oleh

Bulan Shafar, Bulan Sial?

Mitos bahwa bulan Shafar adalah bulan sial tersebar luas di kalangan masyarakat. Sebagian orang awam menganggap bulan tersebut sebagai bulan sial sehingga mereka tidak mengadakan acara pada bulan tersebut, seperti khitan, pernikahan, dan sebagainya.

Bolehkah seseorang mempercayainya; menganggap sial tanggal, bulan tertentu atau hal lain? Perkara ini sangatlah penting, karena berkaitan erat dengan akidah. Berikut ini penjelasan syar’i dari fatawa para ulama tentangnya. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita.

Bulan Shafar, Bulan Sial?

Menganggap bulan Shafar dan lainnya sebagai bulan sial merupakan kebiasaan jahiliyyah yang tidak diperbolehkan. Bahkan itu merupakan kebiasaan orang-orang jahiliyyah yang berbau kesyirikan yang diingkari oleh Islam.

Banyak dalil yang menjelaskan haramnya perbuatan tersebut dan hal itu termasuk kesyirikan. Anggapan tersebut tidak bisa memberikan pengaruh; tidak mendatangkan manfaat atau menghilangkan mudharat. Sebab, tidak ada yang memberi atau mencegah sesuatu, tidak pula mendatangkan manfaat maupun menghilangkan mudharat kecuali Allah Ta’ala.

Segala kebaikan berasal dari Allah. Adapun kejelekan datangnya dengan takdir Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّۢ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍۢ فَلَا رَآدَّ لِفَضْلِهِۦ ۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ۝١٠٧

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yunus: 107)

Dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ اجْتَمَعَت الأُمَّةُ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيء لمْ يَنْفَعُوك إلاَّ بشَيء قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ وإِنْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيء لمْ يَضُرُّوكَ إلاَّ بِشَيءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ رُفِعَت الأَقْلاَمُ وجُفَّتِ الصُّحُف.

“Kalau sekiranya seluruh manusia bersatu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikannya kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan untukmu, dan jika sekiranya seluruh manusia bersatu untuk menimpakan suatu mudharat kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa menimpakanya kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan kepadamu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.” [HR. Ahmad no. 2669, Tirmidzi no. 2516 dan selainnya, shahih]

Dan di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ عَدْوى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفرَ. رواه البخاري ومسلم.

“Tidak ada suatu penyakit yang menular, tidak ada anggapan sial terhadap sesuatu, tidak ada anggapan sial terhadap burung hantu dan bulan Shafar.” [HR. al-Bukhari no. 5753, Muslim no. 2225]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari thiyarah (menganggap sial sesuatu) dan semua yang terkandung dalam hadits diatas. Beliau mengabarkan bahwa tersebut tidak bisa memberikan pengaruh apapun. Akan tetapi, itu muncul di dalam hati sebatas was-was dan khayalan yang tidak benar.

Penafsiran sabda beliau, “وَلاَ صَفرَ adalah dahulu bulan Shafar dianggap sial oleh orang-orang jahiliyah. Maka, di dalam hadits ini terkandung pengingkaran terhadap anggapan tersebut.

Waktu tertentu tidak memiliki pengaruh untuk mendatangkan manfaat atau mencegah mudharat, tidak pula mengubah takdir Allah. Sehingga bulan Shafar sama halnya dengan bulan lainnya, Allah menakdirkan padanya kebaikan dan kejelekan. Demikian pula dengan hari dan waktu lainnya, tidak ada perbedaan padanya.

Sekali lagi, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas berisi pengingkaran segala anggapan sial yang diyakini oleh orang-orang jahiliyyah di bulan Shafar; anggapan sebagai bulan bencana dan malapetaka.

Empat perkara yang diingkari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits diatas, menunjukkan atas wajibnya bertawakal kepada Allah dan memiliki harapan kuat kepada-Nya.

Jika perkara-perkara ini terbesit pada hati seorang muslim, maka bisa jadi ia:

Pertama, dia menjawab was-was tersebut dengan memilih maju atau mundur, sehingga dia telah menggantungkan perbuatanya dengan sesuatu yang tidak ada hakikatnya. Dan ini salah.

Kedua, dia tidak menjawabnya, dengan tetap maju dan tidak mempedulikannya, akan tetapi masih tersisa dalam hatinya sebuah kesedihan atau kecemasan. Hal ini meskipun lebih ringan dari yang pertama, namun wajib bagi dia untuk tidak menjawab dorongan-dorongan terhadap perkara ini secara mutlak, dan dia menyandarkan dirinya kepada Allah Ta’ala semata.

Maka kewajiban seorang muslim untuk selalu mengikhlaskan seluruh peribadahannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menggantungkan hatinya hanya kepada Allah, menghilangkan rasa takut dan kecemasan, dengan menempuh sebab-sebab yang Allah izinkan.

Demikian pula wajib bagi seorang muslim untuk menyingkirkan segala anggapan sial dengan bulan tertentu, dan yang semisalnya dengan keyakinan bahwa hal tersebut dapat mendatangkan manfaat atau mencegah mudharat. Akan tetapi wajib bagi mereka untuk bertawakal kepada Allah, dan tetap melakukan aktivitas dalam kehidupan tanpa mempedulikan bisikan jiwanya.

~HN~

Referensi:

Fatawa wa Rasail Syaikh Muhammad bin Ibrahim no. (85)

Majmu’ Fatawa wa Rasail Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin no. (213)

Fatawa Arkanil Islam no.(65)

Majmu’ Fatawa Ibnu Bazz no. (85)

Fatawa Al Lajnah Ad Daimah no. (13847), (10775)

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait