oleh

3 Nasehat Nabi: Bertakwa, Beramal Kebaikan dan Berakhlak Mulia

Nasehat Nabi Untuk Bertakwa, Beramal Kebaikan dan Berakhlak Mulia – Diantara kenikmatan terbesar yang Allah berikan kepada kita adalah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dengan diutusnya beliau, kita mendapat bimbingan dalam menjalankan syariat Islam, diantara bimbingan serta nasehat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagaimana dalam hadits berikut:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Terjemah Hadits

Dari Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “bertakwalah kepada Allah di manapun anda berada, iringi kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu dapat menghapusnya, dan bergaulah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987)

Takhrij Hadits

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam sunannya pada kitab al-Bir wash shilah (berbuat kebajikan dan menyambung hubungan). Al-Imam at-Tirmidzi mengatakan hadits ini Hasan Shahih.

Sahabat perawi Hadits

Beliau adalah Muadz bin Jabal bin ‘Amer bin Aus al-Anshary al-Khazraji, kuniyah beliau adalah Abu Abdurrahman. Beliau termasuk pemuka para sahabat dan pernah mengikuti perang Badr juga perang-perang berikutnya. Beliau wafat pada tahun 18 Hijriyah di kota Syam, radhiyallahu ‘anhu.

Makna Hadits secara global

Hadits di atas menerangkan tiga nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung sebagai berikut,

  1. Bertakwa kepada Allah di manapun berada, baik di kala sendiri maupun dilihat orang lain.

    Takwa kepada Allah Ta’ala adalah menjauhi hal-hal yang Allah haramkan dan mengerjakan perintah-perintah Nya, inilah hakikat ketakwaan. Imam Tholq bin Habib rahimahullah menerangkan definisi takwa sebagai berikut,

    التَّقْوَى أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللَّهِ عَلَى نُورٍ مِنَ اللَّهِ تَرْجُو ثَوَابَ اللَّهِ، وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللَّهِ عَلَى نُورٍ مِنَ اللَّهِ تَخَافُ عِقَابَ اللَّهِ

    “Takwa adalah anda mengerjakan ketaatan untuk Allah, di atas cahaya (petunjuk) dari Allah, dengan penuh harap pahala dari Allah. Serta Anda meninggalkan maksiat kepada Allah, di atas cahaya (petunjuk) dari Allah, dengan penuh rasa takut terhadap azab Allah.”

  2. Iringi kejelekan dengan kebaikan.

    Yaitu jika seseorang melakukan kejelekan maka tutuplah kejelekan tersebut dengan berbuat kebaikan setelahnya. Sebab kebaikan akan menghapuskan kejelekan. Di antara kebaikan yang paling utama dikerjakan setelah terjatuh pada kejelekan adalah taubat kepada Allah Ta’ala dari kejelekan tersebut. Bahkan taubat termasuk amalan yang disukai Allah Ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

    إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

    “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri.” (al-Baqarah: 222)

    Allah Ta’ala juga berfirman,

    وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

    “Dan bertaubatlah kalian kepada Allah wahai sekalian orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (an-Nur: 31)

    Hal ini juga disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

    الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

    “Shalat lima waktu, (shalat) jum’at yang satu ke jum’at berikutnya, (puasa) Ramadhan yang satu ke ramadhan berikutnya adalah pelebur dosa, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no. 233 di dalam shahihnya)

    Maka kebaikan akan menghapuskan dosa-dosa kejelekan selama dia meninggalkan dosa-dosa besar.

  3. Bergaul dengan manusia dengan akhlak yang mulia.

    Dua wasiat pertama adalah tentang muamalah kepada Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun yang ketiga adalah muamalah kepada sesama makhluk.

    Di antara bentuk muamalah dengan akhlak yang baik kepada sesama seperti menjaga kehormatannya dan tidak mencelanya, berjumpa dengan wajah yang berseri-seri, jujur dalam berucap, bertutur kata yang baik dan lain sebagainya.

    Dalil-dalil tentang keutamaan akhlak mulia banyak, salah satunya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

    إِنَّ مِنْ أَكْمَلِ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

    “Termasuk ciri orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2612, shahih)

     

Para pembaca islamhariini.com, semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita untuk mengamalkan nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung ini. Dan kita memohon kepadanya agar selalu dikaruniai keteguhan di atas agama Islam yang Allah Ta’ala ridhoi. Amiin. HRS

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait