Seorang muslim hendaklah bersemangat dalam melakukan perkara-perkara yang akan meningkatkan kecintaannya kepada Allah Ta’ala, seperti mengerjakan amalan-amalan wajib, menjauhi yang haram dan banyak melakukan amalan sunnah. Wallahu a’lam. DW-HMZ
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait