oleh

Bulan Dzulhijjah Bulan yang Sangat Agung

Bulan Dzulhijjah Bulan yang Sangat Agung

Lafadz Hadits

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ العَشْرِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَلاَ الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَلاَ الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Terjemah Hadits

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiada hari yang dikerjakan amalan shalih padanya lebih dicintai oleh Allah kecuali yang dilakukan pada sepuluh hari pertama ini (bulan Dzulhijjah). Para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad fisabilillah wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Ya, tidak pula jihad fi sabilillah, kecuali seseorang berangkat menuju medan perang dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali lagi”.

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari no. 969 di dalam shahihnya, Abu dawud no.2438, Ibnu Majah no.1727, dan at-Tirmidzi no. 757 dari shahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu.

Perawi Hadits

Beliau adalah sahabat yang mulia Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib al-Hasyimi radhiyallahu ‘anhuma, anak paman (sepupu) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau dijuluki dengan al-Habru dan al-Bahru karena luasnya ilmu beliau. Beliau termasuk dalam deretan para shahabat yang banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah dan termasuk ahli fikihnya para shahabat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendoakan beliau,

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

“Ya Allah pahamkanlah ia tentang agama dan berilah ilmu tafsir untuknya.” (HR. Bukhari no. 143, Muslim no. 2477 dan Ahmad no. 2879)

Beliau wafat pada tahun 68 H. Semoga Allah meridhoinya.

Makna Hadits Secara Global

Rasulullah menjelaskan bahwa amalan shalih yang dikerjakan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala, melebihi amalan jihad fisabilillah. Para shahabat membandingkannya dengan jihad fi sabilillah, karena jihad adalah amalan yang sangat agung. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dalam redaksi hadits lain bahwa jihad fi sabilillah juga termasuk amalan yang paling dicintai oleh Allah.

Namun keutamaan amalan shalih yang dilakukan di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah mengalahkan keutamaan jihad fisabilillah. Kecuali seorang yang berjihad dengan mengerahkan jiwa dan hartanya, kemudian ia gugur dan hartanya pun habis. Perlu diketahui pula bulan Dzulhijjah termasuk bulan haram, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

ٍ Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah di hari Ia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri sendiri pada empat bulan tersebut.” (At-Taubah 36)

Bulan-bulan haram tersebut adalah Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda,

مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ وَذُو الحِجَّةِ وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ، الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Diantaranya ada empat bulan haram, tiga berurutan yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram serta Rajab Mudhar (nama kabilah) antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR.Bukhari no.3197 dan Muslim no.1679, dari shahabat Abu Bakrah radhiyallahu’anhu).

Keistimewaan Bulan Dzulhijjah

  • Ayat terakhir Al Qur’an turun pada bulan Dzulhijjah (yaitu ayat ketiga dalam surat al-Maidah). Allah berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini Aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian, Aku telah mencukupkan nikmat-Ku kepada kalian, dan Aku telah meridhoi Islam sebagai agama bagi kalian.”

Ulama menyebutkan bahwa ayat ini turun 81 hari sebelum wafatnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu pada hari Jum’at bertepatan dengan hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) ketika haji Wada’ (Haji perpisahan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam).

  • Allah Ta’ala bersumpah dengan menyebut sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah. Sebagaimana firman-Nya,

وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْر

“Demi waktu fajar dan demi malam yang sepuluh.” (al-Fajr: 1 – 2)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menyatakan bahwa yang dimaksud dengan sepuluh malam tersebut adalah sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah.1

  • Allah menjadikan bulan Dzulhijjah sebagai waktu pelaksanaan rukun islam yang kelima, yaitu berhaji ke Baitullah al-Haram.
  • Kitab Taurat disempurnakan pada bulan Dzulhijjah. Allah Ta’ala berfirman,

وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Dan telah kami janjikan kepada Musa (memberikaan taurat) setelah berlalu tiga puluh malam dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang ditetapkan Rabbnya empat puluh malam.” (al-A’raf: 142)

Berkata imam Mujahid rahimahullah, “Tiga puluh malam ialah bulan Dzulqo’dah.” Sehingga sepuluh malam yang ditambahkan adalah sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah.2

  • Hari Raya Idul Adha jatuh pada bulan Dzulhijjah.
  • Siang hari pada sepuluh pertama bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang paling mulia. Adapun malam hari yang paling mulia adalah sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Demikian dijelaskan oleh sebagian ulama.

Faidah dan Kesimpulan

  1. Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang agung.
  2. Bulan Dzulhijjah termasuk bulan-bulan haram.
  3. Sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah termasuk hari-hari yang paling Allah cintai untuk mengerjakan amalan shalih.
  4. Tidak boleh melakukan kemaksiatan kepada Allah terlebih pada bulan-bulan haram karena akan menodai kemulian bulan tersebut.
  5. Syariat yang Allah tetapkan bagi umat ini melalui perantara Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah syariat yang sempurna, tidak boleh ada penambahan, pengurangan, dan perubahan.

Inilah sekelumit pembahasan tentang keagungan bulan Dzulhijjah. Mudah-mudahan kita termasuk umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senantiasa mengikuti bimbingannya dalam berbagai amal shalih. Serta istiqomah menjalaninya kapanpun dan di manapun hingga hembusan nafas terakhir. Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam surga-Nya kelak. Amin. SFW

1 Disadur dari Tafsir Ibnu Katsir jilid. 8, hal. 390

2 Disadur dari Tafsir Ibnu Katsir jilid. 3, hal. 468

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait