oleh

Bacaan Ruqyah Sesuai Sunnah

Ruqyah merupakan suatu cara untuk menghilangkan gangguan di sebuah tempat atau menyembuhkan seseorang dari sebuah penyakit tertentu atau untuk berlindung dari kejelekan makhluk-makhluk jahat. Ruqyah telah dilakukan sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dengan membaca ayat-ayat tertentu dari al-Qur’an atau doa-doa yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun yang menjadi titik fokus pada pembahasan ini adalah bahwa bacaan-bacaan ruqyah yang digunakan untuk menghilangkan gangguan atau menyembuhkan penyakit tersebut masih banyak disalahartikan oleh sebagian orang. Mereka cenderung membaca bacaan-bacaan yang tidak ada tuntunannya dalam al-Qur’an dan as-sunnah, bahkan dapat menjerumuskan mereka pada perbuatan syirik.

Ada beberapa bacaan ruqyah yang sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan as-sunnah dan tidak mengandung kesyirikan di dalamnya. Berikut ini beberapa bacaan yang dapat dibaca langsung oleh orang yang ingin meruqyah1,

1. Membaca Surah al-Fatihah

Berikut bacaan surah al-Fatihah,

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ [١] ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ [٢] ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ [٣] مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ [٤] إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ [٥] ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ [٦] صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ [٧]

“Dengan nama Allah Ta’ala yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam. Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepadanya, bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (Al-Fatihah: 1-7)2

 

2. Membaca Ayat Kursi (Surah al-Baqarah Ayat 255)

Berikut bacaan ayat Kursi,

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَة وَلَا نَوۡمۚ لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡء مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ

“Allah, tidak ada Sesembahan (yang berhak untuk disembah) selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.” (Al-Baqarah: 255)3

 

3. Membaca Surah al-A’raf Ayat 106-122

Berikut bacaan surah al-A’raf ayat 106-122,

قَالَ إِن كُنتَ جِئۡتَ بِـَٔايَةٍ فَأۡتِ بِهَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ [١٠٦] فَأَلۡقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعۡبَانٌ مُّبِينٌ [١٠٧] وَنَزَعَ يَدَهُۥ فَإِذَا هِيَ بَيۡضَآءُ لِلنَّٰظِرِينَ [١٠٨] قَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِ فِرۡعَوۡنَ إِنَّ هَٰذَا لَسَٰحِرٌ عَلِيم [١٠٩] يُرِيدُ أَن يُخۡرِجَكُم مِّنۡ أَرۡضِكُمۡۖ فَمَاذَا تَأۡمُرُونَ [١١٠] قَالُوٓاْ أَرۡجِهۡ وَأَخَاهُ وَأَرۡسِلۡ فِي ٱلۡمَدَآئِنِ حَٰشِرِينَ [١١١] يَأۡتُوكَ بِكُلِّ سَٰحِرٍ عَلِيمٍ [١١٢] وَجَآءَ ٱلسَّحَرَةُ فِرۡعَوۡنَ قَالُوٓاْ إِنَّ لَنَا لَأَجۡرًا إِن كُنَّا نَحۡنُ ٱلۡغَٰلِبِينَ [١١٣] قَالَ نَعَمۡ وَإِنَّكُمۡ لَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ [١١٤] قَالُواْ يَٰمُوسَىٰٓ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ نَحۡنُ ٱلۡمُلۡقِينَ [١١٥] قَالَ أَلۡقُواْۖ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ سَحَرُوٓاْ أَعۡيُنَ ٱلنَّاسِ وَٱسۡتَرۡهَبُوهُمۡ وَجَآءُو بِسِحۡرٍ عَظِيمٍ [١١٦] وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَۖ فَإِذَا هِيَ تَلۡقَفُ مَا يَأۡفِكُونَ [١١٧] فَوَقَعَ ٱلۡحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ [١١٨] فَغُلِبُواْ هُنَالِكَ وَٱنقَلَبُواْ صَٰغِرِينَ [١١٩] وَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ سَٰجِدِينَ [١٢٠] قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ [١٢١] رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ [١٢٢]

“Dia (Fir‘aun) berkata, “Jika benar engkau membawa suatu bukti, tunjukkanlah, kalau kamu termasuk orang-orang yang benar.” Maka, dia (Musa) melemparkan tongkatnya, tiba-tiba ia (tongkat itu) menjadi ular besar yang nyata. Dia menarik tangannya, tiba-tiba ia (tangan itu) menjadi putih (bercahaya) bagi orang-orang yang melihat(-nya). Para pemuka kaum Fir‘aun berkata, “Sesungguhnya orang ini benar-benar penyihir yang sangat pandai. Dia hendak mengusir kamu dari negerimu.” (Fir‘aun berkata,) “Maka, apa saran kamu?” Mereka (para pemuka) itu menjawab, “Beri tangguhlah dia dan saudaranya dan utuslah ke kota-kota beberapa orang untuk mengumpulkan (para penyihir) (agar) mereka membawa semua penyihir yang pandai kepadamu.” Para penyihir datang kepada Fir‘aun. Mereka berkata, “(Apakah) kami benar-benar akan mendapat imbalan jika kami menang?” Dia (Fir‘aun) menjawab, “Ya, bahkan sesungguhnya kamu pasti termasuk orang-orang yang didekatkan (kedudukannya kepadaku).” Mereka (para penyihir) berkata, “Wahai Musa, engkaukah yang akan melemparkan (lebih dahulu) atau kami yang melemparkan?” Dia (Musa) menjawab, “Lemparkanlah (lebih dahulu)!” Maka, ketika melemparkan (tali-temali), mereka menyihir mata orang banyak dan menjadikan mereka takut. Mereka memperlihatkan sihir yang hebat (menakjubkan). Kami wahyukan kepada Musa, “Lemparkanlah tongkatmu!” Maka, tiba-tiba ia menelan (habis) segala kepalsuan mereka. Maka, terbuktilah kebenaran dan sia-sialah segala yang mereka kerjakan. Mereka dikalahkan di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Para penyihir itu tersungkur dalam keadaan sujud. Mereka berkata, “Kami beriman kepada Rabb semesta alam, (yaitu) Sesembahannya Musa dan Harun.” (Al-A’raf: 106-122)4 

 

4. Membaca Surah Yunus (79-82)

Berikut bacaan surah Yunus ayat 79-82,

وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ٱئۡتُونِي بِكُلِّ سَٰحِرٍ عَلِيمٍ [٧٩] فَلَمَّا جَآءَ ٱلسَّحَرَةُ قَالَ لَهُم مُّوسَىٰٓ أَلۡقُواْ مَآ أَنتُم مُّلۡقُونَ [٨٠] فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئۡتُم بِهِ ٱلسِّحۡرُۖ إِنَّ ٱللَّهَ سَيُبۡطِلُهُۥٓ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُصۡلِحُ عَمَلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ [٨١] وَيُحِقُّ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ [٨٢]

“Fir‘aun berkata (kepada para pemuka kaumnya), “Datangkanlah kepadaku semua penyihir yang ulung!” Ketika para penyihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan!” Setelah mereka melemparkan (tali-temali), Musa berkata, “Apa yang kamu bawa itulah sihir. Sesungguhnya Allah akan membatalkan (mengalahkan)-nya. Sesungguhnya Allah tidak membiarkan perbuatan orang-orang yang berbuat kerusakan. Allah akan mengukuhkan kebenaran dengan ketetapan-ketetapan-Nya, walaupun para pendurhaka tidak menyukainya.” (Yunus: 79-82)5

 

5. Membaca Surah Thaha Ayat 65-69

Berikut bacaan surah Thaha ayat 65-69,

قَالُواْ يَٰمُوسَىٰٓ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ [٦٥] قَالَ بَلۡ أَلۡقُواْۖ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ مِن سِحۡرِهِمۡ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ [٦٦] فَأَوۡجَسَ فِي نَفۡسِهِۦ خِيفَةً مُّوسَىٰ [٦٧] قُلۡنَا لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ [٦٨] وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٍ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ [٦٩]

“Mereka (para penyihir) berkata, “Wahai Musa, apakah engkau yang melemparkan (dahulu) atau kami yang lebih dahulu melemparkannya?” Dia (Musa) berkata, “Silahkan kamu melemparkan!” Tiba-tiba tali-temali dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya (Musa) seakan-akan ia (ular-ular itu) merayap cepat karena sihir mereka. Maka, terlintaslah dalam hati Musa (perasaan) takut. Kami berfirman, “Jangan takut! Sesungguhnya engkaulah yang paling unggul. Lemparkan apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Sesungguhnya apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya penyihir (belaka). Tidak akan menang penyihir itu, dari mana pun ia datang.” (Thaha: 65-69)6

 

