oleh

Doa Qunut Witir

Doa Qunut Witir

اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ [وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ،] تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

“Ya Allah, berilah aku hidayah (petunjuk) bersama orang-orang yang telah Engkau beri hidayah. Berilah aku keselamatan bersama orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan. Cintailah aku bersama orang-orang yang Engkau cintai. Berikanlah aku berkah pada segala sesuatu yang telah Engkau berikan. Lindungilah aku dari kejahatan segala sesuatu yang telah Engkau tetapkan (sebagai kejelekan). Karena sesungguhnya Engkaulah yang memutuskan dan engkau tidak bisa disanggah. Dan sesungguhnya tidak akan hina orang yang Engkau tolong [dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi]. Maha Mulia Engkau wahai Rabb kami dan Maha Tinggi.”

Download Audio Doa Qunut Witir di sini

Takhrij Doa Qunut Witir

HR. Ash-habus sunan, Imam Ahmad di dalam musnadnya no. 1718, Imam Ad-Darimi dalam sunannya no. 1634, Imam Hakim dalam Mustadrak alaa shahihain no. 4800 dan Imam Al-Baihaqi dalam as-sunan al kubra no. 3138. Yang di dalam tanda kurung [ ] adalah riwayat Imam Al-Baihaqi. Yang di dalam tanda ( ) adalah riwayat Imam Abu Daud. Lihat Shahih dan Dhaif Sunan At-Tirmidzi no. 464, Shahih Abii Dawud no. 1281 dan Irwaul Ghalil no. 429.

Penjelasan

“Hidayah” di sini adalah hidayah irsyad (bimbingan) dan hidayah taufik. Yakni benar-benar mengikuti hidayah/petunjuk yang datang kepada kita. Kita mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia memberikan kita hidayah sebagaimana Dia telah memberi hidayah (petunjuk) kepada orang selain kita.

“Afiyah” di sini meliputi keselamatan badan dari penyakit dan keselamatan agama yaitu selamat dari penyakit-penyakit hati seperti syahwat dan syubhat (kerancuan pemikiran dan keyakinan).

Seseorang itu butuh terhadap obat untuk penyakit badan dan obat untuk penyakit hati. Kebutuhannya untuk mengobati penyakit hati lebih besar dari pada kebutuhannya untuk mengobati jasmaninya. Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi kita untuk senantiasa menjaga hati dan memperhatikan keadaannya. Apakah hati kita sehat..?! atau sebaliknya?

Apabila seseorang itu selalu memperbaiki hatinya di dalam muamalahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada makhluk-Nya, maka ia akan memperoleh kebaikan yang banyak. Kalau tidak, maka ia akan lalai dan jauh dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan di saat itulah ia sulit untuk kembali.

Maka teruslah perhatikan hati ini, bisa jadi di hati kita terdapat penyakit syubhat atau penyakit syahwat, dan semua itu ada obatnya -walhamdulillah-. Al-Qur’an adalah obat dari kedua jenis penyakit ini. Motivasi untuk meraih surga dan peringatan dari neraka merupakan obat untuk jenis penyakit syahwat. Sedangkan mempelajari Al-Qur’an dan sunnah serta mendalaminya merupakan obat untuk penyakit syubhat.

Apabila engkau takut terjatuh ke dalam kubangan syahwat, maka ingatlah kenikmatan akhirat. Allahu a’lam. HFZ-ALF

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait