Merupakan suatu keyakinan kaum muslimin ialah bahwa Allah Ta’ala memiliki nama dan sifat yang husna (mulia). Sekian ayat dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hal tersebut. Namun, bagaimana kita menyikapi nama dan sifat Allah tersebut?
Pada artikel ringkas ini, kita akan menyebutkan tiga kaidah ahlus sunnah dalam menyikapi nama dan sifat Allah Ta’ala. Semoga setelah membaca dan mengetahui tiga kaidah tersebut, kita bisa selamat dari berbagai penyimpangan ketika menyikapi nama dan sifat Allah Ta’ala.
Dalil Bahwa Allah Memiliki Nama dan Sifat
Sangat banyak dalil-dalil yang menjelaskan bahwa Allah Ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat, baik itu dari Al-Qur’an maupun hadits nabawi.
Di antara dalil Al-Qur’an yang menjelaskan hal tersebut adalah firman Allah Ta’ala,
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا
“Dan Allah memiliki nama-nama yang terbaik (asmaul husna), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama tersebut.” (Al-A’raf: 180)
Adapun dari hadits nabawi, di antaranya adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ
“Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namai diri-Mu dengan nama tersebut, atau yang Engkau ajarkan nama tersebut kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau nama yang Engkau turunkan (sebutkan) dalam Kitab-Mu, atau nama yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu.” 1
Kaidah Pertama: Al-Itsbat
Kaidah pertama dalam menyikapi nama dan sifat Allah adalah al-itsbat (menetapkan), yaitu menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala sebagaimana yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, baik di dalam Al-Qur’an maupun melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa melakukan tahrif, ta’thil, takyif, ataupun tamtsil 2
sedikit pun.
Sebagai contoh, di banyak ayat-Nya, Allah Ta’ala menyatakan bahwa diri-Nya adalah Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
Sehingga dari ayat ini kita wajib menetapkan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.
Kaidah Kedua: An-Nafyu
Kaidah kedua dalam menyikapi nama dan sifat Allah Ta’ala adalah an-nafyu (meniadakan/menafikan), yaitu meniadakan segala yang Allah Ta’ala tiadakan dari diri-Nya baik yang Ia nyatakan dalam Al-Qur’an maupun melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta meyakini kesempurnaan sifat sebaliknya (yang menjadi lawan sifat tersebut) bagi Allah Ta’ala.
Sekadar menafikan suatu sifat dari Allah Ta’ala, itu bukanlah pujian yang sempurna. Namun harus disertai dengan menetapkan kesempurnaan sifat yang menjadi lawannya, karena Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Sempurna.
Imam Ibnu Abi al-‘Izz rahimahullah (salah seorang ulama madzhab Hanafi) mengatakan,
كُلُّ نَفْيٍ يَأْتِي فِي صِفَاتِ اللَّهِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، إِنَّمَا هُوَ لِثُبُوتِ كَمَالِ ضِدِّهِ
“Setiap penafian yang terdapat dalam pembahasan sifat-sifat Allah di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah (hadits nabawi), sesungguhnya tidak lain untuk menetapkan kesempurnaan sifat yang menjadi lawannya.”
Beliau juga mengatakan,
وَإِلَّا فَالنَّفْيُ الصِّرْفُ لَا مَدْحَ فِيهِ
“Sebab, penafian semata (tanpa mengandung penetapan sifat kesempurnaan yang menjadi lawan sifat yang dinafikan tersebut) bukanlah suatu bentuk pujian.” 3
Baca juga: 4 Kaidah Penting dalam Menetapkan Nama dan Sifat Allah Bag. 1
Kaidah Ketiga: Tawaqquf
Kaidah ketiga adalah tawaqquf (menahan diri), yaitu menahan diri untuk tidak menetapkan atau menolak suatu perkara dari nama dan sifat Allah Ta’ala yang tidak terdapat (datang keterangannya) dalam Al-Qur’an dan hadits nabawi.
Para ulama menyebutkan adanya beberapa istilah yang tidak pernah digunakan dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah (hadits nabawi) ketika berbicara tentang Allah, seperti al-jism (tubuh), al-hayyiz (ruang), al-jihah (arah), dan yang lainnya. Maka sepantasnya bagi seorang muslim dalam permasalahan ini untuk bersikap tawaqquf pada lafalnya, yaitu tidak menetapkannya ataupun menafikannya karena tidak ada keterangan dari Al-Qur’an dan hadits nabawi yang menjelaskan hal tersebut.
Adapun terkait maknanya, maka kita harus merincinya. Apabila makna yang diinginkan dari lafal tersebut batil, maka nama atau sifat tersebut tidak boleh dinisbatkan kepada Allah Ta’ala. Jika yang diinginkankan adalah kebenaran, maka maknanya dapat diterima. Akan tetapi, lafal tersebut tetap tidak boleh dijadikan sebagai nama atau sifat Allah karena tidak terdapat dalam dalil syar’i.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan beberapa poin penting berikut:
- Allah Ta’ala memiliki nama-nama yang husna (mulia) dan sifat-sifat yang sempurna sebagaimana ditetapkan dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih.
- Seorang muslim wajib menetapkan seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits nabawi tanpa tahrif, ta’thil, takyif, ataupun tamtsil sedikit pun. 4
- Seorang muslim juga wajib menafikan segala kekurangan yang Allah nafikan dari diri-Nya, disertai sikap meyakini kesempurnaan sifat yang menjadi lawannya.
- Terhadap istilah atau lafal yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits nabawi, seorang muslim hendaknya bersikap tawaqquf pada lafalnya, lalu merinci maknanya berdasarkan kaidah syariat.
- Dengan berpegang teguh kepada tiga kaidah ahlus sunnah tersebut, seorang muslim akan lebih mudah menjaga kemurnian akidahnya dan terhindar dari berbagai penyimpangan dalam memahami nama dan sifat Allah Ta’ala.
Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita ilmu yang benar, pemahaman yang lurus, serta keteguhan untuk mengimani nama-nama dan sifat-sifat-Nya sebagaimana yang Dia tetapkan dalam Al-Qur’an dan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam bish-shawab. Semoga Allah Ta’ala menjadikan tulisan ini bermanfaat bagi penulis maupun pembacanya. Aamiin. (RGA/AAA/ATH)
Penulis: Rasyid Ghani
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim
- Musnad Ahmad
- Shahih Ibnu Hibban
- As-Silsilah as-Shahihah karya Imam al-Albani rahimahullah
- Fathur Rabbil Bariyyah bi Talkhis al-Hamawiyah
- Syarh Kitab al-Aqidah ath-Thahawiyah
Footnotes
- HR. Ahmad 1/391, dan Ibnu Hibban di dalam shahihnya No. 973, dan dishahihkan oleh Imam al-Albani di dalam as-Shahihah No. 199, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu
- Penjelasan tentang kata tersebut adalah: tahrif (mengubah makna), ta’thil (menolak atau meniadakan sifat), takyif (membayangkan “bagaimana” hakikat sifat Allah), dan tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk)
- Lihat Syarh Kitab al-Aqidah ath-Thahawiyah hal. 73
- Lihat catatan kaki No. 2











Komentar