6. Membaca Surah al-Kafirun

Berikut bacaaan surah al-Kafirun,

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ [١] لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ [٢] وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ [٣] وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمۡ [٤] وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ [٥] لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ [٦]

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Kamu juga bukan penyembah apa yang aku sembah. Aku juga tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.” (Al-Kafirun: 1-6)7

 

7. Membaca Surah al-Ikhlash dan al-Mu’awwidzatain (an-Naas dan al-Falaq) 3 Kali

Berikut bacaan surah al-Ikhlah, al-Falaq dan an-Naas,

قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ [١] ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ [٢] لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ [٣] وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ [٤]

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash: 1-4)8

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ [١] مِن شَرِّ مَا خَلَقَ [٢] وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ [٣] وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِي ٱلۡعُقَدِ [٤] وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ [٥]

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Rabb yang (menjaga) fajar (subuh) dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan. Dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya). Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (Al-Falaq: 1-5)

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ [١] مَلِكِ ٱلنَّاسِ [٢] إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ [٣] مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ [٤] ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ [٥] مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ [٦]

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja seluruh manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia.” (An-Naas: 1-6)


Baca Juga: Surat yang Dibaca Untuk Ruqyah dari Al Qur’an


8. Membaca Do’a Berikut Sebanyak 3 Kali

Berikut ini adalah do’a ruqyah,

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ البَأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah, Rabb seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkaulah Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit sedikit pun.”9

بِسْمِ اللهِ أَرْقِيكِ مِن كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيكَ بِسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ

“Dengan nama Allah aku meruqyahmu (mengobatimu), dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa atau mata yang dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu.” 10

 

Itulah beberapa nukilan bacaan ruqyah yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Adapun praktiknya, bisa dengan dibacakan secara langsung pada orang yang sakit disertai tiupan ringan 11. Semoga yang sedikit ini dapat memberikan manfaat besar dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyembuhkan orang-orang yang sakit dari kalangan kaum muslimin. Aamiin. (AAJ/AAA/ATH)

Penulis: Abdurrahman Aufi

Referensi:

  • Al-Qur’anul Karim
  • Kitab al-‘Ilaj wa ar-Ruqaa asy-Syar’iyyah wa asy-Syirkiyyah wa al-Bid’iyyah, karya syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz (W. 1420 H) rahimahullah.
  • Fathul Bari karya Imam al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah.
  • Taisir al-Karimir Rahman karya Imam As-Si’di rahimahullah.
  • Majmu’ Fatawa Ibn Baz  rahimahullah.

 

No Judul Audio Putar / Unduh Audio
1 Al Fatihah 2
2 Ayat Kursi
3 Al Araf 106 122
4 Surah Yunus 79 82
5 Thaha 65 69
6 Al Kafirun
7 Al Ikhlas
8 Al Falaq
9 An Nas
10 Doa Ruqyah 1
11 Doa Ruqyah 2

Footnotes

  1. Lihat kitab al-‘Ilaj wa ar-Ruqa asy-Syar’iyyah wa asy-Syirkiyyah wal bid’iyyah
  2. Hal ini berdasarkan sebuah hadits yang dibawakan oleh al-Bukhari dalam shahihnya, No. 5736, dari sahabat Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,

    أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَوْا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ العَرَبِ فَلَمْ يَقْرُوهُمْ، فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ، إِذْ لُدِغَ سَيِّدُ أُولَئِكَ، فَقَالُوا: هَلْ مَعَكُمْ مِنْ دَوَاءٍ أَوْ رَاقٍ؟ فَقَالُوا: إِنَّكُمْ لَمْ تَقْرُونَا، وَلَا نَفْعَلُ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلًا، فَجَعَلُوا لَهُمْ قَطِيعًا مِنَ الشَّاءِ، فَجَعَلَ يَقْرَأُ بِأُمِّ القُرْآنِ، وَيَجْمَعُ بُزَاقَهُ وَيَتْفِلُ، فَبَرَأَ فَأَتَوْا بِالشَّاءِ، فَقَالُوا: لَا نَأْخُذُهُ حَتَّى نَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلُوهُ فَضَحِكَ وَقَالَ: ‌وَمَا ‌أَدْرَاكَ ‌أَنَّهَا ‌رُقْيَةٌ، خُذُوهَا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ

    “Bahwa sekelompok orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi suatu kabilah Arab, namun kabilah tersebut tidak mau menjamu mereka. Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba pemimpin kabilah tersebut disengat (binatang berbisa/kalajengking).

    Mereka (penduduk kabilah) bertanya: ‘Apakah kalian memiliki obat atau seseorang yang bisa meruqyah?’

    Para sahabat menjawab: ‘Kalian tadi tidak mau menjamu kami, maka kami tidak akan melakukannya kecuali jika kalian memberi kami upah.’

    Maka mereka pun menyepakati untuk memberikan sekawan domba. Kemudian salah seorang sahabat mulai membacakan Ummul Qur’an (Surah Al-Fatihah), ia mengumpulkan ludahnya dan meludahkannya (ke bagian yang sakit), lalu pemimpin kabilah itu sembuh.

    Mereka pun membawa domba-domba tersebut, namun para sahabat berkata: ‘Kami tidak akan mengambilnya sampai kami bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam .’

    Ketika mereka bertanya kepada beliau, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dan bersabda: ‘Tahukah kamu bahwa Al-Fatihah itu adalah ruqyah? Ambillah domba-domba itu dan berilah aku bagian bersama kalian.”

  3. Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits panjang di dalam kitab shahihnya No. 2311, yang menceritakan tentang penugasan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu untuk menjaga harta zakat. Di dalam cerita itu dikisahkan bahwa beliau diajari oleh setan yang mencuri harta zakat agar beliau membaca surah al-Baqarah ayat: 255, yang manfaatnya seorang hamba akan senantiasa dilindungi oleh Allah Ta’ala hingga dia memasuki waktu pagi, dan kabar dari setan itu dibenarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    قَالَ لِي: إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ مِنْ أَوَّلِهَا حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ: اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومُ [البقرة: 255]، وَقَالَ لِي: لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ – وَكَانُوا أَحْرَصَ شَيْءٍ عَلَى الخَيْرِ – فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ، تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، قَالَ: لَا، قَالَ: ذَاكَ شَيْطَانٌ

    “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Ia (si pencuri yang ternyata setan) berkata kepadaku: ‘Jika engkau hendak pergi ke tempat tidurmu, maka bacalah Ayat Kursi dari awal hingga selesai: Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyum [Al-Baqarah: 255].’

    Ia juga berkata kepadaku: ‘(Jika engkau membacanya), maka Allah akan senantiasa menjagamu, dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari.’. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Adapun dia, maka kali ini dia telah jujur kepadamu padahal dia adalah seorang pendusta. Tahukah engkau siapa yang engkau ajak bicara selama tiga malam ini, wahai Abu Hurairah?’Abu Hurairah menjawab: ‘Tidak.’Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Itu adalah setan.'”

  4. Hal ini ditegaskan oleh keterangan beberapa ulama’ terkemuka. Antara lain,

    1.       Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah di dalam fathul bari (10/233) beliau berkata,

    وَذكر بن بَطَّالٍ أَنَّ فِي كُتُبِ وَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَنْ يَأْخُذَ سَبْعَ وَرَقَاتٍ مِنْ سِدْرٍ أَخْضَرَ فَيَدُقُّهُ بَيْنَ حَجَرَيْنِ ثُمَّ يَضْرِبُهُ بِالْمَاءِ وَيَقْرَأُ فِيهِ آيَةَ الْكُرْسِيِّ وَالْقَوَافِلَ ثُمَّ يَحْسُوُ مِنْهُ ثَلَاثَ حَسَوَاتٍ ثُمَّ يَغْتَسِلُ بِهِ فَإِنَّهُ يُذْهِبُ عَنْهُ كُلَّ مَا بِهِ وَهُوَ جَيِّدٌ لِلرَّجُلِ إِذَا حُبِسَ عَنْ أَهْلِهِ

    “Ibnu Baththal menyebutkan bahwa di dalam kitab-kitab Wahb bin Munabbih disebutkan: Hendaknya seseorang mengambil tujuh lembar daun bidara (sidr) hijau, lalu menumbuknya di antara dua batu, kemudian mencampurnya dengan air. Lalu ia membacakan di dalamnya Ayat Kursi dan Al-Qawafil (seperti surah an-Naas, al-Falaq, al-Ikhlas). Setelah itu, ia meminumnya sebanyak tiga tegukan, kemudian mandi dengan sisa air tersebut. Maka sesungguhnya hal itu akan menghilangkan semua gangguan yang ada pada dirinya. Cara ini sangat manjur bagi seorang laki-laki yang terhalang (oleh sihir) dari istrinya.”

    1.       Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dalam fatwa beliau yang tertuang dalam “majmu’ fatawa Ibn Baz” (8/144) beliau berkata,

    ثالثا: القراءة؛ فإن لها أثرا عظيما في إزالة السحر؛ وهو أن يقرأ على المسحور أو في إناء آية الكرسي وآيات السحر التي في سورة الأعراف، وفي سورة يونس، وفي سورة طه، ومعها سورة الكافرون، وسورة الإخلاص، والمعوذتين، ويدعو له بالشفاء والعافية

    “(Metode pengobatan) yang ketiga adalah dengan cara membacakan ayat-ayat (tertentu), karena bacaan al-Qur’an itu memiliki pengaruh yang amat besar untuk menghilangkan gangguan sihir. Hal ini dapat dilakukan dengan cara dibacakan pada orang yang terkena pengaruh sihir atau dibacakan pada sebuah bejana ayat kursi, ayat-ayat sihir yang terdapat di dalam surah al-A’raf, surah Yunus dan surah Thaha, demikian pula surah al-Kafirun, al-Ikhlash, al-Mu’awwidzatain, dan juga dido’akan dengan kesembuhan dan kesehatan.”

    Demikianlah pernyataan sebagian ulama’ yang telah menjelaskan bacaan-bacaan tadi. Namun, secara umum al-Qur’an semua isinya dapat merupakan obat yang dapat mengangkat penyakit, hal ini sebagaimana yang disebutkan di dalam al-Qur’an itu sendiri, Allah Ta’ala berfirman,

    وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآء وَرَحۡمَة لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارا

    “Dan sungguh telah Kami turunkan ayat-ayat al-Qur’an yang padanya terdapat obat dan sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman, maka tidaklah yang demikian ini melainkan akan menambah kerugian bagi orang-orang dzalim.” (Al-Isra’:82)

    Asy-syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Si’di rahimahullah menerangkan tentang tafsir ayat ini di dalam kitab taisir al-Karimir Rahman (hal. 465) beliau berkata,

    فالشفاء الذي تضمنه القرآن عام لشفاء القلوب، من الشبه، والجهالة، والآراء الفاسدة، والانحراف السيئ، والقصود السيئة. فإنه مشتمل على العلم اليقيني، الذي تزول به كل شبهة وجهالة، والوعظ والتذكير، الذي يزول به كل شهوة تخالف أمر الله، ولشفاء الأبدان من آلامها وأسقامها

    “Maka pengobatan yang terkandung di dalam al-Qur’an bersifat umum untuk mengobati penyakit hati, baik itu bentuknya berupa syubhat, kebodohan, pemikiran-pemikiran menyimpang, dan penyelewengan yang buruk. Yang demikian karena al-Qur’an mengandung ilmu yang pasti, yang mampu menghilangkan berbagai syubhat dan kebodohan, mengandung bimbingan dan pengingat, dimana hal itu dapat menghilangkan perkara syahwat yang menyelisihi perintah Allah. Demikan pula al-Qur’an mengandung obat yang dapat menyembuhkan badan dari rasa sakit dan derita

  5. Lihat foot note no. 4
  6. Lihat foot note no. 4
  7. Lihat foot note no. 4
  8. Hal ini berdasarkan sebuah hadits yang dibawakan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya, No. 5748

    عَنْ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ، نَفَثَ فِي كَفَّيْهِ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَبِالْمُعَوِّذَتَيْنِ جَمِيعًا، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ، وَمَا بَلَغَتْ يَدَاهُ مِنْ جَسَدِهِ، قَالَتْ عَائِشَةُ: فَلَمَّا اشْتَكَى كَانَ يَأْمُرُنِي أَنْ أَفْعَلَ ذَلِكَ بِهِ

    “Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak beranjak ke tempat tidurnya, beliau meniup pada kedua telapak tangannya sambil membaca Qul Huwallahu Ahad (Surah Al-Ikhlas) dan Al-Mu’awwidzatain (Surah Al-Falaq dan An-Nas) seluruhnya. Kemudian beliau mengusapkan kedua tangannya ke wajahnya dan bagian tubuh yang dapat dijangkau oleh kedua tangannya.”Aisyah berkata: “Maka ketika beliau sakit, beliau memerintahkanku untuk melakukan hal itu kepadanya.”

  9. HR. Bukhari No. 5742, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha
  10. HR. Muslim No. 2186, dari sahabat Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu
  11. Lihat al-‘Ilaj wa ar-Ruqa asy-Syar’iyyah wa asy-Syirkiyyah wal bid’iyyah, hal 40
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *